
"Kau yakin panah itu bukan berasal dari pemburu?" tanya Pak Darto setengah berbisik.
Ren yang tengah bersama Pak Darto mengangguk yakin. "Bukan, Pak. Tidak ada pemburu yang menggunakan panah berbahan tembaga hitam. Karena itu bisa merusak hewan yang kami buru."
Mendengar penjelasan dari Ren, Pak Darto segera mengangguk paham. Garis cemas di wajah lelaki itu tergambar semakin jelas. Jika bukan dari pemburu, lantas bagaimana Lion bisa mendapat anak panah itu?
"Namun, Pak Darto ...." Ren mengentikan kalimat. Wajahnya nampak gusar seperti ada sesuatu yang tak bisa dikatakan. "Sebenarnya Win melarang mengatakan hal ini. Tapi sepertinya aku tidak bisa menyembunyikannya lagi."
Pak Darto menatap Ren dengan seksama. "Ada apa? Katakan."
Sesaat Ren nampak ragu. "Sebenarnya ...." Lagi-lagi kalimatnya terjeda. Perlahan ia mendekat. Dengan sedikit berbisik akhirnya berucap, "Sebenarnya saat menemukan Lion, dia tidak dalam wujud manusia."
***
Sementara hari berganti, Lion perlahan pulih.
Laras menatap pria di hadapannya dengan tatapan penuh kerinduan. Perban masih mengitari tubuh Lion. Namun beruntung pria itu sudah bisa dipindahkan dari rumah Pak Darto.
"Matamu akan lepas jika terus menatapku seperti itu, Laras," ujar Lion dengan sedikit salah tingkah. Siapa yang tidak tersipu saat bangun dan sudah dihadiahi dengan tatapan manis dari wanita ini.
Namun Laras tidak peduli. Bahkan jika benar matanya lepas, ia akan terus menatap Lion menggunakan indera yang tersisa.
"Astaga! Jangan buat aku tak sabar untuk menciummu!" ancam Lion.
Tetapi bukannya takut, Laras justeru tersenyum dengan tatapan tidak dialihkan. Perlahan wajahnya mendekat, mengikis jarak antara dirinya dengan Lion. "Aku sudah menunggu kau melakukannya."
Sesaat pandangan keduanya terkunci. Beberapa detik, hingga akhirnya Lion menarik Laras. Mengunci pergerakan wanita itu. Kemudiannya secara perlahan ia menautkan bibir dengan lembut.
Setelah beberapa saat, ciuman terlepas. Lion menatap Laras dengan penuh perasaan. Ini seperti mimpi baginya. Meskipun kenyataan tentang pemberontakan masih terngiang jelas di kepala.
"Aku mencintaimu, Laras," ungkap Lion dengan tulus.
Laras yang memiliki perasaan sama justeru segera mundur. Namun senyuman belum lepas dari wajah cantiknya. "Setelah kau ingin aku melupakan semuanya. Sekarang masih berani mengatakan hal romantis semacam itu?" Ia berdecak, pura-pura kesal.
__ADS_1
Namun, agaknya candaan Laras sedikit membuka luka di hati Lion. Pria itu segera menggenggam tangan wanitanya. "Aku minta maaf. Kau tahu, aku tidak punya pilihan lain saat itu," ucapnya dengan tatapan penuh penyesalan.
Sudah tak lagi mempermasalahkan hal itu, Laras segera mengangguk paham. Tentu ia bahkan tidak menyalahkan Lion dari awal. Yang terpenting adalah bagaimana pria itu bisa selamat sekarang.
Beberapa saat kemudian wanita itu bangkit. "Aku akan menyiapkan sarapan."
Ketika Lion menunggu dengan angan mengembara jauh, saat itu Laras sudah keluar dengan nampan di tangan.
"Bukankah ini seperti nostalgia?" ujar Laras ketika makanan sudah terhidang di atas meja.
Tak ada jawaban, Lion hanya mengangguk mengiyakan. Tentu, baginya bersama Laras seperti ini masih sebatas mimpi yang membuatnya sedikit menepi dari kenyataan.
"Ngomong-ngomong ... bagaimana kau bisa tertembak panah?" tanya Laras di tengah sarapan.
Mendengar itu, Lion berhenti sebentar. Kegusaran di wajah yang tadi sedikit disembunyikan kini terlihat sangat jelas. Hingga akhirnya ia menceritakan semua yang terjadi pada Laras. Tentang rahasia antara manusia dan manusia serigala, sampai ketika pemberontakan di Fantasiana terjadi.
