Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 10 Patah Hati Pertama


__ADS_3

Februari 2001


“Kalo gue jadi lo, gue akan mendadak sakit perut. Trus nggak jadi ikut,


padahal gue akan seharian di Kasur pake selimut dan nangis sepuasnya.” Kata


Lisa berbisik di hari Senin pagi saat mereka sedang mengikuti upacara. “Terus


gue akan bertanya-tanya siapa cewek itu? Kenapa bisa mengusap kepala Iko


semudah itu? Kenapa Iko harus menanyakan capek nggak terus-terusan sama dia?


Menurut lo? Ya capeklah! Kita itu ngayuh sepeda bro, bukan santai-santai di


tepi jalan!”


Matari cuma tersenyum tipis. Matari menatap Thea yang berdiri dua baris


di depannya. Sebagai anak bertubuh jangkung, Matari dan Lisa berdiri di deretan


murid perempuan bagian belakang, hampir sejajar dengan deretan murid laki-laki.


Thea menoleh dan menatapnya, menatap dengan tatapan ikut menyesal atas apa yang


terjadi antara dirinya dan Iko kemarin.


“Mana bisa? Gue kalo seharian di Kasur dan pake selimut akan diomelin


sama Eyang seharian. Dia bisa ngebedain saat gue beneran sakit atau nggak.”


Kata Matari, di tenggorokannya terasa tercekat. Ingin menangis tapi tidak bisa.



Ini sudah 24 jam setelah kejadian kemarin. Namun rasanya sesak banget di


dada Matari. Ingin rasanya tidak ikut upacara, alasannya sakit. Iya, sakit


hati.


“Patah hati pertama lo ya?” tanya Lisa kemudian. “Rasanya bingung.


Antara ingin nangis, tapi nggak juga, karena ya, dalam hati lo, lo tu tahu, Iko sebenarnya


nggak pernah kelihatan spesial memperlakukan lo. Nggak lebih dari tetangga yang


baik aja. Sedih sih. Tapi cilok depan sekolah lebih enak kayanya.”


“Emang lo udah pernah patah hati?” tanya Matari lagi.


“Enggak pernah. Gue baca di novel-novel teenlit kaya gitu sih. Hahaha.”


“Baca novel juga lo? Ngerti?”


“Ih, MATARI! Gue nggak sebego itu!”


“Ssssstttt… kalo kalian masih ngobrol aja, saya minta gantiin Pak Eka


jadi Pembina upacara di depan ya?” tanya Bu Tasya sambil mendekatkan dirinya ke


Matari dan Lisa. “Udah paling jangkung di antara murid-murid perempuan, masih


ngobrol aja. Nggak sadar kalian itu keliatan menonjol?”


“Maaf, Bu.” Kata Lisa dan Matari hampir bersamaan.


Matari melayangkan pandangannya kembali ke depan dan tak sengaja


bertatapan dengan Davi. Ternyata dari tadi Davi memperhatikannya. Untuk pertama


kalinya, dia mengakui perkataan Thea benar, soal pandangan Davi itu. Bahwa


pandangannya terasa tajam seolah-olah ingin menghisap jiwanya.


***


Beberapa hari kemudian, saat jadwal ekskul mading tiba, dengan enggan


Matari melangkahkan kakinya menuju ruangan ekskul. Bu Tasya sudah berada di


sana bersama Kak Seno yang tampak santai bermain gitar klasik. Echa tampak


sedang merapikan karya-karya yang baru datang. Ada Kak Citra, Kak Nana dan


beberapa murid laki-laki yang sebelumnya jarang datang. Bahkan Lisa tampak


berdiri di antara mereka.


“Tumben kamu telat datang, Ri.” Kata Bu Tasya sambil menyodorkan snack


tahu dan pisang goreng yang sudah dingin.


“Terimakasih, Bu. Maaf tadi makan siang dulu dan lupa waktu karena


ngobrol dengan teman-teman.” Kata Matari berbohong.


Padahal kenyataannya adalah Matari menghabiskan sisa jeda waktunya antara


pulang sekolah dan jam ekskul untuk mendengarkan Walkman lagu-lagu Element


sambil tiduran di meja kelas. Lisa enggan mengusiknya dan memilih pergi


terlebih dahulu menuju ekskul mading.


