Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 23 Persiapan Sebelum Pensi


__ADS_3

“Kayanya lagu kedua mesti diganti deh. Nggak cocok banget sama suara Matari, tahu nggak?” tanya Lisa akhirnya. “Kecuali, lo bikinnya akustik. Suara Matari tuh cocoknya di lagu slow gitu loh.”


Saat itu liburan ujian nasional sudah sepenuhnya usai. Masih tersisa beberapa hari menjelang pensi dan sekaligus pesta perpisahan anak kelas 3.


Gilang menatap teman-temannya di ruang studio band milik Lisa. Hampir semuanya merasa sepakat dengan ucapan Lisa barusan. Gilang mengecek materi lagunya yang kedua. Lagu kedua yang direncanakan oleh mereka adalah My Sacrifice dari Creed, namun jelas itu tak cocok dengan tipe suara Matari. Si kembar hanya berbisik-bisik di dekat Reza, si drummer dari kelas mereka yang ditunjuk.


“Kenapa bisik-bisik?” tanya Gilang kesal.


“Menurut gue, coba lo tanya sama Matari aja, dia mau lagu apa. Nanti buat materinya, kita sama-sama cari. Kalau Matari suka, dia akan enjoy nyanyinya. Kaya lagu pertama. Kalian udah pas banget tuh, kan duet,” kata Reza menengahi. “Gue suka sih lagu kedua, lebih ngerock. Karena yaaaa, gue suka musik rock. Cuma, kalau dipasin


sama suara Matari aneh banget. Jangan marah ya Ri, bukan berarti suara lo jelek. Cuma kaya nggak pas aja. Kecuali kaya Lisa bilang tadi, lagunya dibuat bener-bener akustik. Gue nggak ada sama sekali tabuh drum. Paling gue ganti krincingan aja ya, hahaha.”


“Lagu Indo aja yang gampang udah…,” saran Ricko sambil meletakkan gitarnya bahunya terasa sakit. Rocky dengan sigap memijat-mijat bahu kembarannya itu.



Matari menatap teman-teman satu kelasnya dengan tatapan tak enak hati.


“Hmmm…. Maaf ya….,” kata Matari akhirnya.


“Ngapain lo minta maaf? Emang nggak cocok kok sama suara lo. Lang, tegesin aja, mau gimana nih? Minggu depan udah pentas. Waktu kita mepet banget. Udah cari lagu yang gampang aja. Lagu tahun jebot juga nggak papa. Matari cocok banget nyanyiin lagu-lagu lama,” kata Lisa lagi.


“Iya iya. Nanti gue cariin yang bagus. Matari, nanti lo kalo ada saran kasih tahu gue ya. Besok harus udah ada ide. Yang lain nggak usah ikut-ikutan. Kebanyakan ide bikin pusing nanti aransemennya,” tandas Gilang menyetujui. “Oke, udah jam 6-an nih. Pulang dulu aja. Besok sepulang sekolah kita ketemu lagi. Untung ekskul masih pada libur. Jadi kita bisa fokus Latihan.”


Semuanya menarik napas. Lelah. Matari membereskan barang-barang bawaannya diikuti yang lain. Rocky mendekatinya dengan perlahan-lahan.


“Cowok lo mana?” tanya Rocky penasaran saat dilihatnya Davi tak tampakdi manapun. Bahkan memang sudah sering tidak ikut datang Latihan.


“Bukan cowo gue, Rock. Kenapa sih nanyain dia? Kalau dia ada kalian gue liat, sama sekali nggak ngobrol, giliran nggak ada, ditanyain,” jawab Matari.


“Nggak usah marah, dong. Gue cuma penasaran aja. Kok tumben si Davi nggak nemenin lo?”


“Nggak. Dia sama anak-anak ekskul sepakbola lain lagi nonton Abdi. Ada kejuaraan di Soemantri. Kalian nih cowok-cowok kok nggak pada nonton sih?”


“Ya kan latihan band sama elu. Udahlah, paling kita cuma sampe perempat final kaya biasanya,” sahut Gilang tak peduli.


“Eh kita temenin lo pulang ya,” ajak Rocky.


“Nggak bisa, Rock. Rumah lo sama gue nggak searah. Lagian gue punya sepeda. Nggak bisa kita gonceng bertiga. Bisa jebol!” tandas Matari sambil mengeluarkan kunci gembok sepedanya.


