
Mereka menikamati makanan masing-masing tanpa mengeluarkan suara. Hanya suara berisik orang-orang yang ada kantin dan dentingan sendok yang menemani makan mereka. MUngkin karena lapar, semuanya fokus pada makanannya. Dera menengguk es jeruk hingga tandas dan tiba-tiba mengeluarkan suara, eehhhhkkkkkkkk... Seketika, ketiga temannya yang juga sedang minum menatap ke arahnya. Dera hanya menyengir dan sadar kesalahan yang dilakukan. Setelah makan siang mereka kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
Hari demi hari berlalu, Minggu demi minggu berlalu. Mereka sudah nyaman dengan pekerjaan masing-masing. Waktu merekapun tidak sebanyak diawal untuk bisa saling bercengkrama meskipun hanya untuk makan siang mereka terkadang tak bisa bersama-sama.
Tepat 3 Bulan mereka bekerja, Ivy, Alden, Rania dan Dera dipanggil menghadap ke ruang pimpinan, Mereka di beri tahu untuk mengikuti pelatihan di Kota A untuk memperdalam keterampilan mereka dalam bekerja selama tiga bulan dan mereka wajib mengikutinya.
Setelah keluar dari ruangan pimpinan, wajah Ivy terlihat sendu. Bagaimana tidak, waktu tiga bulan bukan waktu yang sebentar untuk bisa meninggalkan anak dan suami. Tentu bagi Alden, Rania dan Dera bukan menjadi masalah besar karena mereka belum berkeluarga. Alden menyadari perubahan wajah Ivy, setelah Rania dan Dera melangkah kembali ke ruang kerja masing-masing, Alden sengaja memperlambat langkah menyesuaikan langkah Ivy dan ketika melihat Rania dan Dera melangkah semakin jauh, ALden menarik tangan Ivy. Karena Ivy lagi tidak fokus, ia hanya mengikuti kemana Alden menariknya, dan disinalah mereka, di taman kantor. Ivypun bertanya, kenapa ke sini?
__ADS_1
Apa yang mengganggu pikiranmu? Tanya Alden.
hhmm.... AKu hanya bekum tega meniggalkan anakku dalam waktu yang lama. Apalgi tadi kata Pak Randy kita tidak boleh pulang selama tiga bulan itu, kantor hanya membiayai perjalanan pergi dan pulang. Meskipun anakku selama ini dijaga oleh ibu tapi rasanya beda. Kan aku pulang kantor bisa lihat dia, tapi klau seperti ini rasanya berat. Tapi di sisi lain aku tidak bisa menolak. Ini masa depanku, aku harus bisa berdiri di kaki ku sendiri tanpa mengharapkan orang lain?
Alden mencerna kata-kata Ivy. Dan ia melanjutkan pertanyaan, kenapa harus seperti itu? kamu kan punya suami tempat bergantung. Kenapa terlalu memikirkan untuk bisa berdiri sendiri? bukannya istri sisa menikmati penghasilan suami?
Ivy baru tersadar telah mengeluarkan isi hatinya di depan orang lain. Ah.. tidak apa-apa, aku memang suka bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Rasanya jauh lebih bahagia, tanpa tersadar Ivy terdiam lagi. Sebenarnya ada banyak yang mengganggu fikiran Ivy. Selama lima tahun menikah dengan suaminya, Ivy merasa belum menerima haknya sebagai seorang istri yang dinafkahi oleh suami. Pekerjaan suami Ivy hanyalah pegawai pemerintah biasa dengan gaji pas-pasan malah terkadang kurang, maka dari itu, ia rela bekerja keras, karena Ivy juga memiliki tanggung jawab kepada orang tuanya. Meskipun Ivy terkadang bersedih memikirkan keadaannya, takdirnya tapi hingga saat ini ia tak pernah keberatan untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun keadaan ini ia tutupi untuk melindungi harga diri suaminya.
__ADS_1
Sambil menarik nafas panjang ia berdiri dan hendak meninggalkan taman. Namun langkahnya terhenti karena, ada yang menarik tanggannya. Ia menoleh dan tersadar masih ada Alden di sampingnya.
Kamu masih di sini? Tanya ivy
ialah, dari tadi kamu asyik melamun makanya nggak sadar. terang ALden
Oh iyya maaf. Kalau gitu aku masuk yah... bye
__ADS_1
dan hanya dijawab deheman oleh Alden.
Alden merasa ada yang tidak beres dengan Ivy. Ia melihat dari sorot mata Ivy yang sendu seakan memiliki pikiran berat yang harus di tanggung sendiri. Entah kenapa ia memiliki perasaan bahwa Ivy sedang tidak baik-baik saja. Tapi dasar Alden dengan sikap coolnya ia tidak mau terlihat mencampuri apapun urusan orang lain.