Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Kejadian 30 Tahun Lalu


__ADS_3

"30 tahun lalu?" Menjawab pertanyaan itu Pak Darto segera mengangguk. "Tunggu, jadi Bapak sudah tahu siapa Lion?" Kata terakhir Laras melemah. Ia ragu, apakah dugaannya benar soal itu? Jika tidak, itu berarti ia harus mencari alasan untuk membelokkan percakapan.


Namun, lagi-lagi Pak Darto mengangguk. 


"Sejak kapan?" tanya Laras memastikan. Sebelum terlontar jawaban, helaan panjang lebih dulu keluar dari bibir Pak Darto. Lelaki itu menatap Laras penuh arti. "S-sejak awal?"


Dengan pelan Pak Darto menggeleng. "Aku baru menyadarinya saat memeriksa luka cakar di tubuh ular sanca. Itu Lion yang melakukannya, kan?" Laras mengangguk. "Harusnya aku menyadari dari awal. Maafkan aku, Laras."


Mendengar permintaan maaf dari Pak Darto, Laras menggeleng. Tentu ini bukan salah siapapun. Bahkan Lion yang telah menghapus ingatannya secara sepihak juga tak bisa disalahkan sepenuhnya.


"Aku yakin dia memiliki alasan tersendiri, Pak." Laras menatap ke atas, memandang langit yang terlihat sangat luas. "Alasan kenapa dia ingin aku melupakannya."


"Kurasa dia melakukan hal yang tepat." Pak Darto memberi jeda sejenak. Menarik napas dalam sebelum akhirnya melanjutkan. "Ini berkaitan dengan kejadian 30 tahun lalu." Kemudian ingatan puluhan tahun lalu tergambar jelas di udara.


(Flashback 32 tahun lalu, dua tahun sebelum tragedi terjadi)


Saat itu keadaan desa belum semaju sekarang. Listrik baru memasukki sebagian kota. Jika malam, desa tak ada bedanya dengan hutan yang gelap. Namun kendati demikian, tidak ada rasa takut bagi pemuda untuk berkeliaran di tengah malam. Sebab, saat bulan muncul adalah waktu yang tepat untuk berburu.


Sampai suatu pagi, seorang lelaki keluar dari hutan dengan terburu-buru. Lelaki berusia 25 tahun bernama Dilan berlari tanpa membawa apapun.


"Darto! Darto!" Dilan berteriak bahkan dari ujung hutan, ketika hampir tidak ada siapapun yang mendengar.


Dilan terus berlari seraya berteriak memanggil nama sang adik yang saat itu baru berusia 14 tahun. "Darto! Aku bertemu wanita cantik di hutan!" ujarnya ketika hampir tiba.


Darto yang tengah mengusung air dari sungai segera menoleh. Sang kakak menggoyangkan tubuhnya dengan girang. "Aku bertemu dengannya, Darto!"


Sejak saat itu, Dilan lebih sering menghabiskan waktu di dalam hutan. Entah siang atau malam, jeda untuk pulang hanya sebatas mentari baru naik sejengkal di peraduan. Setelahnya lelaki itu melewati hari bersama wanita bernama Seril.


Hingga lambat laun identitas Seril sebagai manusia serigala terbongkar. Namun Dilan yang terlanjur jatuh cinta dengannya mengabaikan perbedaan besar itu. Mereka tetap bersama, menghabiskan hari tanpa terpisahkan. 

__ADS_1


Sampai ketika dua tahun akhirnya terlewati, Dilan memutuskan untuk menikahi Seril.


"Abang yakin?" tanya Darto saat Dilan mengutarakan niatnya.


Dengan cepat Dilan mengangguk. "Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya, Darto."


Sesaat remaja yang sudah berusia 16 tahun itu terdiam. Bagaimana tidak, ia tak pernah membayangkan jika sang kakak akan menikahi manusia serigala alih-alih wanita sesungguhnya.


Helaan panjang keluar dari bibir Darto. "Jadi Abang akan meninggalkanku sendiri? Bukankah lebih baik jika setuju saat wanita itu ingin menghapus ingatan Abang?" Ia masih mencoba menggoyahkan niat Dilan yang hampir tidak masuk akal.


Akan tetapi, sepertinya tekad Dilan sudah bulat. "Bagaimana aku bisa rela melupakannya begitu saja, Darto? Aku mencintainya!" Itulah alasan yang selalu ia buat.


"Lalu bagaimana dengan kawanan wanita itu? Apakah Abang yakin akan baik-baik saja di sana?"


Dilan mengangguk. "Aku akan baik-baik saja, Darto. Kau tenang saja dan percaya dengan abangmu ini."


