Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 11 Kangen


__ADS_3

Davi menghentikan Lisa yang sedang membayar dua buah aqua botol di


kantin. Aqua itu akan diberikannya pada Matari yang sedang berlatih menyanyi di


ruang ekskul mading.


“Apa sih, Dav? Kaget gue! Gue lagi bayar nih.” Kata Lisa sambil tetap


memakan lolipopnya.


“Kalian ke mana aja sih? Ekskul mading sama Panahan juga nggak


keliatan.” Tanya Davi heran.



“Eh, kalian-kalian… Matari doang kali maksudnya?” tanya Lisa.


“Iya, iya. Matari. Ke mana sih dia? Kok nggak keliatan? Masuk kan? Gue


telepon ke rumahnya Mbok… mbok siapa itu yang ngangkat teleponnya mulu. Bahkan


Sabtu aja dia nggak ada.”


“Mbok Kalis maksud lo? Iyaaa dia lagi sibuk persiapan buat lomba puisi.”


“Dia ikut? Kayanya nggak ada namanya deh di list peserta yang ditempel sama si Ben.”


“Emang. Bukan sebagai peserta. Tapi apa yah?”


Lisa tiba-tiba mendadak punya ide untuk memberikan surprise pada Davi.


“Hmmm, jadiiii, kita disuruh bantu anak Osis buat persiapan tanggal 14


Februari nanti. Lo jangan mabal ya! Kudu dateng…”


“Yah, acara ngebosenin gitu. Dan semua siswa harus nonton. Males ah!”


“Ya ampun jangan gitu dong. Matari kan panitianya, kecewa nanti kalo lo


nggak ada.”


“Iya, iya. Ya udah titip salam aja deh kalo ketemu dia.”


“Siap, bos.”


***


Saat Lisa mendekat ke ruang ekskul, samar-samar didengarnya suara Matari


mengalun pelan diiringi oleh suara gitar Kak Seno. Tidak terlalu kencang,


karena takut mengganggu kegiatan sekolah yang lain, saat itu masih jam


istirahat pertama.


Suara Matari terdengar merdu dan menggetarkan. Jauh, jauh lebih baik


dari saat terakhir kali mereka audisi, bahkan saat Latihan di rumahnya beberapa


hari yang lalu.


“Bagus ya?” tanya Kak Nana mengagetkan Lisa.


 “Iya, kak. Bagus banget. Gue ampe merinding.” Sahut Lisa.


“Iya, dia cocok banget bawain lagu itu, diaransemen ulang jadi pop slow


gitu. Progressnya oke banget hari demi hari. Padahal sempet nangis juga gue


omelin gara-gara makan gorengan.”


“Ini tanggal 12. Masih ada sisa waktu 2 hari lagi. Nanti sore tinggal


ngelanjutin lagi di rumah gue. Besok sesuai yang kakak anjurin untuk istirahat


total di rumah. Kostum udah oke, nanti Mama akan datang bantuin kita dandan.


Udah fix semua sih harusnya, Kak. Duh gue yang jadi deg-degan.”


“Kenapa? Lo kan udah biasa tampil depan banyak orang.”


“Beda, Kak. Ini pertama kalinya gue nunjukkin bakat gue kak selain jadi


foto model. Trusss… ini pertama kalinya juga Matari nyanyi di depan banyak


orang. Orang-orang harus tahu dia sebagus apa kalo nyanyi.”



“Iya, gue juga kudu nunjukkin ke Bu Tasya kalo Matari juga oke.


Gimanapun dia anak didik gue yang pertama, hahahah. Lo nggak tahu ya, gue


sampai nyari artikel di majalah gimana caranya ngelatih orang jadi penyanyi.


Dan meski jatuh bangun, dia bisa ngikutin arahan gue dalam waktu sesingkat ini.


Sudah bisa dikatakan layak dengarlah.”


“Bu Tasya udah denger dia nyanyi belum, Kak?”


