Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Pertemuan Mengharukan


__ADS_3

"Lion!"


Kedua mata Laras membulat. Pria di hadapannya tak lagi menyita perhatian. Namun Justeru sosok bayangan yang nampak samar di balik pohon.


"Lion!" Di detik yang sama wanita itu bangkit. Matanya lurus mengikuti bayangan yang tak lagi terlihat. Ia bahkan tidak peduli terhadap Win yang jelas-jelas berada di dekatnya.


"Laras?" Win hanya bisa menatap punggung wanita yang menjauh.


Pria ini pikir, Laras melakukan itu hanya karena ingin menolak ungkapan perasaannya. Namun setelah ia amati, agaknya wanita itu benar-benar mengejar seseorang.


Sementara Laras, ia terus melangkah dengan langkah besar. Menerobos arus sungai, melompati batu-batuan yang nampak sedikit curam. Tujuannya hanya satu, yakni wajah yang nampak tidak asing meski dari jarak yang tidak dekat.


"Aku yakin itu dia," gumam Laras seraya terus berlari mengejar bayangan yang hilang ditelan pepohonan.


Begitu ia sampai, pandangan langsung mengedar mencari keberadaan pria yang sempat muncul meski sekilas. Tidak menemukan Lion di balik pohon, ia beralih pada bagian hutan yang lain.


Jalan setapak, pohon besar, bahkan semak-semak tak luput dari penyusuran Laras. Panggilan demi panggilan juga terus ia teriakan. Lion, hanya itu yang bisa ia katakan sekarang.


Pandangan Laras terus mengedar, selaras dengan kaki yang tak berhenti mencari di setiap sudut tepi hutan. Ia hampir menangis kala tak ada satupun sahutan atau sekadar bayangan tak nyata yang ingin ia lihat.


"Lion, kumohon." Laras terduduk lemas dengan air mata yang mulai mengalir deras.


Lutut yang terasa lemas ditekuk dengan kedua tangan menutupi wajah. Laras benar-benar terluka. Harapan yang ia tanam nyatanya hanya menimbulkan kekecewaan tak berujung.


Harusnya ia sadar, bisa jadi sosok bayangan yang dilihat hanyalah buah dari impian alam bawah sadar. Bagaimana bisa pria yang ia lihat sudah pergi tiba-tiba muncul kembali?


"Sampai kapan kau terus membuatku seperti ini, Lion?" pekik Laras dengan pelan. Ia sudah lelah, tapi tetap tak bisa meninggalkan perasaannya begitu saja. "Bahkan hanya sedetik, apa tidak boleh aku mengharapkan kau muncul di depanku?"


Laras semakin tersedu. Perasaan yang selama ini disimpan sendiri nyatanya dikeluarkan semua hari ini.

__ADS_1


"Bohong jika aku bisa melupakanmu. Bohong jika aku baik-baik saja tanpamu. Aku hanya berpura-pura. Aku tidak baik-baik saja, Lion. Aku sangat terluka. Perasaan ini membuatku sangat kewalahan." Suaranya semakin hilang. Wanita itu semakin menangis kencang. Setelah dua tahun ini ia menyimpannya seorang diri tanpa ada yang tahu, kali ini di tepi hutan setelah ia dikecewakan oleh harapan, akhirnya sakit yang dirasa berhasil diluapkan.


"Aku masih mencintaimu, Lion. Kumohon, kumohon datanglah meski hanya dalam mimpiku."


Tiba-tiba sebuah pelukan mendarat tepat di punggung Laras. Ketika wanita itu dilanda keputusasaan yang hebat, saat tak ada lagi harapan yang terlihat. Dekapan dan detak jantung yang tak asing begitu terasa di balik punggungnya.


Laras tertegun. Tubuhnya membeku. Ia bahkan tidak lagi bisa membedakan mana kenyataan atau hanya sekadar ilusi. Setelah ia sampai di tepi hutan tanpa ada apapun di sana, sekarang apa lagi?


"Aku juga masih sangat mencintaimu, Laras."


Suara itu. Seketika suasana menjadi hening tak bersuara. Angin tak berhembus, air seolah tak mengalir. Bahkan hewan hutan seperti kehilangan kehidupan. Dunia berhenti, kecuali Laras. Wanita itu bisa dengan jelas merasakan deru napas di samping telinga.


