
Saat itu hari Senin di pertengahan semester kedua (Bulan Maret). Dua orang siswa laki-laki kembar identik berdiri di dekat ruang mading. Matari yang datang pagi itu hendak meletakkan kertas asturo baru, terlihat bingung. Siapa mereka?
“Nahhhh, ada Matariiiii. Ri, tolong bantu Ibu ya, antar mereka ke kelas mereka masing-masing. Untuk Ricko, yang ada tahi lalatnya, dia sekelas sama kamu. Sedangkan untuk Rocky, dia akan di kelas 1 B.” kata Bu Tasya yang memang wali kelas dari kelas 1 B, kelas di mana Abdi dan Davi berada. “Ayo kenalan dulu.”
“Hai, saya Ricko.” Sapa anak cowok bertahi lalat yang cukup jelas itu di wajahnya.
“Saya Rocky.” Sapa yang satu lagi.
Matari menyalami mereka satu-satu sambil menyebutkan namanya. Tanpa tahi lalat itu, Matari bahkan tidak bisa membedakan keduanya.
“Yang sekelas sama gue, ikut aja dulu, kalau yang di 1 B, yuk, gue anter dulu.” Kata Matari sambil mengajak keduanya mengikutinya.
Haduhhh, kenapa mesti di kelas 1 B sihhhh…. Batin Matari kemudian berjalan menuju deretan kelas 1 yang tinggal beberapa meter lagi.
Ricko dan Rocky menurut, berjalan di belakang Matari sambil bercanda, khas anak kembar yang begitu dekat sejak kecil.
“Ri, hari ini ada upacara?” tanya Ricko.
“Kurang tahu ya. Mungkin ada, biasanya kalau nggak ada, akan diumumkan kok. Nah ini deretan kelas 1. Ini 1A, yuk ke 1 B….”
Seperti dugaannya, di depan kelas 1 B cukup ramai. Banyak yang hendak bersiap-siap untuk upacara, banyak yang hanya duduk-duduk saja, banyak yang sedang bergosip. Dan kedatangan Matari, disambut penduduknya dengan cukup heboh. Saat itu, sudah banyak yang tahu bahwa Matari sedang disukai oleh Davi, apalagi teman-teman satu kelas Davi, biasanya mereka cukup rese untuk hal seperti ini.
“Daviiii…. Dicari Matari!!!!” seru Made dengan suara konyolnya.
Davi memang sedang berada di dalam, biasanya dia menunggu waktu upacara dengan bermain game di handphonenya secara diam-diam. Peraturan tentang membawa handphone memang belum ada saat itu, mengingat baru segelintir anak yang memilikinya. Namun, mendengar nama Matari, dia langsung berjalan keluar,
disusul oleh Abdi.
“CIYEEEEE…. SUIT SUIT… Pagi-pagi disamperin gini. Sabar atuh, sayang, nunggu istirahat dooong…” ledek Made yang disambut ledekan teman-teman yang lain.
“Apaan sih, De? Matari, ngapain?” tanya Davi.
“CIYEEEEE…..”
“SSST… rese nih yah, semuanya.”
“Gini, Dav. Ketua kelas lo mana?”
Davi menatap dua anak laki-laki asing dan mirip satu sama lain yang berjalan dengan Matari dengan tatapan bingung. “Ke toilet kayanya. Adanya Rizal, wakil ketua, mau?”
Matari mengangguk. Kemudian Davi memanggil Rizal yang masih sibuk membaca majalah bola yang dibawanya diam-diam. Rizal mendekat ke arah Matari.
“Zal, gue diamanatin sama Bu Tasya untuk antar anak baru ini di kelas lo. Namanya Rocky. Kembarannya masuk ke kelas gue. Jangan di bully yah,hehehe.” Kata Matari.
Rocky mendekat ke arah Rizal dan mengenalkan dirinya sebagai Rocky. Ricko masih menurut, diam saja, di belakang Matari.
“Ri, nanti istirahat temenin keliling yah.” Kata Rocky.
Matari cuma mengangguk.
“Woi, izin dulu woi, ada yang punya tuh.” Tunjuk Made pada Davi yang menyandarkan dirinya di pintu masuk kelas.
“Iya, nanti gue temenin keliling.” Kata Matari kemudian agar kelas 1 B tidak heboh lagi.
Davi menatap Matari yang berlalu bersama Ricko dengan perasaan was-was. Apalagi Matari kini populer. Wajahnya manis dan selalu baik pada siapa saja.
“Kayanya gue kudu gerak cepat nih, bro.” kata Davi sambil memperhatikan Rocky yang diantar oleh Rizal menuju bangku kosong di deretan belakang kelas.