Seketika mata Laras membulat. "Jadi kau adalah raja dari kawanan manusia serigala?" ucapnya terkejut.
Lion mengangguk. "Tapi sekarang sepertinya aku bukan lagi seorang raja."
Tak mau kekasihnya merasakan sedih seorang diri, Laras menggenggam erat tangan Lion. Meski tak ada kalimat yang keluar, tapi itu sudah cukup untuk memberikan dukungan.
Hingga setelah cukup lama, Laras akhirnya kembali membuka suara. "Saat kau pertama kali hanyut. Apa itu juga bukan sebuah kecelakaan?"
Perlahan Lion mengangguk. "Mereka ingin menghabisiku dari awal."
Perasaan terluka tiba-tiba menggerogoti hati Laras. Ia saja merasa tersayat, apalagi Lion yang menjadi pemeran utama dalam tragedi kali ini?
Diusapnya punggung tangan Lion dengan penuh perasaan. "Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Lion bergeming. Wajahnya nampak berpikir. Tentu ia sudah memikirkan jalan keluar bahkan sejak ia pergi dari Fantasiana. Namun melihat keadaan sekarang, agaknya mustahil jika ia gegabah menyerang.
"Aku ingin menyerang balik. Namun dengan keadaanku yang sendiri, sepertinya aku tidak memiliki peluang." Lion mengatakannya dengan wajah putus asa.
__ADS_1
"Lion." Laras semakin mengeratkan genggaman pada tangan pria itu. "Apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisimu. Jadi jangan pernah merasa sendiri, ya?"
Seketika ketegangan yang sedari tadi mengalir dalam diri Lion berkurang. Mendapat dukungan dari Laras terasa membuka jalan baru untuknya. Hingga sesuatu tiba-tiba teringat.
"Laras. Menurutmu apa aku bisa mendapatkan bala bantuan dari manusia?" tanya Lion.
Sesaat Laras terdiam. Ia ragu bagaimana menjelaskan tentang keadaan Lion pada orang-orang yang bahkan mungkin masih menganggap pria itu sebagai manusia.
"Jika aku mengaku dan meyakinkan mereka, mungkinkah mereka akan percaya?"
Tak mau membuat Lion sedih, Laras segera mengangguk. "Mungkin bisa jika kita mencoba," ucapnya. Kemudian menyerahkan ikan yang sedari tadi belum sempat disentuh. "Sekarang habiskan makananmu dulu. Kita akan memikirkannya bersama setelah ini."
Saat makan pagi usai, matahari perlahan naik dan turun meninggalkan peraduan.
Bulan menggantung cantik di atas langit. Menemani Laras dan Lion yang tengah duduk di bawah pohon ketapang, mengenang apa yang pernah mereka lakukan dulu.
"Kau ingat saat pertama kali menciumku di sini?" tanya Laras yang langsung dibalas anggukan oleh Lion. "Saat itu untuk pertama kalinya aku merasakan debaran aneh dalam dada. Kurasa sejak saat itu aku mulai memperhatikanmu."
Laras menoleh, menatap Lion yang juga tengah memberinya tatapan penuh kerinduan. "Itu berarti, aku sudah lebih dulu jatuh cinta kepadamu, Laras."
Ternyata benar, berduaan di bawah sinar rembulan bisa mendapat momen romantis yang tidak terduga. Perlahan tatapan Lion beralih pada bibir Laras. Namun belum sempat ia mengecup, suara riuh terdengar semakin mendekat.
"Kau mendengarnya?" tanya Lion ketika telinganya menangkap ramai orang memanggil namanya.
Laras yang mendengar dengan samar segera mengangguk. "Apakah itu suara warga?"
Tak begitu lama, sebuah rombongan datang dari desa dengan obor api di tangan masing-masing. Lalu di depan mereka, ada Pak Darto dan Win yang memimpin.
"Di mana Lion?" teriak Win dengan keras, "keluar sekarang kau, Lion!"
Mendapati hal itu, Laras segera menyuruh Lion untuk bersembunyi. "Mereka membawa api!"
Akan tetapi belum sempat, rombongan sudah lebih dulu mendapati Lion yang hendak pergi.
__ADS_1
"Lion! Katakan yang sebenarnya pada kami!"
Seketika ketegangan meliputi tubuh Laras dan Lion. Mereka saling bergandengan menguatkan satu sama lain. Sedangkan di hadapan keduanya rombongan dengan wajah tegas seolah ingi menghabisi mereka.