Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 14 Tentang Thea


__ADS_3

Theana Gemintang Puspitasari adalah anak kedua dari Ibu Irma Sudibyo dan Bapak Paulus Andika. Panggilannya Thea. Thea memiliki kakak perempuan yang bernama Nikita Gemintang Puspasari atau yang biasa dipanggil Niki. Niki hanya berjarak sekitar 2 tahun dari Thea. Niki tidak bersekolah di SMP yang sama, dia mengambil SMA swasta Kristen yang berjarak cukup dekat dari rumahnya, sehingga hanya berjalan kaki pun sudah cukup.


Seperti halnya Thea, Niki juga memiliki tubuh yang bagus dan atletis, meski tidak terlalu tinggi. Thea sangat disayang kedua orangtuanya, karena saat lahir, Thea hampir kehilangan nyawanya karena keracunan air ketuban.


Akibatnya, seluruh kasih sayang orangtuanya tercurah sepenuhnya pada Thea sejak kecil. Menjadi pusat perhatian, mendapatkan apa yang diinginkan, selalu menjadi yang pertama diberikan sesuatu, menjadikan Thea tumbuh sebagai anak yang narsistik. Itulah yang menyebabkan Niki selalu merasa tidak adil atas perlakuan orangtuanya pada dirinya dan adiknya.



Thea orang yang sangat kompetitif. Tidak suka jika ada orang lain yang merusak segala rencananya, merebut tempatnya dan meskipun begitu, dia sangat berwibawa. Itulah kenapa, Thea sudah menjadi langganan sebagai ketua kelas sejak dia kecil, meskipun perempuan.


Thea memiliki suara yang lantang. Pernah menjadi pemimpin upacara waktu SD, dan sekarang menjabat sebagai kapten tim basket kelas 1.


Menyukai Kak Ben, sejak awal masuk sekolah, adalah hal yang diimpikannya. Menyukai kakak kelas yang populer, ketua Osis sekaligus kapten tim basket. Sosok anak laki-laki yang sempurna, meskipun Kak Ben kurang pintar dalam hal akademis, namun dia memang menjadi sosok anak laki-laki yang digemari banyak kaum hawa karena kelebihannya yang lain.


Namun, disukai oleh Davi dan dikejar-kejar olehnya, dipujanya secara berlebihan adalah hal yang juga disukainya. Bukan karena dia memiliki perasaan yang sama pada Davi. Dia bahkan tidak tertarik sama sekali pada anak laki-laki itu. Dia hanya suka dijadikan obyek yang dipuja-puja orang lain.


Hingga akhirnya hal yang tidak disangkanya itu datang. Davi sudah berhenti menyukainya dan berganti Haluan pada Matari, sahabatnya sendiri.


Dia tidak suka itu, sama sekali tidak suka. Dia merasa seperti kehilangan penggemar. Kehilangan orang yang menjadikan dirinya satu-satunya tempat istimewa di hatinya. Dia merasa kalah.


Hal itu dirasakannya saat lomba baca puisi tanggal 14 Februari lalu. Dia pikir, hari itu, Davi akan memberikannya cokelat. Bisa saja kan, bukannya Davi suka padanya? Walaupun sudah ditolaknya tiga kali, bisa saja kan Davi masih menyimpan rasa?


Setelah memberikan cokelat pada Kak Ben yang menanggapinya dengan senyuman, dan pacarnya, Kak Nana, yang tak terlihat marah sedikitpun, Thea merasa tiba-tiba menyukai Kak Ben adalah hal yang membosankan. Kak Nana seperti menganggap hal itu wajar. Mungkin Thea bukan yang kali pertama memberikannya pada Kak Ben hari itu.



Hingga akhirnya saat lomba baca puisi, dirinya berniat mendekati tempat duduk Davi. Hanya untuk iseng, ingin tahu apakah anak laki-laki ini masih menyukainya seperti sebelumnya?


