Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Persiapan Perang


__ADS_3

Sebuah kesepakatan terjalin begitu saja. Usai membahas strategi, kini para warga dan pemburu mulai menyiapkan segala kebutuhan. Seperti senjata, panah, hingga pasokan makanan. Dipimpin oleh Lion dan Win, semua terlihat berjalan dengan baik.


Sementara para pria bertugas dengan persenjataan, Laras dan barisan wanita menyiapkan pangan untuk persediaan. Cukup banyak, seperti gandum dan beberapa biji-bijian kering.


Laras menyusun matoa ke dalam keranjang. Ia harus menghitung dengan benar agar persediaan selama di hutan tidak kurang juga tak lebih sebab akan sulit dibawa.


Setelah dirasa cukup, ia beralih pada keranjang lain. Ketika ia kesulitan memisaj biji dari kulit, tiba-tiba Kinan datang dan langsung membantu tanpa diminta.


"Oh, kau tahu caranya," ujar Laras saat melihat sahabatnya terlihat lebih cepat darinya.


Tanpa menoleh Kinan tersenyum. "Tidak ada yang tidak aku ketahui di sini," ucapnya dengan bangga, "kecuali satu. Tentang hubunganmu dengan Lion."


Di detik berikutnya, Kinan menatap Laras penuh curiga. Sedangkan temannya hanya terdiam. "Kenapa kau bisa merahasiakan hal sepenting itu dariku?" ujarnya, sedikit kesal.


Namun Laras tak langsung menjawab. Selama ini ia memang menceritakan apapun pada Kinan. Akan tetapi untuk masalah Lion, agaknya lebih baik disembunyikan. Walaupun pada akhirnya semua sudah terbongkar.


"Ah, aku sedih sekali," ujar Kinan saat Laras tak kunjung membalas. "Bahkan sahabatku sendiri tak lagi percaya padaku. Lalu untuk apa aku hidup?" lanjutnya, dengan nada dibuat putus asa.


Laras menatap sahabatnya dengan perasaan hangat. Melihat tingkah Kinan membuatnya seperti benar-benar memiliki seseorang yang peduli. Meski gaya kasih yang diberikan cukup berbeda, nyatanya Kinan menyayanginya dengan tulus.


"Mungkin setelah ini aku akan pergi dari sini. Mencari sahabat baru yang mau membagi bebannya padaku," ujar Kinan, nampak bermonolog padahal ia sedang menyindir seseorang.


"Jika saat itu kukatakan aku menyukai manusia serigala, apa kau akan percaya?" tanya Laras, menanggapi kekesalan Kinan.


Sesaat Kinan menghadiahi dengan tatapan tajam. "Tidak. Mungkin aku akan menganggapmu gila jika mengatakannya," jawabnya.


Mendengarnya membuat Laras tersenyum lebar. Ya, seperti itulah sahabatnya memang. "Sudahlah. Yang penting sekarang kamu sudah tahu, oke?"


Kinan masih mendengus kesal. Tetapi ia tak lagi berkomentar. Melanjutkan memisah biji-bijian dan membiarkan Laras tersenyum melihat tingkahnya.


Hingga setelah beberapa detik saling diam, agaknya perasaan Kinan sudah berubah. Dengan tenang ia bertanya, "Ngomong-ngomong, bagaimana awal mula kau jatuh cinta? Apa karena Lion tampan?"


Laras nampak berpikir sebentar. Ia juga tidak tahu kapan tepatnya dan bagaimana.


"Memang benar Lion tampan. Namun, sepertinya bukan karena wajahnya," jawab Laras dengan mata terlihat masih berpikir.


"Lalu?" Kinan tak sabar. "Apa karena dia sudah menciummu?" Matanya membulat, bahkan terkejut dengan pertanyaannya sendiri.

__ADS_1


Sementara Laras, wajahnya tiba-tiba tersipu. Mendengar itu saja langsung membuatnya terbayang bagaimana Lion mengecupnya. Tanpa sadar, senyuman mengembang dengan tingkah yang salah.


"Kinan." Di detik yang sama Kinan menoleh. Laras melanjutkan, "Apa benar ciuman bisa membuat seseorang jatuh cinta?"


"Entahlah. Setahuku seseorang akan mencium jika sudah jatuh cinta." Jawabannya mendapat anggukan dari Laras. Tak lama Kinan menyambung kalimat. "Kau belum menjawab. Apa yang kau sukai dari Lion?"


"Apa yang aku suka?" Kinan segera mengiyakan. "Mungkin karena Lion, aku bisa merasakan bunga mekar meski di padang yang tandus," ucapnya, tentu dengan senyum yang mengembang.


Bertepatan dengan itu, Kinan mengangguk setuju. "Ah, ternyata memang jatuh cinta seindah itu. Bahkan terkadang itu membuat kita ingin membuat puisi cinta setiap hari."


