Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 9 Fajar yang Tak Selalu Indah


__ADS_3

Jumat sore yang ditunggu Matari tiba. Setelah selesai ekskul Pramuka,


topi pramukanya dia letakkan dengan sekadarnya di keranjang sepeda kemudian


bersandar di dekat pos security SMP. Dia melihat ke arah datangnya Iko. Namun


cowok berambut Ikal dan berkulit terang itu belum Nampak sama sekali.


“Nungguin siapa, Ri?” tanya Davi, kali ini dia berani mendekat ke arah


Matari. Abdi hanya mengawasi dari beberapa meter saja.


“Temen.”


“Hmmm, gitu. Gue temenin boleh?”



“Boleh. Tapi kalo dia dateng gue langsung cabut, nggak papa?”


“Iya, nggak papa. Sini, Di. Jangan di situ dong kaya patung aja.”


“Nggak mau ah. Mending gue di sini jadi patung, daripada di situ jadi


obat nyamuk.”


Matari dan Davi tertawa.


“Gue paling nggak suka Pramuka.” Kata Davi memulai topik pembicaraan.


“Kenapa?” tanya Matari heran.


“Banyak hapalannya.”


“Iya, gue juga.”


“Tapi gue liat lo rajin bikin catetan mulu, Ri selama sesi.”


“Hehe, iya. Biar nggak ngantuk.”


“Kalo gitu gue boleh pinjem catetan lo?”


“Catetan pramuka?”


“Iya.”


“Bentar ya. Gue ambil dulu di tas.” Kata Matari sambil mengambil buku


catatannya dari dalam tas kainnya yang bergambar Melati, sesuai nama grup


pramukanya. “Nih.”


Davi menerima buku itu. Kemudian dengan iseng membuka isinya.


“Gilaaa, catetan lo rapi banget. Tulisan lo juga bagus. Pantesan jadi


anak mading.”


“Ah enggak.”


“Soalnya kata orang, tulisan itu mencerminkan penulisnya.”


Baru Matari hendak menjawab, suara yang sejak tadi ditunggunya terdengar


dari jauh. “Matari!”


 



Raut wajah Davi berubah. Antara bingung dan bertanya-tanya. Pada saat


itu Abdi akhirnya mendekat.


“Hai. Baru kelar ya? Sorry tadi mampir dulu beli minum. Nih buat lo.


Capek kan abis Pramuka?” tanya Iko sambil mendekat dengan sepedanya.


Matari menerima botol minum itu dengan senang. Kesenangan wajah itu


terlihat jelas di wajahnya. Davi melihat perubahan sikap Matari itu dengan kesal.


“Ciyeee, Matari….” Suara Thea muncul di belakang mereka. Lisa berjalan


pelan di sebelahnya.


“Wah, gue main sama anak SMP berasa ikutan muda nih.” Celetuk Iko saat


melihat teman-teman Matari. “Tapi anak SMP sekarang bongsor-bongsor ya.


Sebentar lagi kalian bakalan nyalip tinggi badan gue.”


“Mmm, gue balik dulu ya. Yuk, Ko. “kata Matari kemudian menuntun


sepedanya bersama Iko.


Iko melempar senyum pada teman-teman Matari. Termasuk Davi dan Abdi yang


membalasnya hanya sekedarnya saja.


“Lis!” panggil Davi pada Lisa. “Ke sini bentar dong.”


Thea menatap Davi dengan enggan, melengos dan pergi dengan sikap dinginnya yang biasanya.  “Gue udah dijemput Ibu. Gue duluan ya, Lis.”


Setelah Thea pergi, Lisa mendekat ke arah Davi dan Abdi.


“Tadi itu siapa ya? Cowoknya?” tanya Davi penasaran.


“Tenang… tenang… penonton harap tenang. Itu bukan cowoknya Matari.”


Sahut Lisa sambil tersenyum lebar.



Davi masih menunggu kelanjutan penjelasan Lisa.


“Iya, bukan cowoknya. Jadi, emang keluarga mereka tetanggaan dan deket. Jadi


emang sering barengan.” Kata Lisa.


“Pantesan gue sering liat dia, waktu pemakaman Omnya kemarin juga ada


kan. Trus gue pernah liat waktu pramuka minggu lalu juga.”


“Ya elu gimana sih. Katanya suka? Kemarin waktu pemakaman kenapa nggak


deketin sih? Minimal ngucapin bela sungkawa gitu loh. Disamber orang baru tau rasa.”


Tandas Lisa.


“Bukan gitu, Lis. Waktu itu gue nggak PD aja. Tapi gue kirim doa juga

__ADS_1


kok. Untuk urusan PDKT, gue kudu pelan-pelan sekarang. Nggak kaya waktu sama


Thea kemarin.”


“IYA! Lo kudu pelan-pelan. Hidup Matari itu beda sama gue, hidup dia berat. Kalo lo sampe


nambahin beban beratnya lagi, gue nggak segan-segan nyuruh supir gue buat


mukulin lo.”


