
Matari membuka matanya lagi. Saat dilihatnya jam tangannya, sudah pukul 7 pagi. Dia ternyata ketiduran lagi. Samar-samar terdengar suara Iko dan Raline dari arah area dapur. Matari mendongakkan kepalanya. Tampak olehnya Iko dan Raline tengah memasak mie instan bersama sambil bersenda gurau. Matari menarik napas lega.
“Good morning, putri tidur. Enak bobo di sofa?” sapa Iko saat melihat Matari terbangun dan memperhatikan dirinya.
“Hehehe. Maaf ketiduran…,” kata Matari sambil mengucek-ucek matanya.
“Sorry ya, semalam mau bangunin elo tu nggak enak, ya udah gue biarin aja di situ. Udah nyenyak banget kayanya,” sahut Iko sambil mengambil mangkok yang memang disediakan oleh fasilitas hotel. “Mau mie nggak? Sarapan baru dianter ke kamar sekitar jam 9 nan. Soalnya sekalian punya Mama Papa. Mereka masih jogging.”
Matari menggeleng, kemudian berjalan pelan ke arah kamar mandi, buang air kecil dan cuci muka sebentar. Saat di kamar mandi, Matari teringat pada saat subuh tadi. Saat dia terbangun dan Iko dan Raline tak ada di mana-mana. Sempat kembali ke kamarnya sendiri, namun dia tak bisa membukanya dari luar. Entah karena terkunci dari dalam atau karena Matari mengantuk sehingga dirinya tidak bisa mengakses pintu hotel dengan benar.
Mungkin saat itu Iko dan Raline ikut kedua orangtuanya jogging subuh-subuh bersama-sama. Mengingat apa yang
dikatakan Pak Raden bahwa dia semalam harus mengambil sepatu milik kedua majikannya yang tertinggal di dalam mobil.
Saat Matari keluar kamar, Raline dan Iko tampak makan bersama di sofa bekas dirinya tidur. Duduk berdua dan saling suap-suapan. Bukan pemandangan baru yang mengejutkan bagi Matari, karena sudah beberapa kali melihat mereka bersama dalam kondisi mesra maupun bertengkar satu sama lain.
“Kak Raline, gue ke kamar ya!” seru Matari sambil merogoh kartu akses di saku celananya.
Raline cuma berdehem dan Iko hanya mengucapkan entah hati-hati atau nanti ke sini lagi ya, sekilas, yang tidak terlalu dipedulikan Matari. Dia sedikit risih sebenarnya melihat orang bermesra-mesraan di dekatnya.
Setiap orang memang berhak menunjukkan rasa sayangnya dengan caranya sendiri. Namun, karena hal itu bukan hal yang sering diekspresikannya serta keluarganya secara terang-terangan, tentu saja itu membuat dirinya tak terlalu nyaman.
***
Setelah sarapan bersama di kamar Iko, Matari memutuskan jalan-jalan sendiri ke bawah. Ternyata Dian mengikutinya. Anak kecil itu berjalan di belakang Matari, yang baru disadari Matari saat hendak memasuki lift.
“Dian ikut kakak ya?” tanya Dian dengan tatapan memohon.
Matari mengangguk. Kemudian menggandengnya.
“Kakak mau ke mana?” tanya Dian lagi.
“Nggak tahu. Kakak kayanya mau cari wartel)*.”
“Dian tahu kak. Kemarin pas ke sini sama Bunda naik motor, Dian sempet lihat.”
“Jauh?”
“Ng… lupa kak. Kayanya sih enggak.”
“Oh, kalo gitu kakak tanya sama orang hotel aja.”
“Kenapa kakak nggak pakai telepon di kamar? Dian lihat ada kok!”
Matari tentu tahu di setiap kamar hotel ada teleponnya. Hanya saja, untuk telepon keluar area hotel tentu dikenakan biaya tambahan yang akan dikenakan kepada tamu. Dan mungkin, itu bukan biaya yang sedikit dan murah.
“Nggak papa, sekalian jalan-jalan, kan? Dian emang nggak bosen di dalam terus?”
“Bosen sih, Kak. Cuma Dian baru pertama kali ke hotel sebagus ini sama Bapak. Jadi kalau cuma di kamar aja, Dian nggak masalah sih.”