“Nggak bisa. Lo kudu pelan-pelan sama Matari.” Kata Abdi kemudian.
“Nggak bisa gimana? Lo nggak liat tatapan si Rocky tadi?”
“Lebay lo. Belom tentu kali. Bisa aja karena rasa berterimakasih karena udah dianter ke kelas.”
“Kayanya engga deh, bro.”
“Udah, percaya sama gue. Matari itu baik lho. Gue nggak tega pas denger cerita keluarga doi sama Lisa, waktu kita Latihan band tempo hari.”
“Iya, gue pernah denger itu.”
“Nah, itu lo tahu. Lo kudu atur strategi, bro. kenalin dulu keluarganya kaya gimana. Jangan asal maju terus pantang mundur. Nggak inget soal Thea?”
“Lah kalo makin gue mundur-mundur, dia bakalan diambil orang.”
“Kagak. Percaya sama gue. Hampir 90% anak kelas 1 udah tahu, Matari itu incaran lo. Jadi nggak bakalan ada yang berani usik. Anak kelas 2 pun, udah ditolak ama Matari kan, ada aja yang alesannya gabung ke band nya lah, gabung ke ekskul paduan suara lah. Matari nggak mau kan. Kayanya dia hati-hati banget, bro.”
“Tapi kan anak baru nggak tahu, bro. Mana ada dua lagi. Coba, mana bisa gue versus 2 orang mukanya mirip pula. Nggak liat tadi mereka liatin Matari kaya gimana lo?”
“Udahlah, kalo pun bener seperti yang lo takutkan, anggep aja UJIAN CINTA. Biar seru. Nanti kalo pas udah jadian, pasti kalian bisa langgeng sampe SMA deh. Yakin, gue.”
“Norak lo... ” kata Davi sambil mengambil topi upacaranya.
***
Thea tertawa saat Matari hampir terjatuh, untungnya ada Lisa di depannya.
“Lagian lo Ri, ranting segede itu nggak lihat. Makanya jangan tinggi-tinggi dong.” Seru Thea
Matari meringis melihat ranting itu. Namun dia senang, Thea telah kembali seperti sediakala. Meskipun sampai saat ini baik dia ataupun Lisa belum menemukan alasan Thea ngambek beberapa hari kemarin.
“Matari, dahi kamu lecet tuh.” Kata Davi sambil mensejajarkan langkahnya
dengan Matari kembali ke kelas.
“Waduuuuh, dipersilahkan tuan muda. Hamba berdua duluan ya….” Kata Thea sambil menggandeng Lisa berjalan duluan.
“Nggak papa kok, gueee…” kata Matari meskipun ya, dahinya baru terasa cenat-cenut sekarang.
“Ya udah, kamu ke kelas aja. Aku mintain plester ke Bu Jen ya…. Habis ini kamu mapel olahraga kan?”
“Udah, Dav, nggak usah. Biasanya temen gue ada yang sedia plester.” Kata Matari kemudian.
Davi tidak menyahut dan mempercepat langkahnya, mendahului dirinya menuju UKS.
“Ciyeee, Matari… Kalo liat kelakuannya kayanya sekotak obat UKS yang gedeeee banget itu dibawa ke lo semua deh…” Ledek Irene sambil berbelok ke kelasnya.
“Hahhaha, nanti kalo dia bawa segitu gue jual-jualin, Ne…” kata Matari sambil berjalan menuju kelas 1 F, kelas paling pojok.
__ADS_1
“Ceweeee… jalan sendirian aja…” kata Ricko, salah satu dari si kembar, berjalan di sebelahnya.
“Secara resmi sih nggak, Rick. Ada lo kan?” tanya Matari.
“HAHAHA, bener juga. Eh nomor telepon rumah lo berapa?”
“Buat apaan?”
“Gue kan belom begitu kenal yang lain. Kalau mau nanya PR atau tugas gitulah.”
Matari menyebutkan nomor rumahnya dengan cepat. “Lagian aneh deh, tumben ada anak yang pindah di pertengahan semester akhir kaya gini. Semoga lo bisa nyesuain ya. Lo tahu kan sekolah ini standarnya kaya apa buat naik kelas.”
“Begitulah kalo ortu lo harus dadakan pindah kota, Ri. Gue jujur juga capek.”
“Ohhhh, lo pindahan darimana?”
“Bandung aja sih. Tapi sebelumnya gue sempet di Medan juga. Itulah kenapa gue sama kembaran gue sama-sama ****. Pelajaran ketinggalan mulu. Adaptasi mulu. Banyak deh.”
