Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 92


__ADS_3

Tanda Yang Sama


"Aku akan tetap mencarinya. Dasar! Keras kepala!” kata Harlan sambil menyibakkan selimut dan turun dari tempat tidur untuk membersihkan diri.


Harlan sudah berpakaian rapi, mengenakan pakaian seadanya yang ada di dalam lemari Maisara. Walaupun itu kemejanya sendiri, tapi baju itu sudah lama berada di sana.


Pengawal yang melihat Harlan keluar dari kamar dengan pakaian itu, hanya menghela napas berat sambil tersenyum samar. Ia sudah membawa pakaian ganti untuk bos-nya, tapi sepertinya tidak diperlukan lagi.


Harlan menghubungi beberapa orang setelah sarapan, ia hanya seorang diri di meja makan itu sebab Maisara sudah pergi. Ia melewatkan sarapannya karena sudah sangat terlambat.


Pengasuh tak melepaskan perhatiannya pada Harlan sambil mengasuh bayi. Namun, Daina selalu menyadarkan wanita itu sambil melakukan aktivitasnya sendiri di dapur. Ia hari ini membuat cup cake dengan tiga rasa untuk camilan anak buah Maisara.


Selang satu jam kemudian, dua mobil lain muncul di halaman bangunan Hansan Foundation. Ada dua orang keluar dari dalam masing-masing mobil. Harlan berbicara dengan mereka untuk beberapa saat lamanya di samping mereka. Ia tampak santai meski yang mereka bicarakan adalah hal serius yakni tentang PT. Seribu Janji.


Matahari mulai merangkak naik, dan semua pria yang tengah berbincang di halaman parkir percetakan besar itu, memakai kacamata hitam, karena berada di luar ruangan. Harlan sepertinya enggan meninggalkan tempat itu, walau hanya sekedar minum jus di salah satu kafe atau pergi ke perusahaannya untuk rapat.


“Apa mereka sedang rapat?”


“Menurutku mereka sedang membicarakan bos kita!”


“Mana di antara mereka yang paling tampan?”


“Sepertinya mereka tidak peduli dengan keadaan! Bukankah hari ini panas?”


“Mereka sedang berjemur, karena selama ini ruangan, bahkan kamar mereka dikelilingi pendingin udara!”


Para pegawai membicarakan enam orang yang berbincang di halaman tempat mereka bekerja, dalam keadaan panas menyengat.


Setelah selesai membicarakan hal yang ingin diketahuinya, Harlan berjalan ke dalam. Sementara semua rekannya tadi pergi meninggalkan halaman, dengan kendaraan mereka masing-masing. Ia mendekati bayi Mahes yang tengah tertidur dalam ayunan.


Ia menatapnya sejenak dengan alis yang berkerut, sambil melihat ponselnya beberapa kali. Tidak ada pesan dari wanita yang ia harapkan.


“Kenapa dia punya tanda ini?” tanya Harlan saat Daina melintas membawa buah anggur di piring.


Daina melihat Mahes di ayunan dan berkata, “Dia punya itu sejak lahir, kenapa?”


Harlan menatap Daina datar, lalu mengangkat bahunya dan berkata, “Tidak apa-apa.”

__ADS_1


“Apa kau baru melihat tanda seperti itu pada bayi? Banyak bayi yang lahir, punya tanda seperti itu di badan mereka.”


Harlan diam, sebab ia pun memiliki tanda yang sama persis dengan Mahes saat ia lahir dulu. Itu pun kata ibunya, dan sekarang ia tidak lagi melihatnya. Tanda lahir berwarna kemerahan berbentuk seperti sebelah sayap kupu-kupu, di paha kirinya.


Bagaimana bisa sama?


“Siapa yang memberinya nama itu?” tanya Harlan, tanpa melepaskan tatapannya pada Mahes.


“Haya yang memberinya nama Mahes Prata. Apa kau suka? Tidak masalah kalau kau tidak suka, aku bisa maklum!”


“Tidak juga!”


“Oh. Kau juga tidak pulang waktu dia lahir, aku juga maklum! Tapi, kau harus ingat bahwa, kelahiran dan kematian adalah sesuatu yang berada di luar kendali manusia!”


“Ya. Aku tahu. Kakiku patah dan aku tidak bisa ke mana-mana dalam tiga bulan ini, ponselku juga hancur dan aku tidak ingat nomor istriku!”


