
Matari membuka matanya dan langsung merasa bersyukur. Dia benar-benar berada di dalam kamarnya sendiri sekarang. Liburan 4 hari 3 malam di Anyer terasa bagaikan mimpi. Dia masih agak linglung dan lelah setelah perjalanan jauh yang beberapa kali tersendat macet karena ada kecelakaan besar di tengah perjalanan pulang mereka kembali ke rumah. Sesampainya di rumah pun, Matari tak banyak bicara dan langsung tertidur di kamarnya hingga menjelang maghrib.
“Neng, saya masuk ya?” suara Mbok Kalis mengagetkan lamunannya.
Pintu kamarnya yang baru disadarinya tidak tertutup sepenuhnya, memperlihatkan siluet Mbok Kalis membawa nampan.
“Iya, Mbok. Masuk aja. Aku udah bangun, kok!” sahut Matari.
“Ini ada teh dicampur madu sama lemon. Kata Eyang buat Neng. Soalnya tadi pas turun mobilnya Bu Indira mukanya pucet banget dan pandangan matanya kosong. Takutnya Eyang ada yang nempel. Hehehe…,” sahut Mbok Kalis sambil tertawa kecil. “Tapi pas lihat Neng barusan sih, Mbok yakin sih paling kecapekan aja. Macet ya? Denger-denger ada kecelakaan besar di tol dalam kota?”
Matari duduk dan meminum teh hangat itu hingga habis. Ada sedikit energi dalam dirinya dibanding sebelumnya. Dia baru sadar, sejak kemarin dirinya merasa tak enak badan. Namun setelah tidur di rumah, badannya telah kembali pulih seperti sedia kala.
“Parah, Mbok. Ada truk melintang. Jatuh bawa pasir. Nggak tahu kenapa bisa gitu. Pokoknya dari tol Tangerang udah macet aja. Selama perjalanan dari yang biasa aja sampai akhirnya bosen karena capek. Mau melipir kejebak di tengah-tengah. Bener-bener nggak bisa gerak.”
“Oiya, Eyang lagi jenguk orang sakit sama beberapa tetangga. Neng Matari disuruh nelepon ke Bu Indira ngabarin kalau baik-baik aja. Bu Indira kebetulan nggak ikut karena masih capek dari Anyer,” kata Mbok Kalis sambil menyerahkan kunci telepon. “Pesennya lagi jangan telepon lama-lama.”
Matari menarik napas sambil tertawa kecil. “Oke.”
“Oh iya, tadi siang Mas Davi telepon. Mbok sih bilang kalau Neng belum pulang kejebak macet karena kecelakaan.”
Tanpa sadar Matari tersenyum senang. Namun dia tahu Davi masih berlibur di Bali atau Lombok, yang membuatnya merasa Davi berada sangat jauh darinya sekarang.
“Ya udah, aku nelepon Tante Indira dulu ya.”
Matari keluar kamar. Kemudian membuka kunci telepon dan menekan nomor rumah Tante Indira yang sudah dihapalkannya karena Eyang Putri lumayan sering meminta tolong diteleponkan ke sana.
“Halo, assalamualaikum!” seru seseorang yang menurut Matari adalah salah satu dari sekian banyak ART di rumah Iko. Namun bukan Kang Udin. Suaranya perempuan tua yang mungkin seusia Mbok Kalis.
“Walaikumsalam. Ada Tante Indira? Saya Matari, cucunya Eyang Poer.”
“Oh, Mba Matari. Bentar, Mba. Saya panggilkan. Eh, bentar-bentar. Mas Iko mau ngomong, gimana?”
Matari sesungguhnya masih kesal pada Iko. Namun tak ada yang bisa dilakukannya.
“Ya, boleh. Nggak papa, Bu.”
“Bentar ya…”
“Halo, Matari? Gimana? Udah baikan?” suara Iko terdengar khawatir.
“Udah. Alhamdulillah.”
“Kita sekeluarga khawatir. Soalnya gue denger waktu BBQ sama sarapan pagi lo nggak makan banyak. Trus pas di mobil, lo nggak mau ditawarin snack. Padahal lama banget macetnya.”
“Makasih, Ko. Bilang aja gue udah baikan. Cuma masuk angin aja.”
“Iya, Mama Papa bilang muka lo pucet banget. Sebenernya pas sampe rumah pun, Kamal sempet muntah juga. Kayanya dia juga masuk angin.”
