Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 15 Malam Minggu Matari


__ADS_3

Saat tiba di rumah, Eyang Putri belum tampak di mana-mana. Menurut info dari Mbok Kalis, Eyang Putri pergi bersama rombongan arisannya menjenguk seorang tetangga lain di RSCM yang tengah dirawat karena sakit lambung.


Tante Dina dan Sandra sedang berkunjung dan berencana menginap di rumah mereka sekaligus bebersih. Kak Bulan belum pulang, seperti biasa ada Latihan paskibraka di sekolahnya. Ayah belum tampak kehadirannya, biasanya setelah magrib tiba.


Saat Matari sedang mengobrol dengan Mbok Kalis yang sedang menyiram tanaman di depan rumah, Iko tiba-tiba lewat. Dia menghentikan sepedanya dan masih menggunakan seragam SMAnya.



“Halo, Ri, Mbok Kalissss…. Lama nggak ketemu…” sapa Iko.


Mbok Kalis tersenyum tanpa menjawab apa-apa. Matari hanya melempar senyum tipis dengan enggan.


Tanpa disuruh, Iko memasukkan sepedanya di pekarangan rumah dan duduk di sebelah Matari.


“Lama nggak keliatan, Ri. Jumat masih Pramuka kan? Kok gue nggak pernah ketemu lo lagi. Tadinya mau gue tungguin, tapi lo nggak pernah keliatan di pos security. Gue tunggu 10 menitan di halte, terus gue balik deh. ” Kata Iko memulai obrolan.


“Iya, Pramuka sempet ditiadakan. Trus minggu berikutnya ada, cuma gue pulang belakangan aja, Ko.” Sahut Matari kemudian.


“Kangen nih ngobrol sama lo. Gimana? Semua sehat kan?”


“Alhamdulillah.”


“Maaf Mas Iko, mau minum apa?” tanya Mbok Kalis sambil menggulung selang air dan dikembalikan ke tempatnya.


“Air putih aja, Mbok. Haus nih abis sepedaan.”


Mbok Kalis mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Matari menatap sepeda Iko yang tampaknya baru.


“Sepeda baru ya?” tanya Matari.


“Iya. Yang lama dijual, ada yang nawar.” Sahut Iko. “Bagus nggak? Mau nyoba? Ini bisa atur kecepatan loh.”


“Hehehe, nggak usah, Ko. Ketinggian buat gue kayanya.”


“Kagaklah, tinggi lo aja udah mau ngejer gue. Bisa, bisa, ke sini deh.”


Karena Iko agak memaksa sambil menarik tangan Matari, tanpa sengaja wajah mereka berhadapan begitu dekat. Membuat Matari kikuk, Iko pun juga.


“Sorry, sorry.” Iko mundur selangkah, Matari refleks melakukan hal yang sama.


“Nggak, nggak papa.” Sahut Matari kemudian.



Mbok Kalis keluar membawa segelas air putih dingin. Iko segera meminumnya sampai habis,


“Gile, gelasnya bocor ya Mbok?” goda Matari pada Mbok Kalis.


Iko tertawa. “Haus banget gue. Panas banget tadi.”


“Nggak jalan sama Kak Raline?” tanya Matari pada Iko.


“Nggak tahu, nanti malam mungkin? Lo sendiri?”


“Nggak tahu juga.”


“Nggak tahu? Lo udah punya pacar dong berarti? Yang mana nih yang mana?”


“Bukan, Ko. Bukan, maksud gue, gue nggak tahu ntar malam keluar atau nggak sama bokap.”


“Ya elaaah, ngeles aja lo kaya bajaj. Jadi belom ada, Ri?”


“Belom.”


“Kenapa?”


Matari tersenyum. “Ya nggak papa.”

__ADS_1


Jawaban Matari yang mengambang, diartikan berbeda oleh Iko.


“Wah, adek gue kayanya bentar lagi punya pacar nih. Nanti kalau ada, kenalin ke gue yah. Gue kudu screening dulu layak nggak macarin lo.”


“Yeeee, apaan sih?”


Kemudian Iko pamit pulang. Mendengar soal Raline dan lain-lainnya, Matari sudah tidak sakit hati lagi seperti sebelumnya. Saat itu, Matari menyadari, mungkin perasaannya pada Iko sudah hilang entah ke mana. Secepat itu. Iya, secepat itu.


***


Setelah magrib, rumahnya masih sepi. Belum ada satupun yang tampak batang hidungnya. Bahkan Ayahnya pun belum terdengar suara motornya masuk ke dalam pekarangan. Telepon berdering, Matari mengangkatnya dengan cepat. Sepertinya dia menyadari kalau dia sedikit menunggu telepon itu di malam minggunya saat ini. Daripada memikirkan Iko yang sudah punya cewek lain.


“Halo…”


“Halo, Ri. Lagi apa?” suara Davian terdengar.


“Lagi duduk, di sebelah meja telepon.”


“Udah tahu. Hahahaha. Kamu nggak malam mingguan?”


“Nggak pernah. Hehehe.”


“Kamu anak rumahan ya?”


“Mungkin yaaaa… gue suka aja kalau harus di rumah nggak ngapa-ngapain. Tidur-tiduran doang, nonton film di tv atau nonton kartun. Sesimpel itu.”


