
Ivy dan Rama telah menikah selama tiga tahun dan dikaruniai seorang putri bernama Zayra. Kehidupan mereka berjalan seperti rumah tangga lainnya. Rama bekerja kantoran di sebuah perusahaan yang mampu mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Ivy semenjak hamil berhenti bekerja karena tidak sanggup bekerja pada saat hamil akibat hypremesis yang d alami. Hingga pada saat Zayra berumur 8 bulan, Ivy memutuskan untuk bekerja kembali.
Biaya hidup semakin tinggi dan kebutuhan semakin banyak, bagaimana kalau aku bekerja lagi? Ucap Ivy
Mau kerja di mana? Tanya Rama
Dimana aja yang penting kita punya penghasilan tambahan. Kalau begini-begini terus aku malu sama ibu, selain numpang kita juga jarang bantu ibu buat belanja keperluan rumah. Penghasilan mas cuma cukup buat keperluan Zayra dan mas sehari hari. Ucap Ivy
Rama hanya mengangguk lemas tanda setuju. Dikepalanya juga terlintas rasa bersalah kepada istrinya. Selama ini memang, mertuanya lah yang membantu kehidupan mereka sehari-hari. Dia belum mampu memenuhi tanggungjwabanya sebagai suami yang harusnya membahagiakan istrinya.
Dua minggu berlalu, hari hari berjalan seperti biasanya. Setelah lelah melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, Ivy berbaring smbil membuka browser hp mencari lowongan kerja. Matanya tertuju pada salah satu perusahaan yang membutuhkan karyawan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Salah satu perusahaan terkenal.
Ya, pekerjaan ini sepertinya cocok untukku. Tapi tunggu dlu.
fokusnya beralih ke penempatan pekerjaan yang bukan d daerahnya saat ini. Daerah X? Bagaimana dengan anakku? kalau ku bawa, siapa yang akan menjaganya? Batinnya.
__ADS_1
Ia memutuskan menunggu Rama dan sekalian berbicara pada orangtuanya.
Keesekon harinya, di meja makan
Sayang, bu, pak.. Ivy mau kerja, ada yang Ivy suka tapi kerjaannya di Daerah X.. katanya memulai pembicaraan
G papa nak, nggak usah mikir Zayra nanti ibu yang jaga, jawab ibunya yang memang dari awal selalu mendukung Ivy menjadi wanita karier.
Terserah pada suami mu. Ia yang berhak atas dirimu saat ini, ucap Bapak.
Keesokan harinya, Ivy sibuk mngumpulkan dokumen untuk lamaran kerjanya setelah dia memperoleh persetujuan dari Rama semalam.
Dua bulan berlalu, Di tengah malam, HP Ivy berdering... Dengan mata yang masih terpejam ia mngambilnya dan melihat siapa yang menelfon pada saat jam tidur seperti ini
ha? Dera? Jangan-jangan penerimaan pengumuman batinnya..
__ADS_1
Ya Der, ada apa malam-malam telfon?
Dari seberang, Dera dengan gembiranya menyampaikan kelulusan mereka pada perusahaan yang mereka lamar... Lihat pengumuman Vy di Website, udah ada nama kita... Ucap Dera
Oh iya iya, aku cek yah. Bye . Ivy memutuskan sambungan telefon..
Ivy dengan cepat membangunkan Rama, ia tak mau momen kebahagiaan ini ia lewatkan sendiri.
Mendengar kamar disebelahnya ribut, Rani ibu Ivy yang baru selesai melaksanakan sholat Tahajud bergegas mengetuk pintu kamar anaknya. Kalian kenapa belum tidur?
Ivy bergegas membuka pintu dan memeluk ibunya. Bu, Ivy diterima bekerja, ucap Ivy sambil meneteskan air mata. Ivy janji akan bahagiain keluarga kita bu, batin Ivy.
Selama ini, Ivy memang punya harapan membahagiakan ibu dan Bapaknya. Mereka dari keluarga sederhana. Ada beberapa hal yang ingin Ivy lakukan untuk keluarga mereka, tapi delama ini belum sempat Ivy lakukan karena secara materi, ia belum melakukannya.
Selamat nak, itu rejeki anak mu. Ucap Rani sambil mengusap rambut anaknya. Kembalilah tidur, jangan ribut. Nanti Zayra terbangun. Iapun meninggalkan kamar Ivy.
__ADS_1