“Oke, karena hanya Abdi saja yang absen. Kalian harus maklum ya, dia


sudah izin dengan Ibu. Tim sepakbola ada kejuaraan antar SMP bulan depan,


sehingga dia hari ini tidak bisa datang. Dia termasuk team inti, hanya Pito dan


Ronald saja yang karena tidak ikut team inti, hari ini Ibu wajibkan datang.” Bu


Tasya membuka pertemuan itu dengan wajah yang serius. “Sebentar lagi bulan


Bahasa, anak Osis mengadakan Lomba Puisi yang akan diadakan waktu hari KASIH


SAYANG. Iya kan, tanggal itu pas hari kasih sayang kan, No? Ibu nggak update


soal budaya remaja sekarang.”


“14 Februari Bu? Rabu dua minggu lagi?” timpal Kak Citra sambil melihat


kalender yang terpasang di dinding ruang ekskul.


“Iya. Sebenarnya poster lomba puisi sudah dipasang Benjamin dari bulan


Desember ya kalau nggak salah, No?” tanya Bu Tasya.


“Iya, Bu. Sebenarnya lomba itu semua panitianya dari anak Osis. Cuma, biar


acaranya menarik, banyak yang nonton, syukur-syukur dapat sponsor dari ortu


murid, seluruh ekskul yang bisa ngeluarin performance, diminta partisipasinya.


Apalagi kita, mading juga bagian dari sastra. Kita diminta untuk ngeluarin penampilan.


Makanya gue hari ini bawa gitar. Gue denger, Pito bisa main drum ya?” sahut Kak


Seno.


Pito mengangguk pasrah. Ronald tertawa-tawa mengejeknya. Ada Bu Tasya di


sini, tentu saja dia tidak bisa menolak.


“Nah, jadi tiap jeda dua peserta lomba puisi, ada penampilan khusus


gitu, biar nggak membosankan. Acara diadain di serbaguna. Kalian akan efektif


belajar setengah hari. Tidak ada yang boleh izin keluar sampai acara selesai.


Dari anak pencak silat akan perform Gerakan pencak silat, terus anak tari akan


nari. Semua ekskul akan mengeluarkan performance. Kecuali yang berhubungan


dengan olahraga. Semuanya. Teater pun akan main. Makanya kalian lihat kan hari


ini peralatan anak teater dikeluarkan semua untuk membantu mereka Latihan.”


Bu Tasya terdiam sambil menatap seluruh anggota ekskul mading, kemudian


melanjutkan bicaranya lagi.


“Karena kita itu ibaratnya adalah sebuah wadah yang mengumpulkan


karya-karya amatir, nggak mungkin kita perform membacakan cerpen atau artikel


kan? Saya pikir bagusnya jika kita ada seperti pembacaan puisi, tapi sambil ada


iringan musiknya juga. Biar nggak sepi. Jadi, bisa dibedain sama peserta lomba


puisi itu sendiri. Ada ide nggak, harus kaya gimana?”


Kak Seno berdiri, kemudian mendekat ke arah papan tulis.


“Sebenernya, Bu Tasya udah diskusi sama kita berdua beberapa hari yang


lalu untuk dipikirkan bagaimana baiknya. Ini konsep saya dan Citra ya, Bu.


Habis ini saya akan bagi copy-an lagu dan puisi. Beberapa dari kalian akan saya


coba satu-satu untuk menyanyi dan baca puisi. Semua orang dapat giliran audisi


kecil-kecilan. Oke? Saya dan Pito akan mengiringi dengan alat musik.” Kata Kak


Seno mengawali.


Tiba-tiba Lisa mengangkat tangannya. “Gue bisa keyboard, Kak. Gue


ngiringin aja ya.”



“Wowwww…. Lo bisa keyboard, Lis? Baru tahu gue.” kata Matari heran.


“Gue nggak mau kalau disuruh tes vokal atau baca puisi. Suara gue kacau.


Gue pernah nyoba waktu casting iklan sama Mama. Ya ampun diledekin gue. Gue


nggak mau lagi deh kak, kalo buat tes vokal. Daripada kalian ngeledekin gue.”


timpal Lisa yang disambut tawa Bu Tasya.


“Kirain semua calon artis bisa nyanyi, Lisa.” Kata Bu Tasya.


“Kalau suruh lenggak-lenggok atau foto senyum 3 jari bisa banget saya,


Bu. Tapi kalo disuruh nyanyi, itu bukan bidang saya. Apalagi baca puisi?


