Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Rahasia Besar Manusia Serigala


__ADS_3

Sementara ketika bulan purnama telah usai di Kerajaan Fantasiana.


Aira berjalan tegap setelah penobatannya sebagai raja yang baru. Usai melepas mahkota sang ratu, kini singgasana berlapis permata itu menjadi miliknya. Tentu, orang memandangnya sebagai pria paling beruntung. Namun siapa yang tahu, jika kemalangan justeru berada tepat di depan matanya.


"Apa ini yang Ibu inginkan?" tanya Aira saat keduanya berada di dalam ruangan yang sama.


Wanita paruh baya dengan mata basah menatap putranya. Ada sakit yang tidak berdarah ketika melihat wajah Aira. "Kau mirip dengan ayahmu," ujarnya pelan.


"Maksud Ibu, pria yang dibunuh dengan tangan Ibu sendiri?"


Seketika Seril membeku. Tubuhnya gemetar menahan tangis. Setiap kali Aira mengungkitnya, wanita ini tak bisa menahan rasa bersalah dan penyesalan yang sangat besar.


"Maafkan ibu, Aira. Ibu tidak bisa berbuat apapun saat itu."


Tak ada jawaban, hanya sebuah tatapan tajam yang Aira berikan. Ia tahu, Seril melakukannya untuk melindungi mereka. Namun, setelah mengenal Laras, ia merasa membunuh sang ayah sudah melampaui batas.


"Itu pilihan ayahmu sendiri, Aira." Seril melanjutkan. Tangisannya sudah mulai tenang. "Ibu belum pernah mengatakan ini pada siapapun."


Mendengarnya membuat Aira sedikit memberikan ruang pada sang ibu. Hingga setelah beberapa saat, Seril melanjutkan. "Ayahmu yang meminta untuk dihabisi nyawanya."


Seketika kedua mata Aira membulat. Ia tidak bisa paham kenapa sang ayah memilih dibunuh alih-alih dihapus ingatan seperti yang ia lakukan pada Laras.


Namun belum sempat ia bertanya, wanita paruh baya di sana sudah lebih dulu menjelaskan. "Ibu sudah pernah menghapus ingatan ayahmu. Tapi sama sekali tak berhasil. Ayahmu masih bisa mengingat semuanya. Ibu sudah membiarkan ayahmu untuk pergi dan berpura-pura lupa, tapi ia tak mau dan lebih memilih mati daripada hidup tersiksa dengan semua yang telah terjadi."


Seril mengambil jeda sebentar. Mengingat kejadian itu membuatnya kembali menyelam pada luka yang sangat besar.


Sementara Aira, ia semakin terkejut. Benar, cerita semacam ini belum pernah didengar sebelumnya.


"Maksud Ibu, ayah sudah pernah dihapus ingatannya?" tanyanya yang langsung diiyakan oleh sang ibu. "Tapi kenapa tidak berhasil? Bukankah seharusnya kita bisa menarik ingatan manusia?"

__ADS_1


Seril mengambil napas dalam. Ia paham kenapa Aira meyakini hal semacam itu, sebab dulu ia pun sama seperti putranya. Namun ada beberapa hal yang dirahasiakan. Termasuk bagaimana cara kerja penghapusan ingatan yang menjadi senjata untuk menghadapi manusia.


"Mungkin ini sudah saatnya kamu tahu. Dengar, Aira. Penghapusan ingatan hanya tidak berlaku untuk seseorang yang kamu cintai. Itu sudah tertulis pada halaman yang sudah dihilangkan ratusan tahun lalu."


Kedua mata Aira membulat saat mendengar penjelasan yang belum pernah ia dengar sama sekali, bahkan dari kabar burung sekalipun. "Maksud Ibu, seseorang itu akan tetap ingat meski kita sudah menarik seluruh ingatannya?"


Dengan pelan tapi yakin, Seril mengangguk mengiyakan. "Itu adalah salah satu rahasia yang tidak diketahui oleh selain sesepuh atau raja dan ratu kerajaan ini. Namun ada satu rahasia besar lagi ...." Kalimat wanita itu terhenti.


Aira menatap sang ibu dengan penasaran yang sangat besar. Ini adalah kabar yang benar-benar tidak pernah ia sangka sebelumnya. Siapa yang tahu jika kerajaan ini menyimpan begitu banyak rahasia.


"Tentang manusia dan kita, menurutmu siapa yang lebih kuat?"


