
Selama 13 tahun hidupnya, Matari bisa menghitung berapa kali dia pergi berlibur bersama keluarganya. Dulu, saat Ibunya masih ada, liburan akan diisi secara monoton. Matari dan Bulan akan secara bergantian di antar pergi ke Jakarta ke tempat Eyang.
Atau ke tempat keluarga Ibu Matari yang jauh di daerah Semarang. Namun itu pun hanya sesekali, karena berpergian ke Semarang membutuhkan biaya yang cukup lumayan. Paling sering dia akan menghabiskan waktu liburan di rumah Eyang saja. Sedangkan Kak Bulan akan berjalan-jalan sendiri tanpa dirinya keliling Jakarta bersama teman-teman barunya entah darimana.
Bulan bisa dengan mudah mendapatkan teman di perpustakaan nasional, museum atau tempat-tempat yang dia datangi lainnya. Berbeda dengan Matari, dia hanya akan bermain bersama Sandra jika sepupunya itu ikut datang juga. Jika tidak, Matari akan berjalan sedikit ke Gramedia dan membaca gratis di sana, mencari buku yang telah lepas dari bungkusnya.
Sekarang, meskipun semuanya sudah berubah, Matari tetap suka menyendiri. Dia tidak merasa keberatakan jika harus menghabiskan waktu di kamar, menyewa buku novel dan komik sebanyak mungkin. Menghabiskan waktu liburannya hanya dengan membaca.
“Ri, tadi dicariin sama Iko,” kata Eyang saat Matari baru bangun tidur siang dan akan mengambil makan siang di meja makan.
“Ke sini, Yang?” tanya Matari.
“Iya. Dia minta izin sama Eyang, buat izinin kamu untuk nemenin dia liburan ke Anyer. Soalnya dia butuh satu cewek lagi buat nemenin Rali…?”
“Raline, Eyang.”
“Iya, Raline.”
“Eyang sih setuju aja, toh kamu pergi sama Indira juga. Tapi kamu harus tetap izin sama Ayah kamu. Gimanapun dia adalah orangtua kamu juga.”
Matari mengangguk. Sebenarnya agak malas untuk pergi ke mana-mana. Sedikit merasa sedih saat menyadari, Davi sudah lama tidak menghubunginya. Matari pikir, jenuh juga berada di rumah. Sandra pergi ke rumah neneknya bersama Ibunya. Bulan seperti biasa latihan paskibraka di sekolahnya, karena sebentar lagi sudah bulan Agustus, dia harus banyak latihan menjelang upacara kemerdekaan.
Setelah Matari makan siang, dia meminta izin Eyangnya untuk menelepon Ayahnya yang berada di kantor, untuk meminta izin pergi berlibur dengan keluarga Iko. Entah ada angin apa, Ayahnya menyetujui tanpa banyak syarat
selain harus sopan dan menuruti Tante Indira selama di sana.
“Ya sudah, beri kabar ke Iko sana. Sekalian kamu tolongin Eyang buat beli benang warna putih di warung Mba Sari,” ujar Eyang Putri sambil memberikan uang beberapa lembar. “Sisanya kamu beliin es krim buat Iko juga, ya. Jadi ke sana nggak bawa tangan kosong.”
Matari mengangguk. Setelah pamit, Matari mengeluarkan sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat menuju warung Mba Sari untuk membeli benang putih pesanan Eyang. Es krim di warung Mba Sari adalah es krim homemade buatan sendiri yang selalu laris manis. Untungnya saat itu masih tersisa beberapa lagi untuk dibeli Matari sesuai anjuran Eyangnya.
Saat tiba di rumah Iko, secara mengejutkan Iko sudah menunggunya di depan rumah. Matari memberikan es krim yang dibelinya, kepada Iko, dan satu lagi untuk dirinya sendiri. Matari enggan masuk, seperti biasa menyandarkan sepedanya di pintu gerbang dan duduk lesehan bersama di depan gerbang.
“Gue sengaja nungguin elo. Tadi gue lihat dari kamar elo lewat ke arah
warung Mba Sari.” Kata Iko sambil memakan es krim yang diberikan Matari
padanya. “Makasih ya, es krimnya.”