“Ya udah good luck aja deh. Gue juga nggak pinter-pinter amat. Tapi gue nggak pelit kok.”
“Nggak pinter gimana? Gue denger lo ranking 3 di kelas.”
“Hahahaha, iyaaaa…. Kebetulan aja. Sebenernya temen sebelah lo, Irham, itu pinter juga. Dia bendahara kelas kita. Matematikanya jago. Ngitung duit apalagi.”
“Tapi dia cuma ranking 10 kan? Gue mau belajar langsung ke yang ranking 3 dan orangnya baik kaya lo.”
“Emang Irham pelit?”
“Nggak tahu juga sih. Cuma belum kenal baik aja.”
“Ntar juga kenal, kalian kan sebelahan. Oiya, ekskul wajib Pramuka setiap jumat ya? Itu lo harus banget dateng. Kalo ekskul pilihan gue nggak tahu deh kebijakannya gimana kalo murid baru kaya lo yang gabung di waktu kaya gini.”
“Iya, Bu Tasya udah kasih tahu kita tadi pagi. Kalo Bu Anita orangnya gimana sih?”
“Hmmm, dia agak cuek ya. Beda sama Bu Tasya. Mungkin faktor rumah beliau yang jauh di Bekasi. Jadi sering telat masuk ke kelas. Capek, dan yahhhh… mungkin beliau kurang ada waktu banyak buat kita-kita. Dan agak killer. Jadi lo harus fokus di kelas dia. Dia bawa mapel IPS Sejarah.”
***
Sepanjang ingatan Matari, Bu Anita jarang sekali mengadakan pendekatan yang berlebih ke murid di mana dia menjadi wali kelasnya. Saat Matari selesai perform kemarin saja, beliau tidak mengucapkan apa-apa. Sehingga, banyak anak di kelas Matari yang takut berbicara di luar konteks sekolah kepada wali kelasnya sendiri.
Pada saat terima rapor semester lalu pun, tak banyak kesan istimewa yang di dapatnya. Matari sendiri akhirnya juga menjaga jarak, tidak ingin terlalu jauh, tapi juga tidak ingin terlalu dekat. Thea, yang jago ngomong pun selalu
menutup rapat mulutnya jika Bu Anita datang. Orangnya dingin, kaku dan selalu tampak letih. Pelajaran IPS Sejarah yang menjadi mata pelajaran favorit Matari pun menjadi mata pelajaran yang biasa saja.
Davi datang di kelas Matari sesaat setelah upacara. Pelajaran memang belum mulai. Seharusnya mata pelajaran pertama adalah Seni.
“Matariiii, dicariiin….” Seru Gilang.
“Siapa Lang?” tanya Matari sambil melangkahkan kaki keluar kelas.
“Jangan lama-lama ya, bro. bentar lagi Pak Aldo, guru Seni kita datang.” Kata Gilang.
“Nggak kok, gue bentar aja. Ri, ini plesternya.” Kata Davi kemudian.
“Iya, makasih.” Sahut Matari sambil menerima plester yang berjumlah dua lembar itu dan memasukkannya ke saku kemejanya.
“Nanti dipakek lho ya. Itu darahnya udah mengering.”
Matari cuma mengangguk. Kemudian Davi berlalu pergi.
“Apaan sih, Lang? kagaaa….”
“Ngeles aja. Lihat aja nanti. Padahal, gantengan juga gue, Ri.”
“Dih, pedeeee….”
“Eh, gue denger guru olahraga kita, Pak Halim, nggak masuk. Jadi nanti pelajaran olahraga kosong.”
“Masa sih, Lang?”
“Iya, lo tanya aja sama Thea. Tuh dia udah happy banget kan mukanya. Mau ke kantin dia katanya.”
Matari kembali ke tempat duduk.
“The, Pak Halim absen?” tanya Matari.
“Duh, telat banget dia, makanya jangan pacaran terus. Gue tadi ambil absen kelas, terus Bu Anita ngomong mungkin Pak Halim nggak bisa isi mapel olahraga, soalnya istrinya melahirkan. Gitu….” Sahut Thea sambil menutup buku absen kelas, yang masih manual diisi dengan pulpen.
“Wahhh…. Asyikkk… gue lagi males olahraga.” Kata Lisa senang.
“Emang lo pernah seneng kalo mapel olahraga?”
“Ya, seneeenggg…. Kalo cuma suruh duduk-duduk sambil antri senam lantai.”
“Aelaaaah… lagak lo. Gue juga males sih hari ini. Soalnya semalem gue cek di buku paket, kita hari ini jadwal volley. Lo tahu, gue nggak suka volley. Tangan gue suka keram.”
