Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 27 Anyer


__ADS_3

Mobil van besar yang disewa Tante Indira dan suaminya, Om Baskara, sekaligus membawa sopir pribadinya kali ini. Kata Iko, biasanya, Om Baskara yang menyetir jika hanya sekitar Anyer, Bandung atau Bogor. Namun, karena ingin


benar-benar bersantai, Om Baskara pun akhirnya mengajak Pak Raden, sopir pribadi mereka, ikut serta. Tak lupa Kang Udin, salah satu ART laki-laki di rumah Om Baskara ikut menemani. Kang Udin dibawa karena mereka berencana untuk mengadakan pesta BBQ di malam terakhir di resort terbesar di Kawasan Anyer tersebut.


Matari sejujurnya malas satu kamar dengan Raline. Dia masih kurang cocok dengan gadis cantik itu karena lebih dulu menjadi pacar Iko. Walaupun sekarang Matari sudah tidak menyukai Iko seperti dulu, namun tetap ada yang mengganjal di hatinya.


Raline sendiri tampak tak terlalu perduli dengan kehadiran Matari. Meskipun satu kamar, Raline lebih sering menelepon dengan handphonenya. Raline yang dulu pertama kali dikenalnya adalah orang yang ramah. Namun, belakangan, setiap bertemu, Raline selalu menyiratkan ketidaksukaannya pada kehadiran Matari.



Setelah selesai menelepon, Raline pamit ke kamar sebelah, di mana Iko dan Kamal berada. Matari tidak masalah ditinggal sendirian. Kamar hotel yang mewah dan besar dengan pemandangan langsung pantai Anyer lebih membuatnya nyaman dibandingkan harus bergabung dengan remaja-remaja SMA yang tidak terlalu dikenalnya.


Sampai sekitar satu jam kemudian, Raline dan Iko masuk. Mereka mengajak Matari untuk keluar berjalan-jalan di sekitar kawasan pantai. Tante Indira dan Om Baskara sedang menemui tamu lain di restoran hotel, sehingga tidak ikut. Pak Raden dan Kang Udin sudah lebih dulu nongkrong di pinggir pantai sambil merokok dan menikmati kopi.


“Lu sama gue aja. Daripada jadi obat nyamuk,” kata Kamal, yang muncul tiba-tiba di belakang Matari.


Matari cuma tersenyum. Dia pernah bertemu Kamal sebelumnya. Di grup sepeda hari Minggu pagi-pagi buta itu. Namun, saat itu, Kamal seperti remaja cowok yang lain. Cuek dan tidak peduli pada kehadiran Matari. Sehingga Matari pun enggan terlalu dekat dengannya atau hanya sekedar mengobrol. Namun karena saat itu, Kamal juga ikut, mau tak mau Matari harus bisa berusaha ramah padanya.


Raline dan Iko tampak asyik bersenda gurau di bibir pantai. Matari enggan bergabung karena malas basah. Kamal duduk di sebelahnya. Beberapa meter di belakang mereka, tampak Pak Raden dan Kang Udin duduk mengobrol sambil mengawasi majikan kecil dan teman-teman mereka.


“Lu pendiem amat sih. Ngobrol dooong…!” seru Kamal sambil menyulut rokoknya.


Jujur, Matari tidak pernah suka orang yang merokok di depannya. Namun, dia harus tetap bertahan di situ. Tidak enak dengan Iko dan yang lainnya jika dia harus menyingkir hanya karena asap rokok Kamal.


“Lu bisa nyanyi nggak?” tanya Kamal kemudian. “Kita main gitar aja sambil nungguin mereka pacaran. Gue pinjem ke Kang Udin dulu ya.”


Matari memperhatikan Kamal yang berlalu menuju tempat duduk Kang Udin. Ternyata Kang Udin memang membawa gitar. Bukan gitar mahal seperti yang ada di studio band Lisa. Namun katanya itu untuk mengisi di waktu luang saat bekerja di rumah Tante Indira yang cenderung sepi.


“Lu mau nyanyi apa? Bintang kecil?” tanya Kamal sambil duduk kembali.


“Masa bintang kecil?” timpal Matari.


“Yah elu kan masih kecil? SD ya lu?”


“SMP, kak!”


“Loh, SMP? Kirain masih SD. Gue pikir lu tipe anak SD yang badannya bongsor aja. Ternyata SMP toh. Ya udah, berarti bisa nyanyi cinta-cintaan dong ini? Lu bisanya lagu apa? Indo apa barat nih? Gue bisa semua loh.”