“Yeeee, kok supir lo sih? Kenapa nggak lo sendiri?” tanya Abdi sambil


tertawa.


“Ya sorry lah yaw. Sayang banget tangan gue yang udah jadi asset ini


sakit karena mukul cowo kaya lo.”


“Iya, Mba Model. Jadi gimana dong? Gue kudu gimana sama Matari? Lo kan


deket sama dia. Nggak mungkinlah gue nanya-nanya sama Thea. Kasih saran dong!”


Lisa tampak berpikir. “Hmmm, santai bro. Pokoknya pelan-pelan aja. Gue nggak nyangka aja lo dari Thea langsung berubah haluan ke Matari."


“Iya emang ni bocah kan naksir waktu liat Matari panahan awalnya, Lis!”


kata Abdi kemudian.


“Waaaahhhh. Gue kasih tahu Matari ah besok! Trus trus, yang detail dong?”


“Sialan lo ya, Di! Jangan buka kartu dong!"


“Jadi waktu ekskul Panahan, kita kan iseng main bola. Trus kita ke kantin beli


minum, ngelewatin anak-anak ekskul Panahan di serbaguna. Ya, kita nonton


sebentar setelah beli minum. Penasaran aja awalnya. Biasa liat di game PS


doang, sekarang ada di depan mata. Nah ternyata waktu itu Matari lagi perform.


Tapi emang keren sih. Gue aja ikut deg-degan ngeliatnya. Trus begonya, dia


nanya dong ke gue, itu SIAPA namanya.”


Lisa tertawa ngakak. Davi hanya terkekeh-kekeh malu.


“Gue bilang, itu Matari. Masa nggak bisa ngenalin lo? Pake nanya lagi,


kok cakepan Di? Kampret banget nggak?”


“Wah parah lu. Tapi emang panahan cocok banget sama postur tubuh dia


nggak sih? Apalagi pas diiket rambutnya. Trus nge-shoot. Ya ampun, gue sampe


nganga. Thea juga keren waktu basket, tapi ya udah, dia nggak ngapa-ngapain


emang keren dari sononya. Aura leader kan beda ya. Berwibawa gitu loh. Calon


pemimpin masa depan.”


“Sebenernya karena kita aja yang nggak pernah lihat orang main panahan


secara live, jadi kaya takjub!” kata Davi membela diri.


“Manaaa ada, ****? Lo aja akhirnya nggak balik-balik ke lapangan.


Ngeliatin Matari terus. Besokannya pas Pramuka lo juga ngeliatin dia terus.


Sampe akhirnya mohon-mohon tanyain nomor rumahnya sama gue.” kata Abdi setengah


Lisa tertawa menatap dua temennya yang saling pukul-pukulan dengan


setengah bercanda.


***


Matari mengerem sepedanya kemudian turun. Di depannya Iko juga melakukan


hal yang sama.



“Besok minggu pagi, gue mau sepedaan sama temen-temen gue. Lo mau ikut


nggak?” tanya Iko pada Matari.


“Boleh… boleh…” Matari langsung bersemangat.


“Tapi abis subuh jalannya. Gimana? Kepagian nggak?” tanya Iko.


“Nggak sih kayanya. Jam berapa lo jemputnya?”


“Jam 5 lo udah siap ya.”


“Sippp. Ya udah gue masuk dulu ya. Eyang udah ngintip-ngintip tuh di


jendela. Makasih ya, Ko.”


“Anytime…”


Matari meletakkan sepedanya di samping mobil kijang milik keluarga


Sandra. Kemudian membuka pintu rumah dengan hati-hati. Di ruang tamu, tampak


Eyang Putri sedang membaca koran hari itu. Dia tahu, sebelumnya Eyang telah


mengintip dari jendela rumah dan pasti segera kembali duduk saat Matari


mendekat.


“Assalamualaikum, Eyang.”


“Walaikumsalam. Pulang bareng Iko, Ri?”


 



“Iya, Yang, kebetulan ketemu tadi di tengah jalan.”


“Oh. Iko anak yang baik, lho. Mamanya juga baik banget sama Eyang. Makanya


kamu jangan berani macem-macem sama dia.”


“Apa lagi sih, Yang? Harusnya Iko dong yang ditegur gitu. Biasanya anak


cowo tuh yang suka macem-macem ke anak cewek polos kaya dia.” Timpal Kak Bulan


yang muncul dari arah ruang keluarga.


“Ya siapa tahu kan. Di rumah ini semuanya bandel-bandel. Cape Eyang kalo

__ADS_1


mikirin kalian semua.”


“Ya enggak usah dipikirin, Yang. Udah tua, banyakin ibadah.”


“Eeeee…. Kurang ajar kamu!”


“Ya eyang juga sih ngomel-ngomel mulu.”


Matari meninggalkan keduanya yang masih saling sahut menyahut ke


kamarnya. Di sana, Sandra tampak murung sambil mencoret-coret buku


pelajarannya.