“Eh, Pak Aldo dateng!” seru Gilang, si penjaga pintu.
***
Namun, jam pelajaran kedua, yang seharusnya kosong dan direncanakan Thea dan teman-temannya untuk pergi ke kantin, gagal total, karena Bu Anita masuk. Itu artinya, hari ini 4 jam mata pelajaran akan diisi oleh Bu Anita
berturut-turut. Tidak mungkin protes, melihat Bu Anita masuk dengan wajahnya yang tidak pernah menyenangkan.
“Saya sudah izin dengan Pak Halim. 1 jam kalian akan belajar mandiri mengenai volley, minggu depan kalian akan langsung praktek di lapangan. 1 jam sisanya saya pakai untuk membahas beberapa hal mengenai kelas ini. Paham?”
Thea hanya bisa menarik napas kesal. Dia lapar karena Ibunya tadi pagi kesiangan bangun dan tidak sempat memasak apapun.
“Oke, sekarang, kalian buka buku paket Olahraga. Buka halaman 62. Di situ ada uraian mengenai volley. Semuanya harus mempelajarinya selama 45 menit.”
Tidak ada yang membantah. Semuanya hening larut dalam bacaannya masing-masing. Bu Anita keliling sambil mengawasi satu per satu seperti ujian.
Bagi Matari, dan mungkin anak-anak di kelasnya. 45 menit itu adalah 45 menit yang terpanjang dalam hidup mereka.
***
“Gileeee, Matari. Gue nggak sanggup harus ketemu Bu Anita lagi. Sumpah mendingan dia berdiri di depan bacain sejarah atau kasih tugas essai dibanding gue kudu diawasin ngebaca doang kaya tadi.” Kata Thea, bersungut-sungut di kantin, saat jam istirahat pertama.
“Ini neng, batagornya.” Kata Bu Ida, petugas kantin.
Thea mengucapkan terimakasih kemudian melahap batagornya dengan semangat.
“Parah…. Gue rasanya kaya diawasin Eyang gue belajar.” Kata Matari kemudian.
__ADS_1
Thea dan Lisa langsung tertawa terbahak-bahak mengingat Eyang Putri Matari yang sudah terkenal galak, kurang lebih sama seperti Bu Anita.
“Huhuhu, semoga minggu depan Pak Halim ada.” Tandas Lisa, kesal.
“Semoga. Gue nggak mau dia lagi yang ngawasin gue.” sahut Matari. “Dan abis istirahat masih dia lagi, pula. Gue kudu gimana?”
“Kita harus makan kenyang. Matari, lo mau makan apa?” tanya Lisa.
“Nggak. Gue kan makannya cuma pas istirahat kedua aja. Sekarang gue cuma minum.” Tolak Matari.
“Ya udah kalo gitu. Gue mau pesen batagor juga. Bentar ya gaes.”
“GILA! Apalagi tadi tuh yang yang jam keduanya sama Bu Anita, gue pikir dia bakalan ngomongin hal yang santai. Ternyata cuma ngenalin Ricko doang beberapa menit, terus ngomongin kas kelas kita, negur yang pada telat bayar. Manggilin satu-satu. OMG! Irham panas dingin tuh tadi. Dikira korup kali ya doi.”
“Soalnya mungkin selama ini tiap kita patungan buat jengukin temen yang sakit atau guru yang sakit, kebanyakan dikasih donasi gede sama Lisa. Jadi anak-anak lain pada nyantai tuh bayar kas kelas.”
Lisa kembali duduk. “Ya gue tuh nggak suka yaaaa kalau kalian ngejenguk orang cuma bawa buah murahan. Bawa yang berfaedah juga dong. Kan yang nemenin sakit juga butuh asupan makanan.”
“Tapi anak-anak jadinya nyantai banget bayar kas kelas, Lis.” Timpal Thea.
“Nggak bisa gitu dong. Lo kudu nanyain satu-satu kenapa mereka telat bayar. Ada juga kan yang duitnya pas-pasan.” Tandas Lisa.
“Iya, contohnya gue. Tapi gue rajin, kok.” Kata Matari memuji dirinya sendiri.
“Iya, makanya gue pesenin lo batagor juga. Gue traktir. Bu Ida, sini, sini, dua batagor ya.” Kata Lisa sambil memanggil Bu Ida. “Hadiah buat lo rajin bayar uang kas.”
Matari hendak protes, namun kedatangan Davi menghentikan kalimat yang akan dikeluarkan dari mulutnya. Davi meletakkan satu cup es milo baru di depan Matari.
“Buat kamu, nih. Makan dan minum yang kenyang ya…”
Serempak, Lisa dan Thea menjawab. “Iya, sayangggg…”
Davi hanya tersenyum, kemudian melambaikan tangannya sambil pergi dengan cepat.
