Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Dendam Serigala Putih


__ADS_3

Mata Aira memerah marah. Rahangnya mengeras, tangan mengepal seolah hendak menghancurkan tulang. Di hadapannya telah berdiri seorang wanita yang mengacaukan segalanya.


"Tenang, Aira. Aku akan memberimu pilihan," ucap wanita di sana dengan tenang.


Namun bagi Aira, apapun pilihan yang diberikan tidak akan ada yang menguntungkan baginya. Terlebih ketika Irly, wanita di hadapannya mengetahui tentang Laras.


Aira menahan napas. Ia bisa saja memukul Irly dengan keras, tetapi tak bisa dilakukan sebab akan membuat keadaan kerajaan menjadi kacau.


"Jangan ganggu dia!" Akhirnya hanya kalimat itu yang Aira katakan.


Mendengarnya, Irly tertawa keras. "Aira. Aku pikir serigala sepertimu tidak akan jatuh cinta. Bahkan padaku sebagai tunanganmu. Namun lihatlah, manusia lemah itu justeru bisa melakukannya."


Mata merah Aira menatap Irly dengan tajam. Entah bagaimana wanita itu tahu, yang jelas ini terjadi setelah ia dipanggil ketika tengah bersama Laras pagi tadi.


"Apa maumu, Irly? Apa menikahiku tidak cukup untukmu?"


Sejenak tak ada jawaban. Irly terlihat menghela napas. Tak lama wanita itu menoleh, menatap Aira yang berhasil dibuat marah olehnya.


"Tidak cukup! Aku ingin memilikimu seutuhnya!" tegas Irly.


Kali Aira yang mendesis. Pernyataan Irly barusan benar-benar terdengar konyol. "Kau pikir bisa melakukannya?"


Senyum penuh percaya diri mengembang. "Dengan dukungan yang aku punya? Tentu saja," ujar Irly.


Aira membuang pandangan ke atas. Ia hampir tertawa di tengah ketegangan. Mungkin posisinya terpojok, tapi pria ini tidak mudah dikalahkan.


"Dengar, Irly. Mungkin kamu bisa mengambil apapun dariku, kecuali perasaanku."


Seketika ketegangan menguasai tempat yang luas itu. Irly dan Aira saling menatap. Tak ada yang mau mengalah, keduanya berada di atas kegigihan yang sama takarannya.


Hingga setelah beberapa saat tak ada kalimat yang tertukar, tanpa kata Aira berbalik. Ia memutuskan untuk pergi jika percakapan tidak berguna mereka sudah selesai.

__ADS_1


Namun belum satu langkah Aira beranjak, wanita di belakang menghentikannya.


Irly berujar, "Lakukan semaumu jika ingin menyesal." Ia yang tadi duduk segera berdiri, berjalan pelan mendekati pangeran Fantasiana. "Kau tidak ingat apa yang terjadi dengan ayahmu karena ibumu sangat keras kepala?"


Wanita itu berjalan mengitari Aira yang terdiam. Ia menyentuh dada pria itu, membelainya dan menatap sesudah itu. "Aku memeringatkan karena peduli padamu." Irly mendekatkan bibir ke telinga Aira. Dengan berbisik ia berucap, "Selesaikan sekarang atau apa yang terjadi dengan ayahmu akan terjadi pada wanita itu juga."


Tangan Aira mengepal. Ia hanya bisa menatap Irly yang tersendiri penuh arti. Tak ada kalimat jawaban, pria itu segera pergi sebelum telinganya mendengar hal yang lebih membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Terlebih saat kejadian 30 tahun lalu terus diungkit.


Sementara di luar, Kevin dan Vicky menunggu Aira dengan cemas. Mereka tahu akan ada hal buruk terjadi saat keduanya mendatangi Aira di rumah Laras. Irly tiba-datang dan mencari keberadaan pangeran.


"Tidak akan ada yang terjadi, kan?" ujar Vicky mencoba menenangkan diri.


Sedangkan Kevin yang terus meremas jemari menggeleng pelan. "Entahlah. Kuharap begitu."


Ketika keduanya menunggu dengan gusar, tiba-tiba terdengar gebrakan keras dari pintu di belakang. Mereka menoleh hampir bersamaan. Terlihat Aira keluar dengan garis kemarahan yang sangat besar.


"Apa yang dikatakan Putri Irly?" tanya Vicky menyambut Aira.