Matari menatap ke pantai anyer yang semakin ramai karena memang musim liburan sekolah itu. Banyak pedagang asongan berjalan ke sana kemari menawarkan dagangannya. Banyak juga anak kecil yang bermain pasir. Banyak juga pengunjung yang bermain di bibir pantai. Dia sadar, sudah lama tidak pergi ke pantai. Mungkin terakhir kali saat dia masih kelas 1 SD. Saat acara family gathering kantor Ayahnya. Saat itu Ibu masih ada.


“Woiii, malah bengong lu!”


“Hahahaha, iyaaaa…. Apa ya kak? Bingung juga….”


“Yang lagi hits sekarang apa ya…. Tahu lagunya Pas Band nggak?”


“Tahunya cuma yang Kesepian Kita aja, Kak….”


“Nah, pas banget tuh. Itu aja dah. Gampang. Bentar, gue setel dulu gitarnya.”


Sambil menunggu, Matari memperhatikan Raline dan Iko yang sedang bermesraan sambil bermain air, masih di tempat yang sama. Mereka berdua tampak mesra dan bahagia. Mungkin, memang Iko benar-benar bahagia berpacaran dengan Raline. Matari ikut senang melihat Iko bisa tertawa lepas seperti itu. Tawa yang jarang diperlihatkannya meskipun Iko bukan orang yang serius.


“Dah, nih, yuk…!”


Matari meneguk botol air mineralnya kemudian menyanyi. Sambil tetap menatap ke arah Iko dan Raline di kejauhan.


“Ingatlah kawan kita pernah saling memimpikan


Berlari-lari 'tuk wujudkan kenyataan


Lewati segala keterasingan


Lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan


Ingatkah kawan kita pernah berpeluh cacian


Digerayangi dan geliati kesepian


Walaupun sejenak lepas dari beban


Tuk lewati ruang gelap yang teramat dalam


Hidup ini hanya kepingan

__ADS_1


Yang terasing di lautan


Memaksa kita


Memendam kepedihan


Tapi kita juga pernah duduk bermahkota


Pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata


Dicumbui harumnya putik-putik bunga


Putik impian yang membawa kita lupa


Hidup ini hanya kepingan


Yang terasing…” 


“LAH HAPAL JUGA LO ANAK KECIL?!” seru Kamal takjub.


“Plok… plok… plok….,” Matari menyadari Iko datang mendekat sambil bertepuk tangan. “Ri,


suara lo kedengeran sampe sana. Bagus banget!”


Matari hanya melempar senyum. Beberapa pengunjung di sekitarnya juga melempar senyum kepadanya, sepertinya beberapa dari mereka ikut menikmati nyanyian Matari yang memang cocok didengarkan di sore hari seperti ini beserta suara deburan ombak di kejauhan.


“Iya, bagus nih suara dia! Oke juga buat duet…!” timpal Kamal.


“Ah, kebetulan kemarin pas manggung di pensi gue nyanyiin ini, Ko. Jadi pas bisa juga.”


“Pensi? Lo anak pensi, Cil?” tanya Kamal. “Gila, tetangga lo ajaib juga, man! Gue kira dia anak pendiem, anak rumahan gitu.”


“Itu bener sih. Gue emang pendiem dan anak rumahan, Kak! Tanya aja sama Iko. Dia temen pertama gue di kompleks.”


“Iyaaa, tapi nggak nyangka gue lo anak band juga. Biasanya kalo tipe-tipe kayak dia nih, di sekolah kita nggak bakalan masuk cheers, ya nggak, Line?”


Raline mengangkat alis dan tersenyum sebisanya. “Ya orang kan beda-beda, Mal. Ada kok


anak cheers yang setipe ama dia. Jaim-jaim gitu. Tahu si Olla kan? Ya sama tuh ama dia. Kalo lagi latihan paling diem, tapi kalo gerakan paling hapal. Cuma agak kaku aja.”


gue panggil anak kecil,” kata Kamal.


“Baru-baru aja, kak. Kebetulan temen-temen kekurangan personil. Pas dicoba tes, eh masuk suaranya. Ya udah…..”


“Gini Cil, suara lo itu bagus. Menurut gue pribadi. Tadi aja gue pikir cuma kaya iseng gonjreng-gonjreng doang. Eh ternyata, lo beneran bisa nyanyi. Ya udah, nge-jam aja kita yuk.”


“Maklum ya, Ri, dia nih, obsesi anak band. Cuma nggak pernah on time kalau latihan. Makanya


sering dikeluarin. Tapi sebenernya, dia jago banget main gitar. Lo liat sendiri kan, sekali gonjreng, jadi!” kata Iko memuji.


“Ya habis… anak-anak nih kalau ngajakin main band suka sore-sore gitu. Enakan malemlah!” tandas Kamal.


“Malem juga belom tentu lo dateng. Nih, kalau nggak main bilyard, dia suka mabok-mabokan. Kasih tahu tu, Ri. Nggak baek kaya gitu!” kata Iko sambil tertawa.


