Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 56


__ADS_3

Siapa Yang Melukai Tanganmu


“Ayo! Ikut aku!” kata Harlan ketus, sambil menggandeng tangan Maisara, menuju ruang perawatan pribadinya.


Beberapa orang kalangan elit memang biasanya, punya kamar perawatan tersendiri di rumah sakit.


“Ke mana?” Maisara berkata sambil mengikutinya dengan yang terseok-seok, karena langkah kaki Harlan lebih panjang.


“Ahk! Lepaskan aku! Ini sakit!” teriak Maisara tiba-tiba saat Harlan mencengkram pergelangan tanganya terlalu keras.


Harlan menoleh dengan raut wajah yang khawatir.


“Mana yang sakit?” tanya Pria itu cemas, ia melihat Maisara dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Tidak sakit lagi, kalau tidak kamu tarik kuat-kuat!”


Harlan cemberut, ia mengira Maisara berlagak sakit hanya karena tidak ingin dipegang tangannya.


“Bilang kalau tidak mau di gandeng tangannya sama aku, padahal kalau dipegang sama orang lain juga mau!”


Maisara tercengang mendengar ucapan itu, baginya Harlan begitu ke kanak-kanakkan.


Mereka berjalan beriringan. Harlan melirik ke tangan Maisara yang sedikit bengkak.


“Kenapa bengkak? Apa ada yang melukai tanganmu?”


“Tidak ada, sudahlah! Tunjukkan saja kita mau ke mana, siapa yang membuatku sakit itu tidak penting!”


Maisara mengira kalau percuma saja mengatakan siapa yang membuat pergelangan tangannya terkilir. Ia menggunakan tumpuan tangan dengan cara yang salah, saat berusaha menahan bobot tubuhnya. Pria itu pasti membela Sari yang membuatnya terjatuh tadi.


Harlan membawa Maisara masuk ke ruang perawatan dirinya yang terletak di koridor paling ujung. Semua kamar yang terletak di koridor itu sangat besar seperti hotel tanah yang diperuntukkan orang-orang khusus seperti Harlan.


Setelah Harlan dan Maisara masuk, pengawal menutup pintunya rapat-rapat.


Sekali lagi Maisara bergumam, yang ditujukan pada pengawal, “Dasar kalian ini! Pengertian sekali!”

__ADS_1


“Kenapa kamu bisa dirawat? Kamu sakit apa?” Maisara bertanya, sambil melihat ke sekeliling ruangan dan ia masih berdiri di dekat pintu.


“Jangan berlagak tidak tahu, aku pingsan kemarin malam gara-gara kamu!”


“Masa?” tanya Maisara heran, kenapa ia disalahkan.


Harlan masih ingat malam itu ia terus berharap pada Maisara, sampai kehilangan harga diri. Ia sendiri heran, mengapa bisa melakukan hal bodoh dengan menunggunya di depan pintu. Sungguh suatu yang belum pernah ia lakukan sepanjang hidup. Membiarkan badannya tersiksa di bawah hujan, sedangkan wanita yang ia harapkan belas kasihnya, justru tidur nyenyak di tempat tidur. Namun, saat ia mulai menyadari, kakinya tidak bisa digerakkan. Ia jatuh setelah berusaha untuk berjalan selangkah. Bahkan, untuk memanggil pengawal pun ia gagal.


Harlan sangat menyesal karena sesaat yang lalu ia sudah menyuruh pengawal pergi, hingga ia pasrah kalau kembali koma. Tiba-tiba ia merasa bahwa Maisara adalah, wanita yang tidak berperasaan. Padahal ia sudah membantunya dengan memberi uang yang cukup besar atas nama gedung Hansan. Ia tidak berniat memiliki gedung itu dan akan mengembalikannya suatu saat nanti.


Lalu, ia terbangun saat sudah berada di rumah sakit dan ia cukup senang mendapatkan badannya baik-baik saja. Bahkan, dokter memuji kemampuannya bertahan berkembang cukup bagus. Semua berkat wanita kurang ajar itu, pikirnya. Ia akan membalasnya nanti.


Namun, beberapa saat setelah itu, ia mendapatkan kabar tentang kondisi ibunya yang tiba-tiba pingsan, karena mengetahui informasi tentang pernikahan anaknya dengan Raina. Hal itu sudah sering terjadi pada Wendi, ia akan pingsan kalau mendapatkan kabar yang menurutnya buruk. Oleh karena itu Harlan begitu tenang menghadapinya.


Reaksinya berbeda justru saat mendengar kabar kedatangan Maisara dari pengawal. Wanita itu bisa diandalkan untuk memprovokasi perasaan Harlan. Ia langsung mencabut selang infus di tangannya dan pergi ke ruang perawatan sang ibu untuk menculik istrinya.


“Jangan membahasnya lagi! Duduklah!” kata Harlan, sambil duduk di sofa dan tangannya menepuk tempat kosong di sebelahnya. Ia enggan membahas kebodohannya sendiri.