Matari tersenyum. Hal yang sama pun dirasakannya. Sejak kecil pun bisa dihitung dengan jari dia bisa menginap di hotel. Itu pun bukan hotel mahal.
Saat menginjak ke area resepsionis, Matari mendekat ke salah satu resepsionis yang sedang tidak sibuk. Dia adalah seorang gadis muda yang mungkin usianya hanya terpaut beberapa tahun lebih tua dibanding Bulan.
“Siang Mba, mau tanya kalau wartel terdekat ada di mana ya?” tanya Matari.
“Sekitar 1 km dari sini Dik, Adik nanti keluar ke arah kiri yaaa terus ajaaa ngikutin jalan,” sahut Mba resepsionis dengan ramah.
Matari mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih dan berjalan ke arah luar hotel. Baru hendak turun tangga, seseorang memanggilnya.
“Matari!!!!”
Matari menoleh. Dan mendapati Abdi berdiri bersama segerombolan orang-orang yang wajahnya mirip dengannya. Bisa ditebak dengan pasti mereka adalah keluarganya.
“Abdi!” seru Matari senang sambil menghampiri Abdi.
“Nginep sini juga?” tanya Abdi.
“Hahha, iya. Lo juga?” tanya Matari sambil menganggukkan kepalanya pada keluarga Abdi dengan sopan.
“Iya. Tapi ini udah mau balik. Lo sampe kapan, Mat?”
“Lusa kayanya. Nggak tahu juga sih. Gue juga cuma nebeng.”
Abdi memandang anak kecil di sebelah Matari yang asing baginya.
“Ini siapa?”
“Dian, ini teman kakak. Namanya Kak Abdi.”
Dian menyalami Abdi dengan malu-malu, seperti saat pertama kali bertemu Matari.
“Ini temen kecil gue. Hahaha…!” sahut Matari.
“Sayang banget gue udah mau check out. Tahu gitu kita kemarin main bareng.” timpal Abdi. “Terus ini lo mau ke mana?”
“Mau ke wartel. Mau nelepon.”
“Wartel? Emang telepon hotel kenapa?”
“Lebih murah kali. Kalau hotel nanti siapa yang bayar. Kan gue udah bilang tadi, gue nebeng liburan.”
“Oh, gitu. Bentar-bentar. Gue pinjemin kakak gue ya.”
“Nggak usah, Di! Nggak enak gue.”
“Apaan? Handphone kita buat barengan kok! Santai aja lagi.”
“Justru karena gue mau nelepon lama, Di. Udahlah, gue ke wartel aja.”
“Oh, gitu. Emang siapa sih yang mau lo telepon? Davi ya?”
“Ih, sok tau. Bukanlah!”
“Lagian kalo lo telepon dia juga dia nggak ada di rumah. Dia lagi ke Bali sama Lombok sekalian bareng-bareng sekeluarga.”
__ADS_1
Matari sedikit terkejut mendapati Davi ternyata berlibur sejauh itu. “Hmmm, ya iyalah, kan musim liburan. Semua orang pada liburan, Di….”
“Kirain kangen sama dia. Kalo kangen, gue ada nih nomor handphone Davi. Gue telepon ya?”
Matari menarik lengan Abdi dengan kuat. “Apaan sih? Nggak usah!”
Abdi melepaskan tarikan Matari dengan mudah, kemudian menghampiri kakak laki-lakinya yang sedang duduk di area tunggu hotel. Tak berapa lama, Abdi kemudian kembali, membawa handphonenya sambil tertawa.
“Ayok, kita telepon Davi.”
Abdi mencari-cari nomor handphone Davi di daftar contact handphonenya. Kemudian dengan sekali tekan dia menelepon Davi dengan mudah. Matari hanya bisa pasrah.
“Halo, Davi? Tebaaak. Gue lagi sama siapa? Hahahaha!” seru Abdi, heboh. “Sama pujaan hati lo nih! Mau ngomong nggak?”
Setelah itu, dalam hitungan detik, Abdi memberikan handphonenya pada Matari. “Nih, dia mau ngomong sama lo!”
Matari menerima handphone itu dengan gemetar. Ini pertama kalinya dia memakai handphone, meskipun sudah sering melihatnya di rumah, karena Tante Dina juga memilikinya.
“Hai…” suara Davi terdengar parau.
“Hai…” sahut Matari. “Lagi sakit?”