Ucapan Harlan membuat Daina tercengang, tapi ia tidak menanyakan penyebab kejadian itu lebih jauh lagi, sebab menantunya sudah pergi sambil melihat layar ponsel.


Kesal Harlan, saat kembali melihat telepon genggam di tangannya. Ia pun membawa langkah kakinya ke luar dan mendekati pengawal. Ia meminta pria itu pergi ke tempat penandatanganan yang dihadiri Maisara


Daina dan pengasuh melihat kepergian mereka penuh tanda tanya.


“Jangan ingin tahu urusan orang!” Daina menyahut sambil berbisik, dengan menutupi rasa ingin tahunya.


$$$$$$$$$$


Sesampainya di depan mall, Harlan berjalan ke area lobi yang ramai, di sana antrian panjang sudah mulai berkurang. Pria itu berdiri di dekat antrian, dari sana ia melihat Maisara duduk sendiri menandatangani setiap buku, yang dibawa anak-anak remaja kepadanya. Bukan hanya anak remaja, beberapa pria dan wanita dewasa pun ada.


Di belakangnya, ada Lana yang cukup ramah menyambut setiap anak yang mengantre. Pandangan mata Harlan nanar kepadanya, ia tidak suka. Namun, ia masih bertahan meskipun, dengan raut wajah yang memerah, sedangkan suasana hatinya bagai air yang bergejolak.


Semua anak akhirnya sudah mendapatkan tanda tangannya, dan antrean mereka pun selesai. Acara penandatangan itu berakhir dengan baik dan lancar.


Harlan menghampiri Maisara, dan menarik tangannya agar menjauh dari Lana.


“Kenapa ada dia di sini? Kamu lebih suka ditemani pria itu dari pada aku?” katanya.


Maisara tercengang, ia hampir saja berteriak mengumpat suaminya, yang tidak bisa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Seandainya ia meneruskan kesalahan dalam pahamnya, kira-kira apa yang akan terjadi?

__ADS_1


“Siapa maksudmu? Lana?” tanya Maisara, menoleh pada Lana dan Harlan secara bergantian.


Harlan tidak menjawab, tapi wajah pria itu menunjukkan kalau ia menjawab, iya.


Maisara tersenyum, kemudian ia berkata, “Dia bukan laki-laki, namanya Lana, dia temanku sejak aku berada di sini!”


Wajah Harlan kini menunjukkan kelegaan di hatinya.


“Kamu sendiri, ngapain di sini, bukankah aku bilang harus jaga Mahes? Apa kamu masih tidak yakin dia anakmu?”


Harlan mengajak Maisara ke luar, agar lebih jauh dari kerumunan orang-orang.


“Aku sudah menjaga anak itu tadi, tanya saja sama ibumu sana!”


Maisara mengambil ponselnya dari saku kulot pink yang dipakainya. Lalu, ia menghubungi Daina.


“Halo! Bu, apa benar tadi suamiku mengasuh Mahes?” katanya begitu ponsel tersambung dengan ibunya.


Harlan memalingkan pandangannya saat Maisara bicara di telepon. Dalam hati ia berharap jika Daina tidak mengatakan secara jujur tentang sikapnya yang hanya beberapa menit saja berada di samping Mahesa anak itu tertidur.


Sementara Daina terperangah dengan pertanyaan Maisara yang menanyakan soal Harlan, ia sama sekali tidak tahu masalah apa yang terjadi di antara anak dan menantunya itu, serta ada di mana mereka.


Namun yang sekarang terlintas dalam pikirannya adalah jangan sampai mereka berselisih hingga ia memilih untuk berdamai dan ia mengatakan, “Yaa!” pada Maisara.


Harlan memang tidak menjaga atau mengasuh anaknya karena ada pengasuh bayi yang bertanggung jawab atas anaknya, tapi ia tidak mengganggu dan tidak berbuat sesuatu yang menyakiti Mahes, itu sudah bagus menurut Daina.


“Oh! Ya, sudah kalau begitu,” kata Maisara.


Sebenarnya Daina ingin bertanya, kenapa anaknya bertanya seperti itu, tetapi telepon sudah terlanjur ditutup secara sepihak oleh Maisara.


“Aku benar kan?” tanya Harlan ketika Maisarah menoleh padanya dan tersenyum manis.


“Ya. Terima kasih!” kata meisarah sambil mencium pipi kiri Harlan, membuat pria itu merasa begitu senang.


“Terima kasih itu tidak gratis, kau harus membayarnya!”


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2