
Jumat sore yang ditunggu Matari tiba. Setelah selesai ekskul Pramuka,
topi pramukanya dia letakkan dengan sekadarnya di keranjang sepeda kemudian
bersandar di dekat pos security SMP. Dia melihat ke arah datangnya Iko. Namun
cowok berambut Ikal dan berkulit terang itu belum Nampak sama sekali.
“Nungguin siapa, Ri?” tanya Davi, kali ini dia berani mendekat ke arah
Matari. Abdi hanya mengawasi dari beberapa meter saja.
“Temen.”
“Hmmm, gitu. Gue temenin boleh?”
“Boleh. Tapi kalo dia dateng gue langsung cabut, nggak papa?”
“Iya, nggak papa. Sini, Di. Jangan di situ dong kaya patung aja.”
“Nggak mau ah. Mending gue di sini jadi patung, daripada di situ jadi
obat nyamuk.”
Matari dan Davi tertawa.
“Gue paling nggak suka Pramuka.” Kata Davi memulai topik pembicaraan.
“Kenapa?” tanya Matari heran.
“Banyak hapalannya.”
“Iya, gue juga.”
“Tapi gue liat lo rajin bikin catetan mulu, Ri selama sesi.”
“Hehe, iya. Biar nggak ngantuk.”
“Kalo gitu gue boleh pinjem catetan lo?”
“Catetan pramuka?”
“Iya.”
“Bentar ya. Gue ambil dulu di tas.” Kata Matari sambil mengambil buku
catatannya dari dalam tas kainnya yang bergambar Melati, sesuai nama grup
pramukanya. “Nih.”
Davi menerima buku itu. Kemudian dengan iseng membuka isinya.
“Gilaaa, catetan lo rapi banget. Tulisan lo juga bagus. Pantesan jadi
anak mading.”
“Ah enggak.”
“Soalnya kata orang, tulisan itu mencerminkan penulisnya.”
Baru Matari hendak menjawab, suara yang sejak tadi ditunggunya terdengar
dari jauh. “Matari!”
Raut wajah Davi berubah. Antara bingung dan bertanya-tanya. Pada saat
itu Abdi akhirnya mendekat.
“Hai. Baru kelar ya? Sorry tadi mampir dulu beli minum. Nih buat lo.
Capek kan abis Pramuka?” tanya Iko sambil mendekat dengan sepedanya.
Matari menerima botol minum itu dengan senang. Kesenangan wajah itu
terlihat jelas di wajahnya. Davi melihat perubahan sikap Matari itu dengan kesal.
“Ciyeee, Matari….” Suara Thea muncul di belakang mereka. Lisa berjalan
pelan di sebelahnya.
“Wah, gue main sama anak SMP berasa ikutan muda nih.” Celetuk Iko saat
melihat teman-teman Matari. “Tapi anak SMP sekarang bongsor-bongsor ya.
Sebentar lagi kalian bakalan nyalip tinggi badan gue.”
“Mmm, gue balik dulu ya. Yuk, Ko. “kata Matari kemudian menuntun
sepedanya bersama Iko.
Iko melempar senyum pada teman-teman Matari. Termasuk Davi dan Abdi yang
membalasnya hanya sekedarnya saja.
“Lis!” panggil Davi pada Lisa. “Ke sini bentar dong.”
Thea menatap Davi dengan enggan, melengos dan pergi dengan sikap dinginnya yang biasanya. “Gue udah dijemput Ibu. Gue duluan ya, Lis.”
Setelah Thea pergi, Lisa mendekat ke arah Davi dan Abdi.
“Tadi itu siapa ya? Cowoknya?” tanya Davi penasaran.
“Tenang… tenang… penonton harap tenang. Itu bukan cowoknya Matari.”
Sahut Lisa sambil tersenyum lebar.
Davi masih menunggu kelanjutan penjelasan Lisa.
“Iya, bukan cowoknya. Jadi, emang keluarga mereka tetanggaan dan deket. Jadi
emang sering barengan.” Kata Lisa.
“Pantesan gue sering liat dia, waktu pemakaman Omnya kemarin juga ada
kan. Trus gue pernah liat waktu pramuka minggu lalu juga.”
“Ya elu gimana sih. Katanya suka? Kemarin waktu pemakaman kenapa nggak
deketin sih? Minimal ngucapin bela sungkawa gitu loh. Disamber orang baru tau rasa.”
Tandas Lisa.
“Bukan gitu, Lis. Waktu itu gue nggak PD aja. Tapi gue kirim doa juga
__ADS_1
kok. Untuk urusan PDKT, gue kudu pelan-pelan sekarang. Nggak kaya waktu sama
Thea kemarin.”
“IYA! Lo kudu pelan-pelan. Hidup Matari itu beda sama gue, hidup dia berat. Kalo lo sampe
nambahin beban beratnya lagi, gue nggak segan-segan nyuruh supir gue buat
mukulin lo.”
