
Ketika bendera perang baru berkibar.
Dua ekor serigala berbulu abu-abu berjalan terburu-buru menjauhi perbatasan. Di dalam sana jelas sekali terdengar riuh ribut, tetapi mereka memilih untuk tidak ikut campur. Atau lebih tepatnya mundur lebih dulu untuk hal yang lebih penting.
"Bagaimana kau tahu jika wanita itu dalam bahaya?" tanya Vicky pada kawannya.
Sedangkan Kevin yang nampak serius tak langsung menjawab. Perlahan tubuh serigalanya berubah menjadi manusia. Barulah ia menjawab, "Aku tahu karena lawannya adalah Irly. Wanita itu tahu jika Aira tak mudah ditaklukkan. Jadi mengambil sesuatu yang berharga adalah cara terbaik untuk mengalahkan Aira."
Hingga ketika langkah cepat terus dikerahkan, sebuah ujung dari lorong hutan terlihat.
Kevin berhenti, disusul oleh Vicky yang turut mengarahkan pandangan pada wanita di tepi sungai.
Sesaat keduanya saling memandang, di detik berikutnya mengangguk tanda waktu yang tepat untuk bergerak.
Tak mau membuang waktu, Vicky yang bertugas untuk mendekati Laras. Sedangkan Kevin berjaga mengamati sekitar. Mereka tidak tahu kapan bawahan Irly akan dikirim.
Beruntung, sepertinya Vicky menyelesaikan semua dengan cepat. Tanpa butuh waktu lama, keduanya membawa wanita yang barusan dibuat pingsan, Laras.
***
Di dalam ruangan bawah tanah yang gelap, Laras duduk memeluk lutut dengan pikiran kalut. Ia bahkan tidak tahu apa yang terjadi, dan sekarang harus dikurung di dalam tempat asing.
"Aku akan pergi menemui Aira sekarang." Kalimat itu terdengar samar di telinga Laras.
Wanita itu segera bangkit. Mendekat ke arah jeruji kayu berharap bisa mendengar percakapan lebih jauh.
Benar saja, tak lama terdengar sahutan meski samar.
"Aira pasti sedang bertarung di dalam istana. Kau yakin bisa menghadapi Irly?"
Mendengar itu kedua alis Laras menyatu. "Irly? Siapa dia?" lirihnya bertanya pada diri sendiri. Namun setelah beberapa detik tiba-tiba matanya membulat. "Apa jangan-jangan wanita serigala salju yang Lion maksud?"
Akan tetapi saat Laras masih memasang telinga, tanpa diduga seseorang masuk ke sana. Membuat wanita itu terkejut dan mundur seolah tidak mau ketahuan telah mendengar sesuatu.
__ADS_1
Namun yang terjadi justeru pria yang baru datang menunduk penuh hormat pada Laras. Saat wanita itu masih mematung dengan bingung, pria di hadapannya mengawali kata.
"Maaf karena telah membawamu kemari tanpa aba-aba lebih dulu," ucapnya, "untuk sementara tetaplah di sini sampai keadaan aman."
Laras yang awalnya takut perlahan mulai memberanikan diri. "A-apa kau, Kevin?" tanyanya dengan hati-hati.
Pria di sana menggeleng. "Aku Vicky, salah satu kawan Aira."
"Aira?"
"Lion. Sebenarnya dia di sini bernama Aira." Vicky menjelaskan, seolah paham dengan kebingungan Laras.
Mendengarnya, Laras segera mengangguk paham. Meski di dalam hati, wanita ini masih menaruh was-was yang sangat besar. Bagaimana ia bisa percaya dengan pria yang baru ditemuinya sekali?
Sementara Laras dan Vicky masih berada di kurungan bawah tanah, peperangan yang terjadi mulai memasuki singgasana istana.
Irly duduk dengan gusar. Di luar jelas sekali pertempuran tengah berlangsung. Suara panah, bahkan teriakan dan asap kental mengepul di udara. Bukan berarti ia hanya diam di atas singgasana, tentu ia harus mengeluarkan kartu as terakhir.
"Di mana Kevin?" ucapnya dengan kepala hampir meledak. Sesaat tak ada satupun yang menyahut. Jumlah prajurit yang tersisa di dalam hanya tinggal hitungan jari. Menyadari dirinya terpojok, tangan Irly mengepal kuat. "Serigala hutan itu! Berani-beraninya dia!"