“Bilang sama Om dan Tante, gue sudah mendingan. Kamal gimana?”
“Udah pulang. Tadi dikerokin Kang Udin bentar. Terus dianter Pak Raden pulang.”
“Oh, gitu. Salam aja ya kalo ketemu.”
“Maaf ya, Ri. Gue baru nyadar, selama di sana gue lebih banyak main sama Raline.”
“Nggak papa. Mama lo mana?”
“Bentar, bentar. Maaaa…. Matari nih!”
Beberapa saat kemudian, Tante Indira telah berganti menerima telepon. “Gimana, Ri? Sudah baikan? Maaf ya, kamu kecapekan ya? Tante jadi nggak enak.”
“Ah, Tante, nggak papa kok. Saya sudah baikan setelah tidur sampai sore. Malah Matari merasa berterimakasih udah diajakin liburan sama keluarga Tante semuanya.”
“Oh, alhamdulillah. Untung kita check out pagi ya. Nggak kebayang baru check out siang, bisa sampai rumah jam berapa?”
“Iya, Tante.”
“Nanti Udin saya suruh kirimin sup jagung. Dimakan ya buat makan malam. Eyang pergi jenguk tetangga sakit kan? Kamu pasti belum makan malam.”
“Jadi repot-repot, Tante.”
“Enggak repot. Di rumah tadi sebenarnya udah masak banyak. Kan planning Tante sampe Jakarta pas sebelum makan siang, jadi kalian semua bisa makan siang sama-sama dulu di rumah. Ehhhh baru sampe sini lewat makan siang. Kamunya minta dianter, terus turun duluan. Mana pucet bener. Tante sama Om panik, takutnya kamu kesambet kaya yang Eyang kamu bilang. Hehehe.”
“Hahaha, enggak. Ini sudah mendingan, Tante. Ya sudah, saya mau mandi dulu, Tante.”
“Oke deh. Ditunggu ya sup jagungnya, paling bentar lagi Udin jalan. Kamu nggak mau ngobrol lagi sama Iko?”
“Nggak usah, Tante. Badan saya udah lengket. Mau langsung mandi aja.”
***
Selepas mandi, Matari turun ke lantai bawah. Rumahnya masih sepi. Tante Dina dan Sandra masih belum pulang ke rumah. Sedangkan Bulan juga tidak ada di kamarnya. Entah ke mana.
“Loh, elo di sini Ko?” tanya Matari saat selesai mengambil makanan yang sudah disiapkan Mbok Kalis di atas meja makan. Di situ sup jagung kiriman Tante Indira sudah disiapkan.
Iko sendiri hanya duduk di ruang tamu. Menyapa Matari sambil tersenyum. Matari tidak membalas senyuman itu. Iko tahu, ada yang aneh terhadap sikap Matari pada dirinya.
“Iya. Tadi gue yang anter bukan Kang Udin. Udah, lo makan dulu gih.”
Matari tak menanggapi apapun dan dengan acuh melanjutkan makannya di depan Iko di ruang tamu. Dia juga sama sekali tidak menawarkan untuk makan bersama. Matari yakin, dengan segala keperluan yang selalu terpenuhi, Iko pasti sudah makan dengan kenyang di rumahnya.
“Lo banyak diem di Anyer, Ri. Kenapa? Ada masalah?”
Matari menelan makanannya. Masalahnya kan ada di elu, batin Matari.
“Woi. Tuh kan diem aja? Kenapa sih?”
Matari hanya tetap makan hingga selesai. Kemudian meletakkan piring kosong di meja di hadapannya begitu saja.
“Lo marah sama gue ya?”
Matari menarik napas. “Marah sih nggak tahu juga gue, berhak marah atau nggak. Tapi selama di sana gue banyak pertanyaan soal lo. Cuma, gue nggak tahu mau nanya sama siapa. Makanya gue jadi bingung sendiri. Alhasil gue cuma bisa diem.”
Iko terdiam. Menatap Matari lekat-lekat. Sedikit banyak, Iko tahu apa yang mungkin Matari maksud.
__ADS_1
“Lo bisa tanya sekarang.”
Matari cuma tersenyum tipis. “Gue belom siap kayanya mau nanya. Nanti aja.”
“Kita masih temenan kan?”
