
Kau Menyakiti Ibumu
“Aku dengar!” sahut Harlan.
Secara serentak kelompok kecil itu berhamburan menuju pintu untuk pulang.
"Tuan Harlan, aku pulang dulu sebab aku harus tetap waras kalau menghadapi istriku ... aku tidak ingin jiwaku ketularan pra menstruasi juga!" seru Taupan, ia yang berada paling belakang.
Mereka pergi dengan cepat setelah berada di mobil masing-masing, selain karena tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, mereka sudah mengantuk. Apalagi mereka tidak ingin mendapatkan kemarahan dari Harlan—teman yang secara tidak langsung sudah membuat kehidupan dan ekonomi keluarga mereka membaik, karena diajak bermitra dalam kerja sama bisnis.
Harlan memutuskan untuk mempercepat waktu perjanjian dengan Raina, karena wanita itu sudah melakukan hal yang tidak disukainya. Selain itu, ia tetap memesan cincin, membuat rencana pesta dan memilih gedung, serta tema acara yang ia pikir akan cocok dengan Maisara, saat bersanding kelak di pelaminan bersama.
Ia tidak ingin berlama-lama hingga keesokan harinya, ia mendatangi rumah sakit untuk melihat keadaan Wendi. Ibunya itu sudah dipindahkan ke ruang rawat inap yang tidak begitu jauh dari kamar Harlan, di mana Raina dan ibunya berada.
Wendi sudah jauh lebih baik, sejak semalam. Ia memalingkan muka saat Harlan duduk di sisi tempat tidurnya. Perasaan kecewa tampak jelas di wajahnya.
“Kau menyakiti Ibumu! Kau sudah kunikahkan dengan perempuan baik-baik, tapi justru menikah lagi dengan Raina?” kata Wendi dengan berlinang air mata, ia masih tidak mau menatap anaknya.
“Itu demi Masara juga, aku tidak ingin mereka menyakiti dia, makanya aku memenuhi permintaan Raina sebagai balas jasa karena selalu baik padaku sejak sekolah dulu, apalagi aku tidak membalas cintanya!”
Windy menatap Harlan kini dengan tatapan penuh amarah yang membara.
“Omong kosong macam apa itu? Tidak ada orang yang mencegah rasa sakit dengan memberi rasa sakit! Itu pendapat yang aneh sekali. Dasar! Anak tidak pengalaman soal cinta! Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan itu menyakiti istrimu”
“Melukai hatinya, bukan berarti melukai badannya, Bu! Kalau mereka melenyapkan Maisara, maka tidak akan ada lagi istriku di dunia, tapi kalau dia tahu alasanku melakukan itu, aku pikir dia tidak akan sakit hati, lagi pula aku tidak menyentuh Raina sedikit pun, dia tidak perlu merasa cemburu!”
“Dasar bodoh! Mana dia tahu, kalau kau tidak mengatakannya?”
“Oh ya! Aku mau bilang tapi dia sudah pergi!” kata Harlan.
Wendy memukul tangan laki-laki di samping tempat tidurnya, dengan keras. Walaupun ia sakit, tetapi pukulan tangannya terasa cukup panas di kulit Harlan.
“Itu salahmu, mana ada wanita yang rela suaminya menikah lagi! Cari dia!”
__ADS_1
“Baiklah, Ibu tenang saja!”
Harlan mencibir, ia yakin dengan pendiriannya jika Maisara bisa memaafkannya kalau tahu apa alasannya menikahi Raina. Ia suatu kali pernah secara tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Sari dan seorang laki-laki yang tidak ia kenal. Saat itu ia baru saja keluar dari toilet di sebuah mall.
Seingatnya waktu itu Sari dan suaminya telah berkunjung ke rumah ibunya, mereka memberikan banyak hadiah sebagai permohonan untuk menikahi Raina. Dalam pembicaraan itu Sari mengetahui jika Maisara hamil anak Harlan, bahkan saat pria itu masih dalam keadaan belum pulih dari kelumpuhan.
Harlan tahu jika Sari mengetahuinya secara tidak sengaja pula, dan membuat sebuah rencana untuk mencelakakan Maisara.
Oleh karena itu Harlan langsung menyetujui dan membuat perjanjian, ketika Raina dan Sari memintanya untuk menikah. Sungguh ia punya sebuah alasan untuk menjaga Maisara, dengan syarat mereka tidak menyentuh istrinya sedikit pun.
Setelah selesai berbincang dengan ibunya, Harlan pergi ke ruangan yang dijadikan tempat untuk mengurung Raina dan Sari.
Sesampainya di ruangan yang gelap itu, pengawal membuka pintu untuk Harlan dan lampu langsung dinyalakan, demikian pula dengan AC dan pembersih udara. Pria duduk di sofa setelah ruangan terasa cukup sejuk.
