
Di atas dipan di bawah pohon ketapang, Laras duduk dengan kaki diayunkan. Wajahnya cerah, seperti bunga yang mekar di musim panas. Terlebih saat melihat seseorang dari kejauhan mendekat, matanya berbinar dengan jantung yang berdebar kencang.
Laras membenarkan anak rambut sebelum akhirnya membalas sapaan dari pria yang sedari tadi ditunggu kedatangannya.
"Lihat siapa pria beruntung yang ditunggu oleh wanita cantik ini," ujar pria yang baru datang.
Menanggapi itu, Laras tersenyum dengan malu. "Lihat siapa yang tidak ingat jika dirinya pria beruntung itu."
Keduanya tertawa. Tak lama, Lion menarik tangan yang sedari tadi disimpan di balik punggung. Sebuah biji Cemara diserahkan pada Laras.
"Apa ini?" Dahi Laras mengerut.
"Biji cemara."
"Alih-alih memberiku bunga, kamu membawakan biji cemara?" Laras terkekeh, meski ia tetap mengambil biji berwarna cokelat dari tangan Lion.
Tak hanya tersenyum, Lion beralih duduk di samping Laras. Matanya menatap wajah wanita yang masih menatap biji cemara. Sesaat pria itu kembali membuang pandangan, berada di sana membuatnya bisa sedikit menghindar dari peliknya masalah semalam.
"Laras," ucap Lion. Ketika wanita di sana menoleh, pria itu justeru menggeleng. "Tidak ada."
"Ada yang sedang dipikirkan?" tanya Laras, memastikan. Namun segera Lion tersenyum dan menggeleng.
"Ngomong-ngomong, apa kamu tidak apa memakan sayuran?"
Lion yang tadi menatap langit segera menoleh. "Ya. Aku baik-baik saja."
Mendengar itu, Laras menghela lega. "Syukurlah. Dari buku yang aku baca, katanya serigala bisa sakit perut kalau makan sayur."
Sesaat Lion terdiam, ia menyimak raut wajah Laras barangkali wanita itu bercanda. Namun sepertinya tidak, Laras serius mengatakannya.
"Entah buku apa yang kamu baca, tapi aku baik-baik saja." Lion menimpali. Ia hampir tertawa jika tidak ditahan.
Keduanya terus terjalin obrolan dengan hangat. Sesekali saling menggoda, atau sekadar melempar canda. Apapun yang mereka katakan, hanya ada perasaan rindu yang bersemayam. Bahkan saat mereka bersama, kerinduan itu nyata adanya.
Hingga tak terasa, matahari perlahan pergi.
"Kau menginap di sini malam ini, kan?" Laras berbaring di atas pangkuan Lion. Buku yang sedang dibaca tak lagi menarik untuknya. Daripada itu, bukankah pria di sana lebih patut untuk diperhatikan?
Lion mengangguk, tangannya mengusap pipi Laras yang merona. "Bagaimana ini?" lirihnya.
__ADS_1
Laras segera menoleh. Menatap Lion dengan penuh pertanyaan.
"Sepertinya aku jatuh cinta lagi padamu."
Jantung yang tadi masih aman, kini berubah menjadi genderang yang ditabuh kencang. Laras terdiam, sedangkan wajah sudah terasa panas seperti dibakar.
Perlahan wajah Lion mendekat. Sementara Laras menutup mata, tahu apa yang akan pria itu perbuat. Hanya dalam hitungan detik, bibir keduanya bertaut. Sangat dalam, ciuman mereka kali ini tak berhenti sebatas kecupan.
Mata Lion berubah sayu. Ia menatap Laras, seolah meminta izin untuk melakukan lebih. Setelah mendapat anggukan, diangkatnya tubuh Laras ke atas pangkuan.
Malam itu untuk pertama kalinya, mereka menyatu dalam cinta.
***
Hingga saat cahaya dari timur perlahan masuk melalu celah jendela.
Dua mahluk masih saling memeluk di balik selimut. Wajah mereka tenang, seolah tak perlu bangun setelah apa yang terjadi semalam.
Namun, setelah beberapa jam terpejam rasanya sayang jika melewatkan pagi tanpa menatap wanita idaman.
