
Matari mengayuh sepedanya menuju warung Mba Sari, tetangga di kompleks mereka yang berjualan sembako di depan rumahnya. Tante Dina berencana memasak makan malam, karena beliau sedang ulang tahun. Namun tidak semua bahan ada. Bawang Bombay dan bawang putih habis.
Saat itulah dia melihat Iko dan Raline duduk berdua di depan rumah. Raline terlihat menangis. Iko pun hanya diam mematung di sebelah gadis itu. Matari tahu, Raline adalah tipe gadis-gadis SMA Jakarta yang cantik dan
stylish. Wajahnya cantik memesona dengan kulitnya yang gelap. Dia cukup bisa menerima jika Iko jatuh cinta kepadanya. Dia tahu tidak mungkin bersaing dengan anak perempuan yang bahkan bisa bertemu Iko dengan waktu yang lebih lama dengan dirinya.
Matari cuma mengangguk, menyapa sekilas pada Iko dan Raline, tanpa memberhentikan sepedanya. Dia tidak ingin mengganggu sepasang kekasih itu. Dirinya saja belum bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah jatuh cinta dan patah hati dalam waktu yang singkat.
Saat kembali, dilihatnya hanya tinggal Iko yang duduk di sana. Raline sudah tidak tampak. Matari pun akhirnya berhenti.
“Hai…” sapa Matari.
“Hai…” sapa Iko, meringis. “Yang tadi jangan bilang ke Mama ya.”
Matari mengernyitkan dahi. “Yang mana?”
“Soal Raline nangis.”
“Ohhh, iyaaa, Ko… nggak akan gue bilang sama Tante Indira. Beliau ada?”
“Nggak. Lagi sepi rumah gue.”
“Oh….”
“Lo darimana?”
“Dari Mbak Sari, beli bawang Bombay dan bawang putih. Tante Dina mau masak. Ulangtahun.”
“Oh, titip salam ya sama Tante Dina.”
“Siap. Ya udah, gue pergi ya, Ko. Soalnya udah ditungguin bawangnya.”
“Oke. Hati-hati ya.”
***
Matari menatap langit-langit kamarnya yang sedikit retak karena getaran dari renovasi rumahnya yang akan dibuat dua tingkat. Rumahnya sudah hampir selesai direnovasi. Jadi memang setiap pulang sekolah dia selalu mendapati rumahnya berdebu. Semua orang akan lebih betah di luar rumah atau di dalam kamarnya masing-masing. Yang menyenangkan adalah telepon rumah sekarang berada di dalam kamarnya, karena kabel hanya cukup
sampai di situ. Namun, karena itu, Eyang semakin ketat dalam mengawasi penggunaan telepon. Selalu bertanya dari siapa, telepon darimana, handphone atau rumah.
Sandra dan Bulan seperti biasa, sering tidak berada di rumah. Mereka akan datang di atas jam 7 malam. Berbeda dengan Bulan yang semakin giat berlatih, kalau Sandra, dia memang benar-benar tidak ingin berada di rumah. Sandra merasa, rumah baginya adalah pengingat akan mendiang Papanya. Dan itu cukup menyakitkan sepertinya bagi sepupu kesayangannya itu.
Makanya, jika tidak ada kegiatan pramuka, Sandra akan bermain dan nongkrong di rumah salah satu sahabatnya yang bernama Lia. Dan pulang selepas magrib. Begitu seterusnya terkecuali hari Minggu. Dia akan tidur seharian atau membantu Mamanya membersihkan rumah mereka yang sudah berhasil mendapatkan pengontrak tetap.
Setelah menyerahkan barang belanjaan, Matari kembali ke kamar. Tante Dina enggan dibantu oleh Matari, dia hanya minta dibantu oleh Mbok Kalis. Eyang Putri tentu saja tetap berada di kamarnya. Dia hanya duduk di kamarnya membaca buku. Sampai telepon berbunyi.
Ternyata Rocky.
“Kenapa, Rock? Gue pikir Ricko yang bakalan nelepon gue.” kata Matari sambil berbisik pada Eyang Putri bahwa itu adalah teman sekolahnya yang baru masuk hari ini dan menanyakan PR.
“Enggak. Gue pengen ngobrol aja.”
Matari menarik napas, padahal dia baru saja hendak melanjutkan membaca Novel yang dpinjamnya di perpustakaan. “Boleh…”
“Lo lagi apa?”
“Ngerjain PR.” sahut Matari, berbohong.
“Lah, Matari ngerjain PR nih, lo kagak ada PR apa?” tanya Rocky pada kembarannya, cukup keras sehingga Matari bisa mendengar.
“Katanya dia nggak ngerti PRnya, Ri. Rumah lo mana sih?” tanya Rocky kemudian.
“Rumah gue di kompleks Abimanyu.”
“Jauh juga dari sini. Hmmm.”
“Lo yang sekolahnya jauh.”
“Hahahha, iya juga sih. Soalnya sekolah lo doang yang mau nerima kita. Yang lainnya udah over. Kasihan si Ricko. Besok dia mau datang pagian aja. Btw Ri, lo katanya suaranya bagus ya?”
