Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 29 Penjelasan Kamal


__ADS_3

Malamnya, yang berarti malam kedua bagi Matari, setelah makan malam di restaurant dekat hotel, Matari kembali ke kamarnya bersama Dian. Matari cukup merasa beruntung ada Dian di sampingnya. Meski dia tak banyak mengobrol, setidaknya Matari merasa senasib dengan gadis kecil itu. Menumpang liburan dengan keluarga lain. Hal


yang baru disadarinya, ternyata menumpang liburan, meski dengan hotel sebagus apapun, tidak terlalu membuatnya nyaman.


Padahal, Tante Indira dan Om Baskara tidak terlalu ikut campur dengan urusan anak-anak yang ikut dengan mereka. Mereka benar-benar menikmati liburan dengan caranya sendiri. Anak-anak yang sudah dianggap lebih besar dan bisa bertanggungjawab, sama sekali tidak terlalu diatur ini-itu. Hal itu tentu berbeda dengan cara Eyang Putri atau Ayah Matari di rumah. Jika mereka ada di sini, pasti akan ada aturan-aturan tidak tertulis yang harus ditepati.


Banyak hal yang dilakukan Matari bersama-sama. Seperti berjalan-jalan di tepi pantai, makan di restoran, makan pagi, siang dan malam yang selalu bersama-sama. Bahkan, malam itu, Tante Indira dan Om Baskara mengajak mereka makan di restoran lain di luar hotel untuk mengganti suasana. Acara makan cukup akrab dan banyak tawa. Karena Pak Raden dan Kang Udin banyak melucu untuk memeriahkan suasana.



Namun, entah kenapa, Matari ingin cepat-cepat pulang. Suara deburan ombak malam di kejauhan, membuat suasana makan terasa lebih akrab dan menyenangkan. Dan yang paling mengejutkan adalah, dia ingin sekali mendengar suara Davi. Mengobrol dengannya hanya untuk membahas hal-hal yang tidak penting atau sekedar


membicarakan musik dan buku. Dua hal yang sedang dicoba oleh Davi untuk disukainya juga.


Setelah makan malam, Matari tidak ikut Iko, Raline dan Kamal jalan-jalan di pantai. Dia memutuskan kembali ke kamar karena ingin BAB. Ternyata, Dian ikut. Saat selesai BAB pun, Matari enggan turun kembali menyusul mereka. Dia bertahan di kamarnya bersama Dian.


“Tok… tok… tok…” terdengar suara pintunya terketuk beberapa kali.


Matari mengintip dari lubang pintu. Bayangan Pak Raden tampak bersebelahan dengan Kang Udin.


“Eh, malam, Mba. Saya sama Udin mau ke warung, beli rokok. Boleh kan titip Dian sebentar?” tanya Pak Raden sopan.


Matari mengangguk sambil mempersilahkan masuk. “Dian, ada Bapak kamu nih!”


Dian secepat kilat menghampiri Bapaknya. Memeluk sebentar dan mengucapkan hati-hati.


“Pak, kalau misalkan Dian mau tidur sini ya nggak papa, sih. Nanti saya kabarin ke kamar Bapak lewat telepon ya,” ujar Matari. “Itung-itung nemenin saya.”


“Ohhh. Oke deh, Mba. Mungkin saya agak lama, soalnya sekalian mau ngerokok juga. Kalau di dalam kamar hotel nggak enak sama Ibu dan Bapak,” sahut Pak Raden.


“Mba Matari teh berdua aja?” tanya Kang Udin saat menyadari kamar Matari yang sepi, tidak ada siapapun lagi.


“Iya. Yang lain pada ke pantai. Saya tadi balik ke sini. Niatnya sebentar tapi males mau nyusul ke sana. Udah malem gini, Kang!” jawab Matari.


“Gelo ya, Pak. Nggak dingin atuh mereka ke pantai jam segini. Anginna teh kuat pisaaan!” seru Kang Udin dengan logat Sundanya. “Kaya semalem atuh, nggak tahu mulih jam berapa, orang kita teh ngajemput si Dian pada nggak


keliatan dua-duanya.”


“Udahlah, Din. Bukan urusan kita tahu. Udah ya, Mba. Kita ke bawah dulu. Permisi. Dian, nurut sama Kak Matari ya. Jangan bikin repot!” timpal Pak Raden sambil permisi dengan sopan.


Matari kemudian menutup pintu.


“Semalam kamu dijemput Bapak jam berapa?” tanya Matari sambil mengambil minum dan beberapa snack yang disediakan oleh Tante Indira di dalam lemari.


“Nggak tahu, Kak. Jam 1 apa jam 2an gitu,” sahut Dian sambil kembali duduk menonton tv.


“Oh. Nggak ketemu Kak Iko sama Kak Raline?” tanya Matari penasaran.


