
Januari, 2001
Suara Tante Dina menangis, membuat Matari terbangun. Hari itu,
seingatnya adalah Hari Minggu di awal bulan Januari yang cukup menguras emosi
seluruh anggota keluarga di Rumah Eyang.
Matari duduk di kasurnya. Kakak dan Sandra tak tampak di manapun. Dia
melihat jam weker di meja kakaknya yang menunjukkan pukul setengah 7 pagi.
“Matari, ayo bantu-bantu. Pakai baju muslim kamu yang warna putih.”
Tiba-tiba Bulan masuk, masih tampak berantakan dan membuka lembari pakaian.
“Kenapa, Kak?” tanya Matari kebingungan.
“Tengah malam, Om Budi drop. Subuh tadi, Ayah bangunin gue dan Sandra
untuk menemani Tante Dina yang baru datang dari Rumah Sakit. Om Budi meninggal
sebelum subuh di Rumah Sakit. Jenasah baru saja datang. Sandra sudah siap di
depan. Lo sikat gigi, wudhu, cuci muka, ganti baju muslim putih yang kembaran
sama gue. Gue ke kamar mandi sekarang, abis itu gantian lo ya.”
Matari masih tampak bingung. “Tapi Kak, baju muslim itu udah kesempitan.”
Bulan menarik napas. “Oke, lo gue cariin baju muslim. Sekarang, lo
bebersih dulu di kamar mandi. Nggak ada waktu kalau harus mandi. Sandra kasihan
di depan sendirian. Gue harus ke warung buat beli aqua gelas. Si mbok masih
siap-siap di belakang.”
Matari turun dari kasurnya menatap Kasur Sandra yang masih berantakan.
“Masih bengong? Cepet!!!!” seru Bulan kesal dan berlalu keluar.
***
Dengan baju muslim putih kebesaran milik Tante Marini yang tertinggal,
Matari perlahan-lahan mendekat ke arah Sandra.
Sepupu kesayangannya itu tampak berbeda dari biasanya. Tatapan matanya
kosong. Dia menggenggam tissue yang sudah entah berapa kali dipakai untuk
menyeka air matanya. Beberapa orang berlalu-lalang menyalami Sandra.
Dengan sedikit ragu, Matari mendekat ke arah Sandra.
“San, yang tabah ya. Maaf gue baru bangun.” Kata Matari berbisik di
belakang Sandra sambil mengelus-elus pundaknya.
Sandra hanya tersenyum tipis. Matanya bengkak dan merah.
“Lo temenin gue ya, Ri. Gue… entahlah, Ri…” bisik Sandra berusaha kuat.
Matari merangkul sepupunya dan tidak sadar airmatanya jatuh. Saat Ibunya
meninggal beberapa tahun lalu, dia tidak sesedih ini. Malah di hari itu dia
bermain barbie dengan Sandra di ruang tidur utama, tempat belakangan ini Om
Budi berbaring sakit di sana. Saat itu dia masih lebih muda dan belum begitu
mengerti.
Namun entah kenapa, hari ini, bayangan Ibunya saat meninggal terlintas
lagi. Dan dia pun ikut menangis. Entah karena teringat kejadian itu atau memang
sedih melihat Sandra tak seperti biasanya.
***
“Ri, turut berduka cita ya.” Kata Iko sambil mendekat ke arah Matari.
Saat itu, pemakaman telah usai. Di rumah Eyang hanya tersisa kerabat
dekat, teman-teman Om Budi dan Tante Dina yang datang belakangan. Teman sekolah
Sandra pun beberapa sudah pulang, menyisakan sahabat-sahabat dekat Sandra yang
kebanyakan cowok-cowok di geng Pramukanya.
Matari sedikit merasa senang saat melihat dari jauh Sandra sudah mulai sedikit tertawa
akibat bercandaan konyol teman-temannya. Dia akhirnya hanya duduk di sisi lain
rumah sambil makan camilan.
“Kenapa ya, orang kaya kita ini salah apa, ya, Ko?” tanya Matari pada
Iko yang duduk di sebelahnya.
“Kenapa memangnya, Ri?” Iko mengambil aqua gelas dan meminumnya. “Untung
ya hari ini nggak hujan.”
“Lo kehilangan Abang, gue nyokap, sekarang Sandra kehilangan bokapnya.
Kenapa ya? Gue pikir nggak semua orang merasakan itu. Kenapa cuma kita-kita
yang merasakan kehilangan itu?”
“Kayanya kita bisa bikin geng tahu nggak?”
“Apa sih, Ko? Kadang suka nggak nyambung lo!”