“Makasih sama Eyang. Nggak tahu, lagi baek dia.”
“Ri, nggak selamanya orang itu jahat. Eh bukan jahat sih. Maksud gue…”
“Iya, gue paham," sahut Matari memotong, dia merasa malas harus membahas soal Eyang dengan Iko saat itu.
“Jadi gimana? Lo ikut kan ke Anyer?”
Matari tersenyum. “Iya. Secara ajaib juga, Ayah ngizinin.”
“Iyalah. Mama udah nelepon duluan sebenarnya ke Ayah sama Eyang lo. Terus tadi gue datang buat nanyain lagi. lusa ya, kita berangkat. Ada baju renang nggak?”
__ADS_1
Matari meringis. “Gue nggak bisa renang, Ko. Jadi nggak tahu juga baju renang gue ada di mana. Harus bawa ya?”
“Ya kan kita ke pantai. Kalau ke gunung ya bawa jaketlah!”
“Hmm, nanti coba gue pinjam Sandra atau Bulan deh.”
“Nah gitu dong. Lo nggak bisa renang? Mau gue ajarin? Tuh di rumah, kolam renang gue nganggur. Paling Mama doang yang sering pake kalo sore.”
“Hahaha, nggak ah. Malu gue. Gue nggak bisa sama sekali, Ko.”
“Ri, kelas 2 nanti bukannya ekskul wajibnya renang ya di sekolah lo? Lo kudu bisa tahu!”
“HAH? Serius? Kata siapa lo?”
“Eh wajib atau ada penilaiannya ya? Nggak tahu, ah. Gue juga cuma denger aja. Mendingan lo belajar dari sekarang. Di rumah gue aja, gratis.”
Matari menatap kolam renang Iko yang besar dan bersih.
“Lo kudu bisa, Ri. Inget ya, negara Indonesia itu negara kepulauan. Artinya kebanyakan punya garis pantai. Dan sebagai warga negara yang baik, lo kudu bisa berenang. Apalagi kalau Jakarta banjir. Walau daerah kita nggak pernah kena sih. Tapi who knows kan di masa depan?”
Matari cuma tersenyum. “Lo mah ngomongnya gampang karena lo punya kolam renang. Buat gue, berenang aja olahraga yang mahal tahu.”
Iko terdiam sejenak, merasa tak enak hati. “Iya, makanya lo bisa belajar di rumah gue. Nanti gue bilang sama Mama. Pasti dia ngizinin deh. Yakin 100 %.”
Matari hanya mengangguk pasrah. “Btw, yang ikut ke Anyer siapa aja? Kok tumben ngajak gue?”
“Karena kita pesan 3 kamar, Ri. Mama kan sama Papa sekamar. Gue sama temen deket gue, si Kamal. Raline nggak mungkin sendirian dong. Daripada ngajak temen Raline yang Mama nggak kenal, dia minta gue ajak elo. Kasihan anak bawang di rumah terus. Hahahah!”
Iko berhenti tertawa seketika. Tidak enak pada Matari lagi.
“Sorry, sorry. Bukan maksud gue ya. Jadi nggak enak hati sama lo.”
“Ah, santai. Gue nggak tersinggung, kok. Kalo mau jujur ya, emang gue kadang iri aja sama temen-temen bisa liburan ke sana ke sini. Sayangnya, yaaaa gue kan kebetulan butuh effort lebih kalau mau liburan dibanding orang lain. Daripada itu gue lebih suka nyewa komik atau novel buat dibaca.”
“Hmmm, gue sih biasanya ya liburan aja sama Mama Papa. Lo tahu kan kadang mereka masih keinget soal abang gue yang udah nggak ada. Mama tuh kadang masih suka ngelamun di deket kolam renang. Jadi, jalan satu-satunya ya pergi liburan biar mereka bisa teralihkan sebentar.”
Matari menatap langit sore itu yang cerah dan memberikan semburat warna orange yang indah. Matari menyadari, semua keluarga memiliki masalahnya sendiri-sendiri.