Kemudian Dilan benar-benar pergi meninggalkan desa. Menuju jauh ke dalam hutan di mana ia akan memulai hidup baru dengan wanita idamannya, Seril.


"Namun semenjak saat itu aku tidak pernah lagi melihatnya. Bang Dilan tidak pernah kembali." Pak Darto menerawang ke arah hutan dengan pandangan penuh perasaan. Luka, rindu, kesepian, dan putus asa seperti dicampur dalam satu wadah dan memasaknya bersama.


Sementara Laras juga mematung tak tahu harus berkata apa. Di sisi lain ia terkejut sebab kejadian yang hampir sama pernah terjadi puluhan tahun lalu.


Setelah udara terasa kosong untuk beberapa saat, Pak Darto akhinya menoleh. Pria dengan asam garam kehidupan yang lebih banyak itu sadar jika sekarang masalah utama adalah tentang Laras.


"Lion melakukan itu untuk menyelamatkanmu."


Laras masih terdiam. Mungkin benar yang dikatakan Pak Darto, jika Lion ingin Laras melupakan semuanya sebab tak ingin ia terluka.


"Namun kenapa aku masih ingat semuanya dengan jelas?" lirih Laras, merasa jika lebih baik ia kehilangan seluruh ingatan tentang Lion daripada tersiksa dengan perasaan seperti ini.

__ADS_1


Akan tetapi, lelaki paruh baya di samping Laras juga tidak mengetahu jawabannya. Tidak ada yang tahu, kecuali jika ia mencari tahu alasan di balik itu sendiri.


***


Sementara itu, waktu di Kerajaan Fantasiana juga terus berjalan. Hari berganti bulan, kesepakatan tentang pernikahan antara dua kerajaan manusia serigala akhirnya terlaksana.


Meriah. Pesta tujuh hari tujuh malam digelar di sepanjang Fantasiana. Sedangkan dua pengantin sudah berada di dalam kamar. Duduk saling bersebelahan memandang pesta yang masih riuh di luar.


"Apa kau sudah puas sekarang?" Lion menatap jendela dengan kosong. Ucapan barusan pelan, tapi mendapat penekanan yang sangat besar.


Di sampingnya, Irly tersenyum puas penuh kemenangan. "Bagaimana jika ini belum cukup untukku, Aira? Apa kamu mau memberikan lebih dari ini?" Setelahnya wanita itu menatap pria yang bahkan enggan menoleh barang melalui ekor mata.


Bibir Aira terangkat sebelah, sudah menduga jika Irly memang wanita yang tidak ada puasnya. "Kau sudah mengambil semuanya dariku."


Irly tersenyum. "Mungkin begitu. Tapi kurasa ada satu hal yang belum aku dapatkan darimu," ucapnya dengan tenang.


"Apa itu? Keturunan? Jangan harap!"


Dugaan Aira membuat Irly hampir tertawa. Dengan pelan ia mendekatkan bibir pada telinga Aira. Dengan bisikan kuat wanita itu berkata, "Kau bisa berikan kerajaanmu setelah ini." Usai mengatakan itu, ia menarik diri dengan senyum yang penuh arti.


Kalimat barusan berhasil membuat Aira menoleh. Ia tahu jika Irly wanita licik, tapi ia tidak menyangka keserakahannya sampai sejauh ini.


Aira menatap tajam pada wanita di sebelahnya. "Apa yang akan kamu lakukan? Membunuhku?" tanyanya cukup tenang, meski itu bukan pertanyaan yang bisa dianggap sederhana.


Sesuai dugaan, Irly tertawa kencang mendengar tebakan Aira. "Selain tampan, kurasa kau juga sangat pintar rupanya, Aira." Wanita itu mundur, berjalan dan duduk di atas ranjang dengan pelan. "Namun tenang saja, Aira. Aku tidak akan terburu-buru. Bukankah melakukannya perlahan jauh lebih menyenangkan?"


Aira mengekor pergerakan Irly. Wanita di atas kasur tersenyum, sementara tangannya mengelus seprai berbahan bulu beruang dengan lembut. Bertepatan dengan itu, ia menatap pria yang mulai terlihat kesal. "Ingat. Jika aku tahu kau mengganggu, bukan hanya nyawamu yang akan berada dalam bahaya. Melainkan nyawa wanita itu juga."


Mendengarnya membuat emosi di kepala Aira mendidih. Matanya melotot tajam, urat di leher sudah menegang. Sedangkan kedua tangan sudah mengepal dengan erat. Ia siap memukul mulut wanita berbisa di sana. Namun apa daya, ia hanya bisa memukul kaca jendela.

__ADS_1


"Tidurlah di sini. Malam ini aku tidak kembali." Lalu Lion pergi setelah meninggalkan retak pada jendela kamar.


__ADS_2