
Kehadiran Seorang Cucu
Keesokan harinya, Maisara dan Daina serta bayi Mahes, sudah berada di Kota Askanawa. Harlan membawa mereka langsung ke Villa keluarga Mahespati dan menemui Wendi.
Maisara memeluk erat wanita yang duduk di kursi roda itu dengan penuh kehangatan.
“Apa kau baik-baik saja?”
“Maafkan aku, Bu! Seharusnya aku yang bertanya seperti itu pada Ibu.”
“Aku baik, jangan kuatirkan aku! Kau hanya perlu khawatir pada bayi besar itu!” kata Wendi sambil menoleh pada Harlan. Pria itu duduk di salah satu sofa di antara tiga wanita yang juga duduk di sana.
Maisara tersenyum dan berkata, “Dia bukan bayi besar, Bu! Dia suamiku!”
“Ya. Aku tidak salah menikahkan kalian, kalau saja wanita lain yang dia nikahi, mungkin aku harus mengeluarkan kartu kreditnya setiap kali dia kemari!” sahut Wendi, kemudian ia menoleh pada Daina.
“Terima kasih Bu Daina, Anda sudah melahirkan gadis hebat seperti Maisara!”
__ADS_1
“Aku berterima kasih pada Tuhan untuk hal itu juga,” jawab Daina dengan senyum ramah di wajahnya.
Mereka sudah menjadi besan, tapi baru hari ini bisa bertemu muka dan bisa bercakap-cakap sambil duduk dengan santai. Kalau bukan karena takdir kebahagiaan, maka takdir kematianlah yang biasanya membawa seseorang pada sebuah momen pertemuan yang mengharukan.
“Oh Tuhan! Terima kasih, sudah memberiku cucu setampan ini, dia mirip sekali dengan Harlan waktu masih bayi!” pekik Wendi begitu menoleh pada Mahes yang masih tertidur pulas dalam kereta bayi.
Wanita itu segera menggendongnya dan menciumi pipi gembul bayi itu hingga bangun dan menangis. Namun, bayi lucu itu segera tiba-tiba berhenti menangis begitu melihat suasana ramai di sekitarnya. Namun, tak lama ia kembali menangis
“Ibu, biarkan aku menyusuinya dulu!” kata Maisara sambil berdiri.
“Mai, kau menyusui sendiri bayimu? Aku senang mendengarnya, sebab banyak perempuan modern tidak mau melakukannya, karena khawatir buah dadanya kendur!” kata Wendi.
Selama menyusui, Maisara menceritakan bagaimana proses dirinya yang untuk pertama kalinya melahirkan. Harlan ikut mendengar cerita istrinya sambil melihat layar ponsel. Sesekali ia melirik Maisara yang sedang bicara.
Setelah Mahes melepaskan mulutnya dari Maisara, Wendi kembali memangkunya.
“Ahk! Dia lucu sekali. Aku akan tidur dengannya malam ini!” pekik Wendi lagi sambil terus menciumi cucunya itu.
__ADS_1
Atas permintaan Wendi, Daina menginap di sana dengan alasan selama ini ia sering sendiri karena dua saudaranya yang tinggal dalam satu rumah sering bepergian.
Daina setuju untuk tinggal demi menghargai Wendi, tapi ia hanya untuk beberapa hari saja. Setelah itu ia akan mencari rumah baru dan akan tinggal di kota itu selama Maisara masih membutuhkan dirinya. Kalau tidak, maka ia lebih senang tinggal di Kota Aspala, sebab di percetakan itu bakat memasaknya jauh lebih berguna.
Di rumah besar itu, Daina menempati kamar tamu, sedangkan Harlan dan Maisara tidur di kamar yang biasa ditempati Harlan sejak dulu. Mereka tidak melihat Roni dan keluarganya di sana, tapi menurut Wendi, mantan kekasihnya itu sudah lama pergi, karena bekerja di luar kota.
Tentang urusan pria itu Maisara sudah tidak memikirkannya lagi, Wendi mengabarkan semuanya hanya sekedar basa-basi, karena memang mereka sebagai keluarga.
Keesokan harinya, Maisara berniat untuk bertemu dengan Sanaya dengan membawa bayi Mahes bersamanya, tapi Harlan menolak.
“Jangan bawa anakmu ke luar bertemu dengan banyak orang, apalagi orang asing!” larang Harlan.
“Naya bukan orang asing ...,” sahut Maisara.
“Itu, sama saja! Perempuan itu asing untuk dia!” Harlan berkata sambil berjalan mendekati box bayi Mahes.
“Apa yang akan kau lakukan?”
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️