Hahahaha….”

__ADS_1


“Oke, nggak papa. Lisa, Pito dan Seno, kalian iringan band nya ya. Tulis


dulu, No di papan. Berarti yang audisi nyanyi dan baca puisi: Echa, Matari,


Ronald, Nana, Joan dan Indah ya. Joan sama Indah nggak boleh kabur ya. Kalian


nih pacaran terus, nggak pernah nongol ke sini.”


Joan adalah anak kelas 2, sekelas dengan Kak Ben. Sedangkan Indah, anak


kelas 1 E, tetangga kelas Matari. Joan dan Indah adalah pasangan kekasih


pertama lintas Angkatan yang berani mencuat ke publik. Meskipun setelah itu disusul oleh pasangan-pasangan lain.


Matari menyadari bahwa hari itu semua anggota ekskul mading lengkap


meskipun tanpa Abdi. Kak Seno membagikan dua lembar kertas ke masing-masing


anggota. Matari dan Lisa berpandangan melihat judul lagu itu. Lagu yang belum


pernah didengarnya sama sekali. Untuk halaman kedua, yang berisi puisi masih terasa


familiar, karena pada tahun itu, Kahlil Gibran berhasil dipopulerkan kembali


oleh Band Dewa milik Ahmad Dhani.


“Nih lagu dan puisinya, sesuai permintaan Bu Tasya. Lagu tahun 80-an.


Seandainya Aku Punya Sayapnya Rinto Harahap. Puisinya pakai punya Kahlil


Gibran, “Sayap-sayap Patah”. Bu Tasya bawa kasetnya bu biar didengar anak-anak?


Biasanya Matari bawa Walkman, Bu. Bisa Loud Speaker kan, Ri?”


Matari merogoh walkmannya dari dalam tas, kemudian menyerahkannya pada


Seno. Seno menerimanya dengan senang hati. Karena saat itu, tape anak teater


dibawa oleh para anggota ekskul teater, padahal biasanya teronggok begitu saja di pojokan tak tersentuh.


“Saya sengaja mememilihkan lagu ini karena apa? Lagu ini masih familiar


di kalangan guru-guru. Cuma perlu diaransemen ulang sesuai dengan musik modern


zaman sekarang aja. Jadi siapapun bisa menikmatinya. Untuk puisi, anak


laki-laki saya suka dengar musiknya Dewa, dan katanya si pendirinya penggemar


puisi-puisi Kahlil Gibran. Jadi saya pikir kenapa nggak digabungkan saja. Toh


hampir sama maknanya. Tentang kesedihan keterpurukan, ketidakadilan.”


“Gue putar dua-tiga kalian ya. Terus abis itu langsung kita mulai audisinya.


Nggak usah hapal nggak papa. Pelan-pelan ngikutin waktu Rinto Harahap nyanyi


aja. Tapi nanti kita coba aransemen jaman sekarang aja. Lebih pop dan agak


akustik gitu gimana? Setuju nggak, Pito, Lisa?”


Lisa mengangguk. “Gue mah asal ada rekaman lagunya, gue akan minta guru


les keyboard gue buat ngaransemen ulang biar lebih modern. Gampanglah, nanti,


guru les gue, gue suruh ke sini aja.”


“Memang beda kalo anaknya orang kaya, ada uang, semua jalan!” celetuk


Kak Citra dan disambut tawa anak-anak lain.


“Oke, gue putar ya.” Usul Kak Seno.


Setelah Kak Seno menekan tombol play dari Walkman, lagu Rinto Harahap


mengalun. Matari tampak familiar jika sudah mengalun seperti ini. Karena


Ayahnya terkadang bersenandung lagu-lagu lama sambil mencuci motornya. Dan


sepertinya nada lagu Rinto Harahap ini pernah beberapa kali disenandungkannya.


Hingga akhirnya tanpa terasa lagu telah mengalun ke 3 kali. Beberapa


anggota ekskul mading yang tersisa untuk audisi dadakan, mulai tampak tegang.


“Senior dulu ya. Ayo Cit, tunjukkan kebolehanmu. Langsung sekalian baca


puisi ya.” Ujar Kak Seno pada Kak Citra.