Dian menggeleng. “Bapak, Kang Udin sama Kak Kamal bareng-bareng baliknya. Kak Kamal langsung ke kamar, tidur. Tapi Dian sempet ngelihat Kak Kamal ngambilin selimut buat kakak. Trus kami keluar. Baru ketemu Kak Raline


sama Kak Iko lagi, waktu sarapan.”


Matari mengangguk paham. Kemudian duduk di sebelah Dian mengajaknya menikmati snack bersama-sama.

__ADS_1


***


Paginya, setelah subuh, Matari memperhatikan Dian yang masih tertidur di sampingnya sambil berpikir. Semalam, sekitar pukul 11, Pak Raden dan Kang Udin sempat datang, namun karena Dian sudah tertidur, Matari tidak tega membangunkannya dan membiarkan Dian tidur di kamarnya. Jika Raline datang, dia berniat akan mengalah dan tidur di sofa. Matari tahu, tipikal Raline tidak akan mau tidur di sofa atau mengalah demi orang lain. Tidur satu


kamar dengan Matari saja mungkin Raline merasa terpaksa. Dua malam di kamar ini dan Raline sama sekali tidak pernah tidur di sampingnya. Entah dia tidur di mana.


Pagi ini pun disadarinya, Raline tidak tampak sama sekali. Hanya Kamal yang tiba-tiba datang ke kamarnya dan menyapanya dengan sikap ramahnya seperti biasa beberapa menit kemudian. Saat Matari membuka pintu, tampak Kamal sempoyongan di depannya sambil beberapa kali menguap.


Matari tak tercengang. Dia memang sempat melihat botol miras di tas kamal beberapa waktu yang lalu. Sehingga melihat keadaan Kamal seperti itu, Matari tahu, semalam, Kamal kemungkinan besar telah meminum botol miras yang dibawanya sendiri.


Melewati Matari, bau alkohol di tubuh Kamal menyeruak. Matari memang tidak pernah meminumnya. Namun, bau itu sama dengan bau alkohol penyembuh luka, hanya saja lebih keras dan bercampur dengan aroma buah anggur. Semacam itulah.


“Ma-tariiiiii, ka-mar man-di lo ko-song nggak?” tanya Kamal dengan susunan terbata-bata.


“Kosong. Cuma, Dian masih tidur. Jangan berisik ya!” sahut Matari setengah berbisik.


“Te-nang, gue ka-lo ma-bok nggak re-seeee…. Cu-ma ngantuk-nya nggak na-han!” seru Kamal sambil masuk ke kamar mandi.


Matari melihat ke arah Dian yang sudah terbangun. Suara Kamal memang cukup heboh, membuat orang yang mendengarnya pasti akan terusik.


“Sorry, kamu kebangun ya? Dian mau dianter ke kamar Bapak?” tanya Matari.


Dian mengangguk sambil menguap. Matari kemudian menggandengnya. Pintu kamarnya dibiarkan terbuka, karena jarak kamarnya dan kamar Pak Raden hanya berjarak 1 kamar, yaitu kamar milik Iko dan Kamal. Matari mengetuk perlahan kamar Pak Raden.


“Wah, maaf Mba! Jadi repot-repot nganterin,” sapa Pak Raden setelah membuka pintu. “Dian mau bobo lagi atau mau mandi?”


“Mau bobo bentar lagi, Pak. Boleh?” sahut Dian lirih.


Pak Raden mengangguk, kemudian membawa Dian masuk dan membimbingnya ke tempat tidur. Dari arah kamar mandi, keluar Kang Udin sambil memakai handuk di kepalanya yang basah. Dia meringis sambil menyapa Matari.


“Ke kamar Mba Matari tadi kayanya ya, Mba? Maklum bangun-bangun mau kencing, lunya masih di dalem. Lama lagi!” jawab Pak Raden.


“Lho, emangnya mereka teh masih belum bangun? Kok ke Kamar Mba Matari?” tanya Kang Udin.


Pak Raden berdehem, mengangkat bahu sambil melirik ke Matari. Kang Udin kemudian mengangguk paham. Matari tahu mereka membicarakan hal yang mungkin tidak ingin diketahuinya atau dibahasnya. Akhirnya Matari pamit dan kembali ke kamarnya.


Di kamar, Kamal sedang membuat teh hangat. Dia tampak lebih segar dibanding saat datang tadi.


“Makasih yaaa, tanpa lo gue bisa ngompol!” seru Kamal.


“Santai aja…,” sahut Matari pendek.


“Parah nih dua sejoli. Jam segini belum bangun.”


Matari terdiam sejenak, tahu siapa yang dimaksud. Namun tak berkata apapun, kemudian melangkahkan kakinya ke balkon kamarnya. Tak berapa lama, Kamal menyusul di belakangnya.


“Lo ada ketemu Tante sama Om nggak?” tanya Kamal kemudian.


Matari menggeleng.


“Semoga aja ya udah berangkat jogging.”


Matari hanya tersenyum menanggapi perkataan itu.

__ADS_1


“Gue di sini dulu, nggak papa? Dian udah balik ke Bapaknya ya?”


