
Api yang beberapa saat lalu berkobar membakar hutan kini sudah padam, menyisakan asap mengepul yang perlahan menghilang.
Di Fantasiana, para pemburu yang terluka juga telah dirawat. Tak ada bedanya bagi manusia maupun manusia serigala. Serta beberapa tawanan pemberontak pun sudah diamankan.
Kerajaan terasa damai seperti semula. Kecuali di dalam istana. Seorang wanita menangis histeris ketika melihat pria yang masih terpejam tak kunjung membuka mata. Laras tak peduli dengan yang lain. Bahkan ketika banyak yang bertanya siapa dirinya atau apa yang wanita itu lakukan di dalam istana. Ia tidak peduli sama sekali.
Perlahan Kevin mendekat, ia membantu Laras akan bangkit karena tubuh pria yang terbaring akan segera dibawa.
Laras menggeleng kuat dengan air mata yang masih mengalir dari tadi. "Tidak. Ini tidak benar," ucapnya penuh emosi. Ia marah, kecewa, tapi tak tahu harus menyalahkan siapa. Lagipula keputusasaan jauh lebih terasa.
Kevin yang merasa prihatin dengan Laras hanya bisa terdiam sembari membantu wanita itu untuk bangun. "Aira harus segera diurus," ujarnya lirih.
Namun Laras belum bisa melepas kekasihnya begitu saja. Setelah semua yang terjadi, setelah kemenangan didapat, inikah balasan untuk mereka? Nyatanya perpisahan bukan hal yang bisa diterima meski maut sudah berkata.
Air mata terus mengalir dari mata Laras. Ia tak ingin beranjak, kalau bisa hendak ikut serta bersama sang kekasih. Hingga Seril yang merasa iba perlahan mendekat. Ia tahu jika Laras manusia, dan pemandangan seperti ini mengingatkan dirinya atas kematian Dilan 30 tahun silam.
Seril memeluk bahu Laras yang bergetar. Ia juga merasakan sakit yang luar biasa atas kepergian putranya. Namun saat melihat wanita muda itu, sepertinya luka yang dirasa tak ada apa-apanya.
"Aira sudah pergi. Biarkan dia pergi dengan tenang," ucap Seril dengan lirih. Meski terdengar menyakitkan, ia berharap Laras bisa menerima semua luka ini. "Kau juga harus terus melanjutkan hidup. Duniamu akan terus berjalan meski tanpa Aira."
__ADS_1
Tangis semakin pecah, Laras terduduk lemas. Perlahan wajah Aira ditutup, tetapi segera dihentikan oleh Seril.
Seril menatap Laras sebentar, kemudian menghapus air mata yang tak ada sudahnya. "Kau tidak mau mengucap salam perpisahan untuk Aira?" Akan tetapi Laras terus menggeleng. Ia bahkan tidak bisa membayangkan akan berpisah dengan pria itu untuk kedua kalinya. Segera Seril memeluk wanita di sampingnya. "Pasti sangat sulit untukmu. Kau pasti sangat terluka, kan? Maafkan kami tak bisa menjaga Aira dengan baik."
Untuk sesaat, keduanya tenggelam dalam tangis yang saling menguatkan. Laras tersedu di dalam dekapan Seril. Benar, ia sangat terluka, kenyataan ini terlalu berat untuknya. Saat ia dan Aira akhirnya bisa bersama, nyatanya takdir memukulnya dengan keras. Laras akan kewalahan dengan semua ini.
Hingga setelah cukup tenang, Laras menoleh pada Aira. Perlahan ia melerai pelukan dan mendekati tubuh lemah tak berdaya sang kekasih. Tangannya terangkat membelai wajah pucat pria yang masih terpejam. "Aku mencintaimu, Lion," ucapnya lembut, "seharusnya aku lebih sering mengatakannya padamu."
Sesaat Laras hanya menatap pria yang mungkin tak akan bisa bertemu dengannya lagi. Hingga setelahnya mata wanita itu terpejam, sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Aira.
