
Lima tahun berlalu dengan cepat.
Dua anak kecil terlihat berlarian di ladang. Seorang bocah perempuan berambut hitam, dan anak lelaki memiliki garis abu-abu di antara rambut.
Mereka berkejaran dengan sangat senang. Sedangkan di ladang, sang ayah tengah mencangkul mengurai tanah gembur.
Hingga tiba-tiba suara tangisan dari salah satu bocah tadi terdengar sangat keras.
Sang ibu keluar dari dalam rumah bergegas. "Chiko!" pekiknya kuat. Tanpa memakai alas ia segera meraih tubuh anak yang menangis.
Setelahnya wanita itu menatap tajam ke arah pria yang berlari mendekat setelah meletakkan cangkul.
"Kau tidak mengawasi mereka?" ujar wanita di sana dengan marah.
"Aku sedang bekerja, Laras. Mereka hanya terjatuh dan itu wajar bagi anak-anak."
Namun Laras tidak peduli. Anaknya terluka. "Kenapa hanya diam? Ambil obat di dalam. Kaki Chiko tergores."
Tanpa disuruh dua kali, pria yang disalahkan langsung bergegas masuk. Tak lama kembali membawa kotak obat yang istrinya minta.
Beruntung hanya tergores. Agaknya bocah lelaki itu tak terlalu merasa sakit. Bukitnya mereka kembali bermain bersama.
__ADS_1
"Chika, Chiko. Hati-hati, ok?" teriak Laras mengiringi dua bocah yang berlarian.
Sedangkan di atas dipan kayu, Laras dan sang suami duduk dengan pandangan awas pada anak-anak.
Tanpa sadar bibir Laras tersenyum. Ia menoleh pada pria yang masih terlihat tampan seperti dulu. "Bukankah Chiko sangat mirip denganmu, Lion?"
Lion mengangguk. "Kau benar. Bahkan garis di rambutnya sama denganku. Dan Chika sangat cantik sepertimu."
Keduanya tertawa dan saling menatap. Hembus angin menemani ketenangan tinggal di ujung desa. Damai tanpa ada hiruk pikuk yang menyesakkan.
"Apa kau ingat saat mereka terlahir?" tanya Laras yang langsung diiyakan oleh sang suami. "Saat itu kita sangat bahagia, dan kau sampai menangis," ujarnya setengah menggoda.
Namun tiba-tiba kecemasan kembali menjalar.
"Tetapi, Laras. Bagaimana jika anak-anak menuruni serigala dariku?" tanya Lion penuh kebimbangan.
Laras tersenyum menanggapi dengan senang. "Kita akan segera tahu. Bulan purnama besok Chika dan Chiko genap berusia lima tahun," ujarnya. Namun tak lama ia melanjutkan. "Kalaupun mereka sepertimu, tidak masalah. Itu berarti mereka benar-benar anak kita."
Kemudian malam bulan purnama akhirnya tiba.
Laras dan Lion menatap dua putri mereka yang sedang tertidur dengan cemas. Bulan purnama di atas hampir sempurna. Sedangkan bulu di tubuh Lion juga perlahan muncul.
__ADS_1
"Lihat, Laras. Kulit Chiko mulai dipenuhi bulu," ujar Lion dengan cemas.
Namun berbeda dari dugaan, Laras justeru tersenyum dan mengangguk tenang. "Kau benar. Bukankah menggemaskan?"
Lalu ketika bulan purnama membulat sempurna, lolongan panjang serigala memenuhi rumah Laras. Salah satu dari anak mereka mewarisi darah manusia serigala.
Akan tetapi itu bukan masalah yang berarti. Lagipula, mereka memiliki Lion dan Laras yang akan membantu akan membantu tumbuh dengan baik.
Sementara yang mereka tidak tahu, seekor serigala berbulu abu-abu terus mengawasi dari balik hutan selama bertahun-tahun.
Hingga sekarang, ketika bayangan serigala kecil terlihat dari celah rumah. Seekor serigala melapor dengan terburu-buru.
"Apa katamu? Anaknya berubah menjadi serigala saat purnama?" tanya pria yang duduk di atas takhta.
"Benar, Yang Mulia."
"Kau lihat keduanya atau hanya salah satu?"
"Saya hanya melihat satu bayangan. Namun tidak tahu yang mana yang berubah."
Sejenak pria dengan wajah tegas menatap udara dengan cemas. Tangannya mengepal tanda marah. "Habisi dia. Keduanya juga tidak masalah. Keturunan Aira akan membahayakan takhta ku."
__ADS_1