Matari mengangguk. Tapi dalam hatinya dia tidak yakin masih bisa bersikap sama seperti dulu.
***
Sejak saat itu, Matari selalu mengisi waktunya di perpustakaan Nasional atau ke Gramedia seharian. Kadang Bulan menemaninya jika tidak ada acara latihan paskibra di sekolahnya. Buku-buku dan Walkman adalah pelarian satu-satunya Matari dari hal-hal yang tidak ingin dihadapinya, kesedihan, kekecewaan dan lain-lain. Selama itu pula dia tidak pernah bertemu dengan Iko lagi.
“Neng, tadi Mas Davi nelepon. Mba Lisa juga. Nanya, besok kan hari Sabtu, mau barengan ke sekolah nggak ngecekin kelas, gitu katanya.” Kata Mbok Kalis saat Matari pulang ke rumah selepas maghrib.
Belum sempat menanggapi, Eyang muncul. “Darimana saja? Mentang-mentang liburan pergi keluar terus.”
“Ke perpus.” sahut Matari.
“Emang nggak bisa, minjem, terus dibaca di rumah?” tanya Eyang lagi.
“Nggak bisa. Di rumah sepi. Nggak ada temen.”
“Eyang nggak larang kamu ke perpus. Tapi ya tahu waktu. Kamu tuh anak perempuan.”
“Eyang, di luar masih rame kok. Matari juga paling malam jam segini pulangnya.”
“Kamu nih, dikasih tahu ngejawab terus.”
“Habis, Eyang nggak adil. Kak Bulan pulang malam dibiarin. Sandra juga. Kalo Matari diomelin.”
“Ah, perasaan kamu aja! Eyang juga ngomelin mereka kok. Kamu aja yang nggak tahu.”
“Apa sih ini teriak-teriak malam-malam?” tanya Bulan sambil membuka pintu rumah dan kemudian menutupnya lagi. “Kedengeran sampe luar.”
“Ini lho, adik kamu, ke perpus baru pulang. Udah semingguan kaya gitu.”
“Biarin aja sih, Eyang. Ini kan liburan sekolah. Lagian tadi berangkat sama aku, cuma aku nggak bisa nemenin lama-lama. Kan kudu latihan.”
“Kamu juga! Latihan terus. Badan udah kurus kering. Pulang malam terus pula.”
“Lah, kenapa jadi Bulan juga ikutan kena? Biasanya juga nggak papa. Ayah juga tahu Bulan anggota paskib, kudu latihan terus. Bentar lagi kan 17an. Gimana sih?”
“Ini dua anak perempuan sama aja! Sukanya ngebantah terus! Bla… bla … bla… “ Eyang masih mengomel sambil kembali ke kamarnya.
Bulan dan Matari saling menatap. Bulan tahu, Matari mungkin terlalu bosan di rumah sendirian. Tak ada siapapun di dekatnya menemani. Dia mendekat ke adiknya, mengelus punggungnya dengan lembut tanpa bicara apa-apa.
***
“Lo selama liburan ke mana aja sih?” tanya Lisa pada Matari saat berada di dalam mobilnya, keesokan paginya di hari Sabtu. Saat itu mereka dalam perjalanan ke sekolah, untuk mengecek daftar pembagian kelas yang akan ditempel hari ini.
Matari merapikan seragamnya dengan benar. Untuk mengecek daftar pembagian kelas, sekolah mengharuskan para siswanya untuk datang tetap menggunakan seragam lengkap. Meskipun memang, hari Sabtu terakhir di liburan kenaikan sekolah itu, masih tetap termasuk hari libur. Apalagi kelas 1 diwajibkan datang untuk pembagian kelompok MOS (Masa Orientasi Siswa). Diharapkan siswa kelas 2 dan 3 yang datang menunjukkan contoh yang baik pada adik-adik kelas baru mereka.
“Panjang ceritanya.” jawab Matari enggan.
Banyak orang yang ingin dan bahkan sangat menyukai saat libur sekolah. Namun mungkin Matari adalah salah satu dari sedikit orang yang justru tidak menyukai liburan sama sekali.
“Cerita dong. Soalnya Davi SMS gue terus. Nanya elo di mana?”
“Gue bingung. Mulainya dari mana.”
“Santai aja lagi. Gue punya banyak waktu buat lo hari ini. Nanti selepas liat kelas kita di mana, main ke rumah gue aja, gimana?”
