
Aku Istrimu
“Nanti aku akan menjawab soal ini, akan aku pikirkan lagi!” sahut Maisara sambil berdiri dan hendak pergi.
Tak!
Kali ini suara sendok dilemparkan ke lantai dengan cukup keras. Membuat pengawal masuk dan Hara pun mendekat. Pengawal melemparkan tatapan setajam belati pada Maisara, ia tampak mengepalkan tinjunya saling beradu satu sama lain.
Berani-beraninya perempuan ini membuat Tuan kesal. Apa dia belum tahu siapa suaminya itu? Atau ia punya nyawa cadangan?
“Siapa yang mengizinkanmu pergi sebelum aku selesai bicara?” Kata Harlan sambil bergerak dengan kursi rodanya.
“Aku ngantuk! Tolonglah!” Maisara tetap berjalan ke kamar.
Maisara tidak peduli Harlan yang marah, ia yakin semarah-marahnya Harlan tak mungkin membunuhnya tanpa alasan.
Harlan mengikutinya, dengan kursi roda di dorong oleh pengawal sampai di kamarnya. Ia melihat Maisara mengambil pakaiannya dari lemari dan akan membersihkan diri.
“Apa kau pikir bisa tidur di sini lagi?”
Harlan sudah meneliti kamarnya yang berubah sejak terakhir kali ia melihat, terutama ada pakaian wanita di dalam salah satu lemarinya.
“Bukankah ini kamarku juga? Aku istrimu!”
Harlan tiba-tiba tertawa kecil, ternyata Maisara sama saja seperti perempuan lainnya. Ingin tidur dengannya dan uang, bahkan gadis ini menguasai lemari seolah kamar ini miliknya sendiri.
“Kita mau bercerai, untuk apa tidur bersama?” kata pria itu sambil memberi isyarat pada pengawal untuk meninggalkan mereka. Maisara bukan wanita yang berbahaya.
Dia hanya naif! Wanita memang sama saja.
Pengawal pergi dan menutup pintunya.
“Apa kau pikir aku juga mau tidur denganmu? Lane, aku pun awalnya menolak, tapi keluargamu bilang ini kamarku juga.”
“Lane? Siapa dia?”
“Kamu!”
Harlan bertambah geram, perempuan itu memberinya nama sembarangan. Nama itu pantasnya disematkan pada mainan atau anak bayi yang lucu.
__ADS_1
Ia akhirnya ingat suatu kali membuka mata dalam keadaan sadar, waktu itu ia mendengar kata itu disebut beberapa kali, dan ternyata sebutan untuk dirinya.
Ia hampir tidak percaya! Gadis itu .... Akh, sudahlah.
“Kau pikir aku mainan? Hah!”
Maisara tertawa keras, Harlan berpikir tertawanya lucu, tapi ia sakit hati karena merasa diremehkan.
“Kau tahu, aku pun memikirkan nama mainan itu saat melihatmu tidur! Apa kau ingat apa yang aku lakukan padamu?” kata Maisara setelah berhenti tertawa.
“Memangnya apa yang kau lakukan?” tanya Harlan.
Yes! Dia tidak ingat, itu bagus!
“Tidak ada, aku membantumu memijat!” sahut Maisara seraya menahan senyum.
“Memijat?”
“Ya. Dan, yang aku ingat nama mainan itu, maaf—“
“Pergilah, carilah kamar yang lain!”
Keesokan harinya, Wendy sudah ada di ruang makan bersama dengan anaknya. Wanita itu merasa perlu bicara lagi setelah kemarin pembicaraan berakhir dengan buruk.
Sementara Maisara baru saja bangun dan ia bergegas ke kamar mandi lalu, berganti pakaian. Ia akan pergi ke Hansen Foundation sekarang. Ia sedikit kesiangan jadi agak terlambat datang ke meja makan
“Ayo bergabunglah!” kata Wendi ketika melihat Maisara sudah turun dari lantai dua kamarnya dan berpakaian rapi. Ia sudah tahu kalau Harlan mengusir gadis itu dari kamarnya.
Sementara raut wajah Harlan berubah menjadi kaku dan tidak menyenangkan, auranya seketika menjadi gelap.
“Aku ingin ibu kembalikan dia ke rimbanya! Aku tidak tahu dia siapa!” kata Harlan terlihat kekesalan begitu jelas di wajahnya.
