Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Kedatangan Warga


__ADS_3

Pagi hari sebelum warga mendatangi rumah Laras.


Pak Darto datang ke kediaman Win. Saat matahari baru naik, biasanya pemburu sepertinya sudah tiba di rumah.


Tak banyak basa-basi, lelaki yang berwenang di desa segera mengajak Win untuk duduk. Garis tegang di wajah menandakan ada hal serius yang ingin dibahas.


"Win. Kau sudah tahu siapa Lion sebenarnya, bukan?" tanya Pak Darto langsung ke intinya.


Sejenak Win terdiam tak menjawab. Namun keterkejutan nampak jelas di wajahnya saat mendengar pertanyaan barusan. Hingga akhirnya ia mengangguk mengiyakan.


"Seberapa jauh yang kau ketahui tentan Lion?" tanya Pak Darto lagi.


Win yang tadi menunduk kini menoleh, menatap lelaki paruh baya yang terlihat serius ingin mengetahuinya. "Sebatas dia seekor manusia serigala."


Mendengarnya, Pak Darto membuang napas cukup panjang. "Jadi kau juga baru tahu saat menemukan Lion di sungai kemarin?"


"Tidak," ucap Win seraya menggeleng. "Aku sudah tahu sebelum itu."


Pak Darto terdiam. Tidak menyangka jika Win akan setenang itu setelah mengetahui identitas asli Lion. "Apa kau diam saja karena Laras?" tanyanya memastikan.


Lagi-lagi Win menggeleng. "Jika karena Laras, bukankah lebih baik aku membongkarnya di depan orang-orang?" Lelaki di sampingnya setuju. Tak lama pria ini melanjutkan. "Sebenarnya Lion bukan manusia serigala pertama yang aku temui."


Bertepatan dengan itu, mata Pak Darto melebar. Tentu ia terkejut. Bagaimana Win selama ini diam?


Tak lama Win kembali menoleh. "Saat kebakaran hutan tiga tahun lalu. Apa Bapak ingat?" Pak Darto segera mengiyakan. "Saat itu aku menyelamatkan seorang wanita saat sedang berburu, yang ternyata adalah manusia serigala. Namun, dia sedikit berbeda dengan Lion," lanjut pemburu itu.


"Apa dia berwarna putih?" tanya Pak Darto yang langsung diiyakan oleh Win. "Dia serigala salju."


Kali ini Win yang terbelalak kaget. "Serigala salju? Bukankah seharusnya mereka tak berada di hutan?"

__ADS_1


Helaan panjang keluar dari bibir Pak Darto. Lelaki paruh baya itu nampak gusar. Meski pada akhirnya tetap mengatakan yang ia dengar dari Lion beberapa waktu lalu. "Mungkin ini akan terdengar seperti dongeng. Tapi beginilah yang terjadi di sana," ungkapnya.


Sedangkan Win hanya menatap dengan penuh pertanyaan. Tak lama Pak Darto melanjutkan. "Manusia serigala hutan dan salju tengah berperang." Sesaat lelaki di sana memberi jeda. Ia bahkan ragu untuk percaya dengan ucapannya sendiri. "Kau tidak percaya, kan?" tanyanya pada Win.


Tentu, siapa yang akan percaya mendengar kisah seperti yang tertulis pada buku dongeng anak-anak? Win hanya diam. Tetapi raut wajah Pak Darto membuat hatinya sedikit goyah. Benarkah apa yang dikatakan kepala desa?


"Dengar, Win. Ini mungkin lebih terdengar tidak masuk akal. Kau boleh menganggapku gila atau apapun. Tapi tolong percaya." Pak Darto memberi jeda. Setelah menarik napas dalam, ia akhirnya melanjutkan. "Lion adalah keponakanku. Untuk itulah aku datang untuk meminta bantuan."


Mendengar itu, Win hampir memeriksa kepala Pak Darto. Barangkali terluka atau ada bekas benturan di sana. Bagaimana bisa lelaki paruh baya itu mengatakan hal yang lebih tidak masuk akal daripada dongeng anak-anak yang sering dibacakan.


Win berkali-kali terbatuk. Ia tidak tahu harus menanggapi ungkapan Pak Darto dengan kalimat seperti apa. Bahkan tengkuk yang tak gatal sering digaruk.


Sudah menduga jika Win akan sulit percaya, tak ada pilihan lain bagi Pak Darto untuk menceritakan yang sebenarnya.


"Win. Sebenarnya aku sudah pernah bertemu dengan kawanan mereka 30 tahun lalu." Lelaki itu mengatakan dengan raut wajah serius. Tak ada garis candaan atau sekadar bergurau.