“CIYEEEEE, uhuy… Dian, yuk ke sana yuk, jangan ganggu Matari dulu. Kita lihat-lihat ke sana aja!” seru Abdi sambil menggandeng Dian menjauh ke arah taman.
“Sorry, Abdi berisik ya?”
“Heheheh, iya. Resek emang dia. Kalian lagi di Anyer?”
“Iya. Ketemu di sini. Tapi Abdi udah mau pulang.”
“Kamu kapan?”
“Masih lusa.”
“Sama siapa aja?”
“Hmmm, gue nebeng kok ini.”
“Sama Sandra?”
“Bukan.”
“Trus?”
“Mmm, sama tetangga gue.”
“Yang keriting itu?”
“I… Iya…”
Ada jeda sebentar yang dipahami Matari bahwa sepertinya Davi tidak terlalu menyukai jika Matari pergi bersama Iko.
“Berdua aja?”
“Ya enggaklah! Sama keluarga dia, kok.”
“Hmmm, lumayan.”
“Ya udah kalo gitu. Abdi mana?”
Matari merasa nada suara Davi berubah. Matari paham, Davi mungkin sedikit terganggu dengan keberadaan Iko dengannya.
“Bentar ya, gue panggilin dulu. Abdi!”
Abdi menoleh, menghampiri Matari dengan cepat.
“Udah? Cepet amat!”
“Mau ngomong sama lo lagi,”
Abdi mengerutkan dahinya dengan bingung. “Ya, sob?”
Abdi melirik sekilas pada Matari, kemudian pelan-pelan menyingkir menjauh. Seakan-akan, dia tidak ingin Matari mendengar apa yang mereka bicarakan.
Matari menarik napas, kemudian berjalan ke area ruang tunggu di mana kakak laki-laki Abdi, duduk di sana. Setelah menyapa dengan senyuman, Matari duduk di seberangnya. Dian masih mengikutinya, duduk di sebelahnya dengan tenang. Saat itu jam check out. Dan memang ramai karena musim liburan kenaikan kelas. Banyak anak-anak seusia Matari maupun lebih muda dan tua berlalu lalang bersama keluarganya. Orangtua Abdi masih mengantri untuk check out dari hotel.
Sekitar 10 menit kemudian, Abdi kembali. Kakaknya tampak kurang suka dengan kedatangan Abdi.
“Lo ngabisin pulsa ya?”tanya si kakak sambil menggerutu.
“Kenapa sih? Dibayarin ama Bunda juga!” seru Abdi kesal sambil mengembalikan handphone pada kakaknya.
Kakak laki-laki Abdi mengambil handphone kemudian duduk kembali di kursinya yang semula. Dengan wajah kesal, dia mengambil majalah dan membacanya tanpa peduli lagi dengan Abdi.
“Maaf ya, gara-gara gue pake, kakak lo jadi marah!” bisik Matari pada Abdi.
“Santai aja, Bos! Abang gue emang super irit orangnya. Beda tipis ama pelit sih, hehehe,” ujar Abdi sambil duduk di sebelah Matari. “Jadi gimana?”
“Gimana apaan?”
“Sebenernya lo suka nggak sih sama Davi?”
Wajah Matari berubah merah. Abdi yang melihat perubahan itu hanya tersenyum-senyum jahil. Abdi tahu, Matari sudah jatuh hati pada sahabatnya.
“Sebenernya, dia itu baik. Baik banget. Polos juga. Kalau dia udah suka sama cewek, pasti tuh cewek bergelimang hadiah dah. Heran aja, pas sama lo, dia sama sekali nggak lakuin itu.”
“Gue yang bilang sama dia sih, untuk nggak ngasih-ngasih apa-apa sama gue.”
“Wah, kenapa? Davi itu tajir ******. Jadi santai aja kalo dikasih-kasih sama dia. Gue aja yang cuma sahabatan sering kebagian. Dia selalu nggak pernah lupain gue kalo pergi kemana-mana. Pasti sorenya abis dia pulang dari mana gitu, mampir ke rumah bawain oleh-oleh.”
“Masalahnya, gue nggak bisa kasih apa-apa sama dia.”
“Lho? Tunggu! Berarti secara nggak langsung lo udah mengakui kalo lo suka juga sama dia?”
Matari terdiam. Raut wajahnya berubah panik.