“Kata siapa?”
“Irham, sebelahnya si Ricko.”
“Ah enggak, kok, Rock. Biasa aja… masih banyak yang lebih bagus dari gue. kebetulan aja kemarin manggung banyak yang suka.”
Matari hanya mengobrol beberapa menit dengan Rocky hingga Eyangnya masuk, memberi isyarat untuk segera selesai.
“Rock, udah dulu ya. Telepon gue mau dipake.” Kata Matari.
Rocky pun menurut dan menyudahi telepon mereka.
__ADS_1
“Tolong pencetin nomor rumahnya Indira.” Kata Eyang sambil duduk di sebelah Matari dan menyerahkan kunci telepon agar bisa dibuka.
Matari membuka gembok dan menekan nomor rumah Tante Indira yang dilihatnya dari buku telepon. Setelah tersambung, Matari langsung memberikannya pada Eyang dan keluar dari kamar tidur menuju dapur. Ruang keluarga dan ruang tamu penuh dengan debu dan bambu serta kayu yang berserakan. Hanya dapur dan
ruang makan yang masih aman dan selamat. Ternyata Tante Dina sudah selesai masak. Sandra ada di sana bersama Kak Bulan.
“Males ke kamar gue, ada Eyang.” Kata Sandra.
“Sandraaaa, nggak boleh gitu. Renovasi rumah ini juga dibantu uang dari Eyang supaya kalian semua punya kamar sendiri-sendiri.” Kata Tante Dina sambil mempersiapkan meja makan dengan masakan buatannya.
“Iya, iya.”
“Nanti kalau kalian semua sudah punya kamar sendiri, nggak boleh kelayapan sampai malam ya. Selesai kegiatan langsung balik. Dikurangin nongkrong-nongkrongnya.”
“Siaaaapppp…”
“Nahhhh, nanti Tante panggilin orang Telkom buat manjangin kabel telepon sampai atas. Supaya kalian bisa leluasa ngobrol ditelepon sama temen kalian. Tapi jangan kalian yang nelepon ya. Oke?”
Matari dan Sandra saling melempar senyum.
***
Selasa pagi, Matari berjalan pelan melalui Lorong kelas 1 saat Davi memanggil. Di belakangnya, anak laki-laki itu tampak segar dan wangi. Rambutnya masih basah. Tas ransel warna biru navynya yang Matari tahu harga satuannya bisa jutaan di mall, hanya ditentengnya dengan tangan satu.
“Iya, Dav?” tanya Matari bingung.
Haruskah sepagi itu Davi memanggilnya?
“Dari semalem, telepon rumah kamu dipake terus ya?” tanya Davi dengan suara serak-serak basahnya.
“Hmmm, nggak tahu gue. Emang lo nelepon, Dav?” tanya Matari.
Kemudian dia ingat bawah Rocky meneleponnya sebentar dan sisanya dipakai Eyang sampai larut. Sepertinya Eyang sedang mencocokkan data arisan dengan Tante Indira selaku bendahara arisan.
“Oh, gitu. Ya udah, nanti siang atau sore aku telepon lagi ya.” Kata Davi kemudian berbelok ke kelasnya.
Matari cuma mengangguk, kemudian berjalan lagi, ternyata di depan kelas si kembar telah menunggunya.
“Pagi, Matari…”sapa mereka kompak.
“Hai, twins…” sahut Matari.
“INI DIAAAA… RI!!! Jadi gimanaaaa?” tiba-tiba Gilang mencegatnya.
“Gara-gara lo lama, Hans kabur tuh ke band kelas sebelah. Jadi gimana ni Ri? Kita nggak ada pemain gitar.” Jawab Gilang.
Matari terdiam sejenak. “Gue bahkan belum narok tas gue, Lang.”
“Nggak bisa gini. Nanti kabur lagi yang lain.” Kata Gilang.
“Hai, gue denger kalian nyari pemain gitar? Buat band?” tanya Ricko.
Matari mengangguk. “Lo bisa?”
Ricko mengangguk. “Bisa. Harus satu kelas?”
“Nggak tahu. Kita sih maunya sekelas aja. Biar gampang koordinasinya. Ini si ibu satu in ikan sibuknya bukan main. Si keyboardist apalagi. Kalo nggak nge-bimbel, photoshoot. Haduuuhhh” sahut Gilang.
Matari meringis. “Iya, iya, gue join.”
Gilang melonjak kegirangan. “Oke, kalian tinggal mainkan peran masing-masing, gue yang nyari lagunya. Lagu senang apa sedih?”
“Senang aja deh. Gue capek nyanyi sedih mulu.” Kata Matari yang disambut tawa Gilang.
“Eh, nanti tiap kalian Latihan, gue ngikut ya?” tanya Rocky.
“Boleh, boleh. Kalian kan sepaket.” Sahut Gilang kemudian.
