
Seorang pria pasrah ketika tubuhnya terhuyung jatuh ke dalam sungai. Ia tak bisa bergerak, meski sekelebat ingatan perlahan masuk ke dalam otak.
Hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Ingatan Aira menyelam. Waktu itu, saat kepalanya dipukul dengan sangat keras oleh seseorang. Setelahnya tubuhnya terasa dilempar ke dalam sungai begitu saja.
Hanyut, dingin, kesadaran perlahan hilang. Dengan cara seperti itulah akhirnya ia ditemukan oleh manusia. Hidup bersama Laras dengan keadaan ingatan yang telah hilang.
Aira tiba-tiba tersadar, jika kejadian waktu itu bukan sekadar kecelakaan. Sayangnya, kini hal yang sama kembali terulang. Tanpa bisa ia cegah, tanpa dapat ia menyelamatkan diri. Bedanya, kini terdapat anak panah yang menancap di punggungnya yang gagah.
Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Air yang dikirim dari awan itu mengiringi kepergian seorang pria yang hanyut terbawa arus. Bertepatan dengan itu, kesadaran Aira perlahan menghilang bersama dengan ingatan menyesakkan.
***
Di dalam rumah dengan dinding bercelah. Laras tengah sibuk menganyam tikar yang nampak usang.
Laras menganyam satu persatu pandan dengan telaten. Hari ini bunga belum mekar, jadi ia memiliki waktu luang cukup banyak. Tentu, melakukan pekerjaan rumah adalah salah satu cara untuk menghibur diri sesaat.
Tikar masih terus dianyam. Laras tak beristirahat untuk memperbaiki koyakan di setiap ujung. Hingga seseorang yang datang dengan terengah menghentikan seluruh pergerakannya.
"Laras. Kau diminta segera ke rumah Pak Darto!" ujar Ren, pria yang berdiri di ambang pintu dengan ngos-ngosan. "Kami menemukan Lion," lanjutnya.
Seketika mata Laras melebar dengan sempurna. Jantungnya berdegup kencang, sedangkan tangan yang masih memegang tikar gemetar. "Siapa katamu?"
"Lion!"
Nama itu lagi. Pria yang diharapkan menghilang dari muka bumi ini nyatanya masih ada. Malahan semakin ia mencoba melupakan semakin sering sosok itu datang.
Tak bisa lagi berpikir, Laras segera meletakkan tikar yang belum selesai dianyam. Dengan wajah panik, ia segera keluar menutup pintu dan berlari di depan Ren. Ia harus segera sampai dan melihat Lion.
"Di mana kalian menemukan Lion?" tanya Laras di tengah perjalanan.
__ADS_1
Ren yang berusaha mengimbangi langkah Laras segera menjawab. "Di tepi sungai saat kami selesai berburu."
Laras mendesis. "Kenapa tidak langsung meneleponku?"
"Pak Darto melarang. Dia takut kamu pingsan."
Entah apa yang terjadi pada Lion. Namun firasat Laras mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya. Di tepi sungai, apakah pria itu ditemukan dalam kondisi manusia atau sebaliknya? Itu juga yang mengganggu pikiran Laras selama perjalanan.
Seperti memiliki kecepatan roket di kakinya, dalam waktu cukup singkat Laras akhirnya tiba di rumah Pak Darto.
Benar, kedatangan Laras langsung disambut dengan tatapan iba dari lelaki paruh baya di sana. Sedangkan di atas ranjang, seorang pria berwajah pucat dengan perban di badan tergeletak tak sadarkah diri.
"Lion?" Laras melangkah dengan gamang. Di depan matanya, pria yang masih memenuhi hati terbaring tak membuka mata.
Wanita itu terduduk di samping ranjang dengan tubuh gemetar. Sementara air mata sudah sedari tadi keluar. "Lion. Apa yang terjadi padamu?" Laras menggenggam tangan Lion dengan erat.
Wajah pucat, bibir kering, serta bekas luka di punggung dan anak panah yang berhasil tercabut benar-benar membuat Laras tak bisa membayangkan betapa sakit yang dirasakan Lion.
