
Laras menatap pria yang tengah berbincang di ambang pintu goa dengan dengan gusar. Meski ia sudah memasang telinga dengan seksama, nyatanya tak ada satu katapun yang bisa terdengar. Agaknya Vicky menerima informasi dari luar melalui bisikan.
Kendati begitu, ia tetap berusaha menyimak sebaik mungkin. Hingga setelah beberapa saat Vicky kembali dengan raut wajah yang Laras tidak mengerti.
Diikutinya pergerakan Vicky dengan penuh harap. Dari saat pria itu mendekat hingga membuka jeruji kayu yang selama ini menghalangi Laras. Bertepatan dengan itu, Vicky mempersilahkan wanita di dalam untuk keluar.
"Apa sudah selesai?" tanya Laras seraya mengekor Vicky. "Katakan. Lion dan para pemburu menang, kan?"
Tak menoleh, Vicky hanya mengangguk. Tanpa kata, seolah kemenangan bukan hal menyenangkan untuknya.
Namun bagi Laras yang telah diliputi kegelisahan hingga tak berselera makan, mendengar kemenangan Lion tentu hal yang sangat mendebarkan untuknya. Rasa lelah yang hampir melunakkan tulang nyatanya hilang begitu mendengar kabar tersebut.
Laras terus berjalan di belakang Vicky. Sekarang ia tidak peduli di mana ia berada. Yang terpenting dirinya akan bertemu dengan Lion segera.
"Bukankah kita harus merayakan kemenangan ini?" tanya wanita itu, sedangkan pria di depan hanya bergeming tak mengeluarkan sepatah ucapan.
Memikirkan apa yang akan dilakukan begitu bertemu dengan Lion membuat wajah Laras tiba-tiba merona. Entah apa yang ia pikirkan, tetapi sepertinya itu hal yang cukup membuat tersipu malu.
Ketika kaki terus melangkah menyusuri tangga tanah dan jalan setapak di antara hutan, akhirnya mereka tiba di medan pertempuran.
Kerajaan nampak seperti ladang yang usai diterpa ****** beliung. Berantakan, porak poranda dengan banyak korban tergeletak. Batang pohon besar juga terlihat menghalangi jalan. Sementara sisa pembakaran juga masih mengeluarkan asap tebal.
Laras menatap seluruh keadaan dengan mata membola. Terlebih ketika melihat banyak pemburu yang dikenal mengalami luka-luka.
Namun dari semua itu, ada satu wajah yang belum ia lihat sama sekali. Benar, tujuan yang ingin ia temui begitu tiba di medan pertempuran. Ialah pria yang membuat Laras tak bisa hidup dengan baik tanpa kehadirannya. Lion.
"Kau lihat Lion di mana?" tanyanya ada salah satu pemburu yang tidak mengalami luka serius. Akan tetapi bukannya menjawab, pria yang ditanya Laras justeru memasang raut cemas.
__ADS_1
Merasakan sedikit kekhawatiran, Laras berjalan lebih cepat. Pandangannya menyapu setiap wajah yang terlihat. Namun selama itu pula wajah yang diharapkan tak kunjung muncul.
Laras berlari dipenuhi kegelisahan. Ia tahu jika korban yang kehilangan nyawa sudah dipindahkan menjadi satu, tapi ia tak ingin memeriksa Lion di sana.
"Kau melihat Lion?" tanyanya pada salah satu pemburu, di detik berikutnya ia bertanya pada salah satu manusia serigala. "Aira. Kau tahu dia di mana?"
Namun tetap saja, wanita itu tidak mendapat jawaban yang diinginkan. Sampai ketika ia hampir putus asa, Win datang mendekat. Seketika harapan kembali muncul di wajah Laras.
"Win!" pekiknya keras. Tak sabar menunggu ia segera berlari menghampiri Win. "Di mana Lion? Kau bersamanya, kan?"
Sesaat Win terdiam menatap mata Laras yang terlihat basah. Setelahnya pria itu mengangguk dan langsung mengajak wanita di hadapannya untuk pergi mengikutinya. Laras jangan ditanya, perasaan khawatir dan harap sukar dibedakan.
Keduanya masuk ke dalam istana yang besar. Namun begitu Laras tiba, kaki lelah yang tadi masih bisa diajak berdiri tiba-tiba terasa lemas. Di depannya, di atas pembaringan sosok yang sangat ingin ia peluk tergolek lemah dengan mata tertutup.
Air mata yang tadi hanya bersembunyi di pelupuk mata kini sudah mengalir deras. Laras lemas, kendati ia masih tetap berjalan secepat mungkin menemui pria yang bahkan tak lagi bisa menatapnya.
