Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Seperti 30 Tahun Lalu


__ADS_3

Hari ini kabar besar datang di Kerajaan Fantasiana. Para tetua berkumpul, berhadapan dengan ratu dan pangeran yang duduk menunduk penuh hormat di depan mereka.


"Jadi, akhirnya kamu memutuskan untuk menikah dengan Putri Irly segera?" tanya salah satu tetua yang langsung diiyakan oleh Aira. "Baguslah. Lebih cepat lebih baik."


Di samping Aira, Ratu Seril menatap putranya dengan sendu. Ia tahu jika Aira tak terlalu ingin dengan pernikahan ini. Namun ia juga tak bisa berbuat banyak. Selama Fantasiana baik-baik saja, sepertinya mereka harus mau merelakan beberapa hal. Termasuk kebahagiaan.


Tentu ini keputusan yang sangat berat bagi Aira. Bukan tanpa sebab, tetapi ini adalah satu-satunya syarat dari Irly agar Laras benar-benar tidak diganggu lagi.


Menikahi Irly, dan menjadi Raja Fantasiana selanjutnya.


***


Sementara itu, di sebuah rumah kecil yang berada di tepi hutan.


Laras masih berbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, luka akibat benturan batu saat hanyut di sungai sudah mulai mengering. Tangan wanita itu dingin, telinga seolah tersumbat dengan kerikil besar. Sampai-sampai ia tidak mendengar sebanyak apapun orang-orang di sekitarnya memanggil.


Sunyi, gelap, kesepian. Itulah yang dirasakan oleh wanita dengan hati kosong. Lubang besar tercipta di antara ingatannya.


Beruntung, agaknya usaha orang-orang di sana membuahkan hasil setelah beberapa hari terakhir. Perlahan jemari tangan Laras bergerak. Mata yang sedari kemarin tertutup kini mulai terbuka.


"Dia bangun!" pekik Kinan, wanita yang matanya sudah sembab dan besar seperti panda.


Perlahan mata Laras mengerjap. Telinganya mulai menangkap suara dengan samar. Namun begitu ia terbangun, yang lebih terasa adalah sakit kepala yang hebat. Seperti ada palu yang memukuli tempurung kepala.


Laras meringis, tangannya refleks memegang bagian kepala yang sakit.


"Laras. Berbaringlah." Kinan membantu Laras. "Syukurlah kamu sadar. Aku sangat khawatir," lanjutnya, ketika Laras perlahan sadar dengan keadaan di sekitar.


"Sudah berapa lama aku pingsan, Kinan?"


"Tiga hari empat malam."

__ADS_1


Mendengarnya membuat Laras terdiam. Ia tidak menyangka jika akan tidur pulas selama itu. Namun, ia juga terlalu lelah untuk bangun. Setelah membuat semua orang khawatir, pikiran ingin kembali tak sadarkah diri justeru menghinggapi Laras.


Sadar dengan keadaan Laras, Kinan menggenggam erat tangan wanita itu. "Apa yang terjadi, Laras? Kenapa sampai pingsan berhari-hari?"


Laras masih bergeming sesaat. Tak lama ia menoleh. "Bagaimana kalian menemukanku?"


"Bagaimana apanya? Kamu pingsan di dalam rumah selama berhari-hari, Laras," jelas Kinan.


Menimpali jawaban Kinan, Pak Darto yang berdiri di belakang menambahkan. "Saat itu Kinan ke sini dan melihatmu diam dari celah dinding. Dia langsung datang ke desa dan meminta bantuan kami," jelas lelaki itu yang langsung diiyakan oleh Kinan.


"Untung ada celah di dinding itu, Laras. Aku tidak bisa membayangkan kamu pingsan berhari-hari seorang diri." Kinan mulai menangis lagi. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan selama beberapa hari terakhir.


Namun Laras justeru tersenyum. "Tenang, Kinan. Setelah ini aku akan menutup celah di dinding itu."


Jawaban Laras langsung dipelototi oleh Kinan. Tentu saja, rasa khawatirnya tidak main-main, tapi temannya justeru masih bisa menanggapinya dengan bercanda.


Akan tetapi, tetap saja tidak ada yang lebih meletakkan dari ini.


"Kau sungguh tidak ingat apa yang terjadi?" tanya Kinan sembari menyuapi makanan pada Laras.