Perlahan hari-hari berlalu. Ketika orang-orang sudah silih berganti datang dengan pakaian berubah, Laras masih diam di tempat mengenakan baju yang sama. Ia tak mau beranjak, meski kantung mata di wajahnya sudah jelas terlihat.
Pak Darto juga sungkan menegur, sebab ia bisa merasakan bagaimana sedihnya Laras melihat kondisi Lion yang tak kunjung membuka mata. Sedangkan Kinan, ia juga sesekali datang hanya untuk menyemangati sahabatnya. Tak ada yang berani mengganggu wanita yang tengah putus asa.
Namun selain luka yang terlihat jelas di punggung Lion, ada sayatan lain yang tidak terlihat di dalam hati seorang pria yang terus mengamati wanitanya dari jauh. Lagi-lagi, Win harus menyaksikan betapa Laras menyukai pria lain, bukan dirinya.
Win memutuskan beralih setelah tak kuasa melihat Laras menderita seperti itu. Di depan bunga terompet yang menjalar, ia duduk dengan helaan napas berkali-kali keluar.
"Kau baik-baik saja?" tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Win.
Seketika Win menoleh. Rupanya Kinan. Segera pria itu mengangguk, mengiyakan jika dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
Sesaat kemudian terdengar helaan panjang keluar dari bibir Kinan. "Ah, memang menyedihkan rasanya melihat orang kita khawatirkan justeru mengkhawatirkan orang lain," ujarnya dengan pandangan mata ke arah depan.
Mendengarnya membuat Win merasa tersinggung. Ia mengira jika Kinan tengah menyindirnya karena ia menyukai Laras. Namun setelah dipikir, ia tak pernah mengatakan perasaan itu pada siapapun.
Tetapi saat belum sempat Win memastikan, Kinan sudah lebih dulu meluruskan. "Aku membicarakan diriku sendiri," ujarnya segera setelah dihadiahi tatapan dari Win. "Aku sedih melihat orang yang kusukai justeru memperhatikan wanita lain."
Seketika pandangan Win berubah. Meski masih tersinggung, tetapi ia percaya jika Kinan sedang membicarakan dirinya sendiri. Walaupun ia sama sekali tidak tahu siapa pria yang wanita itu sukai.
Hingga setelah beberapa saat membiarkan udara hening, Kinan akhirnya bangkit. Ia menepuk pundak Win. "Kau juga harus makan. Jangan membuat wanita yang menyukaimu sedih jika kau sakit." Kemudian beranjak begitu saja tanpa menunggu reaksi dari pria di sana.
Sementara di dalam rumah, pria yang berbaring masih dalam kondisi yang tak berubah. Napas masih lemah, mata belum juga terbuka.
Laras terus menggenggam tangan Lion dengan erat. Setelah ia mati-matian berusaha melupakan, akhirnya kini ia menyerah. Perasaan di dalam hati masih sama tak ada yang berubah. Ia tidak peduli bahkan jika harus berkorban untuk merajut cinta kembali bersama Lion.
Hingga ketika harapan hampir memudar dibawa udara, tiba-tiba terasa gerakan dari jari jemari Lion.
Seketika Laras yang hampir terlelap tersadar. Ia mendekat dan mengamati kelopak mata Lion yang juga bergerak. Hati yang hancur kini perlahan merasa tenang.
"Lion?" bisiknya pelan di telinga pria yang berusaha membuka mata.
Tak lama, kedua mata Lion terbuka secara perlahan. Laras yang merasa lega segera memanggil Pak Darto untuk masuk.
"Dia sadar! Lion sudah sadar!" ucap Laras dengan senang.
Jika diingat, kejadian ini seperti diulang. Hanya perasaan mereka yang telah berubah.
Laras dan orang-orang di sana melihat Lion dengan harapan penuh. Sementara pria yang menjadi pusat perhatian terlihat mengamati sekitar.
Wajah Lion bingung, ia mencoba bangkit tapi luka di punggung masih sangat terasa sakit.
__ADS_1
Barulah setelah beberapa saat menyapu sekitar, Lion menatap Laras dengan bingung. "Di mana ini?"