Matari mengangguk. Dalam hatinya dia berharap masih akan satu kelas dengan Lisa atau Thea. Salah satunya pun tak apa-apa. Dia sudah cukup muak dengan kesendirian.
Sekolah ternyata cukup ramai. Banyak yang datang hanya untuk mengecek daftar pembagian kelas. Matari juga mendapatkan titipan untuk mencarikan nama Sandra dan Thea. Keduanya masih berlibur dan baru akan kembali besok sehingga hari ini tidak bisa datang.
Dan di sana, di dekat papan pembagian kelas, berdiri Davi, sekaligus Abdi tengah mengobrol. Matari tahu, Davi sedang menunggunya datang. Hatinya berdegup kencang. Sudah lama tak melihat orang yang menurutnya paling mempedulikannya dengan tulus saat ini.
“Jadiiiii? Udah pada tahu di kelas berapa kalian?” tanya Lisa pada Davi dan Abdi.
“Hehehe. Kita juga udah duluan tahu kalian di mana. Tapi rahasia dulu ah, kalian cari nama kalian sendiri ya. Hehehe.” Ujar Abdi dengan senyum jahilnya.
Matari mengecek data-data nama kelas 2. Dari kelas 2 A hingga 2 F. Matari langsung menemukan namanya sendiri di deretan nama-nama kelas 2 A. Kemudian Sandra di kelas 2 B. Thea ada di kelas 2 F, bersama Lisa. Matari sedikit kecewa. Walaupun dia agak bersyukur, Sandra ada di kelas sebelahnya persis.
“Lo udah pada tahu kan masing-masing?” seru Abdi saat Matari dan Lisa selesai mencari nama mereka masing-masing.
“Eh iya, kalian di mana?” tanya Lisa sambil mencari-cari.
“Kita sekelas btw.” sahut Abdi pada Lisa. “Gue sekelas sama lo. Davi juga.”
“Haaaah? Matari doang yang kepencar jauh? Sediiiihhhh….!” seru Lisa.
Matari tersenyum, menutupi kekecewaannya.
“Tenang, tenang. Ini masih belum seberapa. Gue udah lihat denah terbaru. Lo tahu nggak, kelas kita di mana?” seru Abdi lagi.
Lisa menggeleng.
“Lo tahu kan di lantai dua cuma ada 9 kelas? Tahun lalu, kelas 2 itu di atas semua. Tahun ini beda. Kelas 1 yang di atas semua. Dan setengah kelas 2 ada di atas. Dan yang diambil adalah kelas 2 D, E dan F. Kelas 2 urutan awal, A, B dan C di bawahnya persis. Kelas 1 lama, bekas kelas kita, sekarang dipakai anak-anak kelas 3. Gimana? Syok nggak lo?” jawab Abdi.
“APAAAA? Nggak adil banget. Toilet cewe lantai 2 suka mampet. Aduh, ngeselin amat pembagiannya?” tandas Lisa kesal.
“Mager gue naik turun tangga. Di rumah iya, masa di sekolah juga?” timpal Abdi. “Tapi nggak papa, selama gue masih satu kelas sama si Davi. Apalagi tambah kalian. Seru pasti.”
“Seru gimana? Nggak ada Matari! Ri, lo sekelas sama siapa aja? Ada yang kenal deket nggak?”
Matari mengangkat bahu. Dirinya akhirnya kembali mendekat ke daftar kelas 2 A. Davi berdiri di sampingnya. Sama-sama ingin tahu.
“Ada Echa sih. Echa nama lengkapnya Mariska Intan Sari bukan?” tanya Matari.
Abdi mengangguk. “Kayanya sih. Echa kan nama panggilan kecilnya. Gue pernah lihat di badge namanya dia. Mariska siapa gitu.”
“Trus siapa lagi?” tanya Lisa, dia mendekat ke arah Matari. “Wah ada Rocky sama Gilang. Rocky doang kan ya? Nggak mungkin Ricko juga.”
Matari mengangguk. Kemudian menunjuk nama panjang Ricko. “Ricko sekelas sama Sandra.”
__ADS_1
“Oh iya. Sandra udah masuk sini ya tahun ini?” seru Lisa. “Untunglah kelas kalian sebelahan. Tapi gue pisah sama Matari, huhuhu. Inget ya, tiap istirahat harus tetep nongkrong bareng.”
