Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 13 Takut


__ADS_3

Abdi menatap sahabatnya yang sedang menggambar mobil F1 acakadul di buku


tulisnya. Saat itu pelajaran Matematika. Semua anak kelas 1 B, sesuai absen mendapat


giliran mengerjakan soal di depan. Abdi dan Davi yang termasuk abjad awal sudah


mendapat giliran. Sehingga mereka hanya duduk-duduk mengobrol sambil


berpura-pura memperhatikan.


“Gimana, gimana, kapan nembaknya?” tanya Abdi setengah berbisik.


“Nggak bisa sekarang. Gue kudu pelan-pelan, Di. Matari itu kaya bunga


yang nggak berani sama sekali gue sentuh, takut rusak.” Sahut Davi.


“Hmmm, tapi waktu Thea dulu lo maju terus pantang mundur.”


“Beda. Thea sama Matari beda banget. Matari itu background keluarganya


aja udah kaya gitu kan. Gue beberapa kali denger cerita dari Lisa aja, gue jadi


kasihan sama dia. Gue nggak mau nyakiti dia. Jadi gue kudu pelan-pelan banget.”



“Masalahnya, Dav, pesona Matari pas perform di lomba puisi kemarin itu


gokil banget. Lo kudu siap ya, kalau misalkan ada orang lain yang ngedahuluin


elo.”


Davi menatap sahabatnya dengan kesal. “Kok ngomong gitu sih?”


“Ini gue ngomong kenyataan. Asal lo tahu ya, Udah banyak orang ya


ngajakin dia gabung main band.”


“Diterima?”


“Ya kagaklah. Matari katanya udah banyak ekskul. Capek katanya.”


“Tuh kan, kalo anak cewek lain pasti mau. Dia itu pikirannya nggak bisa


ditebak, Di. Dia banyak spekulasi soal dirinya sendiri dan orang lain. Itu yang


gue lihat. Dia anaknya hati-hati banget.”


“Iya, Bujaaaang. Lagian sebenernya Matari ke lo gimana sih, menurut lo sendiri ya?”


Davi menyandaran dirinya ke tembok. “Nggak tahu juga gue. Masih lampu


orange. Bukan Merah kaya si Thea waktu itu ya.”


“Trus cowok keriting yang waktu itu gimana?”


“Oh, temen sepedaannya ya. Katanya udah punya cewek.”


“Baguslah kalo gitu. Tinggal nunggu berubah jadi hijau aja, bro. Cuma lo kudu sabar.”


***


Abdi meletakkan tasnya di ruang ekskul ketika Matari datang.


“Hai, Di.”



“Yooo, bu vokalis, gimana, udah ada yang nyangkut tawaran main bandnya?”


“Nggak ah. Nanti aja kelas 2 kayanya lebih enak.”


“Mendingan mulai Latihan iseng-iseng dari sekarang, Ri. Biar nanti kelas


2 udah mulai serius main.” Usul Kak Nana sambil meletakkan tas ranselnya.


“Bukan gitu, Kak. Sekarang itu udah banyak kegiatan. Pengen sehari dua hari


di rumah aja.”


“Beda, Kak Nana. Dia tuh pengen di rumah aja, soalnya ada yang rajin


neleponin.” Ledek Abdi sambil mengganti sepatu sneakersnya dengan sepatu bola.


“Sialan lo!” seru Matari sambil melempar Abdi dengan buku tulis.


“Aduuuh, sakit, Ri. Gila lo yaaaaa, gue minggu depan udah kejuaraan nih.


Kalo gue gegar otak, lo tanggung jawab ya!”


“Mana ada orang gegar otak karena buku tulis. Dah sana pergi!”


“Iya, iya, bawel! Mau salam nggak?”


“Siapa?”


“Temen guelah, Ri. Yang matanya beloooo…”

__ADS_1


“Idih, udah sana pergi!”


“Ciyeee, mukanya merah!”


Abdi segera pergi sambil tertawa-tawa meninggalkan dirinya dan Kak Nana.


“Jadi gimana?”


“Gimana apa, Kak?”


“Lo sama temennya Abdi.”


“Kak NANA!”



“Sante aja dong ngga usah merah gitu mukanya! Emang lo nggak mau sama dia?”


“Bukan gitu, Kak….”


“Kenapa lagi sih? Mumpung masih muda, lo harus banyak pengalaman.


Mumpung ada yang suka sama lo, kenapa nggak? Biar lo tahu, cowok di luar sana ada yang BENER ada juga yang NGGAK BENER. Gimana lo mau tahu, kalo nggak kenal deket?”


