Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Menghapus Ingatan Laras


__ADS_3

"Apa yang sudah kamu lakukan padanya?" Aira menahan diri agar tidak memukul Irly yang nampak tenang.


"Apa maksudmu?" tanya Irly, berpura-pura tidak tahu.


Merasa sudah di ambang batas, Aira memukul pintu dengan keras. Kayu jati yang harusnya tahan dengan pukulan kini terlihat berlubang.


"Kau!" Tangannya mengepal. "Kau yang melakukan itu padanya, kan?" Aira masih berusaha tenang. Meski dari sorot mata tak bisa disembunyikan jika ia khawatir.


Tak suka dengan sikap Aira yang keras terhadapnya, Irly membenarkan tempat duduk sebelum menatap pria itu dengan tajam.


"Kalau iya, kenapa?" ujar wanita itu. Ditariknya napas sangat dalam, pandangan ia buang ke sembarang arah. "Aku sudah memperingatkan, Aira."


Rahang Aira semakin mengeras. Urat di leher terlihat semakin jelas. Sementara kedua matanya sudah memerah menahan api emosi yang mungkin sebentar lagi tak dapat terkendali.


Mencoba menahan diri, Aira meremas jari jemari dengan kuat. Matanya menatap tajam ke arah Irly. Namun ia tak bisa meluapkan kemarahan hanya karena beban Fantasiana yang sedang ia tanggung.


Andai dulu tetua tidak memiliki hutang dengan para serigala salju itu, sudah bisa dipastikan Aira akan menyerang Irly tanpa pandang bulu.


Setelah beberapa saat saling memaki lewat tatapan, Irly bangkit dari duduk. Kali ini bukan mendekat pada Aira, melainkan menuju meja dengan beberapa benda di atasnya.


Irly mengusap meja seraya berjalan pelan. Sesekali ia melirik Aira yang masih diam tak bicara. "Tidak banyak yang aku lakukan padanya, Aira," ujar wanita itu.


Perlahan ia berjalan ke arah Aira. "Dia cukup beruntung karena yang aku lakukan hanya menjauhkannya darimu, bukan membunuhnya."


Emosi yang memuncak tak lagi bisa ditahan oleh Aira. Ia menatap Irly dengan tangan mengepal siap meluncurkan pukulan. Hingga saat kalimat terakhir terdengar, Aira kehilangan kesabaran.


Brak!


Sebuah pukulan dilayangkan Aira dengan sekuat tenaga. Membuat Irly melotot, terkejut dengan apa yang Aira perbuat. "Kau cukup beruntung. Mungkin lain kali aku benar-benar memukul wajahmu." Setelah mengatakan itu, ia berlalu dari depan Irly, usai meninggalkan bekas pukulan pada dinding yang tidak bersalah.


Sementara Irly masih mematung di tempat, Aira sudah bergegas bergerak menuju segala tempat untuk mencari Laras.


Aira tak sendiri, selalu ada Kevin dan Vicky yang menemani. Bagaimanapun dua kawannya yang mengerti akar masalah. Jika ia meminta bantuan orang lain hanya akan lebih merepotkan.


"Aku tahu jika Putri Irly wanita licik, tapi aku tidak menyangka jika ia akan berbuat sejauh ini," ujar Vicky seraya berlari mengimbangi langkah Aira.

__ADS_1


Kevin setuju. Ia juga tidak menduga jika Irly akan berbuat sesuatu secepat ini pada Laras. Walaupun ia tidak ingin ikut campur, tetapi melihat Aira berubah membuatnya sedikit memberi ruang pada wanita itu.


"Apa rencanamu, Aira? Putri Irly tidak mungkin diam saja setelah ini." Kevin menimpali.


Aira bergeming. Ia juga terus memikirkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Namun terlepas dari semua itu, keselamatan Laras adalah yang utama.


Masih dengan tatapan lurus ke depan. Aira berkata, "Aku tidak akan membiarkannya terluka. Sudah ku putuskan untuk melakukan itu."


Secara bersamaan mata Vicky dan Kevin membulat.


"Jangan-jangan ...." Kalimat Kevin terhenti, hanya satu kemungkinan yang ia pikirkan. "Kau sungguh akan melakukannya?"


Sementara di sepanjang aliran sungai. Seorang wanita masih bertahan hidup dengan tenaga yang tersisa. Entah sudah berapa liter air yang ia minum, tapi perutnya terasa sangat kembung.


Hujan masih terus mengguyur, arus tak lekas membaik. Dalam kondisi seperti ini tak ada harapan baginya untuk selamat. Bahkan setelah tubuhnya membentur batu berkali-kali.