“Yeeee, kok supir lo sih? Kenapa nggak lo sendiri?” tanya Abdi sambil
tertawa.
“Ya sorry lah yaw. Sayang banget tangan gue yang udah jadi asset ini
sakit karena mukul cowo kaya lo.”
“Iya, Mba Model. Jadi gimana dong? Gue kudu gimana sama Matari? Lo kan
deket sama dia. Nggak mungkinlah gue nanya-nanya sama Thea. Kasih saran dong!”
Lisa tampak berpikir. “Hmmm, santai bro. Pokoknya pelan-pelan aja. Gue nggak nyangka aja lo dari Thea langsung berubah haluan ke Matari."
“Iya emang ni bocah kan naksir waktu liat Matari panahan awalnya, Lis!”
kata Abdi kemudian.
“Waaaahhhh. Gue kasih tahu Matari ah besok! Trus trus, yang detail dong?”
“Sialan lo ya, Di! Jangan buka kartu dong!"
“Jadi waktu ekskul Panahan, kita kan iseng main bola. Trus kita ke kantin beli
minum, ngelewatin anak-anak ekskul Panahan di serbaguna. Ya, kita nonton
sebentar setelah beli minum. Penasaran aja awalnya. Biasa liat di game PS
doang, sekarang ada di depan mata. Nah ternyata waktu itu Matari lagi perform.
Tapi emang keren sih. Gue aja ikut deg-degan ngeliatnya. Trus begonya, dia
nanya dong ke gue, itu SIAPA namanya.”
Lisa tertawa ngakak. Davi hanya terkekeh-kekeh malu.
“Gue bilang, itu Matari. Masa nggak bisa ngenalin lo? Pake nanya lagi,
kok cakepan Di? Kampret banget nggak?”
“Wah parah lu. Tapi emang panahan cocok banget sama postur tubuh dia
nggak sih? Apalagi pas diiket rambutnya. Trus nge-shoot. Ya ampun, gue sampe
nganga. Thea juga keren waktu basket, tapi ya udah, dia nggak ngapa-ngapain
emang keren dari sononya. Aura leader kan beda ya. Berwibawa gitu loh. Calon
pemimpin masa depan.”
“Sebenernya karena kita aja yang nggak pernah lihat orang main panahan
secara live, jadi kaya takjub!” kata Davi membela diri.
“Manaaa ada, ****? Lo aja akhirnya nggak balik-balik ke lapangan.
Ngeliatin Matari terus. Besokannya pas Pramuka lo juga ngeliatin dia terus.
Sampe akhirnya mohon-mohon tanyain nomor rumahnya sama gue.” kata Abdi setengah
Lisa tertawa menatap dua temennya yang saling pukul-pukulan dengan
setengah bercanda.
***
Matari mengerem sepedanya kemudian turun. Di depannya Iko juga melakukan
hal yang sama.
“Besok minggu pagi, gue mau sepedaan sama temen-temen gue. Lo mau ikut
nggak?” tanya Iko pada Matari.
“Boleh… boleh…” Matari langsung bersemangat.
“Tapi abis subuh jalannya. Gimana? Kepagian nggak?” tanya Iko.
“Nggak sih kayanya. Jam berapa lo jemputnya?”
“Jam 5 lo udah siap ya.”
“Sippp. Ya udah gue masuk dulu ya. Eyang udah ngintip-ngintip tuh di
jendela. Makasih ya, Ko.”
“Anytime…”
Matari meletakkan sepedanya di samping mobil kijang milik keluarga
Sandra. Kemudian membuka pintu rumah dengan hati-hati. Di ruang tamu, tampak
Eyang Putri sedang membaca koran hari itu. Dia tahu, sebelumnya Eyang telah
mengintip dari jendela rumah dan pasti segera kembali duduk saat Matari
mendekat.
“Assalamualaikum, Eyang.”
“Walaikumsalam. Pulang bareng Iko, Ri?”
“Iya, Yang, kebetulan ketemu tadi di tengah jalan.”
“Oh. Iko anak yang baik, lho. Mamanya juga baik banget sama Eyang. Makanya
kamu jangan berani macem-macem sama dia.”
“Apa lagi sih, Yang? Harusnya Iko dong yang ditegur gitu. Biasanya anak
cowo tuh yang suka macem-macem ke anak cewek polos kaya dia.” Timpal Kak Bulan
yang muncul dari arah ruang keluarga.
“Ya siapa tahu kan. Di rumah ini semuanya bandel-bandel. Cape Eyang kalo
__ADS_1
mikirin kalian semua.”
“Ya enggak usah dipikirin, Yang. Udah tua, banyakin ibadah.”
“Eeeee…. Kurang ajar kamu!”
“Ya eyang juga sih ngomel-ngomel mulu.”
Matari meninggalkan keduanya yang masih saling sahut menyahut ke
kamarnya. Di sana, Sandra tampak murung sambil mencoret-coret buku
pelajarannya.