Lion yang pertama membuka mata. Menatap Laras yang terlihat kelelahan. Dengan senyum yang mengembang, ia membelai anak rambut yang menutupi sebagian wajah wanita itu.
"Apa aku membangunkanmu?" tanya Lion dengan suara yang masih serak.
Dengan kantuk yang masih terasa, Laras menggeleng. Namun setelah agak sadar, tiba-tiba wajahnya memerah. Tentu, bayangan kegiatan semalam benar-benar beredar jelas di kepala.
Laras menutupi wajah dengan selimut. Bukan ia tidak ingin memandangi Lion, hanya saja terlalu memalukan untuk mengingat hal itu dengan pria di hadapannya.
"K-kau bisa bangun lebih dulu," ucap Laras dengan gugup.
Awalnya Lion ingin tetap berada di sana dan menggoda Laras. Akan tetapi setelah dipikir, ia tidak ingin melihat wanitanya menderita di awal hari.
"Baiklah. Kamu bisa tidur lebih lama, aku akan bangun sekarang." Akhirnya pria di sana memilih keluar dari selimut. Memunguti pakaian yang bertebaran dan mengenakannya dengan cepat.
Tak hanya itu, Lion juga membereskan homedress yang Laras kenakan semalam. "Ini bajumu. Aku akan keluar sebentar."
Di dalam selimut, Laras mencoba menenangkan jantung yang keras kepala. Ia sudah mencoba bersikap biasa, tapi nyatanya tak bisa. Bayangan semalam benar-benar mengganggu.
Hingga setelah beberapa saat berlalu, Laras akhirnya keluar dari selimut. Tentu setelah ia memastikan Lion sudah benar-benar keluar.
__ADS_1
Ia melirik jam di atas nakas. Sudah cukup siang, harusnya ia sudah menyiapkan sarapan. Namun lagi-lagi, saat Laras memijat tubuh yang terasa lelah, tiba-tiba bayangan semalam tergambar jelas.
Laras menyingkap selimut dengan kasar. "Aku harus melakukan sesuatu sebelum pikiran ini menggangguku sepanjang hari," ujarnya dengan tegas.
Setelah berperang dengan perapian, beberapa hidangan akhirnya tersaji. Daging kesukaan Lion, dan sayuran sebagai pelengkap.
"Laras. Maukah menikah denganku?"
Laras yang belum duduk dengan sempurna segera menganga. Bahkan tak bisa berkata, lidahnya terlalu kelu untuk menanggapi pertanyaan Lion yang tiba-tiba.
"Tiba-tiba?" tanya Laras dengan terbata.
Lion mengangguk, tidak ada kegugupan sama sekali di wajah pria itu. "Mengingat semalam--"
"Makan!" Laras menyumpal mulut Lion dengan satu timun utuh. Tak bisa membiarkan pria itu membahas semalam setelah ia mati-matian melupakan. "Jangan bicara lagi. Habiskan daging ini sebelum aku berubah pikiran."
Tak bisa menolak, Lion hanya menurut meski dengan raut wajah sedikit masam. Padahal menurutnya semalam adalah kenangan yang indah, tapi kenapa Laras tak mau membicarakannya?
Hingga ketika makanan hampir habis, tiba-tiba telinga Lion menangkap suara yang tak asing dari balik ladang bunga. Setelah ia mempertajam penglihatan, barulah tersadar jika dua kawannya berada di sana.
"Aku segera kembali." Lion segera beranjak, tak peduli bahkan ketika Laras ingin bertanya hendak kemana.
Beruntung, tak lama Lion benar-benar kembali. Namun dengan wajah yang berubah.
"Ada apa?" tanya Laras.
"Tadi kawanku datang."
"Kenapa tidak diajak makan sekalian?"
"Mereka pemalu dengan manusia."
Lion menghabiskan sisa makanan dengan cepat. Setelahnya menatap Laras dengan gusar. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan, tapi tak bisa dikatakan.
Sampai akhirnya Lion membuka suara. "Laras, aku harus pergi sekarang."
Awalnya Laras bertanya-tanya. Namun setelah melihat sorot di mata Lion, ia akhirnya mengangguk mengiyakan meski setengah hati.
Lion mengecup kening Laras. "Aku akan kembali." Lalu bergegas pergi tanpa menoleh sedikitpun pada wanita yang ditinggalkannya.
__ADS_1