
Beberapa waktu lalu, ketika Aira tengah bersama sang ibu.
"Namun, apa yang membuat manusia lebih kuat dari kita?"
Seril menarik napas dalam sebelum akhirnya menatap putranya. "Sebab mereka memiliki apa yang menjadi kelemahan kita," jelasnya.
"Maksud Ibu, api?"
"Bukan." Seril menggeleng. "Api hanyalah kelemahan serigala salju. Sedangkan untuk kita, kelemahan ada pada tembaga hitam yang ditempa. Dan manusia memiliki itu semua."
***
Tubuh Aira refleks berhenti ketika sebuah anak panah melesat tepat di depan mata. Hampir saja, pikirnya. Setelah mematung sesaat, ia menoleh. Matanya seketika membulat menyaksikan apa yang menancap di pohon.
"Tembaga hitam," gumam Aira.
Merasa ada yang aneh, pandangannya segera dialihkan ke penjuru hutan. Mustahil jika ada pemburu yang berani muncul di dekat perbatasan.
"Jika ini bukan dari pemburu, berarti ...."
Aira menoleh secepat mungkin. Benar saja, bayangan putih sekilas terlihat menghilang dari balik semak-semak. "Sudah kuduga!"
Tak mau membuang waktu, ia segera mencabut anak panah dan berlari membawanya kembali. Ia sudah mengira jika akan ada pemberontakan, tapi tak menyangka jika akan dilakukan secepat ini.
Beruntung, hanya butuh waktu sebentar untuknya sampai di Fantasiana. Tempat yang pertama ingin ia kunjungi adalah para tetua. Pintu kayu yang terlihat kokoh sudah berada di depan mata. Namun saat pintu terbuka, pemandangan tak terduga baru saja mengejutkan matanya.
Para tetua yang ia harapkan bisa memberi solusi tentang pemberontakan nyatanya sudah menjadi sandera di rumah sendiri.
"Apa yang terjadi?" lirih Aira, saat melihat sesepuh Fantasiana terikat dengan anak panah berbahan tembaga hitam mengitarinya.
"Kau harus lari dari sini, Aira!"
Aira mematung ragu. Ia ingin berlari dan segera melepaskan ikatan para tetua. Akan tetapi, bayangan tentang sang ibu juga terus membayangi kepala. Apakah keadaan di dalam istana kini baik-baik saja?
__ADS_1
"Cepat, Aira. Jangan hiraukan kami dan pergilah dari sini!"
Pria yang masih berdiri di ambang pintu mencengkeram tangan dengan kuat. Tak ada pilihan, ia harus pergi dan memastikan sendiri.
Sayangnya begitu sampai, istana tak lagi berbentuk seperti kerajaan yang damai. Keadaan sudah porak poranda. Perapian yang tidak banyak semuanya telah padam. Tak hanya itu, bahkan hampir seluruh prajurit sudah terkapar terkena tembakan tembaga hitam.
Mata Aira membulat tak percaya. Hanya dalam waktu yang singkat, keadaan Fantasiana sudah kacau balau seperti ini. Tentu ia hanya pergi sebentar untuk memeriksa Laras. Namun apa yang nampak nyata di depan mata sungguh tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sementara di dalam istana keadaan masih nampak riuh. Beberapa orang terlihat masih saling melawan dan menyerang. Tak mau hanya diam, Aira memutuskan untuk masuk dan ikut berperang. Namun belum sempat, Kevin dan Vicky sudah lebih dulu menghadang.
"Apa yang terjadi?" tanya Aira dengan panik. Sedangkan pandangannya terus mengedar mencari di mana sang ibu berada.
Tak menjawab, Kevin justeru mendorong Aira untuk bersembunyi. "Mereka mengincar nyawamu. Cepat pergi dari sini sebelum terlambat."
"Apa maksudmu? Lalu bagaimana dengan kalian dan kawanan yang berada di sini?"
Kevin menatap Aira dengan yakin. "Kau percaya pada kami?" Sesaat ia memberi jeda. Tentu keadaan sekarang sangat buruk untuk Fantasiana. Namun kendati begitu, harus ada yang selamat. Orang itu adalah sang raja. "Pergilah. Kami tidak bisa kehilangan raja dengan cara seperti ini."