“Kapan-kapan boleh nggak, aku ke sana?”


“Ngapain?”


“Main aja.”


“Iyaaa, kalau gue ada di rumah ya.”


“Eh, Ri, suara lo bagus deh. Nyanyi dong.”


“Iya. Aku mau denger lagi. Cuma kali ini aku aja yang jadi pendengar kamu.”


“Malu, ah.”



“Kan aku nggak liat. Anggap aja aku ngga ada.”


“Malu ama orang rumah. Dikira gue gila kali nelepon sambil nyanyi.”


“Hahaha, iya juga.”


Tapi kemudian Matari menyadari rumahnya saat itu sedang sepi.


“Mau denger?”


“Apa?”


“Seandainya aku punya sayap… Terbang, terbanglah aku… Kucari dunia yang lain.. Untuk apa disini…? Seandainya dapat kau rasakan… Kejam, kejamnya dunia… Tiada lagi keadilan… Untuk apa ku disini…”


“Udah, udah Ri, nggak usah pake reff…”


“Hahhaa, untung belum bablas…”


“Kalau sampe reff, sampe selesai, aku bisa…”


Davi terdiam.


“Woi, bisa apaan?”


“Bisa nggak bisa tidur semaleman. Keinget suara kamu terus.”

__ADS_1


“Ya ampun, gombal.”


Meskipun begitu Matari merasa pipinya memanas dan memerah.


“Kamu udah makan?”


“Belum. Rumah masih sepi. Nunggu rame kali.”


“Emang pada ke mana?”


“Nggak tahu. Eyang pergi sama temen-temen arisan. Sepupu gue, Sandra, yang bokapnya meninggal waktu itu, sama Mamanya pergi ke rumahnya sebentar, beberes. Kakak gue masih Latihan paskibra di sekolah kayanya.”


“Kakakmu paskibra?”


“Iya.”


“Wah, keren amat. Eh tapi emang sekeluarga kamu tinggi-tinggi ya?”


“Iya, tapi kakak gue lebih tinggi. Bokap tinggi sih, jadi gue ama kakak nurun gen nya dari beliau. Begitu…”


“Iya, kita sama tingginya.”


“Pernah ngukur?”


“Kan berapa kali kamu jalan disebelah aku, Ri. Aku iseng aja merhatiin.”


“Kalo lo, anak ke berapa?”


“Aku anak ke dua. Aku masih ada kakak, kelas 1 SMA. Cewek.”


“Oh, gitu. Tapi kayanya sepi juga tuh rumah lo, Dav? Nggak ada suara apapun.”


“Enggak juga sih, aku di kamar aja. Kakakku kalo malam minggu pacaran. Kalau Mami sama Papi lagi ke gereja, ada ibadah.”


Saat Davi mengucapkan gereja. Matari sejenak menyadari, meskipun akhirnya misalkan, Matari bisa suka pada Davi, tapi apakah itu mungkin? Merekan kan berbeda agama.


“Matari, kamu pernah pacaran?”


Pertanyaan Davi selanjutnya itu, membuat Matari semakin terdiam.


“Kalau lo?”


“Waktu SD pernah, tapi cuma bentar.”


Matari tertawa. “Gue SD aja cuma mikirin kertas surat wangi warna-warni, Dav. Terus tukeran sama temen. Atau kalo nggak nonton kartun di tv.”


“Hahahaha, aku juga nonton kartun waktu SD kok. Cuma waktu itu aku yang dikejer-kejer, karena kasihan ya udah aku terima aja. Cuma 2 minggu kok.”


“Kayanya gue kuper kali ya, Dav. Jadinya gue kaya nggak kenal soal cinta-cintaan gitu dari kecil, hahaha.”


“Nggak, kok. Aku malah suka sama yang kuper-kuper kaya kamu. Anak rumahan, aku juga nggak masalah. Malah aku pikir, kamu nggak usah banyak keluar-keluar, biar nggak banyak yang naksir. Biar aku aja.”


Matari tertawa, terbahak-bahak. Sambil menutupi jantungnya yang berdegup kencang tak beraturan. Rasanya ingin berteriak. Campur aduk dan entah kenapa ada sedikit rasa senang. Tapi dia sadar, saat itu tak mungkin. Dia masih belum yakin apa yang akan diharapkannya pada Davi. Banyak hal yang tak bisa dia ungkapkan. Banyak ketakutan yang membuatnya ragu. Agama adalah salah satu dari sekian banyak pertimbangan yang ada. Namun masih banyak lagi.


“Assalamualaikum…” Ayah Matari masuk, sambil menyapa.


“Waalaikumsalam….” Sahut gue. “Bentar ya, Dav. Bokap gue dateng.”


“Besok lo di rumah nggak? Tanya Davi.


“Di rumah sih kayanya. Paling sepedaan pagi-pagi.”


“Sendirian? Apa sama si keriting?”


“Hahahaha. Sendirian aja, Dav. Udah ya, see you.”


Matari menutup teleponnya dengan cepat. Kemudian berjalan mendekat ke arah Ayahnya untuk menjabat tangannya seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2