***


Matari mencari buku chord musik punya Sandra di kamarnya. Sandra lumayan rajin membeli dan mengkoleksi buku-buku chord musik. Berbeda dengan Bulan yang rajin membeli majalah Aneka Yes!, Bulan lebih suka ke buku-buku sejenis itu. Dulu, internet aksesnya belum semudah sekarang. Chord musik masih dijual dalam bentuk buku atau majalah. Lain Bulan, lain Sandra, lain pula dengan Matari. Dia kadang membeli novel atau komik setiap beberapa bulan mengumpulkan uang jajannya. Jika belum terkumpul dia kadang pergi ke persewaan komik atau novel yang menjamur di beberapa tempat.


Sandra memang tidak bisa main musik apapun, namun dia suka menghafalkan lirik lagu dan menyetel musiknya di Boombox, semacam tape pemutar musik yang berwarna metalik, yang hits di jaman itu. Boombox juga sudah bisa menyetel cd sekaligus. Namun tidak bisa dihubungkan ke tv. Boombox portable. Bisa dibawa dengan memakai baterai. Bisa juga dicolokkan ke listrik seperti perangkat elektrik lainnya.



“Emang lo nyari lagu jenis apa sih?” tanya Sandra dari tempat tidurnya.


“Lagu lama gitu. Kata mereka cocok sama tipe suara gue,” sahut Matari sambil membolak-balik majalah chord musik dengan buru-buru.

__ADS_1


Di kamar Sandra, musik Westlife dengan album Coast to Coast mengalun pelan di boombox miliknya. Saat Matari masuk ke kamar Sandra, ternyata beberapa poster band barat sudah tertempel di salah satu sudut dindingnya. Eyang Putri mungkin akan marah melihat itu, namun Sandra tampak tak peduli, karena menurutnya, Eyang


termasuk jarang naik ke lantai dua karena usianya.


“Hmmm, gue nggak tahu kalo manggung, lo kaya apa. Tapi gue ada lagu bagus nih. Nyanyiin buat gue dong. Mumpung gue kangen bokap,” kata Sandra, kemudian membuka majalah chord musik beberapa seri yang lalu.


Matari menatap halaman itu. “Ebiet G. Ade, Titip Rindu Buat Ayah? Hah? Yang mana tuh? Nggak tahu gue….”


Sandra tersenyum. “Papa ada kok kasetnya. Dulu suka diputer di mobil. Bentar ya. Gue setelin dulu. Lo denger baik-baik ya. Bagus kok lagunya.”


Lagu Ebiet G. Ade mulai mengalun. Sandra mengikuti lirik lagu tanpa teks. Dia hapal di luar kepala. Untuk yang satu ini memang ingatan Sandra luar biasa.


Setelah 5 menitan lagu itu berlalu, Sandra mematikan tapenya. Menatap Matari.


“Gimana?”


“Terlalu lagu jadul nggak sih?”


“Heiii, Ebiet G. Ade yang ini sama Rinto Harahap yang kemarin lo nyanyiin itu lebih jadul punya Rinto. Ini emang agak lebih sedih sih. Eh tapi cocok banget sama suara lo. Plis yaaah, nyanyiiin. Nanti gue liat. Pensi kalian selalu terbuka untuk umum kan?”


Matari mengangguk. “Coba gue nanti infoin ke Gilang. Makasih yaaa sarannya…,”


“Bintang tamu tahun ini siapa?”


“Element.”


“Lah? Pas banget? Favorit lo kan?”


“Menurut gue pribadi sih oke ya, si Element itu. Beda gitu sama Dewa atau Padi. Gimana yah. Semoga long lasting ya macem Dewa.”


“Iya, semoga…”


***


Keesokan harinya, Matari mendekati meja Gilang dan memberikan majalah chord musik itu pada Gilang di bagian halaman yang sudah ditandai. Gilang belum memberikan keputusan, namun nanti ketika jam istirahat, dia akan memberi tahu pada anggota band yang lain. Dia sendiri belum menemukan lagu lain yang pas. Sehingga cuma bisa pasrah pada permintaan Matari.


“Ada yang bawa gitar nggak sih? Kita coba dulu yuk.” tanya Lisa kemudian setelah Gilang memberikan informasi padanya dan teman-teman yang lain mengenai lagu pilihan Matari.


“Di kapel ada,” celetuk Thea sambil menunjuk ke arah kapel. “Mau gue pinjemin?”


“Wah, boleh banget tuh bu ketu. Tolong ya….!” Seru Gilang senang.


Thea beranjak dan menarik Lisa. “Lo ikut gue, biar Matari di sini sama mereka.”


Tersisa Gilang, Matari, Ricko dan Reza duduk di dalam kelas berdekatan. Mereka tampak bingung. Hans tiba-tiba datang dengan tertawa.


