
Yang diingat dari Matari adalah, duluuuuu sekali, Ayahnya ceria dan bersahabat. Suka menggoda kedua anak perempuannya. Suka bercerita tentang binatang kecil bernama Si Kancil. Yang akan didengar tanpa ada rasa bosan dari Matari dengan mata bulatnya yang ekspresif. Ibunya akan tersenyum-senyum sambil membuat dua gelas susu hangat untuk dirinya dan Kakaknya.
Sejak Ibunya meninggal, Ayahnya sudah berhenti tersenyum saat pemakaman. Bahkan untuk menyapa Matari dan Bulan, beliau hanya mengangguk-angguk sambil menatap mereka. Meskipun tetap rajin menanyakan kebutuhan apa saja yang dibutuhkan, namun selalu memberikan uang bulanan yang jumlahnya sangat pas-pasan pada Matari dan Bulan. Matari dan Bulan tahu, Ayahnya memiliki hutang yang cukup besar akibat biaya Rumah Sakit Ibu Matari yang tidak di cover asuransi kantor.
Sampai-sampai mereka tidak mampu membeli mobil, padahal tahun di mana tahun sebelum Ibu Matari meninggal, Ayah mereka sudah berencana membeli mobil, sehingga jika pergi ke rumah Eyang tidak perlu menebeng atau naik taksi. Namun semua rencana itu sirna saat Ibu mulai sakit-sakitan dan drop hingga tahun berikutnya. Ujungnya, ketika duka itu datang, Ibu Matari yang pergi selama-lamanya sekaligus merenggut tawa di wajah Ayahnya.
Seakan duka belum pulih, ketika suatu hari Tante Hanna, saudara jauh Ibunya Matari ingin mengangkat anak Matari dan Bulan agar ikut keluarga mereka yang kebetulan tanpa anak dan berkecukupan untuk pergi ke Belanda, namun ditolak mentah-mentah oleh Eyang Putri.
Bulan ingat betul ucapan Eyang waktu itu.
“Selama aku masih hidup, anak-anak akan aku urus! Kalian nggak usah susah-susah bantu dia sampai bawa dia pergi dari aku!!! Biar mereka di sini. Ayahnya bisa datang seminggu sekali!” kata Eyang Putri sambil dengan nada tinggi. "Kalau di Belanda, gimana Ayahnya bisa ketemu mereka, anak-anaknya?"
Tentu mendengar itu, Bulan mengira Eyang akan bersikap baik dan sayang kepadanya. Namun tidak sama sekali. Dia jadi berpikir, bagaimana kehidupan mereka jika jadi ikut Tante Hanna dan Om Wigburg, suaminya, tinggal di luar negeri? Apakah jauh lebih baik dan Bahagia?
***
Setiap beberapa tahun sekali, Tante Hanna dan Om Wigburg akan datang saat lebaran. Dan tahun lalu, saat mereka datang kembali ke Indonesia, mereka menawarkan lagi kedua kalinya pada Matari dan Bulan. Namun, tentu saja tidak ada yang berani mengiyakan, mengingat Eyang Putri cukup keras kepala. Eyang akan melakukan segala cara agar Matari dan Bulan tidak pergi.
“Kalo kita tinggal di Belanda, berarti harus bisa Bahasa Belanda ya kak?” tanya Matari pada Bulan, kakaknya suatu hari di hari Minggu siang.
Saat itu, baik Bulan, Matari dan Sandra sedang tidur-tiduran di dalam kamar sambil membaca majalah. Eyang pergi arisan, mereka semua pun kompak berada di rumah. Cucu yang bisa dibilang kurang ajar. Namun dengan Eyang yang emosional seperti itu, siapapun pasti ingin menghindarinya.
“Iya. Kursus pastinya.” Kata Bulan sambil memakan camilannya.
“Belanda bagus ya, Kak?” tanya Matari lagi.
“Bagus. Gue sering liat di tv atau di majalah. Sungainya aja bening terus nggak bau.” Sahut Kak Bulan.
“Ya disangka kali Ciliwung?” celetuk Sandra.
“Ya nggak bisa dibandinginlah….” Sahut Matari.
__ADS_1
“Tapi kalau kalian semua di sana, gue bakalan sendirian dong.” Kata Sandra. “Nggak bisa bayangin gue di rumah sehari-hari sama Eyang. Kelas 2 bisa-bisa gue ambil ekskul seminggu penuh.”
“Ihhhh, nggaklah. Kan nggak boleh sama Eyang. Lagian emang kuat ambil ekskul seminggu penuh?”
“Kuat-kuat aja sih.”
“Hoi, Ndra. Nggak usah ngimpi deh lo ambil ekskul seminggu penuh, kalau pun kuat, emang boleh sama wali kelas? Nggak boleh kali!”
“Udah, udah. Apaan sih ngeributin hal yang nggak bakalan kejadian? Bener kata Matari, Ndra. Itu nggak bakalan terjadi. Untuk sekedar liburan aja nggak boleh. Padahal semua fasilitas full dari Tante Hanna. Kita nggak keluar sama sekali uang. Ehhhh, takut kita nggak balik sini kali ya?”
“Tapi kak, aku sebenernya happy sih di sini.” Kata Matari kemudian. “Walaupun ya Eyang begitu, Ayah juga sama aja, tapi aku senang aja ada kalian. Kalo di Belanda, Kakak bentar lagi kuliah, trus aku sama siapa di rumah Tante Hanna?”
“Alaaahhh, paling juga karena Davi Davi ituuuu…” ledek Sandra.
“Sialan lu! Kagaaaaa….” Kata Matari, pipinya memerah.
