Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Perang Masih Berlangsung


__ADS_3

Perlahan mata Laras mengerjap. Pening, kunang-kunang masih memenuhi penglihatan. Sampai setelah semua terlihat jelas, ia sadar tengah berada di tempat asing. Sama sekali tidak dikenali.


Sebuah dinding tanah dengan jeruji kayu menjadi kandang yang mengurung wanita itu. Laras terperanjat, ia yang untuk berdiri saja masih sempoyongan berusaha untuk keluar dari sana. Sayang, meskipun kayu bukan berarti mudah dihancurkan.


"Di mana aku sebenarnya," lirihnya dengan panik. Sedangkan pandangan menyapu habis dari sudut ke sudut.


Penerangan tak banyak. Hanya dua obor yang terlihat menggantung di dinding. Bahkan sepertinya sinar dari luar tak ada yang masuk sedikitpun.


Ketika wanita di sana berada dalam kepanikan, tiba-tiba sebuah bayangan nampak dari sorot obor. Seekor serigala yang perlahan berubah wujud menjadi manusia.


Refleks tubuh Laras ditarik ke belakang. Jantungnya berdegup cepat, tangannya gemetar merasakan ketakutan yang besar.


Hingga perlahan, serigala yang tadi hanya terlihat sebagai bayangan kini muncul dalam wujud seorang pria.


Laras membeku. Tubuhnya mematung sebab tak bisa kabur dari sana. Ia hanya bisa terus mundur dan menjauh dari jeruji kayu. Akalnya masih tumpu, tak bisa mengira kenapa ia sampai diculik dan dibawa ke sana. Lagipula, ia tidak bisa melihat jelas apa warna serigala yang kini sudah berubah wujud itu.


"Kau bisa mengawasinya?" tanya pria yang berada di luar penjara.


Bertepatan dengan itu, seseorang yang lain masuk dan langsung mengangguk. "Serahkan padaku, Kevin."


Mendengar nama itu, seketika mata Laras melotot. Apakah itu Kevin yang sama dengan yang Lion ceritakan?


Sementara Laras berada di dalam gua yang tersembunyi, perang di Kerajaan Fantasiana masih berlangsung.


Tembakan panah api mendominasi medan pertempuran. Teriakan dan cakaran juga turut menjadi senjata yang cukup mematikan.


Korban tentu ada, baik dari kalangan pemburu maupun manusia serigala. Beruntung, hingga saat ini sepertinya pasukan Aira dan Win yang memimpin.


Aira terus mengangkat taring. Menebas siapapun yang ada di depannya tanpa ampun. Kendati itu serigala hutan yang berkhianat sekalipun. Matanya menatap tajam tak kenal ampun.

__ADS_1


Sedangkan Win pun sama. Ia memang memimpin pasukan panah yang berjajar di belakang. Namun bukan berarti ia tak berani maju menyusul Aira. Dengan kemampuannya berburu belasan tahun, agaknya ini hanya situasi yang sedikit serius baginya.


Pelan tapi pasti, kibasan api dan taring menerobos kawanan manusia serigala di bawah pimpinan Seril. Aira dan Win fokus pada musuh yang berada di hadapan masing-masing. Sampai tak ada yang sadar, jika sebuah panah bermata tembaga hitam melesat dari dalam istana.


Aira tak sadar jika panah tembaga itu mengincar dirinya. Hanya dalam hitungan detik, kecepatan tak terkira melampaui angin. Saat ia menoleh, anak panah itu sudah berada tepat di depan mata. Ia tak mungkin bisa menghindar.


Hingga dalam sekejap sebuah benturan terdengar keras. Aira menatap Win yang masih mengangkat busur panahnya.


"Kau harus selalu waspada. Ingat, ini perang," ujar Win usai menepis anak panah yang hampir mengenai Aira.


Merasa berterima kasih, Aira hanya bisa mengangguk. Selain menambah serangan sepertinya ia juga harus menambah kewaspadaan.


Di sisi lain, seorang pemburu tengah merasa terpojok. Padahal anak panah di belakang punggung masih ada beberapa, tetapi saat tiga serigala mengepung ia seakan tak bisa berbuat apa-apa.


