
"Kau sudah menemui salah satu kawanan?" tanya Laras ketika persiapan perang hampir selesai.
Lion mengangguk. "Dia bilang waktu terbaik untuk menyerang saat siang, sebab suhu sedang naik," ucapnya menjawab.
"Siapa nama kawananmu itu?
"Kevin. Dia salah satu orang yang bisa aku percaya."
***
Win menarik napas dalam sebelum akhirnya mengeluarkannya dengan kasar. Hutan di seberang sungai terlihat lebih kelam, padahal sedari kecil ia sudah berkelana di dalamnya. Di sampingnya, Lion menatap dengan tatapan lurus ke depan. Sorot di matanya tertuju pada satu celah, tempat di mana ia akan mempertaruhkan kehidupan.
Sementara di belakang para pemburu, seorang wanita terlihat gusar. Kedua tangan disatukan dengan doa yang terus dirapal. Awalnya ia penuh semangat memberi dukungan pda Lion. Namun ketika saatnya tiba, kenyataan bahwa ia tidak ingin pria itu terluka menjadi kekhawatiran yang sangat besar. Laras tak bisa jika hanya diam dan menunggu.
Di sebelah wanita itu, Kinan merangkul dengan erat seolah memberikan kekuatan pada Laras. Hanya dari wajah yang khawatir, bisa dijelaskan jika ia juga mengkhawatirkan orang-orang yang akan pergi ke Fantasiana.
Hingga ketika matahari perlahan naik, genderang dipukul tanda mereka sudah siap berangkat. Masing-masing membawa senjata. Panah yang sengaja diberi minyak tanah, juga obor yang sewaktu-waktu akan dilempar jika dibutuhkan.
Dengan tekad yang kuat, akhirnya Lion berteriak. Perlahan pasukan pemburu yang dipimpin olehnya maju. Tak ada kesepakan besar untuk bekerjasama. Hanya sebuah janji yang dibuat dengan Pak Darto sebagai perwakilan manusia.
Berkaitan dengan Pak Darto, lelaki paruh baya itu memutuskan untuk tinggal setelah dipaksa agar tak ikut serta. Medan yang akan dilalui mungkin melebihi kata bahaya. Akan lebih baik yang sudah berkompeten yang berangkat.
Laras menatap mereka dengan tatapan sendu. Ada perasaan pesimis di antara optimis yang terus dipupuk.
"Mereka akan baik-baik saja, kan?" Kinan tiba-tiba berucap. Nyatanya yang khawatir bukan hanya Laras, melainkan semua warga desa.
Dengan perasaan teguh yang tersisa, Laras mengangguk. "Tenang saja. Lion tidak akan membiarkan mereka terluka."
Menyeberangi sungai, lorong gelap di hutan akhirnya terlihat sangat jelas. Mereka mulai berangkat. Meskipun dengan perasaan gentar, tetapi tak ada satu orangpun yang memilih mundur. Mereka berjalan dengan teratur, dengan tekad yang sudah bulat.
__ADS_1
Semakin dalam memasuki hutan semakin sedikit celah yang terlihat di antara dedaunan. Bahkan sinar matahari hanya nampak singkat, siang dan malam hampir sama gelapnya di sana.
"Kau yakin bisa mengatasinya?" tanya Win di pertengahan jalan.
Lion mengangguk mantap, seolah sama sekali tidak tergambar keraguan dalam dirinya. "Dengan bantuan kalian, aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Napas ditarik sangat dalam. Daripada menghindar dari kejaran hewan buas, agaknya kali ini perasaan Win lebih berdebar. Tentu saja, yang akan mereka hadapi bukan sekadar hewan, melainkan manusia serigala dengan taring yang sangat tajam.
Namun yang khawatir bukan hanya sang pemimpin. Jangan lupakan para pemburu lain yang sudah siap mengorbankan diri, termasuk nyawa mereka.
"Aku tidak percaya akan menghadapi situasi seperti ini," ujar Ren yang berjalan di belakang. "Jangan-jangan tiga serigala yang mengejarku waktu itu adalah kawanan mereka," lanjutnya, tapi tak ada yang menanggapi selain dengan gelengan kepala.
Jam berjalan, waktu terus mengitari langkah yang tak goyah. Hingga setelah cukup lama berjalan menyusur hutan, akhirnya dua pohon besar yang menjadi tanda sudah nampak tak jauh dari mata.
