Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Ternyata benar, jika hujan yang turun perlahan akan pergi. Walaupun terkadang butuh waktu yang tidak sebentar.


Setelah dua tahun hidup dalam kemalangan, badai akhirnya berlalu. Kabur di depan mata perlahan meninggalkan tempatnya. Sekarang hanya ada dua cinta yang bersatu usai tertunda sangat lama.


Di bawah langit musim panas, dua tangan saling bergandengan. Senyum tak pudar dari wajah mereka. Meski hanya suara sungai yang menjadi jeda, nyatanya diam sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa bahagianya Laras dan Lion.


Wajah Laras terangkat, menatap pria yang kehadirannya masih terasa seperti mimpi. Di tengah langkah yang pelan, sayang rasanya jika hanya memperhatikan jalan.


Sadar wanita di sampingnya terus menatap, Lion justeru tak bisa memandang wajah Laras. Ia terlalu malu, canggung setelah sekian lama tak bertemu. Namun, bukankah jantungnya berdegup kencang?


"Kau akan terus menatapku?" Akhirnya satu pertanyaan keluar dari bibir Lion setelah cukup lama keduanya terdiam.


Mendengarnya membuat Laras refleks tersenyum. Ia mengangguk, sedangkan binar di mata masih terlihat kentara. "Aku bahkan tidak ingin berkedip. Ini bukan mimpi, kan?" ucapnya.


Seketika Lion menoleh. Garis bahagia dan sedih tergambar di wajah yang sama. Dengan senyum tulus pria itu mengangguk.


"Tapi bagaimana jika ini hanya bagian dari mimpiku yang lain?" Namun Laras masih khawatir. Tentu, setelah sangat lama bagaimana bisa ia percaya begitu saja.


"Mimpi yang lain?" Kedua alis Lion terangkat. Ketika Laras mengangguk, pria itu melanjutkan. "Maksudmu, kau sering memimpikan aku?"


Tanpa mengalihkan pandangan, Laras mengangguk. "Apa kau tidak pernah memimpikan aku?"


Pria di samping Laras terlihat berpikir. "Entahlah. Kuras aku tidur terlalu lama sampai lupa apa saja yang pernah aku mimpikan," ujarnya jujur.


Tiba-tiba wajah Laras berubah. Pandangan dialihkan ke bawah. "Begitu? Entah kenapa aku sedih mendengarnya."


Di detik yang sama Lion berhenti. Ia menatap Laras dan menunggu wanita itu kembali mengangkat wajah. Setelahnya senyum tulus mengembang di wajahnya.


Lion sedikit merendahkan wajah, menyeimbangkan dengan posisi Laras. "Aku memang tidak ingat siapa saja yang pernah aku mimpikan. Tetapi yang jelas saat aku terbangun, orang pertama yang ingin aku lihat adalah kamu, wanita yang sekarang ada di hadapanku."

__ADS_1


Hati yang semula sendu seketika berbunga. Kupu-kupu seperti terbang di dalam dada. Wajah Laras memerah, senyum tersipu mengembang tanpa sadar. Mendengar kalimat sederhana seperti itu bisa terasa sangat menghangatkan hati.


"Apa itu berarti kau senang saat melihatku lagi?" Tanpa berpikir Lion mengangguk. Gigi yang senang ikut terlihat saat Laras tersenyum. "Aku tidak senang. Tapi sangat bahagia."


Usapan lembut di rambut Laras diberikan oleh Lion. Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan pulang.


Langkah sengaja dibuat pelan. Agaknya mereka ingin menikmati setiap momen tanpa terburu-buru. Setelah semua yang terjadi, keduanya lebih saling menghargai apa yang ada saat ini.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa tidur selama itu?" ucap Laras di tengah perjalanan. "Dua tahun. Bukankah sangat lama?"


Lion yang masih menatap lurus ke depan tak menoleh. Namun tetap menjawab. "Sebenarnya tidak selama itu. Aku sudah sadar lebih dari satu tahun yang lalu."


Mendengar itu, sontak Laras memberikan tatapan tajam pada pria yang berkata dengan sangat santai. "Lalu kau baru menemui ku sekarang?" Ia protes. Sebuah pukulan yang sudah lama ditahan kini dilepas dengan keras. "Kau membiarkanku menunggu selama itu? Apa kau tidak tahu betapa menderitanya aku setiap detik, setiap hari terjebak dalam perasaan menyedihkan. Dan kamu sudah sadar tapi tak kunjung menemui ku?"