__ADS_1
“Tuh kan? Kalo nggak, kenapa lo nyesel nggak bisa balas pemberian Davi? Kaya Thea dong, udah dikasih banyak banget barang, cuek aja tuh nggak ada respon. Beda sama lo, lo malah nyesel nggak bisa kasih apa-apa. Udah! Akuin aja, lo udah suka sama dia juga!"
Matari terdiam dan menunduk. Pipinya terasa panas.
"Tenang, tenang. Sementara, gue nggak akan ngomong sama dia. Tapi beneran lo udah suka sama dia kan?”
Matari menarik napas. “Gue masih… apa ya? Banyak yang gue takutin sebenernya. Kaya keluarga gue. Banyaklah.”
“Lo pernah pacaran sebelumnya?”
“Belom. Baru suka-sukaan aja.”
“Ya udah pas. Lo mau nggak kalau ditembak sama dia?”
“Hmmm…”
“Ham hem ham hem…”
“Lo pengen tau banget sih?”
“Iya dong. Kan Davi sahabat pertama gue. Gue jamin dia baik banget. Lo nggak salah pilih orang! Gue kasih bocoran soal dia sama lo. Biar jadi bahan pertimbangan lo. Kita mulai dari background! Nih ya, bokapnya kerja di departemen Kesehatan, lo tahu kan, jabatannya udah bukan ecek-ecek lagi. Nyokapnya punya usaha jualan tanaman gitu di Bandung. Gede banget. Beberapa orang Jakarta ngambil tanaman sama dia buat dijual lagi. Kakaknya cewek, beda jauh dibanding Davi. Kakaknya cakep dan pinter banget. Dia sekolah di Tarki. Orangnya asyik dan gaul banget. Dandannya Davi itu, dia yang kasih saran. Davi, emang nggak gitu pinter di kelas gue. Rangking dia paling 20 besar. Tapi dia pinter banget IPS Akuntansi. Nilai dia paling bagus di situ. Sisanyaaa, ya lo tahu sendirilah anak cowok umumnya gimana kalo yang ****. Hehehe..."
Matari tertawa. “Lo jangan-jangan diam-diam suka sama dia ya? Lo tahu banget soal dia!”
“Gila lo! Nggaklah! Gini-gini, gue masih suka cewek! Jujur ya, Mat, gue cuma seneng aja kalau ada yang bisa suka sama dia.”
“Kenapa gitu?”
“Kadang, gue kasihan sama dia. Walopun tajir ******, dia kalau ndeketin cewek selalu ditolak mulu. Alasannya klasik, pasti ke fisik. Padahal dia tinggi loh. Cewek-cewek sekarang mah maunya ganteng, miskin sama ****
nggak papa, yang penting bisa dipamerin ke orang-orang!”
“Enak aja! Gue nggak gitu!”
“Iya, iya. Tahu gue, tuh nyatanya kepincut sama Davi.”
“Lo juga kan, jangan-jangan lo udah kepincut sama dia?”
“Sialan lo! Kagaklah, Mat. Tapi dia emang temen gue paling baik sih. Tanpa dia, gue nggak tahu juga mesti kaya gimana di ekskul sepakbola. Asal lo tahu, di ekskul tuh saingannya mati-matian. Semua orang kepengen jadi team inti. Davi doang yang kaga, padahal mainnya bagus. Dia sering kasih gue kesempatan buat nunjukin ke anak-anak kelas 2 tentang permainan gue. Dia malah bilang ke pelatih kalo gue yang paling bagus. Sampe akhirnya gue kepilih jadi team inti. Dia kagak. Tapi dia santai-santai aja. Dia sering bolos diem-diem, biar gue yang lebih di perhatiin sama anak-anak senior. Makanya waktu rapor kemarin datang, nilai dia B doang, gue malah A. Secara permainan, dia bagus banget main bola.”
Matari hanya tersenyum. Dia sendiri belum pernah melihat Davi bermain sepakbola secara langsung. Setiap selesai ekstrakulikuler, Davi selalu siap dengan berdiri di tepi lapangan menunggunya. Selalu seperti itu setiap dia selesai ekskul memanah atau mading. Bahkan sampai saat ekskul terakhir yang berisi penilaian satu per satu, Davi dengan setia menunggunya hingga selesai di lapangan.
Melihat dan mengingat-ingat ke belakang, Matari menyadari, bahwa Davi memang tidak banyak memberikan dirinya hadiah, namun, Davi selalu ada di sana, di tempat yang sama. Menunggunya. Menunggu Matari dengan sabar, agar bisa segera berpaling padanya.