“Loh, gue masih nyambung omongan lho yang tadi loh hahaha. Kita bisa
__ADS_1
bikin geng orang-orang yang kehilangan orang yang disayanginya. Nanti
anggotanya lo, gue, Mama, Papa, sekeluarga besar lo, eh Mbok Kalis juga
nggak???”
“Hahaha, Dasar gila lo!”
“Akhirnya ketawa juga.”
“Aneh juga kenapa gue ketawa. Padahal nggak lucu.”
“Btw, keluarga lo banyak juga ya. Gue tadi dikenalin Mama sampe bingung.
Yang namanya Kak Tiwi cantik yaaaa, kaya Dian Sastro.”
“Hah, siapa tuh?”
“Artis film baru keluar. Filmnya judulnya Bintang Jatuh.”
Tentu bagi Matari wajar dia tidak tahu. Karena pada saat itu, tahun 2000an, Dian Sastrowardoyo belum seterkenal sekarang. Dia baru debut di film-film indie. Belum masuk ke Box Office.
“Nggak tahu gue. Belum pernah nonton bioskop. Petualangan Sherina aja
gue nonton vcd bajakannya aja.”
“Ya udah, kapan-kapan kita nonton bareng ya kalau ada film bagus.”
Deg! Jantung Matari berdegup kencang lagi. Diajak nonton? Oleh Iko?
“Kok BENGONG?”
“Gue belum pernah nonton bioskop. Kampungan banget ya gue?”
“Nggaklah. Wajar, lo masih SMP kan. Jadi nanti kita akan cari film yang ratingnya bisa lo tonton.”
***
Meskipun besok adalah hari Senin, pengajian hari pertama untuk mengenang Om Budi di rumah Eyang terlihat
cukup ramai. Tante Dina masih di kamar, ditemani Sandra dan Tante Marini sambil membawa buku yasin. Tasbih tak terlihat lepas dari jemari tangannya yang panjang-panjang.
Matari sedang membantu Bulan dan Kak Tiwi mengantarkan minuman teh
hangat pada masing-masing peserta pengajian yang didominasi oleh Bapak-bapak
kompleks. Di antaranya menyelip Iko dan Papanya. Tante Indira ikut membantu
dengan menemani Eyang Putri yang masih tampak syok dan berdiam juga di
kamarnya.
“Lan, kamu masih jomblo aja?” suara Kak Tiwi setengah berbisik. Logat Banjarmasinnya tampak kental berpadu dengan Bahasa Indonesia yang tidak baku.
“Kagak. Kenapa sih?” tanya Bulan heran.
“Trus yang mana pacar kamu? Nggak datang?” tanya Kak Tiwi lagi.
“Kagak. Kagak usah datang. Nanti digenitin sama lo.”
“Dih, emang aku cewek apaan? Aku penasaran aja. Miss paskibra tahun 2001
ini cowoknya kaya apa?” timpal Kak Tiwi sambil tersenyum-senyum. Kemudian giliran menatap ke arah Matari, mencari korban baru. “Kalo kamu, Ri?”
“Ihhh, rese deh. Tuh pacarnya Matari dateng sama Papanya. Mamanya yang cakep
banget nemenin Eyang di kamar.”
“Oh, tante-tante yang rumahnya gede banget itu ya?”
“Iyah, itu pacar Matari, puas lo?”
“Ciyeee, Matari. Cowoknya keren juga, rambutnya ikal-ikal gitu. Gemes.”
“Heiiii, dia tuh junior kita.” Tandas Bulan sambil menginjak kaki Kak
Tiwi.
“Bulaaaan, sakit tau! Kan aku cuma muji aja. Matari kamu hebat banget bisa dapet
gituan.”
Matari tersenyum malu, kemudian menatap Iko. Iko membalas senyumnya
dengan tulus. Kupu-kupu kembali menari-nari di perutnya.
***
Saat Matari tiba di rumah saat hari Senin setelah sekolah, Sandra tampak
tiduran di samping Mamanya. Tante Dina masih sedih dan tiduran di kamarnya terus menerus.
Eyang pun juga. Rumah tampak begitu sepi. Semua orang masih berduka dengan kehilangan Om Budi.
Kak Bulan, seperti biasa, kembali dengan kegiatan Paskibrakanya. Mbok Kalis tampak
kembali melakukan aktivitasnya. Salah satunya dengan memberikan makanan pada ikan-ikan koi. Rumah Eyang telah kembali sepi tidak seperti kemarin-kemarin.
Keluarga Tante Marini dan Om Wiryo, adik ke 3 dan 4 Ayah Matari, sudah kembali
ke kotanya tadi pagi-pagi dengan pesawat. Ayah Matari mengambil cuti dan sibuk membantu
mengurus surat kematian di Pak RT, karena Tante Dina masih belum mampu mengurusnya sendirian.