"Lion!" Tangan wanita itu gemetar, tak bisa menyentuh wajah yang sudah dingin.
"Apa yang terjadi?" lirih Laras masih dengan tangis yang terurai. Di detik berikutnya ia menoleh pada siapapun yang ada di sana. "Apa dia diracun?" tanyanya penuh curiga.
Untuk beberapa detik tak ada yang menjawab. Win yang masih berada di belakang Laras segera meraih pundak wanita itu. Memberikan sedikit empati, meski yakin luka yang dialami Laras tak bisa tertutup sebelum Lion sadar.
Ketika suasana duka masih menyelimuti ruangan, bertepatan dengan itu sekelompok orang dengan beberapa tetua nampak masuk dengan panik. Tubuh lusuh dan kurus wanita paruh baya yang nampak paling sedih segera memeluk tubuh dingin putranya.
"Aira! Aira!"
Sementara di belakang, Kevin menatap Aira dengan cemas. Ia berkali-kali menghela, tidak menyangka jika kemenangan yang susah payah didapat harus mengorbankan pria itu.
__ADS_1
Hingga tak lama kemudian, Vicky datang dengan tergopoh-gopoh. "Kevin! Gawat!" pekiknya panik, "api di hutan tak kunjung padam. Jika tidak segera dipadamkan hutan akan terbakar habis."
Win yang berada tak jauh bisa mendengar dengan jelas. Tanpa membuang waktu ia menghampiri dua kawanan manusia serigala di ambang pintu.
"Aku akan minta bantuan orang-orang desa," ujarnya, seraya meminta izin apakah boleh ada lebih banyak manusia berada di sana.
Tak ada pilihan lain, Kevin segera mengiyakan. Meminta tolong pada Win untuk membantu memadamkan api yang membakar hutan. Usai mengiyakan, pemburu yang bertanggung jawab atas peperangan segera berlalu.
Win tak membiarkan kaki untuk berjalan. Ia berlari seolah tengah berkejaran dengan waktu. Benar, asap memang masih mengepul. Kini gumpalan hitam itu terlihat meluas dari semula.
Pria itu berlari tanpa henti. Menerobos asap dan mengambil jalan pintas. Meski harus melewati hutan yang lebih lebat, tetapi itu adalah cara terbaik untuk cepat sampai desa.
Namun ketika baru sampai setengah jalan, tiba-tiba matanya terbelalak melihat seorang wanita dengan luka bakar tergeletak bersandar pada pohon besar. Win tahu siapa wanita di sana. Awalnya ia ingin mengabaikan, tetapi rasa kasihan mendominasi.
Dengan cepat ia mengambil daun sedikit lebar dengan beberapa rumput yang dikunyah sembari berjalan. Win juga merobek penutup kepala miliknya dan segera mengikatkan pada lengan wanita yang nampak kehilangan tenaga.
Irly. Wanita itu terkejut saat Win melilitkan kain yang terasa dingin di lengannya yang terluka
Sesaat Irly hanya melihat pria itu melakukannya. Tetapi setelah selesai dan Win mengangkat wajah, barulah Irly sadar jika di hadapannya adalah pria yang menyelematkan dirinya tiga tahun lalu.
Win menatap Irly sekilas. Tentu ia sadar jika wanita di hadapannya adalah serigala salju yang pernah ia selamatkan sebelumnya. Namun atas pengkhianatan terhadap serigala hutan, pria ini memilih untuk tak lagi mengungkitnya.
Tak mengatakan apapun, Win segera bangkit dan berniat beranjak dari sana. Sebelum tangan Irly menghentikan langkahnya.
"Kenapa kau menolongku?" ujar wanita yang masih terduduk dengan lemas. "Kau tidak takut aku bisa membunuhmu?"
Win yang tidak menoleh menghela panjang. "Kau sudah kalah. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku sarankan untuk berhenti di sini dan hidup dengan kawananmu tanpa mengusik siapapun." Setelah mengatakan itu, ia melepas tangan Irly di lengannya. Kemudian beranjak terburu-buru menuju desa.
__ADS_1
Sedangkan Irly, wanita itu menatap punggung pria yang menjauh. Entah kenapa tiba-tiba hatinya menghangat. Hingga tak lama, pasukan serigala putih yang berhasil kabur menemukannya.
Salah satu dari mereka mengarahkan panah pada Win, tetapi segera dihentikan oleh Irly. Wanita itu menoleh dan menggeleng. "Jangan lakukan apapun padanya."