“Jadi, kapan?” tanya Thea kemudian. Batagornya telah habis.
“Apa?” tanya Matari.
“Kalian jadian.” Sahut Thea gemas. “Nggak usah diulur-ulur kaya gue.”
“Apaaan sih?”
“Duuuuh, nggak usah malu gitu. Gue sendiri yang jadi kesel ngeliatnya. Ngaku deh sama kita, lo juga suka sama Davi kan?” kata Thea lagi.
Matari mengangkat bahu. “Gue masih belum yakin. Dan kayanya Davi tahu itu.”
“The, Davi kayanya juga nggak mau gegabah, kaya waktu suka sama lo. Dia takut ditolak lagi kali.” Bela Lisa.
Thea mengangguk-angguk. “Kadang gemes liat kalian. Yang satu perhatiannya luber-luber yang satu malu-malu kucing. Coba dong kaya Joan sama Indah aja tuh. Kadang suka pacaran nggak tahu tempat.”
Matari tertawa. “Gue bukan mereka, kali. Lagian gue masih takut sama Eyang.”
“Ya udah, kalo takut, diem-diem aja. Apa tuh nama kerennya, Lis? Backstreet ya?”
Lisa mengangguk. “Bener juga. Coba, Ri, mendingan kalo lo suka juga sama dia, lo takut ketahuan Eyang lo, diem-diem aja. Asal lo juga jangan macem-macem aja. Gue nggak mau ya salah satu dari sahabat gue ini bermasalah gara-gara pacaran doang.”
Matari hanya mengunyah batagornya dengan tenang, kemudian meminum es milo yang diberikan Davi.
***
Jam istirahat kedua datang. Murid-murid kelas 1 F keluar kelas dengan wajah lesu seakan-akan seluruh tenaga telah diserap habis oleh Bu Anita. Matari duduk di depan kelas.
“Habis ini Bahasa inggris ya. Untunglaaahhhh kelasnya Bu Diana. Yuk, Ri, ke kantin.” Kata Lisa sambil mengajak sahabatnya. Thea tampak mengikuti di belakangnya dengan tatapan Lelah.
“Hmmm, nggak deh. Kalian aja. Gue masih kenyang sama batagor dan es milo tadi. Gue mau di sini aja.”
“Beneran? Mau nitip apa gitu?”
“Nggak, makasih.”
“Ya udah, yuk, The. Kita ke kantin.”
“Yuuuk, gue kudu liat Kak Ben atau siapa gitu kek yang ganteng. Biar ada vitamin lagi untuk tubuh gue yang udah lunglai ini.”
Lisa tertawa dan menggandeng sahabatnya berlalu menuju kantin.
Si kembar tiba-tiba duduk di sebelah Matari dengan semangat.
“Haiiii…. Bengong aja. Nggak ke kantin?” tanya Rocky.
“Enggak. Males. Kalian nggak ke kantin?” sahut Matari sambil menatap mereka berdua satu-satu.
“Boro-boro tahu kantin di mana. Harusnya lo ngajak kita keliling sekolah kan.”
“Ya ampun, gue lupa. Maaf, yaaaa… ya udah, mau sekarang?”
Belum saja salah satu dari si kembar menjawab, Davi memanggil Matari dari jarak sekitar 3 meter. Namun Davi sama sekali enggan mendekat ke arah mereka bertiga.
“Bentar yah…” kata Matari sambil mendekat ke arah Davi. “Kenapa, Dav?”
“Mau ke mana?” tanya Davi, wajahnya tampak sedikit kesal. Sepertinya dia tidak suka Matari hendak pergi dengan si kembar.
“Enggak, jadi mereka harusnya gue ajak keliling sekolah.”
“Harus kamu yang nemenin mereka?”
“Ya kan gue disuruh Bu Tasya untuk ngajak mereka keliling.”
“Ohhh… ya udah sini, mana plesternya?”
Matari merogoh saku kemejanya dan memberikan kedua plester yang diberikan Davi tadi pagi padanya.
Dengan cepat dan cekatan, Davi membuka bungkus plester dan memasangnya pada dahi Matari. “Satunya kamu simpen lagi. Udah gitu aja. Have fun yaaaa…” kata Davi dingin, kemudian pergi.
Matari menggaruk-garukkan kepalanya sambil kembali pada si kembar.
“Cowok lo marah ya?” tanya Rocky.
“Bukan cowok gue.” kata Matari.
Rocky dan Ricko melakukan tos secara diam-diam saat mendengar jawaban Matari.
__ADS_1
***