Namun semua masih nampak tak nyata. Laras terpaku, air mata semakin mengalir deras melewati wajah. "Bahkan jika ini hanya mimpi, aku tetap ingin seperti ini," lirihnya, sembari menggenggam tangan yang memeluk.


"Aku juga ingin terus seperti ini. Aku mencintaimu, Laras." Tetapi suara di belakang terasa begitu jelas. Membuat Laras semakin takut. Ia cemas jika lagi-lagi harapan mengecewakannya.


Seketika mata Laras terbelalak. Tanpa membiarkan detik beralih, ia segera memutar badan. Air mata semakin deras tatkala melihat siapa yang ada di belakangnya.


"Lion?" Laras masih tak percaya. Ia menatap pria di sana tanpa berkedip. Sedangkan kedua tangan sibuk menggerayangi wajah yang sangat dirindukan. "Ini benar dirimu?"


Pria yang matanya nampak berembun segera mengangguk. Ia juga tak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat ini.


"Aku tidak sedang bermimpi, kan? Kau sungguh ada di sini, Lion?" tanya Laras diulang penuh harap.


Di detik berikutnya pria di hadapannya mengangguk. "Ini aku, Lion."


Tepat setelah Lion mengatakannya, sebuah pelukan erat Laras berikan. Wanita itu kembali menangis, tersedu di atas bahu pria yang telah memporak-porandakan perasaannya.


Beberapa saat berlalu tanpa adanya sepatah kata yang tertukar. Laras tenggelam dalam kebahagiaan yang melampaui kata-kata. Sedangkan Lion, pria itu hanya bisa menangis diam sembari mengusap punggung Laras dengan satu tangan.

__ADS_1


Hingga setelah cukup lama, Laras akhirnya kembali mendapatkan kesadaran. Ia melerai pelukan, berganti menatap Lion tanpa kedip sedikitpun.


Wajah itu, mata teduh yang selalu membawa ketenangan akhirnya kembali. Laras tersenyum, meski air mata sesekali masih membasahi wajahnya.


Tak lama setelah dua tatapan terpaut, jarak di antara wajah makin terkikis. Laras dan Lion tertawa kecil dengan hidung saling menempel. Sampai sebuah ciuman penuh kerinduan berhasil membawa mereka kembali pada rajutan benang perasaan.


Cinta yang dikira sudah berakhir, nyatanya hanya mengalami penundaan sebentar.


Akan tetapi yang keduanya tidak sadari, di tepi sungai tak jauh dari mereka.


Win berdiri dengan hati penuh luka. Ia hampir berlari saat melihat Laras menangis. Namun entah dari mana, tiba-tiba seseorang memeluk wanita itu. Hal yang sangat mengejutkan adalah sosok yang seharusnya sudah pergi kini kembali.


Perasaan yang baru terungkap nyatanya harus ditolak dengan cara yang paling menyakitkan. Win mematung di tempat. Tangan yang mengepal sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Wanita idaman tak pernah bisa ia dapatkan.


Hati Win semakin sakit ketika melihat Laras tersenyum senang melihat pria di sana. Katakan saja ia jahat, karena berharap Lion pergi selamanya dan tak akan pernah kembali. Meski ternyata harapan hanya sebatas harapan.


Tak mau semakin terluka, Win memutuskan untuk mengakhiri pandangannya terhadap wanita yang nampak sangat bahagia. Sayangnya dengan pria lain, bukan dirinya.


***


Satu tahun sebelumnya di Fantasiana.


"Ibu benar-benar minta maaf, Aira. Ini semua salah ibu," ucap Seril, ketika takhta milik anaknya dilepas di depan mata.


Namun meski tidak terima, Aira masih bisa menggeleng dan tersenyum. "Ini bukan salah siapapun. Sudah selayaknya raja cacat diturunkan dari kursinya."


Ketika keduanya tengah saling menguatkan, tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar. Seorang pria berdiri dengan napas ngos-ngosan penuh kepanikan.


"Kau harus segera pergi dari sini, Aira! Dia menganggap keberadaanmu mengancam dan akan membunuhmu jika kau terus berada di sini."

__ADS_1


__ADS_2