“Ya mumpung masih muda, bro. Kaya lo aja hobinya pacaran mulu. Dulu aja masih jomblo, hobinya ke gramed nyari majalah bola. Sekarang udah punya cewek, boro-boro ke gramed. Ke rumah gua aja jarang.”


“Gue males ke rumah lo. Suka bau miras. Temen-temen lo tuh, kalo abis pada mabok diberesin dong. Heran deh. Kalo di rumah, gue kaya gitu, nyokap gue udah maki-maki, sampe diusir kali.”



“Beda rumah, beda rules, bro. Rumah gue mah nyantai. Asal nggak ngobat aja. Kalo ngobat ya sama, bro. Gue bisa diusir. Ngabis-ngabisin duit katanya.”


“Mabok juga ngabisin duit, cui. Udahlah, dikurang-kurangin maboknya. Nggak cape kapa ditanya


sama guru terus, Kamal ke mana? Itu kenapa Kamal matanya merah? Ribet tahu nggak, lo!”


“Udah, udah. Ni apaan sih malah jadi ngerembet soal mabok segala? Udah mau magrib nih. Tadi nyokap lo ngasih tahu gue, abis magrib kita dinner di restoran hotel sama-sama. Udah di booked buat kita semua. Jangan lupa lo kasih tahu Pak Raden dan Kang Udin ya, mereka diajak juga katanya.” Potong Raline dengan muka juteknya.


“Oh, gitu, ya udah kita balik hotel terus mandi dulu deh. Gue ajak Pak Raden dan Kang Udin dulu ya. Kalian duluan aja ke hotel.” Sahut Iko sambil berjalan duluan ke tempat Pak Raden dan Kang Udin berada.


Matari mengikuti Raline dan Kamal berjalan menyusuri pasir menuju ke arah hotel yang letaknya memang dekat dengan pantai.


“Gue mandi duluan ya!” seru Raline pada Matari.

__ADS_1


Matari mengangguk. Dia tak berani memprotes, meskipun badannya sendiri sudah terasa gatal akibat terkena pasir di mana-mana.


***


Setelah makan malam, Matari diajak Iko dan Kamal untuk bermain di kamar mereka. Raline sudah pasti ikut tanpa ditanya.


Raline mengerutkan dahinya saat melihat botol miras yang ada di dekat tas ransel Kamal.


“Mal, jangan mabok di sini ya. Ada anak kecil. Kasih contoh yang baik!”seru Raline sambil duduk di sofa dekat tv.


“Iya, iya. Santailah. Gue juga tahu diri.” sahut Kamal sambil duduk di sebelah Raline.


Matari ikut duduk di dekat mereka, kemudian sesaat kemudian, Iko datang.


“Wahhh, ngapain ya malam ini?” tanya Iko mencari ide.


“Ke pantai yuk!” ajak Raline.


“Nggak ah. Kasihan Matari tahu. Udah malam, nanti dia bersih-bersih lagi. Lagian udara laut di malam hari nggak bagus buat dia.” timpal Iko.


“Ih, apaan sih, lebay deh kamu. Dia udah gede tahu. Gue sama dia aja tingginya hampir sama. Ri, lo mau ke pantai nggak?”


Matari meringis, sejujurnya dia malas. Dia hanya ingin tinggal di kamar saja. Minimal di sini, tak usah ke pantai lagi. Karena malas bersih-bersih.


“Udahlah, kalo mau ke pantai, ya ke pantai aja. Gue sama Matari di sini, nanti kita main gitar aja ya?” ajak Kamal.


“Ah, nggak percaya gue, Matari ditinggal berdua sama lo.” seru Iko.


“Sayang, minta tolong aja sama Kang Udin buat nemenin atau minimal ngecekinlah. Kita ke pantai lagi yuk berdua!” saran Raline.


“Iya, iya. Bentar ya, aku ke kamar Mama sama Kang Udin dulu.”


“Oke deh. Aku tunggu sini ya.”


Matari hanya bisa pasrah. Sejujurnya dia ingin kembali saja ke kamarnya. Namun dia tidak enak untuk mengutarakan niatnya.


Saat Iko kembali, sudah ada Kang Udin dan Pak Raden di belakangnya. Ternyata Pak Raden tak sendiri, ada anak perempuannya yang mungkin berusia sekitar 8 tahun berjalan di sebelahnya menggandengnya.


“Mba Matari, Mas Kamal, anak saya, Dian, ikut ya. Tadi dia nyusul diantar Mamanya. Mamanya udah balik karena besok sudah shift pagi di pabrik. Dia ikut menginap di sini sama saya.”