“Belumlah. Sejak hari itu dia sibuk banget urus lomba puisi. Beliau kan


jadi penanggung jawab dan juga juri ya, kalau nggak salah. Nggak nyangka sih


tahun ini yang ikut banyak. Kayanya karena dipasin di hari kasih sayang ya,


jadi kayanya banyak yang mau pernyataan cinta terselubung tuh.”


“Wah kalau gitu, kita surprisein Bu Tasya aja, Kak.”

__ADS_1


“Iyaaaa, nanti gue bilang sama dia. Kalau dia langsung denger waktu hari


H aja.”


“Iya, Kak. Gue udah nggak sabar banget kak.”


“Hehehe, sama. Matari kaya boomnya nggak sih, dia kaya nggak diunggulin


terus muncul. Nyanyi pula. Biasanya manah-manahin papan bulet-bulet doang


kerjaannya.”


“Kakak harus lihat kalau dia lagi ekskul panahan.”


“Udah lihat gue.”


“Keren yak?”


“Iya, kalau cowok udah gue pacarin. Hahaha!”


***


Selasa, 13 Februari 2001


Hari itu hujan. Matari duduk dengan tenang di depan kelasnya bersama


Thea dan Lisa saat jam istirahat.


“Kita kaya udah lama banget nggak kumpul bertiga kaya gini, tahu nggak?”


kata Thea sambil membagikan snack pada kedua temannya. “Kangen juga ya.”


“Gue enggak, The. Makasih.” Kata Matari menolaknya. Dia takut kalau


snack itu akan mengganggu suaranya, karena besok dia harus menyanyi.


“Eh iya, lupa. Besok lo nyanyi ya. Sesi ke berapa lo tampil?” tanya


Thea.


“Nggak tahu, Thea. Kayanya pertengahan deh. Habis peserta ke 10


pokoknya. Ada 20an orang kan.” Jawab Matari.


“Oke, besok gue tonton deh. Lagian mau kabur juga nggak bisa. Besok gue


juga mau kasih cokelat sama Kak Ben.”


“Siap, semoga berhasil ya kita besok. Lo udah beli cokelatnya?”



“Nggak, gue bikin sendiri dong ama Ibu.” Kata Thea.


“Gue juga mau beli cokelat. Tapi buat kalian.” Kata Lisa.


“So sweeetttt….” Timpal Thea.


“Iya dong. Kan nggak harus cowok. Sahabat boleh kan?”


“Emang lo nggak mau kasih ke Iko, Ri?” tanya Thea kemudian.


“Nggak, ah. Ngapain. Males juga gue ketemu dia. Jumat kemarin kan


Pramuka libur, soalnya pada persiapan lomba puisi kan. Gue juga jadinya nggak


ketemu dia karena pulang sekolah langsung ke rumah Lisa buat Latihan.”


“Sejak sepedaan waktu itu lo belum liat dia lagi?”


Matari menggeleng.


“Kalo lo sendiri, The, sampai kapan mau diam-diam aja sama Kak Ben?” tanya


Lisa kemudian, mengalihkan pembicaraan.


“Nggaklah, gue juga tahu diri. Kak Ben kan udah punya cewek.”


“Loh, siapa?” tanya Matari heran.


“Masa kalian nggak tahu?” tanya Thea balik.


 “Kaga tahu gue, gue nggak updet soal anak Osis.” Sahut Lisa sambil mengunyah


snacknya.


 “Kalian kan satu ekskul.” Kata Thea lagi.


“Hah? Siapa maksud lo?”


“Kak Nana!”



 “SERIUS, The?”


“Iyah. Barusan kok jadiannya. Makanya Kak Ben rajin kan ke tempat


kalian.”


“Ya ampun. Kita lumayan deket sama Kak Nana tapi kita nggak tahu


apa-apa.”


“Iya, emang mereka nggak terlalu nunjukkin kalau di sekolah. Kak Ben kan


ketua Osis, lagian juga fans nya banyak. Nggak gue doang.”


