Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Ini Bukan Mimpi


__ADS_3

"Rambutmu semakin panjang," ujar Laras seraya mengeringkan rambut Lion dengan handuk.


Sementara pria yang duduk di atas ubin hanya tersenyum, menikmati usapan di kepala. Setelah beberapa saat, wajah Lion terangkat. Menatap wanita yang seketika berhenti.


"Aku tidak sempat bercukur," ucapnya singkat.


Kali ini Laras yang tersenyum. Kendati begitu, ada sesuatu yang mengganggunya. Yakni tentang tangan kiri Lion yang tak digerakkan. Apakah terjadi sesuatu, ia benar-benar ingin menanyakannya.


Hingga ketika rambut Lion sedikit kering, Laras memutuskan untuk ikut duduk di bawah. Bibirnya digigit seolah ada hal yang ingin dikatakan tapi tersangkut di tenggorokan.


Melihat sang kekasih hanya diam, sontak Lion merangkul pundak Laras. Memposisikan kepala wanita itu agar bersandar di dadanya.


"Apa yang kau pikirkan, hm?" tanya pria itu.


Laras segera menoleh, menatap manik mata pria yang kini terlihat lebih menyala. "Aku hanya memikirkan alasan kenapa kau tak bisa langsung datang. Apa terjadi sesuatu setelah kau sadar?"


Sesaat Lion terlihat menarik napas dalam. Ia bergeming sebentar. Sorot di mata mengatakan ada sesuatu yang terjadi. Namun ia ragu apakah Laras akan baik-baik saja saat mendengarnya?


"Sesuatu terjadi, kan?" tanya Laras setelah menyadari Lion tak dapat mengatakan apapun. "Tidak masalah jika tak bisa menceritakannya," ujar wanita itu dengan tulus. Kemudian kembali menyandarkan kepala pada pria di sampingnya.


Lion tak menjawab. Memang benar, sesuatu yang sulit dikatakan telah terjadi. Memutuskan kembali menemui Laras juga keputusan besar yang ia ambil setelah kekacauan menimpa dirinya.


Namun setelah cukup lama menimbang, Lion akhirnya bersuara. Ia mengambil napas sebelum memulai bercerita. "Banyak hal yang terjadi. Aku sudah tak bisa lagi kembali ke Fantasiana," ucap pria itu. Kesedihan tergambar sangat kentara meski hanya di suara.


Laras yang masih menyandarkan kepala di dada Lion segera memeluk tubuh pria yang terasa semakin kurus. Ia tak ingin menimpali, membiarkan sang kekasih mengatakan semuanya dengan nyaman.


"Aku diusir dari Fantasiana."


Kali ini Laras menoleh setelah jeda yang cukup lama. Pelupuk mata Lion terlihat berembun. Jika benar, ada luka sangat besar di balik satu kalimat yang terakhir dilontarkan.


"Apa itu yang membuatmu enggan menemuiku?"


Lion menggeleng pelan. "Alasan aku tidak langsung menemuimu karena aku tidak percaya diri."


Sontak kedua alis Laras menyatu. Mempertanyakan apa maksud dari perkataan Lion barusan.

__ADS_1


Namun helaan panjang keluar dari bibir Lion. "Kau tahu kenapa aku bisa diturunkan dari takhta dan diusir dari Fantasiana?" Laras menggeleng. Di detik berikutnya pria itu melanjutkan. "Aku cacat. Racun merusak tangan kiriku." Suaranya bergetar, menyakitkan bahkan saat mendengarnya.


Turut merasakan kesedihan, Laras semakin mengeratkan pelukan. Ia tahu, bukan hal yang mudah bagi Lion untuk menceritakan dan mengungkit hal seperti itu.


"Dan itu membuatku tidak percaya diri bertemu denganmu, Laras. Bagaimana bisa aku datang dengan keadaan tidak sempurna seperti ini? Jadi aku berpikir untuk melupakanmu."


Mendengar itu tiba-tiba hati Laras terasa nyeri. Seperti ada yang mencubit gumpalan darah di dalam sana.


"Apa kau berhasil melakukannya?"


Seketika Lion menggeleng. "Mana mungkin. Semakin aku mencoba melupakan, justeru bayanganmu makin terlihat jelas."


Pelukan hangat Laras kini berganti menjadi gelayutan manja. Ia sangat senang mendengarnya dari Lion. "Jadi kau memutuskan untuk menemuiku?"


Anggukan mantap diberikan. "Walaupun awalnya aku hanya ingin melihatmu dari jauh. Tapi saat melihatmu menangis seperti tadi sambil memanggil namaku, rasanya aku hampir gila karena menahan untuk tidak memelukmu."