Matari dan Kamal tentu tidak mungkin menolak kehadiran Dian. Justru Matari merasa senang, minimal ada anak perempuan lain di ruangan itu.


“Sini Dian, duduk sama kakak. Kamu mau nonton apa?” ajak Matari sambil melambaikan tangannya pada Dian.


Dian langsung lengket pada Matari. Karena hanya Matari yang wajahnya ramah padanya saat itu.


“Ya udah, gue keluar dulu ya sama Raline. Semuanya nggak usah sungkan-sungkan, di lemar ada snack yang udah dibeliin sama Mama. Ada gorengan juga tuh dari Mama. Pokoknya anggap kamar sendiri ya. Dian nggak usah malu-malu ya. Nanti kalau mau jajanan di situ ambil aja.”


“Makasih, Mas. Hati-hati, ya,” ujar Pak Raden.


Raline dengan sumringah langsung keluar menggandeng Iko. Matari duduk dan menghadap tv bersama Dian, anak perempuan Pak Raden. Dia memilih untuk menonton kartun.


Kamar yang dipesan Tante Indira memang besar. Masing-masing memiliki kitchen set dan meja makan serta area tv kecil. Mirip seperti apartemen 1 BR. Seluruh rombongan mendapatkan tipe kamar yang sama. Sehingga, meski Matari, Kamal dan Dian menonton tv bersama di area tv yang juga terdapat sofa untuk para tamu menyaksikan tv dengan nyaman, ruangan tidak terasa sempit. Apalagi Pak Raden dan Kang Udin memilih untuk duduk-duduk mengobrol di meja makan sambil menyantap gorengan bersama. Tante Indira dan Om Baskara juga sudah kembali ke kamarnya. Mereka sama sekali tidak bergabung karena ingin istirahat lebih awal. Besok subuh, mereka


berencana jogging bersama di sekitar area hotel dan pantai.


“Mba Matari, Mas Kamal, tolong temani Dian sebentar ya. Saya sama Kang Udin mau ngerokok dulu di luar. Nggak enak kalau mau merokok di sini. Sekalian saya mau mengambilkan sepatu jogging punya Ibu dan Bapak. Katanya ada di mobil, ketinggalan!” kata Pak Raden kemudian.


“Eh, Pak, saya ikut. Cil, lo berani kan berdua sama Dian doang?” seru Kamal sambil mengambil rokok dari dalam kantung jaketnya.


Matari mengangguk. Dian tak menjawab apa-apa dan hanya fokus menonton tv.


Selepas mereka pergi, ruangan menjadi terasa sangat luas dan besar. Saat itu tahun 2001, hotel terbesar di wilayah Anyer tersebut masih sekitar 7 tahunan berdiri, jadi bangunan masih tampak baru dan ramai. Matari masih mendengar banyak orang berlalu lalang di lorong depan dan suara orang-orang beramai-ramai di halaman


hotel saja terdengar sampai kamar. Berbeda dengan sekarang yang cenderung lebih sepi dan tidak terawat karena termakan usia.


Sekitar kurang lebih 1 jam berlalu, Matari menyadari Dian sudah terkantuk-kantuk di kursinya. Namun belum


ada tanda-tanda Pak Raden dan yang lainnya kembali. Lorong-lorong sudah sangat sepi, Matari tidak mendengar orang berlalu-lalang lagi.


“Dian, kalau mau bobo, bobo aja sambil nunggu Bapak datang, ya?” saran Matari saat melihat gadis kecil itu sudah sangat mengantuk.


Dian mengangguk dan bersandar di sofa, tak berapa lama, Dian pun tertidur. Matari memberikan jaketnya pada Dian untuk menutupi setengah badannya.

__ADS_1


Matari mengganti channel kartun dengan tayangan HBO, dan menonton sebuah film entah apa yang sudah berjalan setengahnya. Tak berapa lama, dia pun menyandarkan kepalanya di lengan sofa dan tertidur juga. AC kamar yang dingin dan cuaca di luar yang panas, membuat Matari mengantuk.


Entah pukul berapa saat itu, ketika Matari menyadari, dia terbangun di sofa yang sama, hanya saja kali ini dia dengan posisi yang berbeda dan berselimut. Dian sudah tak tampak di sudut kursi, mungkin Pak Raden telah memindahkannya ke kamarnya sendiri. Arloji pemberian Tante Hanna berhiaskan kincir angin khas Belanda di tangannya, menunjukkan pukul 4 lewat 15 menit. Terdengar dengkuran kencang dari arah kamar. Pelan-pelan Matari mengintip dan melihat Kamal tertidur di sana dengan selimut lain. Namun tak ada tanda-tanda-tanda Iko dan Raline di manapun juga.


__ADS_2