Namun Aira tak menjawab. Ia menatap Vicky dengan tajam. Dengan perasaannya yang sekarang, suara siapapun akan membuatnya marah. Bahkan jika orang lain hanya membuang napas sekalipun.


"Menurutmu apa yang Aira dengar?" tanya Vicky begitu Aira pergi.


Kevin yang masih menatap punggung kawannya menggeleng. "Menurutku bukan hal yang menyenangkan."


***


Di ladang bunga yang indah, seorang wanita bergumul dengan bunga daisy yang mulai mekar. Wajahnya cerah, seperti tak ada beban yang menyambanginya belakangan ini.


Dengan topi bundar, Laras bersenandung memetik satu persatu bunga berwarna putih dan kuning itu. Namun saat sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba sekelebat bayangan akan malam itu kembali berputar.


Wajahnya tiba-tiba memerah, tapi senyum mengembang lebar di sana. "Astaga. Kenapa aku kepikiran itu," ujarnya, tersipu.

__ADS_1


Meski begitu, Laras tetap melakukan pekerjaan dengan baik. Walaupun tak jarang ia tersenyum sendiri saat beberapa bayangan tentang pria itu menggerayangi kepala.


"Kenapa dia belum juga datang?" gumamnya dengan mata masih fokus pada sekelompok bunga. "Oh, apa aku sudah merindukannya?" Setelahnya Laras tertawa, menggelengkan kepala tak habis pikir dengan dirinya.


Semenjak kejadian malam itu, keadaan hati Laras berubah hampir separuhnya. Ia yang biasanya fokus kini sering teralihkan dengan Lion. Terlebih, ia belum pernah jatuh cinta seperti ini sebelumnya.


Ketika angannya menerawang bayangan Lion, keranjang di tangan sudah dipenuhi oleh bunga daisy.


Laras bangkit, merasa sudah cukup untuk hari ini. Ia hanya perlu mengurusnya sedikit sebelum dijual pada Kinan.


Seolah cuaca tengah bermain-main. Langit yang tadinya cerah seketika berubah menjadi hitam. Hanya dalam hitungan menit, awan sudah menumpahkan airnya. Hujan deras terjadi.


"Astaga. Kenapa tiba-tiba hujan?" Laras bergegas lari. Bagaimanapun ia akan basah jika berjalan sampai rumah.


Namun saat wanita itu baru keluar dari ladang, tidak sengaja matanya menangkap sesuatu tergeletak di tepi sungai. Dari bulu yang terlihat jelas, ia bisa mengenali hewan apa yang berada di sana.


Merasa kasihan, Laras meletakkan keranjang bunga dan segera menghampiri serigala yang ia lihat. Benar saja, serigala berbulu putih nampak tergolek lemah tak berdaya.


"Dia sudah mati?" lirih Laras penuh kekhawatiran. Ia sebenarnya takut, tapi kejadian seperti ini mengingatkan akan waktu itu saat dirinya menemukan Lion. Bedanya, kali ini dalam bentuk serigala utuh.


Mencoba menyingkirkan rasa takut, Laras berusaha menarik tubuh serigala yang hampir seukuran dengannya.


"Sedikit lagi," ucapnya dengan tenaga yang dikerahkan seluruhnya.


Beruntung, tak beberapa lama ia berhasil menyeret tubuh serigala ke tepian yang agak jauh. Ia hanya berniat menolongnya sampai situ, sebab akan gawat jika banjir tiba-tiba datang.


Akan tetapi, ketika Laras masih menyeka keringat yang bercampur dengan hujan, tiba-tiba tanah yang ia pijak gugur.


Laras hampir terjatuh, tetapi ia berhasil berpegangan pada ilalang di sekitar. Dengan sisa tenaga yang ada, wanita itu mencoba kembali ke tepian. Namun belum berhasil, serigala yang tadi ia selamatkan sudah berdiri menghadang di hadapan.


"Siapa kamu?" tanya Laras saat menyadari ada yang tidak beres dengan serigala putih di hadapannya.

__ADS_1


Tak ada jawaban, serigala besar itu mendorong Laras dengan keras. Membuat tangannya terlepas dari pegangan dan terjatuh ke dalam sungai yang arusnya mulai deras.


Bertepatan dengan itu, Banjir dari hulu datang. Air sungai yang tadinya tenang kini benar-benar seperti kehilangan kendali. Menghanyutkan batu dan apapun yang berada di dalamnya. Termasuk Laras yang sudah hanyut jauh tanpa bisa menyelamatkan diri.


__ADS_2