Wajah tegang Kak Citra mulai tampak. Ketika dia mulai bernyanyi, Pito


menyenggol Lisa sambil setengah tertawa. Nadanya berantakan. Namun, di saat Kak


Citra disuruh percobaan membaca puisi, seluruh ruangan berubah diam. Begitu


bagus dan merdu suaranya. Puisi Kahlil Gibran itu terdengar menyayat hati bagi


siapapun yang mendengarnya.


Bu Tasya tampak menuliskan catatan-catatan kecil di kertas di depannya


entah apa. Mungkin penilaian pribadinya atas audisi kecil-kecilan yang berlangsung di depannya.


“Citra udah, Sekarang Nana. Na, lo kan anak band kan, vokalis juga lo.


Pasti kalau nyanyi nggak masalah dong.” Kata Kak Seno sambil mengambil


gitarnya.


Band gue nyanyiinnya lagunya Cokelat.” Timpal Kak Nana dengan nada enggan.



Cokelat adalah salah satu Band rock yang vokalisnya perempuan dan sedang


naik daun kala itu.


“Iya, Mba Rockstar. Siapa tahu bisa jadi nge-rock lagunya, udah dicoba


dulu aja.” Kata Kak Seno setengah membujuk.


“Masalahnya, No, gue juga diminta sama Ben buat perform waktu lomba


puisi. Nggak, jangan nyanyi deh. Kalo baca puisi masih bisa gue. Main gitar


juga bisa gue.”


“Udah, nyanyi dulu aja. Kita semua nungguin nih.”


“Bu Tasya, kalo saya nyanyi dua kali, suara saya bisa abis dong bu buat


Latihan doang. Mohon keringanan dong, Bu. Prepared snack juga nggak papa. Atau


angkat-angkat drum.”


“Dicoba dulu aja, Nana. Harus adil dong. Semua anak kan nyoba satu-satu.


Saya akan pertimbangkan kalau kamu mau nyoba.”


Kak Nana menarik napas. Kemudian mulai bernyanyi. Memang cocok jadi vokalis


band, Kak Nana menyesuaikan ritme dengan mudah. Saat selesai, ruangan penuh


dengan suara tepuk tangan.


“Nana, nyanyian kamu bagus banget.” Puji Bu Tasya sambil tersenyum


lebar.


“Hehehe, Iya, Bu. Makasih.” Kak Nana tersipu malu.


“Na, lo mendingan perform sama kita aja, Na. Gimana?” ajak Kak Seno.


“Nggak, nggak bisa. Kalian semua harus nyanyi dulu. Kalau memang nggak


ada yang oke, gue bisa pertimbangkan lagi.” Kata Kak Nana sambil duduk lagi.


“Eh, eh, eh, kok duduk? Nyoba baca puisi dong.” Seru Joan.


“Oh, iya. Lupa. Sial lu ya, Jo…”


Kak Nana berdehem. Kemudian mulai membaca.


“ Wahai Langit


Tanyakan padanya….”


“Tunggu, tunggu… bukan begitu cara bacanya, Nana.” Bu Tasya


menghentikan.


“Lo datar banget kaya papan tulis ruangan ini, Na. Nyanyi, lo bagus.


Giliran baca puisi…. Datar banget. Lo pernah baca puisi kan di kelas? Tadi


Citra udah bagus loh.” Seru Joan sambil tertawa.


“Ih, emang dasar kampret lo ya! Tukang kompor! Bentar lagi giliran lo,


gue lihatin lo!” sahut Kak Nana kesal.


“Udah, udah. Nana, saya perhatikan kamu kalau baca puisi dari dulu nggak


ada perubahan. Puisi dan cerpen itu beda, Na.” kata Bu Tasya. “Buat kalian


semua juga, puisi itu kita harus pakai perasaan. Seperti menyanyi. Ada iramanya


juga. Kalau baca cerpen atau artikel, tidak apa-apa tanpa irama. Karena hanya


seperti bacaan biasa aja.”


“Rockstar emang beda, Bu. Tapi yang penting nyanyinya juara. Udah, Bu,


buat menghemat waktu. Lanjut ke Joan aja.” Seru Kak Seno sambil tertawa.


Dengan gerak-gerik yang mengesalkan, Joan berdiri dari tempat duduknya.


Cowok bertubuh tambun itu menata kemejanya yang sudah kusut, kemudian


menggaruk-garuk kepalanya. Dia kemudian meminta teman-temannya untuk tenang dan


mendengarkan suaranya.


