
Dua tahun sebelumnya. Ketika Aira dilepas untuk pergi selamanya.
"Aku mencintaimu, Lion," ucap Laras. Di detik berikutnya ia mengecup lembut bibir pria yang tak kunjung membuka mata.
Namun siapa yang tahu, jika sebuah ciuman yang manusia berikan dapat membuat gumpalan darah di dalam sana kembali berdetak. Meski sangat lemah, tetapi secercah kehidupan kembali menyala di dalam jiwa yang perlahan pergi meninggalkan tuannya.
Ketika bulan perlahan naik ke peraduan. Saat Laras dan manusia yang lain telah meninggalkan Fantasiana. Gumpalan api berkobar di atas kayu bakar. Sementara di sampingnya sebuah jasad siap dimasukkan. Tangis tak lagi berarti, hanya kenangan yang bisa ditinggalkan tanpa salam perpisahan.
Aira, sang raja Fantasiana sudah siap dikremasi. Namun ketika tubuhnya diangkat, sebuah gerakan kecil menyita perhatian sang ibu. Seril menyela, memastikan jika jari anaknya bergerak.
"Dia bergerak!" ucap Seril, menghentikan kawanan yang hampir melempar Aira ke dalam api.
Untuk memastikan, salah satu dari mereka kembali menurunkan Aira. Benar saja, kedua mata membulat mendapati detak jantung pria itu masih berdetak. Sesaat hanya terdapat saling pandang. Namun setelahnya tubuh sang raja seketika langsung dijauhkan dari api.
Jantung yang berdetak masih terasa sangat lemah, denyut nadi perlahan kembali. "Bawa dia ke dalam!" perintah salah satu tetua yang langsung diiyakan.
Segala upaya perawatan dilakukan agar Aira membuka mata. Meski detak jantung sudah kembali, nyatanya ia tak kunjung sadarkan diri. Namun masih ada harapan, Seril akan melakukan apapun supaya putranya sadar.
Lambat laun waktu berlalu. Setelah bulan purnama beredar dua kali, akhirnya mata Aira terbuka. Ia mengerjap perlahan, mengumpulkan kesadaran yang sudah berbulan-bulan hilang. Baru setelah telinganya bisa menangkap panggilan dari kawanan di sekitar, Aira menoleh.
Sorakan senang seketika memenuhi ruangan. Hari yang dinanti akhirnya tiba, Aira membuka mata. Walaupun bukan berarti semua telah selesai.
Aira memang sadarkan diri. Namun sayangnya, racun yang tertanam cukup lama berhasil melumpuhkan tangan kirinya. Ia memang tak kehilangan ingatan, tetapi fungsi sebelah tangan tak bisa digerakkan. Kabar sang raja yang lumpuh tersebar ke seluruh penjara Fantasiana.
Dalam satu waktu, para tetua mengadakan pertemuan darurat. Raja tak boleh cacat sedikitpun, apalagi lumpuh meski hanya sebagian tubuh. Perbedaan pendapat terjadi. Aira harus diturunkan, atau menunggu sampai selesai perawatan.
"Namun bukankah sudah terlalu lama?" ujar salah satu tetua yang langsung diiyakan. Memang benar, sudah terlalu lama bagi mereka hanya sekadar menunggu sang raja sadar. "Raja sekarang harus diturunkan!"
__ADS_1
Seketika keributan memenuhi ruangan. Tak ada yang bisa menjamin Aira akan sembuh, tak ada yang bisa memastikan jika tangan kirinya akan kembali seperti semula. Hingga akhirnya keputusan semakin mengerucut. Raja yang cacat harus diganti.
"Lalu siapa yang akan naik tahta? Tidak mungkin kita berikan kembali pada Ratu Seril."
Salah seorang tetua mengangkat tangan, bibir tersenyum seolah tiba saat baginya setelah sekian lama. "Keturunanku. Serigala hutan dengan keturunan tulang murni lebih layak duduk di atas tahta kerajaan."
***
Dua tahun telah berlalu semenjak Laras berpisah dengan Lion.