Seketika wajah Laras merah tersipu. Meskipun wanita ini berusaha menyangkal dengan segera melerai pelukan. Bibirnya maju, tanda jika ia sedang kesal.


"Tapi kamu tetap jahat, Lion. Jika aku tadi tidak berlari ke hutan, apa itu berarti kau tidak akan menemuiku?" Wanita itu merajuk.


Melihat wajah Laras, bukannya merasa bersalah Lion justeru sangat gemas. Ia tersenyum, memeluk wanita di sampingnya dan memberikan kecupan manis di kening. "Kau benar-benar penyihir, Laras."


Hari-hari terasa kembali bagi Laras. Ia yang tadinya enggan menyambut pagi, nyatanya sekarang ingin buru-buru terbangun dan menatap wajah tampan pria yang masih terlelap.


Kalau bisa Laras enggan memejamkan mata. Bagaimana jika ia bangun dan Lion hilang dari pandangannya. Ternyata mencintai seseorang membawa ketakutan yang sangat besar.


Ketika Laras masih menatap wajah tampan Lion, pria itu tiba-tiba terbangun. Tidak cukup terkejut, tapi merasa malu karena setiap pagi Laras melakukan hal yang sama.


"Kau masih menatapku?" tanya Lion dengan suara serak.


Dengan senyum mengembang Laras mengangguk. "Aku takut ini hanya mimpi."


Lion yang masih berbaring segera bangun. Ia menarik Laras agar duduk di atas pangkuan. Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di bibir wanita itu. "Aku bukan lagi bagian dari mimpimu," ujarnya, sembari membenarkan anak rambut Laras yang keluar dari sela telinga.


Setelah beberapa saat, keduanya saling menatap. Tatapan penuh rindu dan cinta tercampur dalam satu garis yang sama. Perlahan pandangan Lion beralih pada bibir Laras, dan sebuah ciuman menjadi sarapan menyenangkan bagi mereka.

__ADS_1


Tak cukup sampai situ, Laras juga merasakan ada gejolak yang mengalir hebat. Ia membalas ciuman yang Lion berikan. Hingga yang tadinya hanya berawal dari kecupan kini mulai memanas.


Sayangnya saat baru memulai keintiman, sebuah suara keras di luar terpaksa menghentikan mereka.


Laras terdiam, begitu juga dengan Lion yang membuang napas kasar tanda kesal. Sementara di luar, gedoran pintu semakin terdengar keras dengan teriakan.


"Laras! Kau di dalam?" Suara yang tak asing membuat Laras hanya bisa menghela. "Laras!"


"Kinan! Kenapa dia melakukan ini padaku?" gumam Laras penuh kekesalan. Meski pada akhirnya ia tetap keluar dengan wajah terlipat.


Pintu dibuka. Nampak seorang wanita membawa keranjang makanan berdiri dengan senyum ceria.


"Aku dengar Lion sudah kembali?" tanya Kinan dengan antusias. Sedangkan Laras hanya mengangguk sekenanya. "Wah! Bagaimana bisa? Bukankah ini keajaiban?"


Lagi-lagi Laras hanya mengangguk. Bukan ia tidak senang, hanya saja Kinan datang di saat yang tidak tepat.


"Aku membawakan kalian roti. Mau makan bersama?" Namun Kinan sepertinya tidak bisa membaca kesal yang di wajah sahabatnya.


Daripada menolak, Laras memutuskan untuk mengiyakan ajakan Kinan. Lagipula, ia juga belum memikirkan menu untuk sarapan.


"Tapi ngomong-ngomong, apa Lion bisa memakan roti saja? Kau perlu menyiapkan daging untuknya," ucap Kinan seraya menyiapkan meja makan.


"Tidak masalah. Dia sudah terbiasa memakan makanan manusia," jawab Laras.


"Benarkah?"


"Tentu saja." Tiba-tiba Lion keluar dengan rambut basah. "Mungkin serigala lain akan bermasalah jika makan itu. Namun untuk serigala setengah manusia sepertiku, rasanya perutku bisa menyesuaikan."


Mendengarnya membuat alis Kinan menyatu. Namun setelah beberapa saat matanya membulat. "Maksudmu setengah manusia itu--?"


Laras terkekeh dan mengangguk. "Ayahnya adalah manusia."


"Sungguh?"


***

__ADS_1


Sementara jauh di dalam hutan. Seorang pria dengan mahkota raja duduk di atas takhta menyimak laporan dari bawahan yang baru kembali.


Seketika bibirnya menyunggingkan senyum. "Jadi Aira kembali pada manusia itu?"


__ADS_2