Cinta Laras Dan Manusia Serigala

Cinta Laras Dan Manusia Serigala
Dia Tak Mengingatnya


__ADS_3

Mungkin benar yang dikatakan Pak Darto. Kejadian tidak terduga kerap datang dalam hidup. Setelah berusaha mati-matian melupakan ingatan yang membekas kuat, justeru sosok yang ingi dilupakan kini berada tepat di depan mata Laras. Pria yang selama ini ingin ia bunuh dalam pikiran, nyatanya masih nampak sehat dengan tubuh yang kekar.


Laras mematung di tempat untuk beberapa saat. Hatinya sesak, matanya memanas menatap Lion yang terlihat bagai ilusi. Ia tahu ini nyata, tapi mengapa dirinya tak bisa menyapa?


Berdiri di antara kebimbangan membuat Laras ingin berlari menghindar. Ia rindu, tapi mungkin pria di depan sana lebih menginginkan jika wanita ini melupakan segalanya.


Hingga sampai di titik Laras tak bisa mengendalikan diri. Ia hampir berbalik dan lari sekencang mungkin. Namun tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di balik pepohonan. Hewan buas berwarna putih yang tidak asing.


Keterkejutan semakin menghampiri Laras. Setelah Lion, kini serigala putih yang membuatnya hanyut di sungai juga terlihat di waktu yang sama.


Ia terdiam sejenak. Memikirkan keanehan yang mungkin ada hubungannya dengan alasan mengapa Lion menghapus ingatannya. Seketika Laras tersadar.


Tak mau terlihat kentara, Laras memutuskan untuk bersikap biasa saja. Setelah menarik napas dalam dan membuangnya perlahan, wanita itu akhirat turun. Menangkap ikan seperti niat awal.


Laras nampak tak acuh, mengabaikan Lion yang sedari tadi memperhatikan. Sampai ketika tak ada satupun ikan yang Laras tangkap, perlahan pria itu mendekat.


Lion menyerahkan satu ekor ikan besar yang ia tangkap. Benar, ia datang bukan tanpa sebab. Melainkan ingin memastikan apakah ingatan benar-benar menghilang dari Laras.


Namun, agaknya kekhawatiran Lion tidak terbukti. Laras terdiam menatap ikan dan wajah Lion secara bergantian. Garis di wajah wanita itu terlihat bingung.


Sampai setelah beberapa saat. "Siapa kamu?" Laras tidak mengingat Lion. Lebih tepatnya berpura-pura tidak mengingatnya.


Mata Lion terbelalak mendengar Laras tak lagi mengenalinya. Perasaan yang egois. Ia merasa lega tapi juga sakit dan putus asa. Jauh di dalam hati pria ini ingin dikenali, dilupakan oleh orang terkasih nyatanya semenyiksa ini. Namun, ini juga harapannya. Laras benar-benar lupa.


"Aku belum pernah melihatmu di sekitar sini. Apa kamu pemburu dari desa lain?" tanya Laras dengan ekspresi yang dibuat sebiasa mungkin.


Tak mau terlihat terkejut, Lion menggaruk tengkuk dan lekas mengangguk.

__ADS_1


"Ah, sudah kuduga." Laras mengangguk paham. Setelahnya ia melanjutkan mencari ikan yang gesit berenang. "Kalau begitu lebih baik kau pergi. Pemburu di sini tidak akan suka jika melihat pemburu lain di wilayah mereka."


Mendengarnya membuat Lion tak bisa bersikap seperti biasa. Nyata jika Laras tidak mengenalinya, dan itu melegakan. Namun lagi-lagi, diusir seperti ini membuat hatinya menderita. Namun kendati begitu, pria ini tetap mengiyakan.


Lion pergi setelah mengangguk. Tak ada kata maupun kalimat yang terlontar. Lidahnya terlalu kelu barang unik menyebut nama wanita di depannya, atau sekadar terima kasih. Ia meninggalkan wanita terkasih dengan lubang besar yang tercipta.


Sementara Laras, ia masih menyibukkan diri mencoba memanah ikan-ikan di sungai. Tetapi yang tidak diketahui orang lain, air mata terus mengalir di wajahnya yang menunduk. Bukan hanya Lion yang merasa sakit, wanita ini juga sangat terluka dengan keadaan yang ada.