"Aku di sini." Rupanya Kevin. Pria itu berdiri tegap dengan wajah tegas di ambang pintu.
Irly berdiri dengan perasaan sedikit lega. Tentu saja, Kevin adalah kartu as satu-satunya yang kini tersisa. "Sudah kuduga kamu tidak akan meninggalkanku, Kevin."
Namun Kevin sama sekali tak beranjak dari ambang pintu. Ia hanya diam menatap Irly yang perlahan berjalan mendekat.
"Ini saatnya, Kevin. Aira dengan sukarela menyerahkan dirinya ke sini," ucap Irly seraya mendekat. "Kau bisa mengalahkannya di sini!"
Wanita itu merasa jika jalan kemenangan kembali terbuka dengan adanya Kevin. Akan tetapi, alih-alih menyambut gayung yang Irly berikan, Kevin justeru hanya menatapnya dengan tajam.
"Sayang sekali. Tapi aku sudah tidak tertarik dengan itu, Putri Irly!"
Bertepatan dengan kalimat yang baru selesai, tiba-tiba dari belakang tubuh Kevin muncul seorang pria dengan mata penuh kebencian. Seseorang yang paling berhak berada di atas singgasana Fantasiana, Raja Aira.
__ADS_1
Seketika bibir Irly menganga dengan bola mata melebar sempurna. Tubuhnya beku, mematung menatap Aira masuk ke dalam singgasana.
"Apa maksudnya ini?" gumam wanita itu tak percaya. Sesaat kemudian ia menatap Kevin yang berdiri diam membiarkan Aira masuk. "Kau sengaja melakukan ini padaku?"
Namun Kevin hanya diam. Ia bahkan enggan melakukan kontak mata dengan Irly di hadapannya.
"Kau tidak ingat kesepakatan kita?" Irly terlihat sangat marah. Matanya memerah. "Kau setuju saat aku ingin menjadikan tulang murni sepertimu menjadi raja di sini. Kau juga setuju kalau Aira yang setengah manusia tidak layak berada di posisi ini, kan?"
Kalimat barusan berhasil menyita perhatian Kevin. Ia segera menoleh, menatap Irly dengan garis serius di antara kedua mata. "Aira memang setengah manusia. Tapi itu lebih baik daripada aku harus dipimpin oleh serigala salju licik sepertimu!" ucapnya lantang, penuh ketegasan.
Mendengar itu, Irly menggeleng kuat. Ia tidak menyangka jika Kevin juga berbalik mengkhianatinya setelah kesepakatan besar yang ia tawarkan.
Hingga ketika Irly tak lagi bisa berpikir, Aira dan Win serta beberapa pemburu sudah siap mengangkat senjata. Bertepatan dengan itu, pasukan di bawah pimpinan Irly yang tersisa beberapa juga segera melindungi wanita itu.
Irly ditarik mundur untuk bersembunyi oleh seseorang. Sedangkan para pria bersenjata mulai menabuh genderang perang.
"Serang!"
"Habisi mereka!"
Kalimat-kalimat yang bertukar berebut ruang di udara. Kericuhan yang tadi hanya di luar kini sudah masuk ke dalam istana. Kursi kosong yang disapa singgasana menjadi rebutan bagi siapa saja yang ingin mendudukinya, bahkan mereka yang tidak berhak sekalipun.
Beruntung, agaknya kemenangan hampir didapat oleh pasukan Aira. Satu persatu prajurit Irly gugur. Jika tak salah hitung hanya ada beberapa yang tersisa.
Melihat kekalahan di depan mata, Irly tak bisa tinggal diam. Dengan memanfaatkan kegaduhan yang terjadi, ia perlahan menyelinap dengan benda tajam di tangan.
Perlahan, tak ada yang sadar jika ada penyusup yang menyela di antara panah dan pedang. Hingga ketika Aira berdiri penuh kemenangan setelah menghabisi seluruh kawanan serigala putih, tiba-tiba sebuah hunusan pisau menusuk dalam di dadanya.
Aira terdiam sesaat. Awalnya nyeri yang dirasa tidak seberapa. Namun setelah beberapa detik, tubuhnya terasa mati rasa. Ia jatuh dengan darah mengucur dan pisau bermata tembaga hitam beracun masih menempel di dadanya.
"Aira!"
"Lion!"
__ADS_1
Namun terlambat, sang raja sudah kehilangan kesadaran.