Alasan yang Laras berikan membuat Kinan mencebik. Meski tak bisa dipungkiri ia tidak lagi peduli soal itu. Yang terpenting temannya baik-baik saja.


Ketika Laras dan Kinan masih berbincang, seseorang datang terburu-buru dari luar. Napasnya ngos-ngosan, seolah tengah berkejaran dengan sesuatu.


"Di mana Laras? Kudengar ia sudah sadar?"


Laras dan Kinan menoleh. Rupanya win datang dengan beberapa bungkusan di tangan.


"Oh, Win? Laras memang sudah sadar," ujar Kinan, "ngomong-ngomong, kau dapat obat yang dipesan?"


Win yang masih ngos-ngosan segera mengangguk. Ia mengangkat bungkusan obat. "Aku mendapatkannya."

__ADS_1


Saat keadaan perlahan membaik, Laras lebih memilih untuk tetap tinggal di gubuk kecilnya. Tidak menerima tawaran Kinan atau Win untuk tinggal bersama. Tentu saja, apa yang perlu dikhawatirkan setelah puluhan tahun tinggal di sana?


Hari berganti, matahari dan bulan sudah beberapa kali berganti posisi.


Semenjak kejadian itu, tak banyak yang berubah dengan kehidupan Laras. Wanita itu masih menanam bunga, lalu menjualnya seperti biasa.


Seperti sekarang, benih yang ia tanam beberapa waktu lalu mulai tumbuh. Laras tersenyum senang, sedangkan pupuk sudah berada di tangan.


Namun saat ia hendak menyiram pupuk ke atas tanaman, tiba-tiba hatinya terasa nyeri. Gumpalan darah di dalam sana seolah ada yang mencubit. Bahkan air mata kesepian mengalir dari sudut mata Laras.


Tak mau berlarut dengan perasaan yang membuatnya kalut, Laras memilih untuk segera menyelesaikan pekerjaan dan beristirahat. Tetapi saat ia melewati dipan di bawah pohon ketapang, helaan panjang keluar. Ia tak jadi duduk di sana, memilih kursi lain di samping ladang meski sudah usang.


Laras termenung di bawah langit cerah. Perasaannya terasa kosong, meski harusnya tidak ada yang berkurang darinya. Hingga ketika ia masih bergeming, seorang lelaki duduk di sampingnya tanpa permisi.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Seketika Laras menoleh. Rupanya Pak Darto yang datang. "Terkadang kejadian tak masuk akal memang datang dalam hidup," lanjut pria itu.


Mendengarnya Laras hanya menyimak. Ia tak paham sama sekali dengan perkataan yang Pak Darto berikan.


Setelah beberapa saat pria itu menoleh. "Kau, tidak kehilangan ingatanmu, kan?"


Seketika Laras mematung. Hatinya mencelos, mata terasa panas. Bibirnya digigit untuk menghalau air mata yang hampir lolos.


"Apa maksud, Bapak? Tentu tidak. Aku bahkan masih mengenali Pak Darto sebagai kepala desa di sini," ujar Laras.


"Bukan itu." Kalimat Pak Darto terjeda. Lelaki itu menghela napas, sebelum akhirnya melanjutkan, "Tentang Lion. Kau tidak melupakan apapun tentangnya, kan?"


Tiba-tiba jantung Laras berdebar. Bukan debaran seperti saat ia jatuh cinta, melainkan getaran luka besar yang menganga.


Wanita di sana mengalihkan pandangan ke atas. Matanya terpejam cukup lama. Sampai pada titik yang tidak bisa dikendalikan, air mata mengalir deras. Laras menangis.


"Sudah kuduga," ujar Pak Darto dengan nada cemas dan kecewa.

__ADS_1


Sementara Laras, ia baru menyadari satu hal. Dari mana Pak Darto tahu jika Lion ingin menghapus ingatannya?


Namun seakan lelaki tua di sana sudah tahu maksud Laras, ia segera menjelaskan. "30 tahun lalu, kejadian seperti ini pernah terjadi." Ia membuang napas kasar, seolah ingatan menyesakkan terlintas begitu saja. "Harusnya aku segera tahu saat menemukan keanehan di rambut Lion."


__ADS_2