Setelah cukup lama Laras menunduk, ia akhirnya memutuskan untuk menyelam. Alih-alih ingin menangkap ikan, kini ia justeru berharap air mata di wajah tersamarkan. Tentu, ada yang tidak boleh melihatnya menangis.


Tak lama wanita itu kembali. Wajahnya sudah basah. Tak bisa dibedakan mana air mata dan mana air sungai yang menempel. Matanya menyapu sekitar, Lion sudah tak lagi berada di sana. Sedangkan balik pepohonan juga nampak kosong. Serigala putih sudah tidak terlihat.


Laras memutuskan untuk mentas dari sungai. Berada di sana hanya akan membuat perasaannya semakin tak nyaman. Bukannya ikan yang didapat, justeru kenyataan yang menyayat.


Wanita itu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras. Lututnya tiba-tiba terasa lemas, tulang seakan hilang tak bisa menyangga. Degup jantung yang tadi ditahan kini dilepaskan begitu saja. Bahkan suara tangis yang tak bisa keluar, sekarang dibebaskan.


Luka, kesepian, perasaan bersalah, dan rindu bercampur jadi satu. Ia ingin memeluk Lion saat itu juga, tapi tak bisa. Entah dari mana, serigala putih terlihat jahat di matanya.


"Dia benar-benar ingin aku melupakannya," gumam Laras dengan air mata yang masih mengalir.


Sementara jauh di dalam hutan. Seekor serigala berbulu abu-abu berjalan dengan hati kosong. Setelah menemui Laras, perasaannya menjadi tak karuan. Ia yang tadinya hampir menerima kenyataan, nyatanya tak bisa biasa saja saat wanitanya tak lagi mengingat apapun tentang mereka.


Ia terus berjalan, berharap lekas kembali dan menyibukkan diri dengan urusan kerajaan.


Namun ketika ia masih berjalan penuh kekosongan, tiba-tiba sebuah anak panah melesat melintas tepat di depan mata. Ia mematung sesaat. Baru setelahnya menengok busur panah yang menancap kuat di pohon.


Sebuah anak panah berbahan tembaga hitam.

__ADS_1


***


Kehidupan tak hanya berjalan di hutan yang rindang. Di balik pegunungan yang dipenuhi dengan es, seekor serigala berbulu putih tengah menghadap tuannya.


Mendengar penuturan si bawahan, wanita di atas singgasana tersenyum lebar. "Jadi wanita itu benar-benar kehilangan ingatan tentang Aira?" Pria di hadapannya segera mengangguk. "Ternyata Aira cepat bergerak."


Irly, wanita yang seharusnya sudah menjadi ratu Fantasiana tersenyum dengan tatapan penuh arti. Memikirkan betapa rencananya selama ini berjalan sangat mulus tanpa hambatan.


"Kalau begitu beri raja itu peringatan. Kau sudah menyiapkannya?"


Pria di hadapan Irly mengangguk seraya menyerahkan sebuah anak panah. "Ini adalah tembaga hitam yang ditempa dengan baik."


Menatap benda runcing itu, Irly merasa jalan lebar terbuka di depan matanya.


"Kalau begitu bisa dimulai. Kita akan sangat sibuk setelah ini."


Tak ada jawaban selain anggukan dari bawahan yang bertanggungjawab membantu Irly.


"Aku akan kembali ke Fantasiana dan menyingkirkan seluruh api di sana."


Sebentar lagi, pemberontakan yang Irly susun sejak awal akhirnya bisa dilaksanakan. Setelah menunggu bertahun-tahun, dendam yang selama ini terpendam bisa dituntaskan.


Siapa yang menyangka, jika hanyutnya Pangeran Fantasiana waktu itu bukan sebuah kecelakaan belaka. Bahkan tentang ingatan Aira yang hilang memang sudah direncanakan.


Hingga pada puncaknya, akhirnya semua rencana bisa dilakukan.


Irly menatap kosong ke udara dengan perasaan puas yang menggebu. "Mungkin terlalu cepat jika aku merasa puas sekarang. Namun, sebentar lagi kalian akan sepenuhnya menjadi milik kami. Fantasiana yang malang akan berubah menjadi kerajaan penuh salju."

__ADS_1


__ADS_2