Hingga ketika Win menyimak dengan seksama, Pak Darto mulai bercerita tentang apa yang terjadi pada sang kakak. Seorang pria yang jatuh cinta pada manusia serigala dan tak pernah kembali setelahnya.


Sementara Win. Kepalanya masih belum bisa menerima informasi semacam itu. Benarkah, atau hanya bercanda. Ia terus bertanya pada diri sendiri. Namun, setelah mengingat bagaimana ia sungguh bertemu dengan manusia serigala, rasanya tidak terlalu aneh apa yang diceritakan Pak Darto. Lagipula, bukankah Laras juga jatuh cinta pada kawanan mereka?


Meski keraguan masih meliputi hati Win, pada akhirnya ia memutuskan untuk percaya pada Pak Darto. Dengan kesepakatan yang dibuat, mereka memutuskan untuk mengumpulkan warga dan bergegas menemui Lion saat malam tiba.


Ketika perlahan bulan naik ke peraduan, di atas dipan kayu Laras dan Lion tengah bercengkerama merajut kata-kata yang sempat terjeda.


Tak ada yang aneh pada awalnya, sampai rombongan warga terlihat mendekat dengan obor yang dibawa.


"Mereka mencarimu! Kau harus segera bersembunyi, Lion." Laras yang panik berusaha mencari tempat untuk Lion bersembunyi. Namun belum sempat, keberanian mereka sudah lebih dulu diketahui.


"Lion! Keluar, Kau!" teriak Win yang terdengar begitu nyaring.

__ADS_1


Laras mematung dengan tubuh gemetar. Sedangkan Lion sudah pasrah. Setelah apa yang terjadi, mungkin sudah saatnya juga baginya untuk berakhir.


"Katakan semuanya pada kami, Lion!" ujar Win ketika rombongan berada tepat di depan Laras dan Lion.


Jantung yang tadi tenang semakin berdebar kencang. Daripada Lion yang terpojok, sepertinya Laras lebih merasa tertekan. Keringat membanjiri keningnya yang kering. Wanita itu terdiam, mencoba menahan Lion agar tidak maju satu langkah pun.


Seketika keadaan menjadi sangat tegang. Udara terasa menipis. Laras mundur perlahan. Ia berpikir untuk segera lari saat tiba waktu yang tepat.


"Cepat katakan, Lion! Apa yang sebenarnya terjadi?" Win terus berteriak dengan nada marah.


Namun Pak Darto segera menepuk pundak Win dengan keras. "Bagaimana kau bisa terus berteriak seperti itu? Lihat, Laras dan Lion jadi salah paham!" ujarnya, berusaha meluruskan.


Di detik berikutnya giliran Pak Darto yang maju. "Laras, Lion. Kedatangan kami ke sini bukan dengan maksud buruk. Aku sudah mendengar semuanya dari Lion saat itu. Dan kami memutuskan untuk membantu," jelasnya.


Mendengar itu sontak Laras menjadi bingung. Ia masih was-was. "Maksud Bapak membantu?"


"Kami memutuskan untuk bekerjasama dengan Lion. Membantu mendapatkan kekuasaannya kembali."


Mendengar itu, Laras dan Lion saling memandang. Tanpa disangka bintang telah jatuh di antara mereka.


Sesaat Lion dan Laras mencoba memahami lebih jauh. Barangkali mereka salah menangkap maksud dari perkataan Pak Darto.


Akan tetapi sang kepala desa sudah lebih dulu melanjutkan. "Kami sudah menyiapkan api. Apa bisa kita pergi sekarang?"


"T-tunggu. Sekarang?" Kedua mata Laras melebar tak percaya. Ia menoleh pada Lion, meminta pendapat dari pria itu.


Setelah dari tadi hanya bersembunyi di belakang Laras, Lion akhirnya maju. "Sebelumnya aku sangat berterima kasih pada Pak Darto dan warga yang sudah mau membantu. Namun ...." Kalimatnya terhenti. Ia tidak ingin memadamkan api semangat yang sudah bergelora. Tetapi bergegas tanpa rencana juga bagaikan bunuh diri dengan sengaja.


"Kita harus menyusun rencana untuk menyusup ke sana. Sebab mereka pasti masih memburuku hingga sekarang, jadi penjagaan pasti diperketat. Sembari menunggu, aku akan mencoba menghubungi salah satu kawanan dari sana."

__ADS_1


Mulai sekarang, Lion adalah Aira. Sang pemimpin yang akan melawan merebut kembali Kerajaan Fantasiana.


__ADS_2