Matari berpikir sejenak. “Kan kita beda agama, Kak. Terus takut juga sama Eyang.”


“Ya ampun AGAMA, ngga usah dipikirin. Emang lo mau kawin sekarang? Buat seru-seruan aja. Buat temen pulang biar nggak sendirian di jalanan. Tapi saran gue, Kalo lo emang mau jalan sama dia, lo juga harus tetep memperhatikan nilai-nilai akademis lo. Biar balance.”


“Nah itu dia kak.”


“Udah pelan-pelan aja. Nggak usah buru-buru. Gue liat anaknya baik. Bedalah kalo sama hmmm siapa tuh playboy cap udang angkatan gue, si Joan. Di depan aja lagaknya cuma sama Indah, tapi gebetan seangkatannya sendiri aja banyak. Indah aja yang kagak tahu.”


“Btw, Kakak pertama pacaran umur berapa?”


“Gue? kelas 6 SD kayanya. Cuma seminggu, hahahah.”


“SD? Ya ampun kak, gue SD masih sibuk ngumpulin kertas surat warna-warni.”


***


Selesai ekskul, ternyata Davi sudah menunggu di dekat lapangan bola.


“Matari, aku temenin pulang ya. Udah sore banget.”



“Terus, nanti lo gimana pulangnya? Gue bawa sepeda, Dav. Mendingan lo pulang sama Abdi.”


“Iya, sepedanya aku yang pake, kamu gonceng aja, bisa kan?”


Matari memperhatikan sepedanya sendiri. Selama ini dia belum pernah membonceng sama sekali.


“Santai, aku pernah nemu jalanan kecil yang bisa motong jalan bisa ke kompleksku. Deket kok cuma 15 menit.”


“CIYEEEEEE, DAVIAN….. MAJU TERUS DAV, JANGAN KASIH KENDOOOORR!” ledek anak-anak sepakbola dari arah lapangan.


“Udah biarin aja! Mereka emang suka gitu. Yuk, aku anter. Bentar, aku ambil tas aku dulu yaaa.”


Davi mengambil tasnya yang diletakkan begitu saja di lapangan. Setelah itu memakai jaketnya. Hal yang aneh bagi Matari, karena jarang melihat Davi memakai jaket di sekolah.


“Sini, mana sepedanya.” Kata Davi sambil merebut sepeda itu dengan lembut.


Dengan sigap, Davi duduk di sadel depan. Matari masih mematung memperhatikan sikap Davi yang tidak disangka-sangkanya akan seperti itu.


“Kok diem aja? Ayo naik…”


Matari menurut kemudian duduk dengan sikap kikuk di belakang Davi.


“Kamu bawain tas aku ya. Trus pegangan, nanti jatuh.”


Matari hanya berani memegang tepian sadel dengan sikap ragu. Diam-diam Davi tersenyum senang menyadari Matari duduk begitu dekat dengannya saat ini. Hanya jarak beberapa centimeter saja.


“CIYEEEEEEE, remaja tahun 80-an nih naiknya SEPEDA!” team sepakbola terdengar meledek Davi sambil tertawa-tawa.


“Maaf ya mereka emang suka rese. Maklum team bola tuh nggak ada Pembina resminya. Paling ganti-gantian antara guru olahraga yang sempet ngawasin. Jadi kamu lihat aja, bar-bar semuanya kalo lagi nggak ada siapa-siapa yang ngawasin.”


Matari cuma tersenyum tipis. Ini pertama kalinya dia dibonceng laki-laki


lain selain Ayahnya. Bahkan saat bersama Iko, dia tak pernah duduk sedekat itu.


Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang dari saat bersama Iko. Kupu-kupu berterbangan di perut Matari. Kali ini tidak hanya satu, tapi BANYAK. Saat itu otaknya terus menerus menolak kenyataan bahwa hatinya telah berpaling dari anak SMA kelas 1 bernama Mariko Pratama.


Dari jauh, Thea hanya memperhatikan dengan seksama. Dalam hatinya, ada


rasa sakit. Bukan karena dia menyukai Davi, tidak, bahkan melirik pun tidak. Bukan. Baginya hanya ada Kak Ben


seorang untuk saat ini. Namun dia merasa, perhatian yang selama ini pernah didapatkannya,


dengan mudahnya telah beralih ke orang lain. Sahabatnya sendiri. Dan yang


menyakitkan adalah Matari bersikap seolah-olah menyembunyikan semua itu dari dirinya.


