Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Akhirnya


__ADS_3

"Kau bilang jika ciuman yang kuberikan membuatmu terbangun?" tanya Laras seraya mengobati bekas luka yang masih biru di dada Lion.


"Iya." Lion mengangguk.


"Wah. Bukankah itu seperti sebuah keajaiban?"


Melihat Laras takjub, tak sadar Lion tersenyum. Namun matanya terkunci pada wajah wanita yang masih serius mengobatinya. Hingga ....


"Laras." Kata pertama terhenti. Ketika Laras menyahut, Lion melanjutkan. "Menikahlah denganku."


Seketika tangan Laras membeku. Ia yang seharusnya mengoleskan obat pada luka nyatanya berhenti saat belum menyentuhnya.


"Eh?" Laras menoleh. "A-apa katamu?" Wanita ini tak yakin.


"Menikahlah denganku," ucap Lion mengulang perkataan. "Aku mencintaimu, Laras. Menikahlah denganku."


Sejenak Laras terdiam. Wajahnya sudah merah, tapi seperti kata mendadak hilang dari kepala. Sampai setelah cukup lama, ia akhirnya mengangguk mengiyakan.


"Ayo menikah, Lion. Aku juga mencintaimu."


Debar di dalam hati bertambah sangat banyak. Lion tersenyum senang, kebahagiaan jelas sekali tergambar di wajah keduanya.


Saking senangnya, Lion memeluk erat tubuh Laras. Mengucap terima kasih berkali-kali. Ia tidak menyangka jika sang kekasih akan mengiyakan dengan cepat.


Hari-hari terus berjalan setelah Lion mengutarakan keseriusannya untuk menikahi Laras. Kabar sudah tersebar, dan persiapan pernikahan tengah dilakukan.


Selayaknya seorang sahabat, Kinan dengan senang merangkai Bungai untuk dekorasi. Ia akan memilih yang terbaik untuk pernikahan Laras.


"Laras. Bagaimana perasaanmu?" tanya Kinan.


Laras tersenyum. Kebahagiaan jelas sekali tergambar di wajah. "Jangan ditanya. Aku sangat bahagia."


"Akhirnya sahabatku yang jomblo dari lahir menikah," ujar Kinan setengah mengejek, tapi tetap terasa menyampaikan kebahagiaan.


"Jadi, kapan sahabatku yang satu ini menyudahi masa lajang?" Laras balik bertanya.


Namun tak langsung menjawab, Kinan justeru menampilkan wajah sedih. "Entahlah. Akankah pria yang kusukai menyukaiku?" tanyanya, seolah ia sudah putus asa.


Menghibur Kinan, Laras mengusap bahu wanita itu pelan. "Tenang saja. Kau pasti akan menemukan pria idaman suatu hari nanti," ujarnya dengan tulus, "siapa tahu kau bertemu dengannya di sini."


Refleks Kinan menepuk pelan bahu Laras menanggapi lelucon yang sahabatnya katakan.


Akan tetapi, agaknya Laras tak bisa terus membantu Kinan. Sebab dari sisi lain ia dipanggil.


"Aku harus pergi. Kau bisa menyelesaikannya sendiri, kan?"

__ADS_1


Kinan mengangguk. "Tenang saja. Ini keahlianku."


Setelah mengangguk yakin pada Kinan, Laras segera beranjak dari sana.


Sementara Kinan, ia melanjutkan pekerjaan seorang diri. Menyusun bunga dekorasi dan memasangnya. Namun, ada tempat tinggi yang tidak dijangkau tinggi badannya.


Kinan menengok sekitar, mencari barangkali ada sesuatu yang bisa dinaiki. Hingga sebuah kursi terlihat. Ia bergegas mengambil dan naik di atasnya memasang bunga-bunga.


Awalnya semua berjalan lancar. Namun Kinan tak sadar jika kursi yang dinaiki tidak lebar. Hingga saat ia ingin beralih ke bagian lain, kakinya terperosok ke bawah. Membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Beruntung, belum sempat tubuhnya menghantam tanah, seseorang sudah lebih dulu menangkapnya.


Seketika mata Kinan terkunci pada wajah pria yang menolong. Pria yang selama ini membuat jantungnya berdebar kencang. Benar, itu adalah Win.


"Kau tidak apa?" tanya Win seraya membantu Kinan menegakkan badan.


Kinan yang terlanjur salah tingkah mengangguk dengan gugup. "Terima kasih."


Win mengangguk. Ia lantas memeriksa dekorasi bunga yang tengah Kinan susun. "Harusnya kau minta bantuan. Itu sangat tinggi," ujarnya.


"Aku pikir bisa, Win. Karena sudah terbiasa meletakkan bunga di tempat tinggi saat di toko."


"Kalau begitu, biar aku yang pasang. Di sini?" Win meletakkan bunga di paling ujung.


