
Sebuah Tipuan
Untuk apa Ibu ke sana? Pikir Harlan
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat sekelebat bayangan yang bergerak ke arahnya.
“Apa kau mencari ibumu?” tanya sesosok bayangan yang tiba-tiba muncul itu, suaranya terdengar familiar di telinga Harlan. Berbaur di antara deburan ombak dan angin malam.
Itu pantai yang curam, angin yang memantul dari tebing pasti akan sangat besar terasa hempasannya di sekitar, hingga orang harus sedikit bersuara keras saat bicara.
“Hansen! Apa yang kau lakukan pada ibuku!” Harlan berkata sambil mendekat dengan cepat penuh kemarahan. Lalu, ia mencengangkan kuat kerah baju Hansen. Pria itu menyeringai dan menatapnya dengan sinis.
Kehilangan ayah dengan cara menyakitkan, ia tidak ingin kehilangan ibunya dengan cara tragis seperti itu, sehingga hatinya panas bagai tersulit api yang membara. Ia benar-benar membenci Hansen.
“Katakan di mana Ibuku!” seru Harlan panik.
“Kau pikir apa? Kau tidak sanggup kehilangan orang yang kau cintai? Coba bayangkan bagaimana perasaan Raina yang kau tinggalkan! Hari ini dia keguguran! Apa kau tidak punya perasaan? Dia anakmu!”
Harlan melepaskan cengkeramannya dan mencibir.
“Oh, jadi masih soal perempuan itu? Hah!”
Kini Hansen yang mencengkeram kerah baju Harlan.
Namun, Harlan memegang kedua tangan Hansen dengan kuat, menahan cengkeramannya tidak mengenai leher.
__ADS_1
Seketika pengawal dan asisten mendekati Hansen, untuk memegang tangannya agar melepaskan bos mereka.
“Kalau kalian berani menyentuhku, sekarang juga aku akan terjun dari atas tebing ini dan akan membawanya!” pekik Hansen mengancam pada kedua orang yang setia itu agar tidak mendekat.
Harlan memberi kode pada keduanya agar tidak gegabah dengan situasi yang mereka hadapi. Kini ia menyadari kalau sehelai sapu tangan Wendi yang dilihatnya adalah tipuan. Padahal banyak orang yang memiliki sapu tangan seperti itu. Namun, ia heran bagaimana ibunya membagi lokasi yang salah?
Sebenarnya Hansen mengirim lokasi yang sama, hanya saja ia memberi uang pada sopir Wendi untuk membawa wanita itu ke rumah Andi yang sebenarnya. Sementara Harlan menuju lokasi yang ia inginkan.
“Jadi, kau ingin mati dengan cara seperti ini karena putus asa tidak bisa memiliki Raina?”
“Dia mencintaimu dan kau mengabaikannya!”
Percakapan masih terus berlangsung sengit, dua orang itu masih saling mencengkeram kerah baju lawan bicaranya dengan keras. Suasana tegang pun tercipta, sedangkan pengawal hanya melihat tak jauh dari keduanya.
“Kau harus tahu kenapa aku tidak pernah mencintainya! Baiklah, akan aku katakan sekarang ... sebenarnya dulu aku pernah melihat dia melakukan hubungan terlarang dengan adik ibunya! Menjijikkan sekali, dan aku melihatnya dengan mataku sendiri, Hansen! Oh ya! Satu hal lagi, anak dalam perutnya itu bukan milikku!”
“Kau pikir begitu? Aku punya buktinya kalau anak itu bukan anakku dan dia yang memohon agar aku mau mempertanggung jawabkannya! Kau tahu alasannya? Biar kelak anak itu memiliki namaku di belakangnya! Jangan bilang aku tidak berkorban demi wanita itu!”
“Pembohong!”
“Perempuan itu yang berbohong padamu! Dia bilang padaku, lelaki yang menghamilinya sudah tiada dan aku tidak peduli atas semua itu. Ambil dia kalau kau mau!”
“Akh! Kau munafik! Aku menyesal pernah menjadi sahabatmu!”
“Aku tidak pernah memintamu untuk itu!”
__ADS_1
Tiba-tiba hati Hansen penuh dengan penyesalan dan tidak bisa menerima nasibnya yang buruk. Ia tahu Harlan tidak mungkin bicara seperti itu tanpa data, karena pria itu sangat logis dan ia selalu teliti dalam segala hal. Ia putus asa, selama ini cintanya sia-sia dan salah. Ia pikir Raina--wanita yang disukainya itu luar biasa.
Namun kini semua sudah terlanjur terjadi, ia sadar tidak mungkin meminta Raina untuk mencintainya. Kalau saja gadis itu ingat, pasti akan mencarinya untuk bertanggung jawab atas bayi yang akan ia lahirkan. Hansen dengan senang hati akan melakukannya.
Raina melakukan tindakan yang di luar nalar menurut Hansen, karena justru meminta pada Harlan yang jelas-jelas menolak untuk menikahinya. Sementara Hansen mencintai gadis itu apa adanya. Rupanya, cinta sebesar lautan pun tak terlihat di mata Raina. Jadi, apa gunanya ia hidup, ibunya saja turut berbohong dengan mengatakan jika bayi itu milik Harlan. Itu artinya mereka tidak pernah menginginkan dirinya, untuk menjadi bagian dari keluarga.
Tangan dan kaki Hansen mulai gemetar, akibat dari rasa sakit yang amat sangat menjalar dari ulu hati ke seluruh kulit dan dagingnya. Ia limbung dan lemas. Lalu, sesaat kemudian ia oleng dan tubuhnya pun melayang ke sisi tebing yang curam. Bahkan, seolah-olah nyawanya sudah terbang sebelum raganya menyentuh tanah.
Apa mungkin itu istilah yang disebutkan beberapa orang, tentang adanya cinta sehidup semati.
Harlan mencoba menyentuh dan memegangnya, tapi posisi kakinya tidak seimbang saat hendak meraih Hansen secara refleks, sehingga ia ikut terjatuh ke tebing yang curam.
“Aakh!” Pekiknya keras.
“Tuan!” Seru pengawal sambil berlari sekuat tenaga. Ia segera melihat ke bawah, tidak terlihat apa-apa, kecuali mereka memiliki senter sekarang, tapi perlengkapan itu ada di dalam mobil. Ia pun berinisiatif untuk turun mencari Harlan sendirian saat itu juga, karena tidak ingin sesuatu terjadi padanya.
Asisten ingin mengikuti pengawal yang sudah bergerak, dengan menggunakan lampu pada ponsel. Ia menyimpan tas yang berisi perlengkapan dan kebutuhan Harlan di tanah. Tas itu selalu dibawanya ke mana-mana.
Namun, baru saja ia maju selangkah, pengawal melarangnya.
“Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan ikut bersamaku untuk mencari Tuan?”
“Ya.”
“Bawa kembali tas itu dan segera pergi dari sini untuk mencari sinyal, kirimkan pesan pada mereka untuk segera mengirim bantuan!”
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️