Matari mengangguk. Namun sebenarnya dia ingin mandi. Hanya tak nyaman saja jika Kamal masih di kamarnya seperti ini. Bagaimanapun juga, Kamal adalah lawan jenis. Matari tidak merasa nyaman akan hal itu.


“Semalem gue mabok parah banget. Untung ada Pak Raden sama Kang Udin. Nggak tahu kalo nggak ada mereka, gue bisa tidur di pinggir pantai kali yah?”


Tak tahan menahan rasa penasarannya lagi, akhirnya Matari bertanya. “Kalian semua mabok?”


“Gue doang sih. Raline sama Iko ikut minum, tapi nggak banyak. Abis gitu mereka cabut duluan.”


Matari kemudian terpaku. Lalu di mana mereka?


“Lo pasti kaget ya?”


“Kaget? Kenapa?”


“Gue sama Iko minum-minum!”


Matari menarik napas. “Nggak juga sih. Kaget banget sih nggak juga. Gue aja yang masih SMP. Tapi bukannya, lo sama Iko belom 17 tahun?”



“Iko udah. Gue yang belum hahaha. Raline juga udah. Tapi sebenernya kaya gituan mah nggak ada hubungannya sama umur, Ri! Di antara kita-kita sih udah biasa. Cumaaaa kadang suka keki aja kalau kaya gini, harus ngejelasin sama anak kecil kaya lo. Apalagi gue liat, lo anak baik-baik. Nggak macem-macem. Makanya semalem Iko udah ngewanti-wanti gue untuk nggak ngomong sama lo.”


“Trus kenapa lo ngomong sama gue?”


“EH IYA YA? Sial! Masih mabok dikit kali ya gue?”


Matari tak menjawab. Memperhatikan balkon kamar sebelahnya yang masih tertutup rapat.


“Terus mereka sekarang ada di mana?”


“Di kamar sebelah! Kaya lo nggak tahu aja kalo orang pacaran gimana?”


Matari tercekat. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Kamal. Bukan karena cara pacaran Iko. Namun karena dia


tiba-tiba teringat bahwa Iko dulu yang melarangnya untuk melakukan free sex karena belum saatnya. Tapi kenapa Iko sendiri yang malah melakukannya di usianya yang bahkan hanya terpaut 3 tahun di atas Matari? Kenapa orang lain susah payah menasehati orang lain untuk lebih baik, namun dirinya sendiri tidak bisa menjalaninya?


Kalimat demi kalimat yang dilontarkan Pak Raden dan Kang Udin sebelumnya teringat di kepala Matari, bahkan kalimat tersirat dari Kamal cukup membuat Matari sadar dan tahu, Iko yang dikenalnya selama ini mungkin tidak benar-benar sepenuhnya dikenalnya.


“Kok diem? Kaget ya lo? Dah biasa kaliiiii…. Malam kemarin juga. Makanya gue biarin lo tidur di sofa.”


Matari kemudian teringat kejadian subuh sebelumnya saat dia hendak masuk ke kamar ini dan pintunya tak bisa dibuka. Matari bahkan berpikir karena dia mengantuk dan memasukkan kartu akses tidak sesuai dengan semestinya. Andai dia tahu semalam hanya berdua dengan Kamal pun, mungkin Matari akan memilih tidur di


lobby hotel. Dia sendiri tidak sepenuhnya percaya pada Kamal.


Entah kenapa, Matari merasa, dia sepenuhnya sendirian di rombongan keluarga itu. Benar-benar sendirian dan terpinggirkan.


“Santai. Lo aman sama gue. Gue bukan orang yang menganut paham itu. Meskipun seperti yang Iko bilang, gue doyan mabok. Tapi sebisa mungkin gue nggak ambil keuntungan dari perempuan. Kalo gue mau, gue bisa. Tapi gue enggak. Untuk hal semacam itu, gue lumayan ada prinsip. Suerrrr. Tanya aja sama Pak Raden dan Kang Udin. Kalo gue mau, kita berdua kaya gini aja, gue bisa ngerayu lo untuk memenuhi nafsu gue. Tapi, gue juga tahu diri, liburan aja dibayarin. Kalo yang punya acara mah bebaassss!”


Matari menatap Kamal yang tampak bisa membaca pikiran-pikiran yang ada di kepalanya.


“Sekarang, karena bact gue, lo udah tahu soal ini. Tolong jangan ngomong apa-apa sama Tante sama Om ya. Kita kudu berterimakasih sama mereka diajak liburan. Kalau tahu, bisa bahaya. Lo tahu kan, Iko sekarang jadi anak satu-satunya bagi mereka. Pasti banyak harapan yang dibebankan sama Iko. Tenang aja, mereka main aman. Pasti nanti sebelum Om dan Tante balik jogging*, mereka udah bersikap seolah nggak terjadi apa-apa.”

__ADS_1


Saat Kamal mengatakan itu, rasa kecewa Matari pada Iko semakin memuncak.


__ADS_2