“IYA, IYA!” timpal Matari.
Matari menarik napas. Melihat daftar kelas 2 A miliknya tidak terlalu buruk. Ada Rocky dan Gilang setidaknya ada Echa juga. Meskipun dia terpisah dari Lisa dan Thea. Bahkan mereka pun ada di lantai 2. Sudah terpisah kelas,
bahkan tingkatnya pun berbeda.
“Mayan nih, bisa ngecengin anak-anak kelas 1 yang baru. Masih kinyis-kinyis!” kata Reza yang tiba-tiba datang.
“ Dasar calon playboy cap teri lo! Lo di kelas apa, Za?” tanya Lisa pada Reza.
“Gue di D. Lantai 2 juga!” jawab Reza sambil tos dengan Abdi.
Matari menatap list daftar ekskul yang akan dibuka tahun itu. Tiba-tiba dia teringat perkataan Iko bahwa ekskul wajib kelas 2 adalah berenang. Dan dia bahkan belum belajar berenang sama sekali. Untungnya ekskul kelas 2 yang wajib kali ini adalah ekskul Komputer. Karena pada tahun 2001, perkembangan komputer sedang mulai pesat. Meskipun layar komputer masih menggunakan model CRT, namun seluruh siswa diwajibkan bisa mengerti dasar-dasar komputer, mengingat saat nanti SMA, komputer masuk menjadi salah satu mata pelajaran.
“Mau ambil mading sama panahan lagi?” tanya Davi, berdiri di sebelah Matari.
Matari tersenyum. Dia sendiri masih belum yakin. “Nggak tahu gue. Kalo lo?”
Davi mengangkat bahu. “Ada beberapa ekskul baru yang diujicobakan, katanya sih ekskulnya seru-seru. Cuma belum masuk list itu. Nanti aja aku mutusinnya waktu udah masuk. Btw habis dari Anyer kamu liburan ke mana lagi, aku telp ke rumah nggak pernah ada.”
“Gue ke perpus sama kakak gue, Dav.”
“Ya ampun, kan lagi liburan. Masa mainnya ke perpus lagi, ke perpus lagi?”
“Hahaha, ya kan gue bacanya juga yang ringan-ringan macem novel, biografi atau komik. Gitu-gitu.”
“Oh, ada ya? Kirain isinya tuh kaya ilmu-ilmu apa gitu kalo di perpus.”
“Nggaklah. Kaya perpus kita aja. Ada majalah, ada koran, ada e-book. Macem-macem sih.”
Matari dan Davi mengobrol beberapa saat, seakan-akan menumpahkan kerinduan masing-masing karena terpisah begitu lama. Mereka tak menyadari bahwa sahabat-sahabatnya sedang kasak-kusuk sambil tertawa-tawa.
“CIYEEEE… mojok terus! Elu sih Mat, liburan dicari kaga pernah ada. Padahal Davi bela-belain nelepon dari Bali, dari Lombok….! Kangen banget tuh doi!” kata Abdi yang disambut ledekan Reza dan Lisa.
Matari menatap Davi yang hanya menggaruk-garukkan kepalanya karena gugup. Matari sendiri juga merasa canggung kemudian menghampiri Lisa.
“Udah kan? Masih mau di sini atau langsung cabut ke rumah lo?” tanya Matari mengalihkan pembicaraan.
“Eh, ikut dong!” seru Abdi.
“Nggak boleh! Ini urusan cewek-cewek doang.” sahut Lisa.
“PELIT LO! Kita main di studio lo aja. Kalian rumpi di ruangan lain.” Seru Abdi.
“NGGAK BISA! Studio gue lagi direnovasi. Udah ah, nggak usah ikut! Davi, gue bawa Matari hari ini ya. Jadi jangan nelepon ke rumah, karena Matari di rumah gue.” ledek Lisa sambil cengar-cengir.
“Ya udah deh. Kita nongkrongin anak-anak kelas 1 aja yuk yang hari ini lagi dateng buat pembagian kelompok MOS. Mau ikut nggak Dav?” sahut Abdi.
Davi menggeleng. “Gue juga mau pulang cepet. Mau nemenin kakak gue ke mall nyari sepatu.”
“Udah, Di, gue temenin. Siapa tau ada bibit-bibit unggul, ya nggak?” kata Reza sambil tertawa.