Setelah beberapa saat tak ada bantahan, Kevin saling menatap memberi isyarat pada Vicky. "Aku mempercayakan keselamatan Aira padamu."
Tanpa membuang waktu, Vicky segera mengangguk dan membawa Aira pergi dari sana.
Sebuah hutan tanpa jalan menjadi pilihan Vicky. Entah sejak kapan, tetapi mereka sudah lama mempersiapkan jalur ini jika sewaktu-waktu perlu melarikan diri.
"Tembaga hitam. Apa kau tahu apa itu?" tanya Aira di tengah perjalanan. Sedangkan tubuhnya masih dipenuhinya kepanikan.
Vicky yang biasanya tak bisa tenang kini terlihat bisa diandalkan. Dengan mata fokus ke sekitar, ia mengangguk. "Itu kelemahan serigala hutan seperti kita," ucapnya.
"Kau sudah tahu?"
"Ya." Vicky mengangguk. "Lebih tepatnya aku menyadari ketika mereka melumpuhkan kita dengan tembaga hitam yang ditempa."
Dalam sekejap, Aira merasa telah menjadi raja yang gagal. Ia tak bisa berbuat apapun untuk melindungi kerajaan. Bahkan sekarang, ketika Fantasiana sedang berperang ia justeru pergi menyelamatkan diri sendiri. Bisakah ia disebut sebagai raja setelah semua ini?
__ADS_1
Kakinya memang terus melangkah maju. Namun pikirannya ingin segera kembali dan berjuang hingga titik darah penghabisan. Walaupun ia harus mati, ia ingin melakukannya di mana ia berasal.
Dengan segala pertimbangan, Aira sungguh tidak perduli dengan keselamatannya. Ia ingin kembali dan melawan para pemberontak.
"Vicky. Sepertinya--"
Namun belum selesai ia berkata, Vicky yang berjalan di depan sudah memberi isyarat untuk diam dan berhenti. Pandangannya menyapu sekitar, telinga dipasang tajam merasakan jika ada serigala lain yang berada di sana.
Benar saja. Hanya dalam hitungan detik, sebuah anak panah melesat hampir mengenai mereka kalau-kalau tak segera ditepis.
Vicky memasang kuda-kuda waspada. Begitu juga dengan Aira. Mereka sudah siap menyerang kapanpun.
"Di sebelah kiri ada jalan menuju tepi hutan. Ikuti pohon pinus yang sudah kuberi tanda," jelas Vicky setengah berbisik.
Dengan cepat Aira menggeleng. "Kita akan pergi bersama. Meskipun harus berakhir, kita akan mati bersama."
"Kau gila? Untuk apa pengorbanan kami jika kamu harus mati?" Vicky tak terima. "Pergilah, Aira. Biar aku alihkan perhatian mereka di sini."
Untuk sesaat Aira bimbang. Namun saat melihat temannya berjuang mati-matian menangkis anak panah yang terus melesat, ia tak punya pilihan. Mungkin hidup adalah cara untuk menyelamatkan Fantasiana.
Aira perlahan mundur. Ia harus berlari sekencang mungkin meski hatinya terasa hancur. Putus asa, penyesalan, rasa bersalah adalah apa yang memegang perasaannya saat ini.
Namun, meskipun ia lari dari kenyataan untuk saat ini. Aira harus kembali dan merebut kerajaan miliknya.
Setelah berlari cukup jauh, akhirnya tepi hutan dengan sungai yang mengalir deras terlihat tak jauh di depan. Jika beruntung, ia bisa bersembunyi di desa terdekat untuk sementara waktu.
Akan tetapi, sepertinya pemberontakan sudah direncanakan sangat matang.
Ketika Aira hendak keluar dari hutan, tiba-tiba sebuah anak panah melesat tak terduga berhasil mengenai punggungnya.
Aira tersungkur. Tubuhnya seketika lemah merasakan tembaga hitam memanas di sekujur badan. Hingga pada titik ia tak lagi sadarkan diri. Perlahan ia ambruk, terjerembab ke dalam sungai dan hanyut tanpa bisa menyelamatkan diri.
Kisah yang sama kembali terulang setelah cukup lama. Mungkinkah hanya ingatannya yang hilang seperti waktu lalu, ataukah ia akan ditemukan dalam keadaan tak bernyawa?
__ADS_1