Saat melihat Davi tampak fokus menatap Matari yang menyanyi di panggung, Thea merasa aneh. Davi tidak menoleh pada hal apapun yang mencoba mengganggunya. Bahkan saat dirinya memuji Matari yang memang diakuinya tampil luar biasa hari itu.


Apalagi saat Abdi mulai mengejek Davi untuk segera memberikan cokelat saat Matari selesai menyanyi, Thea tahu, semuanya telah berubah. Davi telah jatuh hati pada sahabatnya itu.


Dia tidak pernah menyangka, Matarilah yang mengambil tempatnya sekarang. Matari? Yang suka pada cowok aneh berkulit terang dan berambut keriting? Memangnya Davi tidak tahu soal Iko? Sebagai perbandingan pun, wajah Iko masih lebih menarik dibanding Davi. Bagaimana bisa?


Saat selesai tampil, dia memperhatikan Abdi yang memberikan dukungan pada Davi untuk segera ke belakang panggung, memberikan cokelat pada Matari.


“Tapi cokelatnya udah kaya gini, Di? Layak nggak menurut lo?” tanya Davi pada Abdi, seakan-akan tidak memperdulikan Thea yang ada di dekatnya.


“Yang penting niatnya, bro. Mau gue temenin?” timpal Abdi.


“Nggak usah kayanya. Matari baik kok anaknya.” Kata Davi kemudian.


Terus menurut lo, gue jahat? Batin Thea kesal sambil menatap pemandangan itu.


“Ya udah, bro. Semoga berhasil ya. Kalo berhasil, nanti gue traktir di kantin abis Latihan.” Kata Abdi.


“Gue ke belakang panggung ya.” Kata Davi kemudian keluar dari kerumunan penonton lomba baca puisi saat itu.


Diam-diam Thea mengikutinya, mengambil jarak beberapa meter. Agar Davi tidak menyadarinya.


Awalnya Davi ke belakang panggung, namun Matari sudah tidak tampak di sana. Dia bertanya pada Pito yang sedang membereskan peralatannya dan Pito menjawab bahwa Matari sedang ke toilet untuk berganti pakaian dan menghapus make up.



Davi akhirnya menuju toilet yang dimaksud. Toilet Gedung serbaguna terbagi menjadi dua bagian yang besar dan panjang. Satu untuk murid perempuan dan satu untuk murid laki-laki. Sebelum memasuki area toilet ada sebuah bilik kecil untuk duduk-duduk. Biasanya dipakai oleh murid perempuan yang sedang antri atau menunggu temannya tanpa masuk ke area toilet. Setelah mendekat, Davi bisa mendengar suara cempreng Lisa terbahak-bahak membahas entah apa, diikuti suara Matari. Akhirnya Davi duduk di situ, menunggu dengan gelisah.


Thea masih berdiri di tempatnya, diam-diam dan mengamati. Dugaannya hampir sepenuhnya benar. Ya, Davi telah pindah ke lain hati. Hal yang cukup wajar, usia mereka adalah usia yang mudah senang dan benci, suka dan sedih,


teman dan musuh. Tapi kenapa, kenapa harus Matari?


Beberapa saat kemudian, tampak Davi memanggil sahabatnya. Matari mendekat. Thea bisa melihat, Matari sedikit mulai goyah pada Davi. Entah Iko ada di bagian mana di hatinya. Namun, hampir pasti Davi pasti bisa mendapatkan Matari jika dia terus berusaha. Matari yang menurutnya baik, meskipun tertutup, adalah orang yang tidak mungkin bisa mengabaikan begitu saja perasaan Davi. Dia akan bisa mencoba dulu jika memang baik untuk dirinya.


“Ngapain lo, The?” suara Abdi mengangetkannya.

__ADS_1


“Yang gue liat beneran?” tanya Thea kemudian.


Abdi menatap sahabatnya, Davi, di kejauhan yang sepertinya tampak sukses pelan-pelan mendapatkan simpati Matari.


“Iya, kenapa?”


“Kok lo nggak bilang?”


“Hah? Maksud lo?”


“Soal Davi dan Matari.”


“Iya, kenapa harus bilang sama lo?”