Ia duduk termenung dengan kedua kaki terendam di dalam sungai. Musim panas sudah datang berkali-kali, tapi hujan di dalam hati tak kunjung berhenti. Laras menatap langit, ia sadar jika terus diam di satu waktu adalah kesalahan. Harusnya ia sudah beralih. Sayangnya hanya detik yang berjalan sedangkan perasaannya masih tertinggal.
Langit cerah, angin yang terasa sejuk menerbangkan rambut Laras yang tergerai. Matanya terpejam, sampai-sampai tak sadar jika ada seseorang yang datang dari arah belakang.
Sepotong es memberikan reaksi dingin saat ditempelkan ke pipi Laras. Wanita itu terkejut, menoleh dan mendapati Win datang dengan dua potong es di tangan.
Laras yang mendengar kalimat barusan langsung mengerutkan dahi. "Kau sedang mengejekku?" tanyanya tidak terima.
Namun Win segera menggeleng. Bagaimana bisa ia mengejek wanita yang selama ini terus bersemayam di dalam hati? Sayangnya, selama itu perasaan miliknya tak pernah tersampaikan.
Dalam jeda sebentar Laras tiba-tiba menghela panjang. Matanya masih menghitung udara yang melintas. Tanpa menoleh pada Win, senyum mengembang di wajahnya sulit diartikan. "Sudah dua tahun," lirih wanita itu. Tak lama ia memandang pria di samping. "Sudah dua tahun sejak Lion pergi."
Seketika Win mematung. Setelah dua tahun, ia masih saja merasa sakit jika Laras menyebut nama pria itu.
"Aku tidak tahu, ini terlalu sulit untukku," ujar Laras melanjutkan.
Win bergeming. Sementara tangannya mencabuti rumput di sekitar. Ia paham, pria ini juga merasa kasihan dengan Laras. Namun di satu sisi, ada kebahagiaan tersendiri ketika kini pria yang Laras cintai tak akan pernah kembali.
__ADS_1
"Laras," panggil Win. Ketika wanita yang dipanggil menoleh, ia melanjutkan, "Apa kau berniat membuka hati untuk pria lain?"
Mendengarnya Laras terdiam. Ia menatap Win menunggu pria itu melanjutkan. "Jika ada pria yang mencintaimu selama ini selain Lion. Apa kamu mau mencoba membuka hati untuknya?"
Sesaat tak ada jawaban dari Laras. Ia pikir Win hanya ingin menghibur, jadi sebuah tawa kecil ia berikan. "Memangnya ada pria yang menyukaiku selain Lion?" ujarnya seraya menggelengkan kepala.
Mungkin bagi Laras kepedulian Win hanya terlintas sebagai upaya penghibur untuknya. Namun bagi pria itu, semua yang dilontarkan pada Laras adalah nyata. Perasaannya benar adanya sejak dulu.
"Aku." Kata pertama Win terpotong. Ia menelan ludah yang terasa semakin kering. "Jika pria itu aku, apa kamu kamu menerimanya?"
Kali ini Laras yang terdiam. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang barusan dikatakan oleh Win. Sampai-sampai, wanita ini masih mengira jika semua yang didengar hanya sebatas hiburan.
Laras terkekeh. "Ayolah, Win. Kau tak perlu melakukan itu hanya untuk--"
"Aku menyukaimu." Win mengambil jeda. "Aku menyukaimu, Laras. Dari dulu."
Seketika mata lebar Laras semakin membesar. Ia tak dapat berkata. Bahkan ketika mencari kebohongan di mata Win, hanya ada ketulusan di sana.
"K-kau bercanda, kan?" tanya Laras, terbata.
Namun dengan cepat Win menggeleng. "Aku sungguh menyukaimu, Laras."
Beberapa detik keduanya saling menatap. Akhirnya apa yang selama ini dipendam sekarang bisa diungkapkan oleh Win. Kini ia hanya perlu menunggu jawaban dari sang wanita pujaan.
Tak ada jawaban dari Laras. Wanita itu membeku di tempat. Entah kenapa ungkapan cinta dari Win membuatnya tak bisa berkata-kata. Hingga perlahan ia merasakan jika wajah pria di depannya mendekat.
Win hendak meraih tengkuk Laras, merapatkan wajah. Namun di detik yang sama tiba-tiba mata wanita itu membulat sempurna.
__ADS_1
"Lion!"