Raina langsung berteriak dan terisak, sambil bersimpuh di hadapan pria yang menjadi suami, hanya di atas kertas itu.
“Harlan ....! Kau datang, Sayang? Syukurlah ... aku kegerahan sekali, kenapa kau seperti ini, apa salahku?”
“Apa kalian sudah memikirkan kesalahan yang sudah kalian lakukan?” tanya heran ketus.
Sari menghampiri, ia melangkah mendekati Harlan setelah berpakaian. Penampilannya terlihat kusut dan menyedihkan riasan dan rambutnya pun acak-acakan.
“Memangnya kau pikir, aku dan Reina punya salah apa padamu?”
“Kita sudah sepakat ... untuk tidak menyentuh Maisara, lalu apa yang sudah kau lakukan, membuat tangannya terkilir dan bengkak?”
“Jangan menuduh sembarangan! Kau harus mempunyai bukti, kalau memang aku melakukan itu!”
“Kau masih tidak mau mengaku juga? Apa Kau pikir aku bodoh sampai meminta bukti? Seharusnya kau tahu mall itu juga, bagian dari kekayaanku dan kau sudah membuat masalah di sana!”
Seketika Sari tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia tidak tahu kalau mall itu, adalah milik Harlan juga, yang sudah pasti mempunyai akses di dalamnya. Ternyata pergerakannya tidak mudah dan Maisara bukanlah tandingan yang sepadan, kalau ingin melenyapkannya.
“Jadi, perjanjian ini batal!” kata Harlan sambil menatap Raina dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Ia memberi isyarat pada asisten untuk menyerahkan sebuah amplop pada Raina.
“Ini, tanda tangani ini! Aku sudah membuat surat perceraian sejak awal, untuk berjaga-jaga kalau kalian membuat kesalahan. Aku sudah terlalu baik pada kalian ... Dan, surat nikah yang ada padamu masih bisa kau gunakan untuk membuat akta kelahiran bayi itu, kalau lahir nanti. Walaupun kau sudah menjadi janda, tapi setidak-tidaknya kau mempunyai sesuatu kedudukan yang terhormat karena kau adalah jandaku!”
Harlan berkata sambil berdiri, ia hendak melangkah tetapi Raina menahannya dengan memeluk kedua kakinya erat. Ia duduk bersimpuh di lantai, lalu menangis keras-keras meminta pada Harlan agar tidak melepaskannya.
“Maafkan aku sekali ini saja, maafkan ibuku dan dia tidak akan melakukannya lagi ... kami akan menjaga diri dan bersembunyi di tempat lain agar tidak bertemu lagi dengan Maisara ... tolong kasihanilah aku, Harlan ... Aku sangat mencintaimu, kumohon, jangan jadikan aku janda!” kata Raina sambil menangis.
“Percuma! Maisarah sekarang sudah pergi dari sini, buat apa kalian memohon padaku? Tidak ada gunanya!”
Harlan berkata sambil mengibaskan kaki agar lepas dari pelukan Raina, dan pengawal membantu melepaskan kedua tangan wanita itu agar menjauh dari majikannya.
Setelah itu Harlan berjalan keluar dan tenang, meninggalkan dua wanita yang masih menangis saling berpelukan. Mereka tampak menyesali perbuatan yang terlihat sepele, dan tidak disangka akan menjadi masalah besar seperti sekarang. Namun, air mata yang jatuh hanyalah sia-sia, karena tidak akan merubah pendirian pria yang mulai menjauh, mereka berharap laki-laki itu mau memberi belas kasihan.
Biar bagaimanapun juga alasan dasarnya adalah, cinta Raina yang begitu kuat pada Harlan. Sampai-sampai, kekuatan cinta itu justru melemahkan dirinya sendiri.
Harlan kembali ke Mahespsti industri, sepulangnya dari rumah sakit. Ia a baru saja duduk di kursi kerjanya, ketika asisten memberi kabar yang mengejutkan. Walau ia sudah bicara dengan hati-hati dan lemah lembut pada Bos-nya itu, tetapi tetap saja membuat Harlan menggebrak meja dengan kuat.
Brakk!
Harlan tetap mengepalkan kedua tinjunya setelah memukul meja.
“Berani-beraninya pria itu muncul saat ini? Apa dia sudah kelaparan atau sudah punya kekuatan untuk bangkit?” gerutunya sambil menatap keluar jendela seolah di depannya ada seseorang yang sangat ia benci.
“Hansen sekarang punya seseorang yang kuat di belakangnya Tuan!” kata Asisten.
“Aku kira pria itu sudah mati!” seru Harlan, sambil tersenyum mengejek dan memalingkan muka.
“Tuan, ada yang aneh di sini!” kata Asisten lagi sambil menunjukkan sesuatu pada sebuah dokumen.
“Apa itu?”
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1