***
Matari berjalan sambil menggiring sepedanya, tanpa menaikinya, sampai Davi mendekatinya dari belakang. Saat itu jam pulang sekolah. Sekolah ramai dengan siswa-siswi yang berebut keluar pagar. Beberapa ada yang masih tinggal untuk melanjutkan kegiatan ekskul, namun juga ada yang hanya nongkrong sambil menunggu arus pulang lebih sepi.
“Aku temenin pulang yuk.” Kata Davi sambil merebut sepeda dari tangan Matari dengan cepat.
“Nggak usah boncengan ya, sekolah masih rame.” Kata Matari.
“Iyaaaa. Habis ini sampai rumah, nggak ke mana-mana kan?”
“Nggak, Dav. Besok kan ekskul mading, jadi mau istirahat aja di rumah.”
“Aku telepon ya.”
“Iya, Dav. Kan lo udah ngomong tadi.”
“Siapa tau lupa. Eh pensi nanti katanya ngundang Element lho.”
__ADS_1
“Oh, iyakah?”
“Iya. Kita nonton bareng yuk?”
“Iya, boleh. Tapi kayanya gue manggung juga deh, Dav.” Kata Matari.
Davi menghentikan langkahnya. “Lagi?”
“Iyaaaaa. Kali ini sih sama band kelas gue aja.”
“Hmmm, oke. Wah, bisa-bisa sainganku nambah terus nih.”
Matari terkekeh. “Kok bisa?”
“Aduhhhh, kamu nggak sadar ya, kemarin pas kamu manggung, keren banget. Aku aja ampe bingung mau ngomong apa. Takutnya, nanti serius main band, fans kamu nambah terus lagi.”
“Hahaha, enggaklah, Dav. Gue kan masih amatiran, beda nih levelnya kalo dibanding Kak Nana.”
“Lah, Kak Nana juga mulai dari 0 kali, Ri. Sekarang? Dia udah ada lho fans base sendiri. Kadang-kadang kalau SMP lain ada manggung, band dia diundang juga.”
“Kayanya gue nggak bakalan sampe seserius itu deh, Dav. Gue masih ada hal lain yang lebih gue sukai.”
“Nulis ya?”
Matari mengangguk. “Iya, nulis adalah kesukaan gue dari dulu.”
“Iya, tulisanmu bagus sih, coba tulisan aku, mana ada yang mau baca.”
Saat Matari berjalan bersama Davi, sebuah motor lewat di dekat mereka, mengklakson. Matari mengenalinya. Mereka adalah Iko dan Raline. Matari cuma melambaikan tangannya.
“Itu ceweknya ya, Ri?” tanya Davi kemudian.
“Iya.” Sahut Matari pelan.
***
“Haloo….” Sapa Matari saat teleponnya berdering.
“Hai, Matari. Ini aku…” kata Davi.
“Iya, gue tahu.”
“Gimana, udah makan?”
“Udah.”
“Di rumah ada siapa?”
“Ada Eyang, lagi baca buku di kamarnya. Yang lain nggak ada. Mbok Kalis doang.”
“Oh... oke. Ri, aku boleh tanya?”
“Apa?”
“Kamu suka ya sama anak SMA tadi?”
Matari terkejut. Tak menyangka Davi menanyakan hal itu padanya. Namun dirinya lebih terkejut lagi mendapati dirinya tadi bersikap biasa saja saat melihat Iko dan Raline lewat bersama-sama. Apakah karena ada Davi di
sampingnya?
“Pernah….”
“Jadi maksudnya? Sekarang udah enggak gitu?”
“Iya, mungkin. Kan Iko udah punya cewek.”
“Iya, terus kenapa? Thea juga masih suka sama Kak Ben walopun udah ada Kak Nana.”
Matari menyadari dirinya memang sudah tidak ada perasaan apapun pada Iko saat itu. Perutnya sudah biasa saja. Tidak ada kupu-kupu berterbangan di sana. Jikapun iya, itu lebih mungkin karena ada Davi di sampingnya. Dia merasa terlindungi. Tapi dirinya sendiri tidak yakin apakah dia memang sudah jatuh hati pada Davi.
“Maaf ya, aku kayanya terlalu ikut campur ya?”
“Nggak, nggak, Dav. Gue malah jadi sadar udah nggak suka lagi sama dia ya, hahaha.”
“Jadi…. Gue boleh dong suka sama lo?”
Matari terdiam lama. “Boleh…”
“Jujur ya, untuk sekarang, aku suka kita kaya gini. Aku nggak maksa kamu untuk suka sama aku juga. Temenan deket gini juga cukup menyenangkan buat aku. Nanti kalau misalkan kamu siap, tolong pertimbangkan aku ya.”
Matari memejamkan matanya. Sejujurnya, dia ingin mengakui bahwa dia juga mulai memperhatikan Davi sedikit-sedikit. Hanya aktivitas yang disukainya seperti ekskul mading dan panahan yang selalu bisa membuat dirinya lupa akan Davi. Bahkan telepon-telepon itu rasanya menguasai dirinya. Dia bahkan seperti menunggu kapan Davi akan meneleponnya kembali.
“Iya, Dav… Gue pertimbangkan… ” kata Matari akhirnya.
__ADS_1