Kata Mbok Kalis, pagi tadi hingga menjelang siang masih ada pelayat yang
menyusul datang. Beberapa ada teman Om Budi dan Tante Dina.
Tiba-tiba telepon berdering. Setelah beberapa kali, Matari
mengangkatnya.
“Halo, assalamualaikum.”
“Walaikumsalam, hai. Lagi sibuk?” suara serak-serak basah itu langsung
dikenalinya.
“Hai, Dav.”
__ADS_1
“Gue turut berdukacita ya, Matari. Maaf kemarin gue nggak ngedeket ke
lo. Karena kayanya lo lagi sibuk banget.”
“Oh, lo datang kemarin?”
“Iya. Sebenernya barengan sama Abdi dan Lisa.”
“Hmm, kok gue nggak liat?”
“Iya. Lo lagi sibuk di sebelah sepupu lo itu. Titip salam buat dia ya.”
“Iya, makasih.”
“Dia masih sedih ya, pasti?”
“Iya. Mungkin sebenernya keluarganya udah siap, karena Om gue itu udah
lama sakitnya. Cuma sekarang mungkin Tante gue mulai merasa kesepian karena ditinggalkan untuk selamanya. Kata orang, emang lebih terasa sedih waktu seluruh pelayat sudah pergi dan rumah kembali sepi.”
Davi terdiam.
“Sorry, maaf ya. Gue ngomong apa ya tadi, hahaha…”
Matari merasa aneh berbagi perasaan kehilangan itu pada Davi, yang mungkin tidak mengerti rasanya.
“Gue yang mau minta maaf, Ri. Gue nggak tahu gimana rasanya. Gue pun
nggak tahu mau ngomong apa sama lo. Itulah kenapa gue kemarin nggak ngedeket
sama lo. Bukan karena lo sibuk.”
Matari tersenyum lega meski dia tahu, Davi tidak akan melihatnya.
“Ri, kata Abdi, lo kalo hari Rabu, Kamis, Jumat ekskul ya?”
“Eh…. Iya. Abdi informan lo ya?”
“Kurang lebih. Karena soal lo gue buta sama sekali.”
“Beda ya kalo soal Thea…”
“Udahlah, nggak usah nyebut dia lagi.”
“Lo marah sama dia?”
“Nggak sih. Cuma itu kan udah masa lalu. Trus kalo pas nggak ekskul,
boleh ya gue nelepon elo sepulang sekolah kaya gini?”
“Ya terserah lo sih…”
“Kalo pulang ekskul kira-kira jam berapa?”
“Kenapa emangnya, Dav?”
“Enggak, nanya doang.”
“Beda-beda, gue ngga bisa bilang jam segini gue udah pulang.”
“Iya, lo seneng banget ya sama ekskul-ekskul lo itu.”
“Ya soalnya kalo ada wadah buat nyalurin hobi gue. Kenapa nggak? Kaya lo kan
suka bola, ya elo gabung di ekskul bola bareng Abdi.”
“Iya, sebenarnya dia masuk mading itu nggak sengaja. Gue yang iseng
nulis di formulir tanpa dia tahu. Hahaha….”
“Pantesan…. Mana bentrok mulu sama jadwal ekskul bola.”
“Iya. Makanya dia lebih sering nitip tas doang. Setor muka sama Bu
Tasya.”
“Jahat banget lo.”
“Ya tapi sekarang, ada gunanya juga dia masuk mading.”
“Kenapa gitu?”
Davi tertawa. “Lo ngegemesin ya. Masa nggak tahu?”
“Nggak….”
“Matari, kalau gue nelepon gini ada yang marah ga sih?”
“Ada….”
“Siapa?”
“Eyang gue. Dia suka kesel kalo gue make telepon lama-lama.”
“HAHAHAHA. Ya ampun MATARI! Gue kiraaa…”
Matari tampak kebingungan. “Gue serius.”
Davi masih tertawa. Padahal bagi Matari tidak ada yang lucu.
“Eh iya, gue pernah lihat lo sepedaan sama cowo. Cowok lo?”
Matari terdiam. Dirinya berpikir sebentar.
“Bukan. Dan belum sih.”
“Kok belum?”
“Gila lo. Dia anak SMA. Eyang gue bisa marah-marah dong. Tetangga gue
pula.”
“Berarti kalo sama anak SMP boleh dong?”
Matari terdiam lagi.
“Tuh, kan, diem aja. Boleh nggak?”
“Hmmm, lo nanya apaan sih, Dav?”
__ADS_1
“Nggak, udah nggak papa.”
***