"Tentu kita, manusia serigala," jawab Aira dengan yakin.


Mendapati jawaban itu, terlihat Ratu Seril menarik napas dalam. "Memang seperti itu yang selalu diajarkan dari generasi ke generasi. Namun sebenarnya, kekuatan yang kita miliki tidak sebanding dengan yang mereka punya."


"Jadi, manusia lebih kuat daripada kita?" Aira semakin dibuat tak percaya. Tetapi pertanyaan itu segera mendapat pengiyaan dari sang ibu. "Tapi kenapa justeru kita memandang manusia sebagai mahluk yang sangat lemah?"


"Apa itu sebabnya ayah harus dibunuh?"


Lagi-lagi Seril mengiyakan. "Ayahmu harus dibunuh setelah ketahuan identitasnya sebagai manusia. Sebab kerajaan bisa terancam jika dia terus berada di sini." Kalimat wanita itu terhenti. Sesak kembali menjalar, memori berdarah terus menguasai kepalanya.


Tanpa sadar, air mata menetes dari balik pelupuk yang memanas. Seril menangis, rasa bersalah mendominasi semenjak 30 tahun yang lalu.


"Harusnya ibu menghentikannya dari awal. Cinta antara manusia dan kita tidak akan pernah terjadi."


Aira mematung. Ia berpikir telah melakukan hal yang tepat bagi Laras. Namun mendengar kalimat terakhir sang ibu, entah kenapa perasaannya menjadi tidak terima. Apa yang salah dengan cinta antara manusia dan kawanan mereka?


Namun alih-alih memikirkan hal itu, ada sesuatu yang lebih mengusik Aira. Yakni fakta jika bisa saja Laras tidak kehilangan ingatan setelah ia menghapus semuanya.

__ADS_1


***


"Sebenarnya apa yang terjadi di dalam hutan sana, Pak? Kenapa pria itu tidak pernah kembali?" Laras bertanya ketika keduanya masih terlibat perbincangan.


Namun setelah beberapa saat terdiam, Pak Darto hanya bisa menggeleng pelan. "Tidak ada yang tahu sampai sekarang." Lelaki itu menoleh, menatap Laras sebelum akhirnya melanjutkan. "Tapi aku yakin sesuatu yang buruk telah terjadi. Itu sebabnya Lion ingin kamu melupakan semuanya."


Laras terdiam. Hatinya masih sakit bahkan hanya mendengar nama itu disebut.


"Dengar, Laras. Setelah ini kamu harus benar-benar lupa. Meskipun hanya pura-pura."


Sejak saat itu, Laras memutuskan untuk menutup setiap lubang perasaan. Ia bahkan berusaha menghapus ingatan sendiri dengan sekuat tenaga. Meski tertatih, ia harus melupakan Lion. Walau mungkin itu mustahil, ia akan membuka hati untuk pria lain.


Hingga tanpa sesuatu yang berarti, hari berganti dengan bulan.


Kehidupan Laras masih sama. Tidak ada yang berubah selain perasaannya. Bunga setiap musim telah bertukar, hujan dan panas juga datang secara bergantian. Namun selama itu juga, Laras harus hidup dalam kepura-puraan. Pura-pura jika dirinya baik-baik saja.


Suatu hari di sebuah musim panas. Laras yang kehabisan ikan memutuskan untuk turun ke sungai daripada berjalan jauh ke pasar. Walaupun ia yakin mungkin tidak akan ada satu ikan pun yang tertangkap. Namun bukan masalah, ia hanya ingin mengenang sesuatu yang tidak akan pernah terjadi lagi.


Wanita itu berjalan dengan bambu yang diruncingkan. Namun ketika ia tiba, sosok yang berada di sungai mengunci dirinya.


Seorang pria berdiri di sungai dengan rambut basah. Ia adalah sosok yang ingin ingatan Laras terhapus saat itu.


Lion, kenapa pria itu bisa muncul lagi di hadapan Laras?


Sesaat Laras mematung di tempat. Perasaannya tak yakin jika yang dilihatnya benar-benar Lion atau hanya imajinasinya saja. Namun setelah cukup lama menata perasaan, ia akhirnya turun.


Laras mulai melihat-lihat ikan yang ada di dalam air. Namun sebanyak apapun ia berusaha semuanya sia-sia.


Hingga tiba-tiba seekor ikan besar disodorkan padanya. Laras menoleh, menatap wajah yang sangat tidak asing.

__ADS_1


"Siapa kamu?"


__ADS_2