“Wah, band kelas gue briefing nih? Serius amat?” tanya Hans.


“Diem aja lo. Dasar pengkhianat!” cibir Gilang.


“Sorry. Gue waktu itu ngga ada pilihan lain. Kalian lama banget cuma ngebujuk Matari doang. Sekarang ada masalah apa lagi?” sahut Hans sambil berdiri di antara mereka.

__ADS_1


“Lagunya masih belum pas,” kata Gilang.


“Hmmm gitu. Emang apaan? Gini ya, gue saranin, kalian harus cari yang pas sama dia,” kata Hans sambil menunjuk Matari. “Lo kasih materi lagu rock kaya yang dibawa Kak Nana misalnya, yang sama-sama vokalis band cewek, itu jelas nggak bisa. Matari tipe vokalnya nggak kaya gitu. Kalian yang harus adaptasi sama tipe suara dia. Kalo Kak Nana selain menang jam terbang, dia emang keren nyanyi lagu apa aja. Lagu slow bisa jadi lagu rock buat dia. Kalo Matari masih pemula. Bedalah. Lagian biar jenis musiknya bisa beragam. Gue dapet info,


hampir 80 % yang nyanyiin lagu rock atau alternatif gitu. Dan cuma ada dua band yang vokalisnya cewek. Band Kak Nana dan band lo. Nggak usah idealislah itu lagu favorit lo, Lang. Lo kudu sesuaiin sama Matari. Bukan Matari yang nyesuaiin lo.”


“Gue setuju sih sama dia,” kata Ricko menimpali.


Matari hanya diam saja. Menunggu Gilang, si ketua band angkat bicara. Namun Gilang masih menimbang-nimbang. Sampai akhirnya Thea datang bersama Lisa sambil membawa gitar di punggungnya.


“Kata Bu Dharma, lagi nggak dipake. Boleh kita pinjem sampai minggu depan sebelum pensi, tapi rajin dibalikin aja. Karena ngga boleh nginep di rumah siapapun dari kita, termasuk ninggalin di dalam kelas nggak ada yang jaga. Jadi setiap pagi kalian ambil kunci ruangan kapel ke Pak Agus, sore balikin. Pokoknya tanggung jawab


gue limpahin ke Lisa dan Gilang. Matari dan yang lain ngga usah. Oke?” kata Thea panjang lebar.


"Oke. Makasih banyak, Bu Ketu!" sahut Gilang sambil mengambil gitar dan mengeluarkannya dari dalam tasnya.


Semua orang fokus memperhatikannya. Ricko sama sekali tak menyentuh, dia tahu, Gilang ingin memamerkan skill gitarnya pada anak-anak di kelas mereka. Gilang memang pintar bermain gitar. Akustik atau yang listrik. Kakak laki-lakinya adalah seorang pemain band cafe ke cafe. Saat di rumah, Gilang selalu minta diajarkan bermain gitar yang benar dan enak untuk didengar. Untuk itulah Gilang sama sekali tidak merasakan kesulitan membawakan semua lagu.


“Ri, nanti gue itung 1..2…3 lo nyanyi ya?” tanya Gilang.


“Pas itungan ketiga atau habis hitungan ketiga?” seru Matari.


“Hadeeehhh, susah emang ngomong sama anak pinter. 1…2…lo nyanyi, gitu maksud gue,” sahut Gilang sambil menyetel gitar akustik dengan piawai agar sesuai dengan nada yang seharusnya.


“Oke, oke….,”


Semua terdiam. Beberapa siswa di kelas 1 F yang baru pulang dari kantin, ikut menonton dari tempat mereka duduk. Beberapa ada yang berdiri di dekat Matari, ingin tahu.



Intro mengalun pelan. Gilang menatap matari sambil menghitung. 1…2…


“Dimatamu masih tersimpan selaksa peristiwa


Benturan dan hempasan terpahat dikeningmu


Kau nampak tua dan lelah


keringat mengucur deras


Namun kau tetap tabah


Meski nafasmu kadang tersengal


Memikul beban yang makin sarat


Kau tetap bertahan”


“Kencengan dikit, Ri. Udah pas kok ini dinyanyiin dia…,” ujar Ricko menyarankan.


Matari menurut, melanjutkan nyanyian itu hingga selesai. Saat selesai, siswa di kelasnya bertepuktangan.

__ADS_1


“Nih ya, jangan cuma tepuk tangan. Nanti pas pensi, pada dateng lho ya. Dukung band kelas kita ini supaya rame!” seru Thea sekaligus ambil kesempatan.


__ADS_2