Kinan menyimak dan memberi arahan. "Sedikit ke kiri. Nah, sempurna!"


Refleks Win menoleh. Pandangannya sedikit terkunci pada senyum Kinan. Hingga tanpa sadar ia berucap, "Memang benar. Cantik sekali."


Sementara di sisi lain, Lion tengah membantu Pak Darto menyiapkan kelengkapan untuk pernikahan. Tak banyak memang, tapi perlu diperhatikan dengan teliti.


"Oh, iya. Kau sudah menyiapkan cincin pernikahan?" tanya Pak Darto ketika sadar belum ada benda mengkilap itu di sana.


Wajah Lion terlihat bingung. "Cincin pernikahan?" Dengan cepat Pak Darto mengangguk. "Apa kita membutuhkannya?"


Mendengar itu, mata Pak Darto membulat tak percaya. "Kau bahkan tidak tahu jika harus ada cincin pernikahan?"


Lion mengangguk dengan polos.


Seketika helaan panjang keluar dari bibir lelaki paruh baya di samping Lion. "Dengar. Saat kau menikahi wanita, maksudku manusia. Kau harus menyiapkan cincin sebagai tanda pengikat jika kalian sudah menikah."


"Benarkah?" Kali ini Lion yang terkejut. Tentu ia sama sekali tidak memikirkannya.


"Saat kawananmu menikah tak ada cincin pernikahan?"


Lion menggeleng. "Kami menggunakan biji pinus sebagai simbol cinta abadi," ujarnya.

__ADS_1


Pak Darto hanya mengangguk paham. Tentu ia tak boleh terlalu terkejut, mereka memiliki perbedaan yang sangat kentara. "Ini salahku tidak memberitahu dari awal," ujarnya setengah putus asa.


"Lalu di mana aku bisa mendapatkan cincin pernikahan, Pak?"


Seketika lelaki paruh baya di samping Lion menoleh. "Di kota. Dan kita tidak memiliki waktu lagi untuk ke sana."


***


Kemudian tibalah di hari yang dinanti semua orang. Pernikahan Laras dan Lion.


Seorang wanita mengenakan dress putih dengan hiasan bunga di kepala. Riasan dibuat natural tapi tetap kentara. Sedangkan di sampingnya, seorang sahabat menggandeng lengan mempelai wanita.


"Apa kau gugup, Laras? Aku sangat gugup," ujar Kinan.


Laras tersenyum kecil. "Aku lebih gugup. Tenanglah, kau hanya perlu mengantar ke depan setelah Lion siap."


Hingga seorang pria tampan dengan jas hitam berdiri tegak di depan. Setelahnya mempelai wanita dipinta untuk memasuki altar. Sebuah jalan yang sengaja dibuat di tepi ladang.


Gugup semakin menjalar. Laras menarik napas dalam dan mulai melangkah dengan pelan. Tatapan bahagia dan haru berkumpul menjadi satu di sana.


Perlahan Laras akhirnya tiba, disambut oleh Lion yang mulai berlinang air mata.


Hingga janji suci pernikahan dikumandangkan dengan indah dan tegas. Lion menoleh, menatap Laras yang juga tengah memandanginya.


Sesaat keduanya hanya saling menatap. Sampai sebuah ciuman di atas altar menjadi sebuah ikatan jika mereka telah terikat satu sama lain melalui pernikahan.


Kini waktu yang ditunggu-tunggu oleh para tamu. Lempar bunga oleh mempelai wanita.


"Laras lempar ke sebelah sini!" teriak Kinan dengan sedikit paksaan.


Laras hanya tersenyum. Kemudian berbalik dan mulai melempar ke sembarang arah.


Semua berebut. Namun bunga hanya satu ikat, dan yang dapat adalah.


"Aku!"


"Aku dapat!"


Dua pasang mata saling menatap ketika memegang bunga yang sama. Rupanya Kinan dan Win secara tidak sengaja meraihnya. Atau ini sebuah takdir?


Seketika sorak menggema, menggoda dua lajang yang saling tersipu malu.


Ketika Bulan meninggi, pesta akhirnya usai. Laras duduk dengan riasan yang belum terhapus. Ia menatap cincin bunga yang melingkar di jari manis dengan bahagia.


"Maaf jika itu tidak seperti cincin pernikahan, Laras. Aku tidak tahu jika perlu menyiapkan cincin," ujar Lion dengan rasa bersalah.

__ADS_1


Namun Laras dengan senyum segera menggeleng. "Aku menyukainya. Cincin ini sangat cantik."


Seketika Lion tak bisa melepaskan pandangan dari Laras. Perlahan wajah mereka mendekat. Sebuah ciuman lembut kembali menyatukan keduanya di bawah rembulan yang terlihat bahagia.


__ADS_2