Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 64


__ADS_3

Berbohong Tentang Maisara


Sebulan setelah kejadian kembalinya laki-laki bernama Hansen, kegiatan semua orang di sekitar Harlan dan Mahespsti Industries, kembali menjalani rutinitas biasanya. Meskipun begitu mereka semua tetap waspada dan beberapa mata-mata disebar untuk mengawasi sekaligus antisipasi terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Sementara waktu Harlan terus berbohong kepada ibunya tentang Maisara. Dia mengatakan jika istrinya pergi di kampung halaman Daina dan ingin melahirkan di sana. Ia khawatir apabila berkata terus terang pada Wendi jika Maisara kabur dari mereka, maka wanita itu akan jatuh sakit lebih lama lagi.


Wendy masih duduk di beranda rumahnya saat ibu dan anak itu bicara.


“Kenapa dia mengambil keputusan itu, padahal aku bisa memberikan fasilitas yang jauh lebih baik dari rumah sakit di kampung, apalagi aku juga akan memberikan perawatan yang memadai!” kata Wendi menyesali kabar dari Harlan.


“Biarkan saja dia, Bu aku tidak mau mengekangnya kalau memang dia lebih suka di sana!”


“Aku tidak percaya padamu, pasti kau yang sudah melarangnya melahirkan di sini, makanya dia pergi darimu, kan? Itu jelas karena kau tidak menyukai bayi!”


“Aku tidak menyukai bayi, tetapi aku khawatir padanya!”


“Itu berbeda, lah, kalau bukan karena Kau, pasti aku sudah bisa mengusap perutnya yang buncit sekarang!”


Astaga! Apa enaknya mengusap perut buncit?


Wendi pergi meninggalkan anaknya yang masih tercengang menuju kamar. Lalu, Harlan pergi dari villa keluarganya menuju Mahespsti Industries.


Saat ia hampir mencapai mobil, di halaman, ia melihat Roni dan Nella yang masih berduaan.


“Hubungan mereka awet juga ternyata!” komentar Harlan sambil menyeringai dan asisten yang sedang membukakan pintu, melihat sepasang sejoli itu dengan tatapan tanpa ekspresi.


Merasa diawasi, Roni mendekati Harlan dan menyapanya.


“Apa kau akan pergi lagi? Tante Wendi sangat kesepian, seharusnya kau tidak pergi secepat ini!” kata Roni seraya berdiri di hadapan Harlan, sambil memasukkan kedua tangan ke saku celananya.


“Aku sibuk!” sahut Harlan ketus.

__ADS_1


“Seharusnya kau mengizinkan aku atau ayahku membantumu!”


“Kalau kalian berdua memang bisa di andalkan sejak dulu di Industri Mahespati, aku sudah mengizinkannya, tapi kau dan ayahmu sama saja, kalian tidak bisa kupercaya!”


“Lalu, bagaimana dengan Nella, kau bisa memberikan pekerjaan bagus buat dia, kan? Dia pengalaman mengurus perusahaan ayahnya dulu, iya, kan? Nela!”


Harlan dan Roni menoleh ke arah Nella yang berdiri tak jauh dari mereka, hampir bersamaan.


Seketika Nela tertegun, ia hanya membual pada Roni agar lebih dicintai. Biar bagaimana pun seseorang membutuhkan sebuah kelebihan yang dinilai pantas oleh kekasihnya, dan itulah yang sering ia lakukan sekarang, walaupun, harus berbohong tentang pengalamannya.


“Dia?” tanya Harlan sambil mengerutkan keningnya. “Aku lebih sangsi lagi, ibu dan pamannya saja terlibat korupsi, lalu bagaimana anak ini akan mengendalikan diri kalau melihat uang?”


“Kau jangan bicara sembarangan, Nella bukan orang seperti itu!” kata Roni, melihat Harlan kesal dan memegang pergelangan tangan Nella dengan erat.


“Kau mau bukti kelicikannya? Coba pikir bagaimana dia bisa membuatmu terjebak dengannya dan melepaskan Maisara, lalu kalian bersekongkol untuk membuatku tiada? Kau pikir aku tidak tahu?” kata Harlan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Kau tahu informasi bohong itu dari mana?” tanya Roni lagi.