“Wowww, siapa ni Davi? Udah nggak sama Iko lo?” tanya Bulan sambil tertawa.
“Sama Iko gimana? Emangnya kita pacaran? Yeeeee….”
“Tapi dia udah ada cewek, Kak. Raline namanya. Kakak kenal, nggak?”
“Raline? Raline Ayunda? Ya kenalah, kan seangkatan sama gue!”
“Hah? Berarti Iko pacaran sama kakak kelas gitu, maksud kakak?”
“Iya, mungkin. Raline itu nama yang nggak umum. Beda kaya nama Mega, Sari, Ika, atau nama umum-umum lainnya. Coba gue tanya, anaknya cantik, manis, kulitnya gelap, matanya lebar kan?”
Matari mengangguk.
“Nah, bener kan. Setau gue, anak kelas 1 nggak ada yang namanya Raline. Raline yang di SMA gue ya cuma dia seorang. Ciri-cirinya aja lo udah iyain. Berarti bener dong, temen seangkatan gue.”
“Wah, hebat juga Iko menaklukkan kakak kelasnya.”
“Ya nggak hebat juga, Ndra. Karena gue SMA, lo berdua masih SMP, dan sebenernya jarak setahun itu kalo kalian udah ketemu saat usia dewasa itu nggak terlalu keliatan kok. Sekarang terlihat aneh karena ada tingkatan untuk memisahkan umur itu.”
__ADS_1
“Trus Raline gimana orangnya Kak?”
“Nggak kenal banget gue, dia anak cheers. Tapi yaaa oke sih, dibanding anak-anak cheers lainnya, dia yang paling kalem. Udah, skip soal Iko. Nggak penting dan males banget gue. Jadi lo udah nggak suka sama dia lagi ceritanya?”
“Yaaa kalo suka juga nggak mungkin, Kak. Nanti ketahuan Eyang malah berabe…”
“Kalo Eyang menurut gue nggak papa, tapi itu kalo misalkan lo pacaran sama anak Tante Indira. Hahahaha! Kan temen deketnya Eyang di kompleks sini. Malah seneng kali kalo dia tahu pacar cucunya dari kalangan orang yang dia kenal. Yang kudu lo waspadain itu, menurut gue, justru Ayah, Ri….”
“Kok Ayah?”
“Ayah tuh nggak suka gue ataupun lo pacar-pacaran. Mendingan lo jaga-jaga deh. Jujur ya, gue beberapa kali deket sama orang, gue bersikap seinvisible mungkin. Resikonya, gue harus tetap dalam nilai akademis gue yang lumayan itu, gue nggak mau nilai akademis gue turun dan Ayah curiga. Jadi kalo lo mau main pacar-pacaran, konseskuensinya banyak. Lo harus bisa seimbang dalam nilai-nilai lo. Paham?"
Matari menatap kakaknya yang dengan tegas menatapnya juga. Saat itu dia menyadari, betapa inginnya tinggal jauh dari mereka semua. Membuat aturan untuk dirinya sendiri sebebas-bebasnya. Tanpa diikat oleh siapapun dengan atas nama hubungan darah, akademislah, atau norma-norma masyarakat yang selalu disebut-sebut neneknya.
Di usia semuda itu, Matari pun langsung bertekad, dia tidak akan tinggal selamanya di rumah itu.
***
Mengobrol dengan Ayah seperti saat beberapa tahun lalu, memang rasanya sudah tidak mungkin bagi Matari. Mungkin karena dia anak perempuan yang sedang puber, sehingga membicarakan hal-hal yang feminim, sama sekali tidak nyaman buatnya. Apalagi menurutnya, Ayah sudah tidak seasyik dulu.
Apalagi sekedar untuk membicarakan hal-hal seperti masalah puber dan cinta-cintaan? Bisa-bisa dia akan diceramahi tentang kenakalan remaja. Ayah dan Eyang dua orang yang hampir sama. Mungkin karena Ibu dan anak sulung pertamanya. Sifat mereka mirip, tidak menyukai ketidakteraturan. Menjadi normal dan anak yang baik adalah hal yang mereka minta tanpa berbicara. Bedanya, semakin tua, Eyang semakin emosional. Nada
bicaranya hampir selalu tinggi. Beda dengan Ayah Matari, dalam diamnya, yang bahkan dengan tatapannya saja sudah bisa mengisyaratkan bahwa dia tidak menyukai sesuatu.
Apa yang salah melewati fase kehidupan itu dengan normal seperti remaja lainnya? Apakah dia tidak boleh tumbuh dewasa? Apa yang salah menjadi remaja? Banyak hal yang dipertanyakan dalam diri Matari yang semakin membuat dirinya rasanya ingin memberontak. Ingin tahu, bahaya apa yang akan dihadapinya jika harus melewati semua itu tanpa persetujuan orang-orang yang lebih tua darinya?
Seperti di Minggu sore itu, ketika Matari hanya duduk-duduk di belakang rumah dan membaca novel, Ayahnya datang dengan tatapan tidak suka.
“Kenapa, Yah?” tanya Matari.
“PR kamu sudah dikerjakan?” tanya Ayah sambil duduk di sebelahnya.
“Ini hari Minggu, Yah.” Sahut Matari sambil tetap membaca novelnya.
Ayahnya tak mengucap apa-apa lagi, tapi tetap memandang Matari dengan sorot matanya yang tajam. Matari menarik napas, seperti seakan-akan bisa membaca pikiran Ayahnya, dia kemudian pergi dari situ untuk mengerjakan PRnya.
__ADS_1
Ada apa dengan orang dewasa di sekitarnya? Kenapa sangat menggilai dihormati dan dituruti semuanya?