Mendapat pukulan bertubi-tubi dari Laras, Lion hanya bisa meringis dan menghindar sekenanya. Dulu ia bisa mencegah, tapi sekarang tangan lain yang lagi berfungsi.


"Laras, hentikan. Itu terasa sakit," ucap Lion, memohon.


"Bukan aku tidak ingin menemuimu saat itu juga. Kau tahu, aku juga hampir gila saat berpikir tak bisa lagi melihatmu, Laras," ujar Lion sembari meringis menahan bekas pukulan dari Laras. "Ada beberapa hal yang membuatku tak bisa pergi."


"Kau tidak bohong?"


Dengan cepat Lion menggeleng. "Apa aku pernah bohong padamu?"


Sesaat Laras terdiam. Memang benar, sejujurnya ia sudah percaya Lion sejak awal. Namun rasanya kurang jika tidak marah-marah. "Baiklah. Aku percaya."


Mereka kembali berjalan. Akan tetapi, saat Laras memukuli Lion, wanita itu menyadari sesuatu. Jika tangan kiri pria di sampingnya sama sekali tak bergerak sejak mereka bertemu.


Sesekali Laras melirik tangan Lion yang diam. Namun ia tak ingin terlalu terlihat penasaran karena takut akan menyakiti perasaan pria itu. Walaupun sebenarnya ia diliputi kecemasan dan ingin melontarkan banyak sekali pertanyaan.

__ADS_1


Hingga ketika keduanya terus berjalan, sebuah gubuk sederhana di tepi ladang terlihat. Laras berhenti diikuti oleh Lion.


"Sudah lama sekali," ucap Lion seraya menatap rumah yang sama sekali tak berubah.


Laras menoleh, ia mengangguk. "Kau benar. Sudah lama sekali rumah itu sepi," ujarnya. Kemudian dengan mata berbinar ia melanjutkan, "Kau mau mandi di sungai?"


Kedua mata Lion membesar. "Tiba-tiba mandi?" Ia segera menciumi badan, barangkali Laras menghirup aroma tak sedap dari sana. "Apa tubuhku bau?"


Dengan tawa yang hampir keluar Laras menggeleng. "Tidak. Aku hanya ingin mandi bersama. Kau tahu, aku cukup ahli menggosok punggung," ucap wanita itu dengan bisikan nakal.


Mata yang melebar semakin membulat. "Mandi bersama? Menggosok punggung?" Lion nampak terkejut, tapi berharap di waktu yang sama.


Tak menjawab, Laras bergegas menarik tangan kanan Lion. Membawanya ke sungai dan segera menyiraminya dengan air. Wanita ini hanya ingin bermain.


Badai yang menerpa tak henti selama dua tahun, akhirnya pergi di musim panas kali ini.


***


Sementara di tepi sungai yang lain, seorang pria duduk dengan pandangan menerawang jauh ke dalam hutan. Batu kecil beberapa kali dilempar, rasa sakit dan cemburu berebut posisi di rongga dada.


Hingga tiba-tiba seseorang duduk tanpa permisi di samping pria itu. Saat menoleh, rupanya Kinan turut melempar bebatuan.


"Kudengar Lion sudah kembali," ucap Kinan. Di detik berikutnya ia menoleh. "Apa itu yang membuatmu diam di sini seperti ini, Win?"


Sesaat Win bergeming. Ia menarik napas panjang seolah membenarkan apa yang Kinan tanyakan. Namun tak ada sepatah kata maupun tanggapan. Pria itu hanya berhenti sebentar dan kembali melempar bebatuan.


Merasa ada nyeri di dalam hati. Kinan mengambil napas. Alih-alih melempar batu, kini ia memainkan rumput ilalang yang tidak terlalu tinggi.


"Jika aku menyukaimu, menurutmu bagaimana?" ucap Kinan dengan tenang.

__ADS_1


Namun tidak bagi Win. Sontak ia menoleh, menatap wanita yang masih memainkan ilalang dengan mata membesar.


Akan tetapi, di detik berikutnya Kinan tertawa. "Aku hanya bercanda," ungkapnya seraya membuang pandangan ke sembarang arah.


__ADS_2