“Lagi apa, San?” tanya Matari sambil merebahkan diri di sebelah Sandra.
Sandra sekilas. “Kangen banget sama Papa, Ri…”
Matari menarik napas. “Iya, gue tahu rasanya. Gue juga masih suka kangen
sama Mama sampe sekarang. Yang sabar ya. Lo harus kuat dan tabah buat Tante
Dina. Kalian cuma berdua sekarang. Kalian harus saling menguatkan satu sama
lain.”
“Gue suka iri sebenarnya sama kalian. Gue nggak ada sodara. Jadi
rasanya sepi.”
“Kan ada gue, Sandra. Gue juga sodara lo. Kak Bulan emang kadang
ngeselin. Tapi dia sayang banget sama gue, sama lo. Cuma emang agak galak aja dia.”
“Iya. Gue kayanya bakalan lama di sini. Nanti bulan Juni, Mama akan urus
kepindahan ke sekolah lo. Rumah lama gue akan dikontrakkan. Nanti kalau laku,
rumah Eyang akan direnov jadi dua lantai. Kak Bulan akan tetep di bawah. Kita
akan masing-masing punya kamar sendiri di lantai dua.”
Matari terdiam mendengar penjelasan itu.
“Semua atas permintaan Eyang. Nyokap gue mana berani ambil keputusan
kaya gitu. Kata Eyang, kita semua akan semakin besar. Dan pasti akan punya
privasi masing-masing. Eyang bilang, dulu rumah ini cuma ada 3 kamar. Cuma
tante Marini yang pakai kamar ini sendirian. Karena dia satu-satunya anak
perempuan. Sedangkan 3 saudara laki-lakinya berbagi kamar di kamar utama. Dan
itu berantem mulu. Makanya cuma Tante Marini yang nilainya bagus.
Saudara-saudaranya karena sibuk berantem daripada belajar, nilainya pas-pasan.”
“Wow, nggak nyangka gue, Eyang mikirin kita.”
“Gue juga nggak nyangka dia mikirin kita segitunya.”
“Tapi Eyang emang ngutamain pendidikan dari dulu. Karena katanya dia
dulu orang bodoh. Cuma sampe sekelas SD aja. Kata dia, dulu suka nggak nyambung
sama istri-istri pejabat lain. Suka minder. Lo tahu kan, Eyang Kakung pernah
ngejabat jadi staffsus presiden di era Soeharto di tahun 70an.”
“Iya. Makanya bokap gue segitunya juga sama Pendidikan. Cuma karena beliau sudah pergi, Mama sekarang yang gantian ngepush gue."
***
Hari Minggu pagi tiba. Sabtu kemarin tidak ada yang menarik bagi Matari.
Hanya Davi yang menelepon sesuai jadwal, seperti yang pernah dijanjikannya. Namun, Matari tidak
terlalu tertarik dengan obrolan Davi. Untuk mengelabuhi Eyang, Matari pun
sampai membawa LKS nya sambil pura-pura mengerjakan soal bersama lewat telepon.
Yang dia tunggu adalah hari ini, ajakan Iko naik sepeda bersama teman-temannya.
Matari memegang erat sepedanya ketika dua sosok yang memakai sepeda
datang mendekat. Iko tak sendiri pagi itu. Ada cewek lain yang bersepeda di
sebelahnya.
Kupu-kupu yang menari di perut Matari seakan-akan berubah menjadi landak yang
durinya menusuk-nusuk perut dan hatinya.
“Kenalin, Ri. Ini Raline. Raline, ini Matari. Tetangga gue yang selama
ini gue ceritain sama lo. Yang jadi petugas mading juga di sekolahnya. Kaya
lo.” Kata Iko sambil memandang cewek di sebelahnya dengan tatapan yang berbeda seperti kepada Matari selama ini.
Dan Matari tahu itu. Padangan yang sama seperti saat Davi menatap Thea
dulu.
“Ya ampun, she’s cute. Pantesan lo ngomong kaya nemu adik perempuan.
Hai, Matari. Aku Raline. Temennya Iko.” Sapa gadis yang bernama Raline itu
ramah sambil menyodorkan tangannya.
Matari membalas uluran tangan Raline dengan enggan.
“Yuk, ngobrolnya lanjut nanti lagi ya. Yang lain udah pada nunggu di
Lapangan Banteng.” Kata Iko kemudian.
Matari mengikuti keduanya. Semangat yang dikumpulkannya beberapa hari
menguap dalam hitungan menit.
Adik perempuan? Hah!
Semburat cahaya fajar di ujung langit menandakan bahwa hari itu akan
cerah, meskipun saat itu masih berada di musim penghujan, bulan Januari. Namun
tidak bagi Matari. Dia mengayuh sepedanya dengan enggan, menatap dua orang yang
sedang kasmaran di depannya dengan kesal.
__ADS_1
***
PS: Support terus ya gaes, biar makin semangat updatenya ^^