***
“Nggak ada gue. Lo tahu kan, gue nggak bisa renang juga,” sahut Sandra di telepon, saat Matari menelepon rumah neneknya, untuk menanyakan baju renang. “Kak Bulan gimana?”
“Nggak muat. Dia kan lebih kurus dibanding gue. Lebih tinggi pula.” Sahut Matari.
“Hmmm, kalau misalkan celana legging sama tanktop mau nggak? Dalemannya sport bra aja warna item jadi nanti ngga gitu nerawang. Saran gue sih ya. Gimanapun juga mereka itu bukan keluarga, nggak enak kan kalau terlalu tipis. Apalagi kalau kaos, lebih parah nerawangnya. Mendingan tanktop tapi warna gelap juga. Nanti pake
luaran handuk kimono. Gue ada semua tuh, kalo modelan kaya gitu.”
“Ya udah deh, kaya gitu aja. Ada semua kan di lemari lo?”
__ADS_1
“Yoi. Pake ransel gue aja yang biasa buat pramuka. Itu muat banyak. Jangan lupa sendal jepit atau sandal gunung yang cepet keringnya. Jangan pake sepatu, ribet kalau basah. Bikin sesimpel mungkin karena lo nebeng liburan keluarga orang.”
“Iya, iya. Siap, nanti gue acak-acak kamar lo ya.”
“Btw, gimana? Udah izin belom?”
“Sama Ayah? Sama Eyang? Kan tadi gue udah bilang, kalau Tante Indira malah curi start ngasih info duluan. Jadi gue aman…”
“Bukaaaan. Bukan mereka. Cowok lo lah.”
“Hah? Apaan sih?”
“Apaan, apaan? Davi udah tahu belom lo bakalan pergi sama Iko?”
“Oh, dia. Udah lama nggak nelepon. Terakhir waktu class meeting, sebelum terima rapor.”
“Wah, tumben. Biasanya rajin absen kalo nyokap gue bilang, hahaha.”
“Hmmm, lagi liburan juga kali.”
“Nggak penasaran?”
“Nggaklah.”
“Beneran? Are you sure?”
“Bener.”
“Lo kapan mau jadian sama dia?”
“Kenapa tiba-tiba nanya itu sih?”
“Kagak. Gue iseng aja. Kita nanti masuk udah kelas 2. Inget ya, Ri, di kelas 2, apapun bisa terjadi. Kalo lo sekelas sama Davi gimana?”
“Ya ampun! Jangan ngomong gitu, dong! Gue beneran nggak mau sekelas ama dia.”
“Kan lo sendiri yang bilang, kelas 2 nanti akan diacak. Gue sih seneng kalau sekelas ama lo. Kalau lo yang sekelas ama dia gimana?”
Matari terdiam. Hal itu tak pernah dipikirkannya sebelumnya. Sekelas dengan Davi? Mungkinkah?
“Terus, selama dua minggu liburan kenaikan kelas ini, bisa aja dia udah nggak suka sama lo lagi. Misalnya aja dia ketemu cewek yang menurutnya lebih menarik daripada lo selama liburan, gimana hayo?”
Matari memainkan ujung rambutnya.
“Kok diem? Nggak, nggak. Bercanda gue. Udah sana siap-siap. Besok lo berangkat kan? Hati-hati ya. Salam buat keluarganya Tante Indira. Mama juga titip salam nih.”
“Iya, nanti disalamin. Ya udah ya. Have fun!”
Matari meletakkan telepon. Di sebelahnya, Eyang Putri sudah stand by untuk mengunci kembali telepon. Setelah berbasa-basi sebentar, Matari naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Sandra. Menyalakan AC dan numpang tiduran sebentar. Dia memutuskan untuk nanti malam saja mempersiapkan tas ranselnya untuk pergi liburan ke Anyer.
Matanya menatap ke langit-langit kamar. Dia sadar, tanpa ada kegiatan apa-apa seperti ini rasanya sepi sekali. Tak ada seorang pun yang menemaninya. Mendadak dia merasa ingin sekali mengobrol lagi dengan Davi, membicarakan hal yang penting seperti biasanya. Inikah yang namanya rasa rindu?
__ADS_1