"Benar, kan?" Laras nampak antusias. "Ternyata kau paham bagaimana perasaanku, Kinan."


Anggukan diberikan oleh Kinan. "Bagaimana aku tidak paham kalau setiap melihatnya aku juga merasa seperti itu."


"Kau benar." Sejenak keduanya saling diam dengan angan tertuju pada pria masing-masing. Sampai saat Laras baru tersadar dengan ucapan Kinan. "Tunggu. Kau bilang kau juga seperti itu?"


"Eh?" Kinan menatap bingung. Kemudian segera menggeleng dengan canggung. "T-tidak. Aku hanya mengulang perkataanmu."


Namun Laras tak percaya. Ia tahu jika Kinan sungguh mengatakannya. Dengan mata menyipit, ia terus menggoda. "Siapa pria itu?" tanyanya.


"Ayolah, Kinan. Kau akan begitu pada sahabatmu?" Laras terus merayu. "Apa itu Ren? Aku sering melihatnya mampir ke toko bunga."


Seketika Kinan menoleh tak terima. "Kau gila? Pria itu? Tidak mungkin. Aku tidak bisa meladeni ceritanya setiap hari."


Mendengar itu, Laras kembali berpikir. Hingga satu nama muncul di kepala. "Jangan-jangan, dia--"


Tetapi belum sempat nama lain disebut, Kinan sudah lebih dulu memasukkan biji kenari ke dalam mulut Laras. "Coba cicipi ini. Apakah sudah matang?"


Sampai ketika keduanya masih asyik melempar tanya, seorang pria datang menghampiri meja.


"Apa kau lelah?"


Secara bersamaan Kinan dan Laras menoleh.


"Oh, Lion? Aku baik-baik saja," ucap Laras, "kalian sudah selesai?"


"Sebentar lagi." Lalu, pria itu mengusap puncak kepala Laras dengan lembut. "Jangan sampai kelelahan. Jangan membuatku khawatir," ucapnya, lalu berpamit pergi dari sana.

__ADS_1


Laras jangan ditanya. Wajahnya sudah memerah. Jantungnya berdegup kencang hanya karena usapan lembut di kepala. Jika tak ada orang, mungkin wanita ini akan melompat kegirangan.


Sedangkan Kinan, wanita itu hanya bisa menatap sepasang kekasih di dekatnya dengan ludah yang sulit ditelan.


"Bagaimana kalian bersikap seperti itu di depan jomblo sepertiku?" protes Kinan setelah Lion pergi.


Laras yang masih tersipu malu hanya tersenyum. Baginya semua tentang Lion adalah kebahagiaan.


Hingga tiba-tiba Kinan menghela. "Aku iri padamu. Bagaimana Lion bisa seromantis itu?" ucapnya dengan pandangan jauh menatap ke depan. Tak lama ia menoleh pada Laras. "Kalau nanti kalian menikah, apa aku boleh jadi madumu?"


Sontak pertanyaan Kinan mendapat cubitan kecil dari Laras. Dengan senyum penuh arti, ia berujar, "Boleh saja. Asal kamu tahan dengan diriku, Istri muda." Kemudian ia pergi dengan keranjang yang sudah penuh.


Kinan terkekeh. Tentu ia hanya bercanda saat mengatakannya.


***


Sementara di Fantasiana. Pepohonan hijau kini perlahan berganti tertutup salju yang turun tak berhenti.


Keadaan damai seketika berubah menjadi dingin ketika pada serigala salju datang memimpin.


Di sebuah ruangan yang masih hangat, Irly duduk menatap para tetua dan mantan ratu yang masih terikat.


"Di mana kalian menyembunyikan Aira?"


Namun tak ada jawaban. Sebab Aira memang tidak disembunyikan oleh siapapun.


Merasa diabaikan, Irly menggebrak pintu dengan kuat. "Dengar. Jika kalian tidak segera membawa Aira ke sini, seluruh serigala hutan akan berakhir." Kemudian ia berlalu pergi.


Bertepatan dengan itu, dua serigala hutan yang masuk ke dalam pilihan prajurit berdiri di depan gerbang. Tidak semua beruntung, hanya yang dipandang layak yang bisa selamat dari kurungan.


"Aku merasa telah mengkhianati Aira," ucap Vicky, nampak kecewa.


Kevin yang berada di sebelahnya pun merasakan hal yang sama. Namun sepertinya ia sudah punya rencana.


"Aku harap Aira baik-baik saja," ujar Vicky melanjutkan.


Namun Kevin justeru menggeleng. "Dia terluka." Ia menatap Vicky dengan serius. "Aku memanahnya dengan tembaga hitam."

__ADS_1


__ADS_2