Namun, seperti bisa ditebak. Baik menyanyi atau membaca puisi, Joan tidak


bisa keduanya.


“Ahhhh, gue kira lo bakalan keren. Ternyata sama aja lu. “ ledek Kak


Nana sambil tertawa meledek. “Ndah, cowok lo tu mendingan suruh ngaca dulu

__ADS_1


sebelum ngatain orang.”


Indah cuma tersenyum-senyum menanggapi ucapan Kak Nana.


“Senior udah habis ya? Hmmm, sekarang saatnya junior. Mau Echa dulu, apa


Matari dulu?” tanya Kak Seno.


Echa berdiri. “Gue aja duluan ya. Biar cepet kelar.”


“Wah suka nih gue yang ngajuin diri kaya gini. Silahkan, Cha. Dimulai.”


Kata Kak Seno.


Echa menyanyi cepat, tidak memperdulikan musik yang mengiringinya.


Begitu pula saat membaca puisi. Cepat, seperti orang berlari-lari. Memang cocok


dengan karakter Echa yang kecil-kecil cabe rawit.


“Cha, elo buta nada ya?” tanya Pito sambil tertawa. “Lagian cepet amat


kaya dikejer setan.”


“Kan biar cepet kelar. Emang gue nggak bisa nyanyi sama nggak bisa baca


puisi kok. Santai aja lagi. Gue mau jadi seksi sibuk aja kaya biasanya.” Sahut


Echa.


“Hahaha, dasar. Ya udah kalo gitu. Makasih Echa atas penampilannya.


Sekarang Matari ya?” timpal Kak Seno.


Matari berdiri. Tangannya mendadak dingin.


“Nggak usah tegang, Ri. Tarik napas.” Kata Lisa.


Matari menurut menarik napas. Kemudian Kak Seno menekan tombol play,


untuk kesekian kalinya. Meski terlambat masuk ke lagu namun Matari cukup bisa


menyeimbangkan dengan alunan lagu tahun 80-an tersebut.


“Seandainya aku punya sayap… Terbang, terbanglah aku… Kucari dunia yang


lain… Untuk apa disini…”


Saat Matari masih bernyanyi, Kak Seno iseng memetik gitarnya. Matari


melirik Kak Seno sambil tersenyum malu-malu.



Saat selesai, Matari menatap orang-orang yang menatapnya dengan


terperangah. Memang setelah penampilan Kak Nana, tidak ada harapan yang bisa dirasakan di ruangan kecil itu.


“Lumayan, Matari. Memang belum sematang nyanyian Nana, tapi oke, kamu


bisa saya pertimbangkan.” Kata Bu Tasya sambil menulis catatan lagi.


“Ini sih asal mau Latihan tiap hari layak tampil kayanya, Bu.” Kata Kak


Nana kemudian.


“Iya, saya pikir juga begitu. Tapi sejujurnya, saya sudah jatuh cinta


saat kamu menyanyi tadi, Na. Kalau memang kamu bisa pertimbangkan untuk perform


dua kali, ya, kita tidak perlu melatih Matari.”


“Justru itu, Bu. Saya bawa 3 lagu nanti di tanggal 14 Februari, sesuai


permintaan Ben. Setiap hari saya harus Latihan nge-band. Karena kita nggak ada ekskul


band, kita udah sewa studio band dekat sini untuk sebulan Latihan menjelang


hari H. Kalau harus menambah jam Latihan saya untuk perform dengan team ini,


saya takut nggak bisa maksimal.”


Bu Tasya terdiam. “Ya sudah, kita lanjutkan Matari sampai baca puisi.


Kemudian Ronald dan Indah juga setelah giliran Matari selesai ya. Siapa tahu


kita ketemu surprise-surprise kecil seperti ini.”


Namun, surprise kecil itu tak lagi ada. Matari kurang baik ketika


membaca puisi. Terpatah-patah dan kurang fokus. Ronald lebih parah lagi, dia


sama sekali tidak tahu nada. Membaca puisi dengan lantang seperti membaca UUD


1945. Untuk Indah\, suaranya kecil dan pelan. Bahkan seperti berbisik-bisik.


“Oke, jadi semua sudah dapat giliran untuk audisi kecil-kecilan ini ya.


Maaf ya, ini sudah sore sekali, tapi kalian harus tinggal untuk membahas ini.