“Sorry to hear that.” Kata Lisa sambil merangkul dua sahabatnya.


“Nggak papa, guys. Gue dari awal suka sama Kak Ben udah tahu bakalan

__ADS_1


gagal. Jadi ya udah, gue pasrah aja deh.”


“Besok gue akan ngehibur lo. Lagu gue bakalan gue nyanyiin khusus buat


lo. Jadi lo kudu nonton. Gue akan sepenuh hati nyanyinya.” Kata Matari


bersungguh-sungguh.


“Hei, jangkung. Nggak usah lebay deh. Besok gue akan nonton kok. Kalian


harus tampil maksimal ya.”


***


Matari meletakkan tasnya di Kasur. Sandra tampak tertidur pulas siang


itu. Kak Bulan seperti biasa belum pulang.


Kemudian telepon berbunyi. Mbok Kalis mengangkatnya.


“Non, ada telepon tuh. Udah semingguan lebih nyariin Non terus, nggak


pernah dapet.” Kata Mbok Kalis sambil masuk ke ruang tidur Matari.


“Halo, Ri…”


“Hai….”


“Apa kabar?”


“Hahahah, kenapa, Dav?”


“Kemana aja sih lo?”


“Hmmm, gue sibuk buat besok.”


“Oh iya, besok lomba puisi ya. Mulai jam berapa sih, Ri?”


“Jam istirahat kedua udah boleh masuk Gedung kok Dav.”


“AH entaran aja masuknya ah. Males gue acara gitu ngebosenin.”


“Makanya kan ada penampilan band. Ada bandnya Kak Nana trus beberapa


lagi punya anak kelas 3. Trus ada performance nya anak teater juga kok. Menurut


gue masih ada serunyalah.”


“Iyaaaa…”


“Lagian bukannya besok diawasin ketat ya, nggak boleh kabur kecuali beli


snack atau solat gitu?”


“ya gue juga nggak mau kabur. Kan ada lo di sana.”


Matari cuma tersenyum menanggapi itu.


“Ri, gue mau ngomong…”


Matari terdiam.


“Kemarin-kemarin kan gue cuma bisa liat lo dari jauh. Gila ya, lo sibuk


banget. Mau gue panggil pun nggak bisa. Bahkan Abdi pun nggak sempet gue


deketin karena ada kejuaraan bola. Gue kangen sama lo tahu, nggak?”


“Emang lo nggak ikut kejuaraan, Dav?”


Matari mengalihkan pembicaraan. Seolah-olah dia tidak dengar kata-kata


Davi yang terakhir.



“Nggak. Gue nggak mau. Gue nggak suka spotlight. Gue main cuma buat


seru-seruan aja.”


“Oh… pantesan sampe segitunya kehilangan Abdi. Tapi dia besok ada kan?”


“Ada, besok kan semua murid wajib ikut. Ri, bukan gitu, lo nggak denger


gue ngomong apa tadi?”


“Apa sih?”


“Ri, gue… ahhhh! Nggak tahulah. Lo mah, masa gue kudu ngulangin lagi?”


“Emang apaan, Dav?”


“Nggak papa, Ri. Udah ah, bikin malu aja.”


“Ya ampun, nggak jelas banget ini orang.”


“Ri, denger ya. Gue nggak suka ngulang-ngulang kalimat. Ok?”


“Iya, iya.”


“Jadi denger nggak, gue bilang apa tadi?”


Matari tertawa. “Enggak….”


“Matariiiiii…. Ah, udahlah, Ri…”


Matari tertawa-tawa merespon ucapan Davi. Dia akhirnya mengalihkan ke


pembicaraan lain. Jauh di lubuk hati Matari, dia sedikit merasa senang. Ada


yang peduli padanya.

__ADS_1


***


PS: Thank you yang udah baca dan support terus ya biar makin demen updetnya


__ADS_2