Harlan ingin menjelaskan tentang permasalahan antara dirinya dan Raina. Menjelaskan pada Maisara, mengapa mereka sampai menikah. Ia ingin wanita itu mengerti dan tetap bertahan di sisinya.


Gadis itu melangkah dengan cepat menuju wastafel yang ada di kamar mandi, tak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu, menumpahkan semua isi perut seperti biasa.


Sementara Harlan terpaku di Sofanya. Ia mencerna kejadian itu dan berpikir kalau apa yang diucapkan Maisara tentang kehamilannya, kemungkinan benar adanya.


Jadi, dia tidak membenciku? Apa dia benar-benar hamil anakku?


“Kalau sudah selesai, cepat kemari! Aku tidak sabaran, gampang marah, pendendam dan senang berciuman!” Harlan berkata dengan kuat agar Maisara bisa mendengarnya, karena pintu toilet itu tertutup. Dia mengungkapkan siapa diri dan bagaimana kepribadiannya, dengan sangat lugas.


Namun, semua yang Harlan ucapkan adalah hal negatif, ia mencoba menggiring Maisara pada sikap antisipasi kalau berhadapan dengannya. Maksudnya jelas, agar wanita itu mau menurut.


Maisara sempat menegang di dalam toilet, mendengar apa yang diucapkan suaminya, tetapi ia tidak mudah terprovokasi hingga Ia hanya bersikap tenang dan biasa saja.


Apa itu? Ada-ada saja, kenapa dia bilang soal kepribadian sebegitu segamblangnya? tidak ada orang yang waras membicarakan tentang keburukan dirinya sendiri kecuali, dia punya maksud tertentu, enak saja suka berciuman, memangnya siapa yang mau dia cium? Kenapa dia tidak bilang suka memasukkan anunya sekalian? Dasar!


Maisara muncul, dan Harlan tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya agar istrinya itu mendekat. Wanita itu kini menurut, karena sudah lelah berdiri sejak tadi dan ia memang harus duduk.

__ADS_1


“Kenapa muntah? Apa kamu masuk angin?” tanya Harlan penuh perhatian, sambil mengambil selembar tisu, lalu mengusap sisa air yang menempel di bibir istrinya.


Maisara diam, ia terkejut dengan tindakan lembut Harlan.


“Kamu tidak benar-benar hamil, kan?” tanya Harlan lagi.


“Aku hamil dan aku akan segera punya anak ... kamu tidak suka anak-anak, jadi lebih baik kita bercerai saja!”


Harlan meremas tisu yang ada tangannya, lalu melemparnya dengan kasar ke lantai, ia kembali mengira Maisara mengaku hamil hanya karena membencinya.


“Kamu benar-benar mau bercerai dariku? Baiklah ... aku akan mengabulkannya tapi tidak sekarang!”


“Kenapa, bukankah kamu sudah punya istri yang lain? Dulu kamu benci aku dijodohkan sama kamu, bahkan langsung minta cerai, kenapa sekarang kamu menahanku, kamu aneh sekali!”


Harlan diam sebentar sambil memejamkan mata, dan menarik napas dalam. Ia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.


Sementara di luar pintu, pengawal mendengar teriakan dari Maisara. Ia sudah waspada dan mengantisipasi, tetapi tidak ada teriakan lebih keras lagi dari Harlan. Ia pikir tuannya itu benar-benar belajar tentang kesabaran dengan menghadapi istrinya.


Setelah membuka mata, Harlan meraih tangan istrinya dan mengusap bagian yang bengkak itu dengan lembut. Ia memijat secara perlahan, bukan di tempat yang bengkak tetapi di bagian atas lengan Maisara sedikit demi sedikit, lalu turun ke siku begitu terus berulang-ulang.


Maisara tercengang dan diam, gerakan jari jemari Harlan yang ramping tapi kuat itu seperti tukang pijit profesional. Ia menikmati pijatannya, memang terasa agak sakit, tapi tidak membuat cederanya lebih parah. Ia pun menerimanya.


“Ceritakan kenapa tanganmu sampai terkilir?” tanya Harlan tanpa menatap lawan bicaranya iya terus konsentrasi memijat.


“Tadi aku hampir jatuh, tapi aku menahannya karena aku melindungi perutku,” sahut Maisara sambil meringis.


“Kenapa bisa jatuh ...? Kamu lain kali hati-hati kalau seperti ini lagi, kan aku juga yang repot!”


“Aku tidak minta kamu buat mijitin aku!”


Ck!


Harlan beralih menatap wanita yang sedang dipijitnya dengan serius, lalu ia bertanya dengan serius pula. Sepertinya ia ingin terus membahas satu hal, untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau Maisara memiliki perasaan yang sama dengannya.


“Kamu yakin sedang mengandung anakku?” katanya.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2