Maisara menggeser satu kursi di samping Wendi dan wajahnya menunduk. Ia menilai kalau Harlan adalah orang yang sangat kaku, laki-laki itu biasa mengendalikan orang sehingga ia saja tidak suka jika sang ibu mengendalikannya.
“Aku sudah memperkenalkannya padamu, dan aku ingin dia hamil anakmu!” ujar Wendi sambil mengusap tangan Maisara yang di atas meja.
Harlan tiba-tiba tertawa. Setelah itu dia berkata, “Ibu tahu, kan? Aku tidak suka anak-anak, kecuali anak itu mati juga!”
Maisara tercengang, ia tidak tahu apa yang membuat Harlan tidak menyukai anak-anak dan siapa yang dia maksud anak itu harus mati saja. Meskipun begitu, ia tidak peduli pria itu menyukainya atau tidak. Ia belum memberitahu Wendy kalau proses bayi tabungnya berhasil dan ada janin yang hidup di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Setelah mengetahui semua prinsip Harlan hari ini, ia mengambil keputusan tidak akan mengatakan apa pun kepada dua orang itu.
Apa aku harus menggugurkan bayi ini?
“Kalian punya banyak kesempatan untuk saling mengenal, kenapa kau tidak mencobanya siapa tahu suatu saat nanti kau akan mencintainya?”
Harlan menoleh ke Maisara begitu pula sebaliknya, mereka saling bertukar pandangan dalam diam. Fisual tatapan itu sepertinya api dan bara saling berloncatan, tapi suasana beku dan burung-burung di luar pun berhenti berkicau.
“Kau harus tahu, banyak rumah tangga yang tetap berjalan walaupun tidak ada rasa cinta di dalamnya, tetapi pernikahan tetap bertahan sampai mereka tiada!” Wendi masih berusaha menasihati.
“Aku tidak mungkin mencintai wanita seperti dia!” kata Harlan sambil mengepal tisu dijarinya, “Dan kau jangan berharap!”
Harlan memberi isyarat kepada pengawal untuk membawanya pergi dari meja makan. Namun, sebelum ia berlalu Wendy melangkah mendekatinya dengan cepat.
Wendy berkata, “Harlan, walau kau tidak ingn melakukannya, aku tetap bisa menemukan caranya untuk memiliki cucu darimu! Jadi, pertahankan Mai, selama proses kehamilannya demi nama baik keluarga kita! Kalau kau tidak mau mengakuinya, pun aku yang akan menanggung risikonya!”
“Terserah Ibu saja, kalau memang dia benar-benar hamil, tapi jangan tinggal di sini!” kata Harlan sambil melewati ibunya.
“Har! Kau keterlaluan sekali! Apa kau tidak tahu apa yang sudah dia lakukan untukmu?”
Harlan berhenti dan menoleh kembali pada ibunya.
“Memangnya apa yang sudah dia lakukan? Aku tidak peduli sebaik apa pun dia!”
Maisarah yang mendengar Harlan bicara, pun menjadi emosi dan mengepalkan tangannya, kemudian ia melangkah mendekati ibu dan anak yang masih berselisih paham itu.
“Aku pikir kau pria terhormat dan anak yang berbakti, setidaknya seperti itu penilaian orang di media sosial! Oh, ternyata hanya seperti ini nilai kehormatanmu, bagaimana kalau semua orang tahu dirimu yang hebat itu, menyakiti ibunya sendiri?” Maisara berkata sambil melipat kedua tangan di depan dada. Ia terkesan meremehkan Harlan, hingga harga diri pria itu seolah tercabik karena sikapnya.
“Diam kau! Jangan ikut campur, dan pergi dari sini, jangan pernah menganggap aku sebagai suamimu!”
Maisara diam, ia melihat ke arah Wendi yang tiba-tiba pucat dan napasnya tersengal-sengal.
“Hai! Apa kau mengerti? Ya, aku akan membalaskan dendammu seperti yang Kau minta, setelah itu kau bisa bebas! Aku tidak akan memaksamu!”
Hai! Aku tidak pernah memintamu membalaskan dendam pada Roni, dasar bodoh!
“Harlan! Kau, kau keterlaluan sekali!” teriak Wendy, sambil memegangi dadanya. Ia hendak melangkah lagi mengejar anaknya, tapi kemudian tiba-tiba dia jatuh pingsan.
“Nyonya!” teriak Hara, yang segera berlari mendekati Wendy yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️