“Lagi apa, San?” tanya Matari sambil merebahkan diri di sebelah Sandra.


Sandra sekilas. “Kangen banget sama Papa, Ri…”


Matari menarik napas. “Iya, gue tahu rasanya. Gue juga masih suka kangen


sama Mama sampe sekarang. Yang sabar ya. Lo harus kuat dan tabah buat Tante


Dina. Kalian cuma berdua sekarang. Kalian harus saling menguatkan satu sama


lain.”


“Gue suka iri sebenarnya sama kalian. Gue nggak ada sodara. Jadi


rasanya sepi.”


“Kan ada gue, Sandra. Gue juga sodara lo. Kak Bulan emang kadang


ngeselin. Tapi dia sayang banget sama gue, sama lo. Cuma emang agak galak aja dia.”


“Iya. Gue kayanya bakalan lama di sini. Nanti bulan Juni, Mama akan urus


kepindahan ke sekolah lo. Rumah lama gue akan dikontrakkan. Nanti kalau laku,


rumah Eyang akan direnov jadi dua lantai. Kak Bulan akan tetep di bawah. Kita


akan masing-masing punya kamar sendiri di lantai dua.”


Matari terdiam mendengar penjelasan itu.


“Semua atas permintaan Eyang. Nyokap gue mana berani ambil keputusan


kaya gitu. Kata Eyang, kita semua akan semakin besar. Dan pasti akan punya


privasi masing-masing. Eyang bilang, dulu rumah ini cuma ada 3 kamar. Cuma


tante Marini yang pakai kamar ini sendirian. Karena dia satu-satunya anak


perempuan. Sedangkan 3 saudara laki-lakinya berbagi kamar di kamar utama. Dan


itu berantem mulu. Makanya cuma Tante Marini yang nilainya bagus.


Saudara-saudaranya karena sibuk berantem daripada belajar, nilainya pas-pasan.”


“Wow, nggak nyangka gue, Eyang mikirin kita.”


“Gue juga nggak nyangka dia mikirin kita segitunya.”


“Tapi Eyang emang ngutamain pendidikan dari dulu. Karena katanya dia


dulu orang bodoh. Cuma sampe sekelas SD aja. Kata dia, dulu suka nggak nyambung


sama istri-istri pejabat lain. Suka minder. Lo tahu kan, Eyang Kakung pernah


ngejabat jadi staffsus presiden di era Soeharto di tahun 70an.”


“Iya. Makanya bokap gue segitunya juga sama Pendidikan. Cuma karena beliau sudah pergi, Mama sekarang yang gantian ngepush gue."


***


Hari Minggu pagi tiba. Sabtu kemarin tidak ada yang menarik bagi Matari.


Hanya Davi yang menelepon sesuai jadwal, seperti yang pernah dijanjikannya. Namun, Matari tidak


terlalu tertarik dengan obrolan Davi. Untuk mengelabuhi Eyang, Matari pun


sampai membawa LKS nya sambil pura-pura mengerjakan soal bersama lewat telepon.


Yang dia tunggu adalah hari ini, ajakan Iko naik sepeda bersama teman-temannya.


Matari memegang erat sepedanya ketika dua sosok yang memakai sepeda


datang mendekat. Iko tak sendiri pagi itu. Ada cewek lain yang bersepeda di


sebelahnya.



Kupu-kupu yang menari di perut Matari seakan-akan berubah menjadi landak yang


durinya menusuk-nusuk perut dan hatinya.


“Kenalin, Ri. Ini Raline. Raline, ini Matari. Tetangga gue yang selama


ini gue ceritain sama lo. Yang jadi petugas mading juga di sekolahnya. Kaya


lo.” Kata Iko sambil memandang cewek di sebelahnya dengan tatapan yang berbeda seperti kepada Matari selama ini.


Dan Matari tahu itu. Padangan yang sama seperti saat Davi menatap Thea


dulu.


“Ya ampun, she’s cute. Pantesan lo ngomong kaya nemu adik perempuan.


Hai, Matari. Aku Raline. Temennya Iko.” Sapa gadis yang bernama Raline itu


ramah sambil menyodorkan tangannya.


Matari membalas uluran tangan Raline dengan enggan.


“Yuk, ngobrolnya lanjut nanti lagi ya. Yang lain udah pada nunggu di


Lapangan Banteng.” Kata Iko kemudian.


Matari mengikuti keduanya. Semangat yang dikumpulkannya beberapa hari


menguap dalam hitungan menit.


Adik perempuan? Hah!


Semburat cahaya fajar di ujung langit menandakan bahwa hari itu akan


cerah, meskipun saat itu masih berada di musim penghujan, bulan Januari. Namun


tidak bagi Matari. Dia mengayuh sepedanya dengan enggan, menatap dua orang yang


sedang kasmaran di depannya dengan kesal.

__ADS_1


***


PS: Support terus ya gaes, biar makin semangat updatenya ^^


__ADS_2