Debaran itu terasa lagi. Mungkin terasa gila, tapi jika jarak Anyer dan Bali dekat, dia akan rela mencari Davi. Dan meluapkan perasaannya.
“Lo sendiri nggak suka sama siapa-siapa, Di?” tanya Matari mengalihkan pembicaraan.
Abdi terdiam sejenak. “Ada sih. Mmmm, rahasia ah!”
“Kok gitu?”
“Gue baru suka-sukaan aja. Mau ngedeketin bingung juga mulainya. Anaknya untouchable.”
“Gue kenal?”
“Kagak tahu gue.”
“Anak kelas 1 juga? Sekolah kita kan?”
“Iya. Lo kayanya nggak kenal. Atau mungkin lo tahu tapi nggak kenal aja. Anaknya pendiem, jarang terekspos. Dia nggak pernah ikut ekskul yang kelihatan gitu. Pokoknya, ada dehhhh….”
Matari tak pernah tahu, Abdi akan menyukai tipe gadis-gadis yang seperti itu. Matari pikir, dengan popularitas Abdi sebagai pemain team sepakbola inti dari kelas 1 satu-satunya, dia akan mencari tipe-tipe seperti Lisa atau Thea
misalnya. Namun, tidak sama sekali.
“Siapa namanya?”
“Hmmm, ada deh….”
“Abdi, kan lo tahu soal perasaan gue sama Davi. Nggak adil banget!”
“Jadi, lo udah mengakuinya nih? Hahahaha!”
“SERIUS GUE DI!”
“Gue juga serius. Kalo lo suka sama dia juga, baguslah. Udah lama juga kan ngedeketin lo?”
Matari mengangguk. “Nggak berasa banget udah setengah tahunan lewat.”
“Nah iya kan? Tunggu apalagi, Mat?”
Matari memainkan kuku-kuku jarinya satu sama lain. Ucapan Abdi yang berulang-ulang semakin menyadarkan Matari bahwa memang Davi telah berhasil mendapatkan hatinya.
“Abdi, Iyan, ayok ke mobil!” suara seorang laki-laki dewasa terdengar begitu jelas di sebelah Matari.
Matari mendongak. Sesosok laki-laki yang mungkin seusia Ayahnya sendiri, bertubuh tidak terlalu tinggi dan berkulit gelap, berdiri di dekatnya. Wajahnya mirip sekali dengan Abdi dan kakak laki-lakinya yang bernama Iyan itu. Hanya saja jauh lebih tua. Dia adalah Ayah dari Abdi. Bundanya sendiri sudah terlebih dulu berjalan ke arah parkiran mobil.
"Eh, Ayah! Kenalin Yah, ini Matari. Temen sekolahnya Abdi. Beda kelas doang!" seru Abdi memperkenalkan Matari pada Ayahnya.
“Siang, Om. Saya Matari!” seru Matari sambil menyalami Ayah Abdi dengan ramah.
“Iya. Nginep sini juga ya?” sahut Ayah Abdi dengan ramah pula.
“Iya, Om. Sudah mau pulang ya, Om?”
“Iya, kami duluan ya. Selamat liburan. Yuk, anak-anak!” seru Ayah Abdi sambil memberi isyarat pada kedua anak laki-lakinya untuk mengikuti.
“Mat, gue duluan. Selamat liburan. Bye!”
Matari melambaikan tangannya sambil memperhatikan Abdi dan keluarganya pergi menjauh keluar dari hotel. Dian menarik-narik bajunya.
“Kak, jadi ke wartel?” tanya Dian.
Matari memperhatikan jam di tangannya yang telah menunjukkan hampir pukul 3 sore. Matari langsung menggeleng dengan cepat.
“Besok aja ya. Kita di sini udah terlalu lama. Takut dicariin sama Iko dan keluarganya.”
__ADS_1
Dian pun menurut, kemudian melangkahkan kakinya menuju lift bersama Matari.
)Wartel adalah Warung telekomunikasi, warung telepon atau wartel adalah tempat yang disediakan untuk pelayanan jasa telekomunikasi untuk umum yang ditunggu baik bersifat sementara maupun tetap dan merupakan bagian dari telepon umum (*wikipedia.org. Akses tanggal 14 Okt 2020)