Ren berjalan mundur. Perlahan hingga pohon besar di belakang tak lagi memberinya ruang. Bola matanya gemetar tak bisa menatap tiga serigala yang mendekat dengan taring beradu.


"Kenapa hal seperti ini selalu terjadi padaku?" ujarnya dengan keringat deras mengucur di sekujur tubuh.


Dengan sisa waktu yang sedikit, ia melempar busur dengan sekuat tenaga, mengalihkan perhatian serigala dan memanfaatkan jeda yang sebentar untuk memanjat pohon besar di belakang.


Lagi-lagi, pria itu melarikan diri.


Sementara itu, di atas singgasana ratu. Irly mengepalkan tangan sangat kuat. Wanita yang ia perintahkan menangkap Laras baru saja tiba. Namun sepertinya kabar yang datang bukan seperti keinginan.


Mata wanita itu memerah menahan marah. Kuku tajam sudah keluar dari tadi. Di luar perlahan pasukan Aira mulai memasuki istana. Sedangkan ia yang berharap memiliki sandera nyatanya tak bisa diwujudkan.


"Kau bilang wanita itu sudah tidak berada di sana?" tanya Irly dengan kemarahan yang siap meledakkan istana.


Serigala wanita yang ia tugaskan beberapa waktu lalu mengangguk dengan takut. "Aku sudah memastikannya berkali-kali, tapi wanita itu memang tidak berada di sana."

__ADS_1


"Sial!" Irly melempar miniatur serigala di dekatnya dengan kencang. "Apa yang sudah kau lakukan, hah?"


Namun wanita yang ketakutan hanya bisa menunduk dalam. Ia tak berani menatap mata sang ratu yang penuh dengan kebencian.


"Bawa dia dan masukkan ke penjara bersama anaknya!" titah Irly yang langsung diiyakan. "Aku akan menghukum mereka setelah ini," lanjutnya.


Nasib malang menimpa serigala hutan. Ia memohon, meminta ampunan. Tetapi nyatanya tak ada satupun yang diindahkan. Bahkan ketika ia bersujud dengan air mata darah, hanya ada kematian yang menantinya di ujung jalan.


***


Sebelum pertempuran terjadi, ketika Kevin dan Vicky ditugaskan untuk menjaga gerbang perbatasan.


Vicky menghela napas panjang. Mengingat bagaimana ia melepas Aira pergi tanpa bisa memastikan keadaan pria itu.


"Aku harap Aira baik-baik saja," ucapnya, setengah bermonolog tapi masih terdengar jelas.


Kevin yang sedari tadi menatap lurus ke depan segera menoleh. "Dia tidak baik-baik saja," ucapnya, "aku memanahnya dengan tembaga hitam."


Mendengarnya membuat Vicky terperanjat sesaat. Ia memiringkan kepala, merasa jika ini bukan situasi yang tepat untuk bercanda. "K-kau bercanda, kan?" ujarnya dengan ragu. Namun dalam sekejap Kevin menggeleng dengan serius. "Kau sungguh memanahnya dengan tembaga hitam, Kevin?"


Menanggapi kepanikan Vicky, Kevin mengangguk dengan tenang. Seolah apa yang dia lakukan tak pantas dikhawatirkan.


"Kenapa kau melakukannya? Kau benar-benar berkhianat pada Aira?" Mata Vicky semakin membulat sempurna.


Tiba-tiba helaan panjang keluar dari bibir Kevin. "Aku melakukannya untuk menyelamatkan Aira."


Sejenak Kevin memberi jeda. Ia mengerti kenapa Vicky menatapnya tak percaya. Sebab ia pun tak pernah terpikir akan melakukan itu pada Aira.


Barulah setelah beberapa saat, Kevin melanjutkan. "Saat itu aku melihat Aira berlari ke tepi hutan. Namun tak lama aku melihat salah satu dari mereka mengarahkan anak panahnya pada Aira. Aku yakin jika Aira terkena panah saat itu, ia akan habis saat itu juga." Kalimatnya kembali terjeda.

__ADS_1


"Lalu kau sendiri yang memanahnya?"


"Aku memanah pada titik yang paling aman. Mungkin akan membuatnya tak sadar beberapa hari. Namun lihat, aku tidak membunuhnya."


__ADS_2