Roni dan Nella diam tapi gugup, mereka tak tahu harus bicara apa.


“Dengar! Aku masih berbaik hati padamu, karena kau anak Tanteku, kalau tidak—aku sudah pasti membuatmu membusuk di penjara!” seru Harlan penuh penekanan. Ia membuka kenyataan itu dengan tepat, agar kedua orang yang selalu berseberangan dengannya itu semakin menjaga dan tahu diri.


Seketika Nella berlutut dan menangis, sedangkan Roni sangat terkejut. Ia sudah membuat rencana jahat dengan Maisara waktu itu, dan membicarakannya di dekat tubuh Harlan yang tidak berdaya.


Bagaimana mungkin dia bisa tahu? Semoga ibuku dan Tante Wendi panjang umur, tanpa mereka aku bisa mati di tangan Harlan!


“Harlan! Kau bercanda, kan? Aku yakin kau tidak akan tega membuatku membusuk di penjara!” kata Roni dengan suara gemetar, ia tahu siapa sepupunya itu sejak kecil, ia bukan orang yang mudah dikalahkan. Latihan fisik dan pendidikan yang dilakukan kakek mereka, jauh lebih keras darinya.


“Kita lihat nanti, sejauh apa aku tidak tega membuatmu membusuk di sana!” sahut Harlan seraya menyembunyikan senyuman tipisnya.


Sepertinya mereka bisa aku manfaatkan suatu hari nanti.

__ADS_1


“Kalian sama-sama memanfaatkan Maisara, dia istriku sekarang!” bentak Harlan.


“Tuan Harlan! Demi Tuhan aku tidak bermaksud buruk pada Maisara dan dirimu, maafkan dan ampuni aku!”


“Kau kira bisa semudah itu memaafkan kalian?”


“Sungguh, Tuan! Maisara yang memulainya, ak—“


“Cukup!”


Nella hendak berkilah, tapi Harlan tak memberinya kesempatan.


Nella tidak berkutik, Ia lebih baik bersujud di kaki Harlan untuk memohon ampunan dan berlutut di hadapan Maisara, daripada ia harus membusuk di penjara.


“Kau pikir aku percaya dengan semua yang akan kau katakan? Pergilah dari hadapanku sekarang! Dan jangan muncul di rumah ini lagi!” kata Harlan tegas. Menunjukkan kalau keputusan yang harus ditaati.


Meskipun Harlan tidak berhak membuat keputusan seperti itu, tapi posisi Nella sangat lemah di sana. Apalagi Roni tidak mungkin membela kekasihnya, mengingat dirinya bersalah besar pada sepupunya itu.


Harlan adalah lelaki yang dituakan, walau umurnya belum sampai 40 tahun. Meskipun, ada pamannya—ayah Roni, tapi dia hanya seorang menantu dan bukan keturunan dari keluarga Mahespati. Sementara ayah Harlan sudah tiada, ia dahulu adalah menantu andalan kakek Prawira dalam berbisnis. Bakat itu kini menurun pada Harlan, buah hatinya. Mahespati Prawira hanya memiliki dua anak perempuan, oleh karena itu ia melatih menantu dan cucunya sebagai penerus.


Nella pergi setelah memeluk Rini dengan air mata yang masih berderai, Harlan melihatnya dengan tatapan sinis, lalu memasuki mobil untuk pergi ke agendanya sendiri.


Mobil Harlan hampir tiba di gedung Mahespati Industries, tapi pria itu menghentikan asisten dan memerintahkannya, untuk menepi sejenak di tepi jalan.


Harlan turun sebelum asisten membukakan pintu untuknya. Ia begitu terburu-buru, karena melihat seseorang dan ingin menemuinya saat itu juga.


“Hai! Kau berhenti di sana!” seru Harlan pada seorang anak remaja yang berjalan tergesa-gesa di trotoar, sambil membawa sebuah poster tokoh kartun negeri tetangga di tangannya.


Anak perempuan itu menoleh, dan ia sangat terkejut melihat Harlan dan ia langsung berlutut dan menangis, sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


“Kenapa kau menangis? Apa aku menakutimu?” tanya Harlan pada gadis itu.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2