Laras terdiam, cukup lama membiarkan kecupan perpisahan. Ia terus terpejam menahan betapa sakit luka yang Aira tinggalkan. Sampai ia melepasnya, menatap dan mengusap lembut wajah pria itu. "Kau benar-benar brengsek! Kau sungguh tega meninggalkanku sendiri seperti ini." Ia kembali menangis.
Ketika Laras masih enggan beralih dari Aira, tiba-tiba kain putih yang semula hanya di dada kini rapat menutup wajah pria itu. Laras semakin tersedu. Namun ia juga tidak bisa terus menahannya di sini. Dengan sangat berat, akhirnya ia melepas jasad pria yang mungkin akan terus memenuhi hatinya.
"Kami akan terus mengingat pertolongan yang kalian berikan," ucap Seril yang langsung diiyakan oleh yang lain.
Sesaat kemudian sang ratu kembali menatap wanita dengan wajah penuh keputusasaan. Ia menghela prihatin, tapi tak bisa menghibur lagi. Hingga tatapannya berhenti pada pria paruh baya berusia 50 tahunan. Seril mengangguk dan tersenyum kecil. Sedangkan Darto justeru membuang pandangan ke sembarang arah. Agaknya lelaki itu cukup kesal mendengar kabar sang kakak.
Hingga pada akhirnya perang berakhir. Para warga melanjutkan hidup seperti biasa. Begitu juga dengan kawanan serigala yang berjanji tidak akan lagi mengusik manusia. Begitupun sebaliknya. Begitulah akhirnya kesepakatan terjalin di antara keduanya.
__ADS_1
***
Tanpa terasa, bulan purnama sudah berganti puluhan kali. Selama itu, Laras masih hidup dalam bayang-bayang pria yang telah tiada. Ia sengaja membiarkan lubang menganga lebar, berharap suatu saat Lion akan kembali datang. Meski nyatanya bintang jatuh masih jauh memiliki peluang daripada kembalinya pria itu.
Di bawah langit yang terlihat semakin kelam, Laras menatap warna biru yang justeru membuat dadanya semakin sesak. Jika pria itu ada di sana, mungkin awan mendung akan terlihat jauh mempesona. Tanpa sadar helaan panjang terus keluar dari bibirnya.
Sementara di ujung ladang, Kinan menatap Laras dengan penuh rasa cemas. Sudah hampir dua tahun berlalu, tapi ia masih kerap mendapati wanita itu berdiam seorang diri.
Kinan menarik napas dalam, sebelum akhirnya melangkah dengan senyum mengembang. Ia akan berpura-pura tidak tahu, seperti Laras yang berpura-pura baik-baik saja.
"Sudah istirahat, Nona?" sapa Kinan. Ketika Laras menoleh ia langsung meletakkan keranjang buah di atas dipan. "Aku membawakan buah apel kesukaanmu."
Laras yang tadinya muram segera memasang wajah segar. Ia melihat buah apel berwarna merah merona. "Wah! Sepertinya pohon di rumahmu berbuah banyak."
Mendengarnya Kinan segera mengiyakan. "Tentu. Aku merawatnya dengan baik. Ini." Ia menyerahkan buah apel merah pada Laras. "Begitu digigit kau akan melupakan semuanya."
Laras terkekeh. "Bukan aku akan pingsan?"
"Kau pikir aku nenek sihir?"
__ADS_1
Setelahnya keduanya tertawa. Memang benar, luka bisa ditutupi, tetapi keberadaannya di dalam hati sama sekali tidak bisa disamarkan. Laras mungkin bisa tertawa dan menjalani hidup seperti biasa. Namun siapa yang tahu, lubang yang ditinggalkan Lion masih sama lebarnya. Ia hanya berpura-pura menjalani hidup dengan baik untuk menghibur waktu yang terus berjalan.
Sementara di tepi hutan, di balik pohon besar yang berdiri kokoh selama puluhan tahun. Seorang pria mengamati Laras dari jauh. Tak berniat mendekat. Setelah hampir dua tahun berlalu, akhirnya ia bisa melihat wajah yang sangat dirindukannya. Namun, sepertinya semua telah berubah. Kecuali perasaan pada Laras yang masih sama.