Lion memberi isyarat agar berhenti. Sedangkan matanya awas mengamati dua serigala yang berjaga di perbatasan.
Ikut memastikan, Win menyipitkan mata. Barulah tak lama ia sadar. "Apa yang akan kita lakukan? Tetap pada rencana awal?"
Tanpa ragu Lion mengangguk mengiyakan. Kemudian tak ingin ada detik yang terbuang, Win segera memberi isyarat pada pasukan pemburu di belakang.
Dengan cepat mereka beraksi. Terpencar dengan puluhan wadah berisi minyak tanah yang siap di sebar mengitari perbatasan. Cukup lama, tentu mereka perlu waktu yang tidak sebentar. Barulah ketika dipastikan semua yang berpencar sudah kembali, barulah Win mengangguk agar salah satu dari mereka memantik api.
Hanya dalam hitungan detik api yang tadinya kecil kini sudah berkobar besar. Perlahan perbatasan menjadi area panas dengan asap mengepul. Inilah rencana mereka, menutup akses bagi serigala salju agar tak bisa keluar atau menyelinap dari perbatasan.
"Serang!"
Pasukan pemburu mulai berlari memasuki kawasan Kerajaan Fantasiana. Dengan posisi masing-masing, mereka sudah siap untuk meluncurkan serangan kapanpun. Sementara para pemanah dipimpin oleh Win, maka yang berada di garda depan akan mengikuti instruksi dari Lion.
Bendera perang telah berkibar.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kerajaan, Irly yang kini berada di singgasana ratu membulatkan mata ketika menerima penyerangan tiba-tiba. Tangannya mencengkeram kuat, ia marah sebab kawanan yang ditugaskan untuk mengawasi Aira nyatanya bisa kecolongan seperti ini.
"Panggil kawanan yang berjaga di balik gunung!" Irly segera mengeluarkan titah. Namun, apa yang wanita itu harapkan tak selalu berjalan mulus.
"Sepertinya akan sulit. Sebab sekitar perbatasan sudah terbakar penuh dengan api."
Namun, apa yang wanita itu harapkan tak selalu berjalan mulus. Irly terdiam untuk berpikir sejenak. Matanya sudah merah menahan marah. Tetapi ia tetap harus mengirim pasukan untuk melawan penyerangan.
"Kau, panggilkan salah satu serigala hutan." Perintahnya langsung dituruti. Tak lama seekor serigala hutan datang menghadap. "Bawa wanita yang tinggal di tepi sungai ke sini. Dia wanita bernama Laras!"
Sesaat serigala hutan yang menghadap Irly terdiam. Meski perlahan ia tetap mengiyakan.
"Kau akan tahu akibatnya jika berkhianat, kan?" tanya Irly. Saat serigala wanita di depannya mengangguk, ia melanjutkan. "Tembaga hitam di sana akan langsung menghabisi nyawa anakmu."
Tak ada yang bisa membantah saat wanita yang berkuasa itu juga memegang hidup dan mati semua kawanan. Dengan mata marah menatap tajam, Irly mulai melakukan perlawanan.
"Habisi mereka semua. Kalau perlu gunakan taring untuk mencabik-cabik mereka!"
Sementara Fantasiana semakin riuh dengan perang yang mulai menumpahkan darah, di tepi sungai Laras masih berdiri menatap asap yang mengepul samar. Sangat jauh, ia bahkan bisa membayangkan sebesar apa api yang berkobar.
"Kuharap mereka menyelesaikannya dengan cepat agar api tak meluas," lirihnya sembari mengepal berdoa.
Wanita itu memilih tinggal saat yang lain perlahan pergi. Meski Kinan sudah membujuk, tapi Laras berkata akan berada di sana sebentar lagi. Walau nyatanya yang katanya sebentar itu sudah hampir melewati siang.
Laras terus menatap ke arah hutan. Malam hampir tiba, tapi perasaannya justeru semakin gusar. Ia bahkan tidak terpikir untuk makan apalagi beristirahat. Ia terus mengkhawatirkan pasukan yang pergi, terutama sang kekasih, Lion.
Namun karena perhatian hanya tertuju pada mereka, Laras tidak sadar jika dari arah samping seseorang perlahan mendekat. Tanpa suara, langkah dibuat pelan. Kemudian saat jaraknya tepat, tengkuk wanita di sana dipukul sangat kuat.
Hanya dalam hitungan detik, tubuh Laras yang terjatuh ditangkap dan segera dibawa pergi dari sana.
__ADS_1