Maksud saya, agar mulai besok, yang harus perform bisa fokus ke perform.


Sisanya bisa membantu untuk mengurus soal kostum atau peralatan yang harus di


bawa.”


Bu Tasya menarik napas.


“Kalau memang kamu tidak bisa perform dengan kami, kamu mau nggak


ngelatih Matari? Ibarat permata, dia masih terendam lumpur, belum dipoles.


Kadang nadanya masih agak kasar.”


“Iya, Bu. Kalau dibanding dengan Nana, memang masih jauh banget. Itu


butuh jam terbang. Nana sendiri sudah main band dari kelas 1 sama


temen-temennya di “Cocktail Band”. Tapi dibanding yang lain, Matari cukup


lumayan.” Kata Kak Seno.


“Kalau cuma ngelatih, saya bisa. Nanti setiap pagi sebelum masuk


kelas, jam istirahat dan pulang sekolah, kita Latihan di sini 15 menit ya. Saya


mau langsung ada pengiring. Minimal gitarnya Seno aja. Biar Matari tahu harus


masuk ke lagu di nada ke berapa. Karena untuk masuk ke lagu, Matari masih belum


pas. Itu aja sih, Bu, dari saya.” Kata Kak Nana.


“Oke, untuk penyanyi sudah. Nah untuk aransemen, kamu yakin bisa minta


tolong dengan guru les kamu, Lisa?” tanya Bu Tasya sambil menoleh pada Lisa.


“Aman, sudah saya SMS. Saya minta dibuatkan campuran pop dan semi akustik.


Nanti, kalau sudah siap, kalian bisa datang ke rumah. Di rumah, Papa punya


studio band kecil. Kita bisa Latihan di sana.” Kata Lisa tanpa bermaksud


menyombongkan diri.


“Wah, gila, apa aja ada di rumah lo, Lis. Ada supermarket juga nggak di


dalemnya?” tanya Joan.


“Hahaha, nggaklah, Kak. Cuma kebetulan punya beberapa hal aja.”


“Oke, aransemen beres. Untuk membaca puisi udah pasti Citra aja ya. Dia


bagus banget penghayatannya. Kamu nggak ada niat ikut lomba puisi, Cit?”


timpal Bu Tasya.


“Nggak, Bu. Saya nggak sempet buatnya. Bukannya lombanya harus puisi buatan sendiri ya?”


“Oh, ya udah, tahun depan ikut ya.”


“Saya usahakan, ya. Hehehe.”


“Oke, semua beres ya. Matari kamu jangan lupa Latihan sambil nunggu


aransemen beres. Saya minta kalian semua kasih penampilan terbaik kalian. Siapa


tahu itu adalah bakat terpendam dan bisa diseriusin suatu saat nanti. Oke, dari


saya sekian dulu ya. Hati-hati pulangnya.”


Matari membereskan tasnya kemudian beranjak keluar. Kak Nana


menyusulnya.


“Matari, lo tahu Laluna nggak?” tanya Kak Nana.


“Nggak tahu, kak. Apa tuh kak?” timpal Matari.


“Bukan apa, tapi siapa. Mereka band pop atau jazz gitu. Kayanya cocok


sama jenis suara lo. Lo coba dengerin ya, biar bisa belajar dari cara nyanyi


vokalisnya. Kayanya setipe sama suara lo deh. Itu aja sih dari gue.” kata Kak


Nana.


“Oke, kak. Makasih infonya.”


“Ri, gue ada kasetnya Laluna di mobil. Nanti lo pinjem dulu aja selama


Latihan. Iya, dia band pop yang lagunya slow, cocok tuh ama jenis suara lo.”


Sahut Lisa kemudian.


“Hebat lo, Lis. Punya semuanya.” Puji Kak Nana takjub.


“Soalnya kalau lagi sesi foto, sambil diputerin lagu gitu kak sesuai


tema bajunya. Nah, Mama suka beliin tuh band-band, penyanyi-penyanyi baru buat


Latihan di rumah. Biar kalo di studio foto nggak kaku.” Sahut Lisa enteng.


“Oh ya? Nanti pas kalian Latihan gue mampir deh. Siapa tahu gue bisa


pinjem.”


“Silahkan, Kak. Rumah gue bisa nampung satu ekskul mading kok, kak.”


“Iya, Lisa, iyaaa….”

__ADS_1


***


__ADS_2