
Mendengar ada percakapan dari dalam , Papi Geby segera masuk ke dalam villa itu .
" Loh , kok kamu bisa disini ?" tanya Papi Geby pada pria itu .
" Pih, Gibran ada di dalam kamar , tolong Papih jagain ." saut Erik
Tanpa berpikir panjang, Papi Geby langsung berjalan ke arah kamar dan menjaga Gibran yang sedang tertidur pulas.
☘️☘️☘️
" Kenapa Om lakukan ini semua ?"
" Kenapa kamu bilang? Aku yakin Gibran adalah darah daging ku."
Mendengar jawaban itu , Erik sangat emosi dan langsung menghajar pria tersebut tanpa ampun, hingga tersungkur tak berdaya.
Setelah itu Erik langsung menuju kamar kemudian menggendong Gibran .
" Ayo Pih , kita langsung ke rumah sakit, sebelum Geby sadar ." ucap Erik sambil menggendong Gibran dan berjalan keluar.
☘️☘️☘️
Erik membuka pintu mobil bagian depan kiri , lalu mempersilakan Papi Geby untuk naik dan memberikan Gibran padanya.
Kemudian dia berjalan ke samping kanan dan segera masuk mobil lalu tancap gas meninggalkan villa itu.
" Apa yang sebenarnya terjadi Rik? Papih bingung memikirkan semua ini ?"tanya Papi Geby yang terlihat begitu bingung.
__ADS_1
" Nanti Papih juga tau , maaf Pih aku belum bisa menceritakan semuanya." jawab Erik sambil terus melajukan mobilnya.
☘️☘️☘️
Setelah melalui perjalanan yang lumayan panjang , akhirnya merekapun telah sampai di rumah sakit , di tempat Geby di rawat .
Dengan tergopoh-gopoh Erik berlarian sambil menggendong Gibran, menuju ruangan Geby .
Pintu ruangan Geby telah terlihat , senyum semringah terlihat jelas di wajah Erik, tak mampu membayangkan betapa senangnya hati Geby ketika melihat Gibran telah kembali ke pelukannya .
" Braakk !!" Erik membuka pintu terlalu semangat.
" Sayang... , ini ." panggil Erik pada Geby sambil berdiri di belakang pintu .
" Gibran... anakku." lirih Geby dengan mata berkaca-kaca sambil mengulurkan kedua tangan nya .
Erik segera melangkah mendekati Gaby dan meletakkan Gibran pada pangkuan Gaby.
Namun, tiba-tiba Gaby terdiam dan tercengang sambil memegang tangan kiri Gibran.
" Mas... apa ini mas?? " tanya Gaby sambil menunjukan tangan Gibran pada Erik.
Erik segera melangkah mendekati Gaby lalu membisikan sesuatu di telinga Gaby.
Ternyata hansaplas rumah sakit , masih menempel di tangan Gibran , paskah tes DNA yang di lakukan oleh Gery.
Sikap Erik membuat Papi Gaby semakin penasaran , akan sesuatu yang mereka berdua tutupi , istrinya yang sudah tau kebenarannya pun , belum siap untuk menceritakan semua kepadanya .
__ADS_1
🌿🌿🌿
Keesokan harinya...
Keadaan Gaby semakin membaik , bahkan semua hasil pemeriksaan Dokter stabil.
Akhirnya Dokter memberi kabar yang baik .
" Saudara Gaby , sore nanti Anda sudah bisa pulang ." ucap Dokter pada Geby.
" Serius Dokter ??" saut Gaby gembira .
" Iya betul , Anda sudah bisa pulang."
Geby terlihat sangat gembira , hingga hampir meloncat ke bawah dari ranjangnya.
" Stop... stop sayang !!!" tegas Erik sambil memegang tangan Gaby.
" Hati-hati dong , kasian nanti dedeknya ." imbuh Erik dengan mengelus-elus perut Gaby.
Kedua Orang Tua Gaby yang melihat sikap Erik kepada Gaby , tersenyum haru dengan kasih sayang Erik yang begitu besar terhadap Geby.
Dengan menggendong Gibran , mereka berdua melangkah keluar dari ruangan Geby , seolah memberi kesempatan untuk mereka berdua saling bermesraan.
🌿🌿🌿
Tak lama setelah itu , Erik pun sibuk merapikan barang milik Geby , memasukan semua bawaan ke dalam tas , dengan sangat telti agar tidak ada yang tertinggal .
__ADS_1
🌿🌿🌿
Bersambung....