Namun kali ini air tak mau bersahabat dengan Laras. Alih-alih membawa wanita itu ke tepian, arus sungai justeru membuat kesadarannya perlahan menghilang.


Semua gelap. Bahkan air yang dingin tak lagi terasa. Dengan harapan hidup yang tak bersisa, Laras memejamkan mata.


Perlahan hujan meninggalkan awan. Langit kembali hangat setelah beberapa jam lalu menawarkan kelam yang panjang. Arus sungai juga tak sejahat tadi.


Di bawah pohon rindang dengan alas daun pisang, seorang wanita terbaring tak berdaya dengan pakaian yang sudah dilepas. Tubuhnya ditutup dengan kulit hewan yang baru dikeringkan. Sedangkan di sebelahnya, seorang pria menatap dengan penuh kecemasan.


Perlahan Laras terbatuk, cukup lama hingga akhirnya ia membuka mata.


Laras mengamati sekitar dengan pandangan yang masih samar. Tempat yang asing, tak ada apapun yang ia kenal.


Perlahan ia menata kembali ingatan. Tentang banjir yang membawanya hanyut, lalu ia tak ingat apapun lagi.


"Laras." Pria di sampingnya memanggil, tetapi wanita di sana belum yakin itu nyata atau sekadar ilusi belaka. "Laras. Kau sudah sadar?"


Barulah setelah itu Laras yakin. Ia menoleh, pria di samping terlihat berurai air mata. "Lion," ucapnya lemah.


Laras mencoba bangun, tapi memar di sekujur tubuh terasa sangat menyiksa.

__ADS_1


"Berbaringlah lebih lama," ujar Lion sembari membantu Laras kembali pada posisi semula. "Maafkan aku."


Mendengarnya Laras seketika menoleh. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Lion. Maaf untuk apa?


"Maafkan aku, Laras. Ini semua salahku." Air mata membanjiri wajah Lion. Pria itu menangis, tak kuasa melihat wanitanya terluka karenanya.


Namun meskipun Laras tak terlalu paham, ia sedikit memberi ruang. Diangkatnya tangan untuk membelai wajah Lion. "Ini bukan salahmu. Berhenti menyalahkan diri sendiri, ya?"


Masih dalam tangisnya, Lion meraih tangan Laras. Menggenggamnya erat sebelum mereka mungkin tidak akan pernah bisa bersama lagi.


Ketika keduanya mulai tenang, Lion memberikan pakaian Laras yang sudah kering. "Maaf karena tidak bisa memperbaiki yang koyak," ujarnya merasa bersalah.


Menanggapi itu, Laras tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih karena sudah mengeringkannya."


Setelahnya, Lion menggendong tubuh Laras. Mereka menyusuri hutan yang cukup panjang untuk sampai ke rumah. Meski sekujur tubuh Laras sakit, wanita itu tetap merasa bahagia hanya dengan keberadaan Lion di sisinya.


Sampai ketika kaki melangkah tak terhitung jumlahnya, mereka akhirnya tiba. Rumah yang Laras rindukan sudah terlihat di depan mata.


Tetapi belum juga sampai di rumah, Lion sudah menurunkan Laras. Pria itu mendudukkannya di sebuah batu besar.


Lion terdiam, menatap Laras dengan perasaan campur aduk. Bersalah, khawatir, dan putus asa membuat air matanya kembali mengalir deras.


"Apa yang terjadi, Lion?" tanya Laras tak mengerti.


"Maafkan aku, Laras. Harusnya aku mencegahnya dari awal."


Dahi Laras mengerut bingung. "Ada apa sebenarnya. Katakan agar aku mengerti."


Namun tak ada kalimat lain yang Lion ucapkan selain kata maaf. Pria itu tersedu. Hingga setelah beberapa saat, ia meletakkan tangan di atas kepala Laras.


"Maafkan aku, Laras. Lupakan semuanya, anggap aku tidak pernah hadir dalam hidupmu." Lion mulai menarik ingatan tentang dirinya. "Setelah ini, kamu akan kehilangan ingatan tentangku."


Lalu setelah seluruh memori ditarik, tubuh Laras seketika ambruk. Wanita itu kembali pingsan.


Sedangkan Lion, ia terduduk lemas dengan rasa bersalah yang besar. Ia sakit hati, putus asa, tak ingin berpisah dari Laras. Namun ini adalah satu-satunya cara untuk menarik wanita itu dari permainan Irly dan peraturan manusia serigala.

__ADS_1


"Aku mencintaimu. Maafkan aku."


__ADS_2