“Siplah! Yuk bos. Kita duluan ya ke ruang serbaguna. Sampai jumpa hari Senin!” timpal Abdi sambil mengikuti Reza menuju lorong yang menghubungkan antar area kelas dengan ruang serbaguna.
Matari, Lisa dan Davi berjalan bersama ke arah gerbang. Di dekat gerbang, sebuah mobil jeep tua berhenti. Saat kacanya dibuka tampak seorang gadis cantik di depan kemudi, melambaikan tangannya pada Davi.
“Itu kakaknya,” bisik Lisa pada Matari. “Mirip kan? Cuma lebih cakep aja. Davinya ancur!”
Matari mencubit lengan Lisa. Lisa mengaduh kesakitan.
“Eh, Matari, aku duluan ya. Kakak aku udah nungguin. Oh iya, tunggu. Takut lupa,” kata Davi sambil menarik lengan Matari dengan lembut.
Davi merogoh saku ranselnya yang paling luar. Kemudian menyerahkan sebuah bungkusan kado warna pink kecil kepada Matari.
“Ini oleh-oleh buat kamu.”
Lisa tersenyum-senyum geli namun tidak berusaha meledek lagi kedua temannya. Itu akan merusak suasana. Matari menerima pemberian Davi dengan gugup. Davi kemudian segera pamit dari situ, karena dirinya sendiri juga merasa malu dan canggung menjadi satu. Matari menatap kepergian Davi hingga mobil jeep tua itu berlalu dari pandangan.
“Ehm ehm… kayanya nih bentar lagi kita-kita di traktir nih!” kata Lisa saat melihat mobil jeep Davi sudah tak terlihat sama sekali.
“Apa sih, Lis?” sahut Matari, rona wajahnya memerah.
“Buka dong. Gue penasaran. Boleh nggak?”
Matari mengangguk. Sebenarnya oleh-oleh itu juga tampak tidak terlalu spesial dari bungkusnya. Sehingga dia tak perlu merasa malu pada Lisa.
Saat bungkusannya telah dibuka, tampak gelang berwarna perak berhiaskan katak kecil-kecil yang simpel namun cantik itu di hadapan Matari. Melihat gelang itu, Lisa tertawa terbahak-bahak.
“Kok lo ketawa sih? Emang jelek ya? Menurut gue bagus, lucu. Mahal nggak ya?” tanya Matari.
Lisa menahan tawanya. “Kagak semahal pikiran lo lah, itu silver. Bukan emas putih. Sorry, gue bukannya ngetawain lo ya. Tapi gue ketawa sama model gelangnya.”
“Kenapa? Nggak cocok sama gue ya?” tanya Matari.
“Cocok! Kenapa nggak cocok? Gelang itu udah merepresentasikan si Davi secara gamblang kok, hahaha!”
“Gue nggak cocok ya pakai ginian? Gue baru pertama kali dapet kaya gini….”
Lisa menarik napas, gemas. “Bukan elonya! Ampun deh! Ini loh, lo liat kan, ini katak kecil-kecil ini? Lo pernah diceritain Gilang belum sih, temen SDnya Davi? Davi panggilannya apa waktu SD?”
Matari meringis kemudian ingat soal Davi yang dipanggil "Muka Katak" waktu SD. “Oh, itu. Jahat banget sih itu.”
“Iya, emang jahat. Tapi kayanya dia nyaman sama panggilan itu. Lo liat aja dia kasih gelang modelnya katak juga, hahahaha!”
Matari menatap gelang yang diberikan Davi. Gelang itu berkilauan karena terkena sinar matahari.
“Kalo gue pake, keliatan banget ya?”
Lisa berdehem. “Keliatan banget apa? Dari Davi? Nggaklah! Nggak ada nama dia di situ kan?”
“Keliatan kalo mmm… gue suka juga sama dia.”
“HAH? SERIUS LO? HAHAHAHA! Akhirnya dongeng pangeran katak kejadian juga, hahahaha!”
__ADS_1
“Parah lo Lis. Jangan fisik gitu dong.”
“Sorry, sorry. Gue minta maaf. Ya udah yuk ke rumah gue. Tuh supir gue udah dateng! Nanti lo cerita semua ya. Termasuk pengakuan lo barusan ke gue soal Davi.”