***


Keesokan paginya, hari Kamis, Matari berjalan pelan menuju tempat


duduknya yang berada di sebelah Thea. Thea sudah datang dan tampak hanya

__ADS_1


bermalas-malasan di mejanya. Dia sama sekali tidak menyapa Matari.


“Kenapa?” tanya Matari pada Lisa yang duduk di belakang mereka, menunjuk


Thea secara diam-diam.


“Nggak tahu. Waktu gue dateng udah kaya gitu.” Sahut Lisa.


Matari meletakkan tas perlengkapan ekskul panahannya dengan hati-hati.


“Masih setia aja di panahan, Ri?” tanya Gilang.



“Masih dong.”


“Eh, anak-anak kelas kita, ngajakin nge-band. Gabung yuk. Iseng aja. Nanti kalau oke


kita tampil di pensi sekolah.” Kata Gilang. “Sebagai perwakilan kelas aja.”


Matari tersenyum dan menarik napas. “Emang pensi kapan?”


“Masih lama sih, mungkin kaya di bulan bulan Juni? Juli? Setelah anak kelas 3 pengumuman kelulusan. Sekaligus perpisahannya mereka.”


“Siapa aja?” tanya Matari.


“Ada gue, Lisa, lo, nanti drummer bakalan si Reza, terus gitar nanti si Hans. Gue pegang bass sih.” Sahut Gilang kemudian. “Bisa?”


“Hmmm, gue pikir-pikir dulu yah.”


“Kenapa? Anak mading bakalan ngeluarin pentas lagi?”


“Belum tahu, nggak ada omongan apa-apa sih.”


“Tolong ya, Ri. Lisa udah mau lho. Soalnya kita butuh suara cewek. Rencananya


kita akan bawa lagu-lagu pop aja, sesuai jenis suara lo. Soalnya gue nggak


ngerti lagi mau minta tolong siapa.”


Gilang memohon sambil mengedip-kedipkan matanya.


“Jijay deh lo. Gue pikir-pikir dulu ya… soalnya gue lagi banyak kegiatan.”


“Brak!!!”


Seluruh penghuni kelas 1 F yang tadinya rusuh seperti pasar, langsung


hening. Matari pun kaget saat melihat ternyata Thea yang menggebrak meja dengan


kasar dan langsung keluar kelas.


“Widiiih, kenapa, tu?” tanya Gilang.


Matari dan Lisa bertatapan sambil saling mengangkat bahu.


***


Sepanjang sisa hari itu, Thea tidak kembali ke kelas. Dia beralasan


sakit karena nyeri haid dan hanya tiduran di UKS saja. Bu Jen hanya memberi


informasi pada Matari dan Lisa, jika Tante Irma, ibu Thea baru bisa menjemput


sepulang sekolah. Untuk itu saat pulang sekolah nanti Bu Jen meminta Matari dan


Lisa untuk bisa membawakan tas dan barang bawaan Thea lainnya ke UKS.


Saat datang ke UKS dan membawakan barang-barang Thea, Bu Jen tidak


tampak di mana-mana. Namun tas kerjanya masih ada di salah satu sudut ruangan.


“Theanaaaa…” panggil Matari pelan sambil masuk ke dalam bilik murid perempuan.


Thea masih berbaring. Didapatinya kedua sahabatnya mendekat. Namun aura


wajahnya datar saja, tidak menunjukkan rasa senang atau apa.


“Udah baikan, The?” tanya Lisa.



“Lumayan….” Sahut Theana pendek.


“Ini barang-barang lo ya. Ibu jemput jam berapa?” tanya Matari sambil meletakkan tas dan tote bag Thea yang berisi minuman dan seragam basket.


“Nggak tahu. Nanti ke sini, kok. Udah kalo kalian mau pulang, pulang aja.” Kata Thea dingin.


“Lo kenapa sih? Dari tadi nggak mau ngajak ngobrol?” tanya Lisa kemudian.


Thea mengangkat bahu. “Kalian yang kenapa?”


Matari menatap Thea. “Jujur, Thea, kita berdua sama-sama nggak tahu. Lo ada masalah sama kita?”


Thea cuma mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Oke, kalo nggak mau ngomong ya, udah. Nggak papa. Kita akan beri lo waktu. Tapi jangan lama-lama ya.” Kata Lisa kemudian sambil menarik Matari keluar.

__ADS_1


***


ps: Hai, siapa yang suka sama Giulio Parengkuan (Iko), author suka banget sama dia. Meskipun di sini bukan tokoh utama, Tapi lumayan buat cuci mata. Thank you yang udah setia baca.


__ADS_2