“Ya, gue kan sahabatnya. Kok gue nggak tahu?”


“Ya terserah merekalah, The.”


“Iya, tapi kan gue sahabatnya Matari. Kenapa gue nggak tahu apa-apa? Lisa tahu?”


Abdi terdiam. Dia merasa bukan kapasitasnya menjawab hal itu.


“Nah kan? Kenapa semua orang ngerahasiain dari gue?”


“Bukan gitu, The. Nih liat reaksi lo berlebihan kan. Itulah kenapa mungkin ada alasannya baik Lisa maupun Matari belum cerita apa-apa sama lo.”


Thea menatap Abdi dengan pandangan tidak suka, kemudian tanpa berkata apa-apa, melengos pergi.


***


Thea tidak tahu, entah siapa yang salah di sini menurutnya. Ingin sekali dirinya membenci Matari tapi tidak bisa. Matari terlalu baik.



Dulu, dia begitu bangga saat Ibunya menjemputnya. Ibu yang selalu berusaha menjemputnya kapanpun di manapun, meski hujan dan terik. Ibu yang tidak akan pernah dimiliki oleh Matari. Matari yang selalu pulang sendiri berjalan kaki dan sekarang berubah naik sepeda pun masih bisa ditemani oleh Davi.


“Kenapa lo?” tanya Niki saat melihat adiknya diam saja di kamar sambil mengerjakan PR namun satu soalpun belum dikerjakannya.


“Nik, menurut lo Matari orangnya gimana?” tanya Thea pada kakaknya.


“Baik sih, tipe cewek yang nggak macem-macem. Manis. Tinggi. Apalagi yah?”


“Negatifnya?”


“Yaaa mana gue tahu. Kan elo sohibnya! Gue aja cuma ketemu beberapa kali kalo kalian belajar kelompok di sini.”


“Menurut lo, kalau Davi suka sama dia gimana?”


“Eh, SERIUS?”


“Iya. Davi suka sama dia. Dan mereka nyembunyiin itu dari gue. Menurut lo kenapa?”


“Hmmm, mungkin nggak mau nyakitin perasaan lo aja.”


“Sesimpel itu?”


“YES! WHY NOT? Justru elo yang aneh. Kenapa lo marah?”


“Gue nggak marah, Nik! Gue cuma ngerasa….”


“PERTAMA. Lo nggak nerima Davi kan, walaupun udah nembak lo 3 kali. KEDUA. Matari tuh lebih lama jadi sahabat lo dibanding Davi. Dia tahu lo orangnya kaya gimana. Kompetitif, negative thinking, dan nggak suka kalah. Dan yes, gue ngerasa lo merasa kalah dari Matari sekarang kan?”


“Nggak, Nik. Gue nggak ngerasa gitu.”

__ADS_1


“Lo boong. Tuh kelihatan banget dari muka lo. Gue udah kenal lo dari orok, beb. Gue tahu lo orangnya kaya gimana.”


“Sok tau ah, lo.”


“KETIGA. Matari tuh background keluarganya nggak seberuntung kita. At least Ibu sama Bapak selalu ada di sana buat kita. Matari nggak tinggal sama salah satu dari orangtuanya pun, Ibunya meninggal, Ayahnya kerja di luar kota. U know what. Lo lagi tertampar kenyataan bahwa, lo nggak suka Matari Bahagia dengan Davi.”


“Ya kenapa mesti Davi suka sama dia?”


“Kan capeklah suka sama lo terus, elonya nolak, 3 kali loh. Emang orang mau disuruh nunggin lo? Emang lo siapa? Ngasih makan doi juga enggak!”


“Iya, kenapa mesti sahabat gue sendiri, Nik?”


 “Kalo soal itu, lo tanya sama Davi. Jangan marahnya sama Matari. Biarinlah cewe kaya dia Bahagia. Dia berhak Bahagia, The. Sama siapapun. Kasihan kan, orangtuanya gak available kaya kita.”


Thea cuma terdiam dalam pikirannya sendiri.


***


Bagi siswa-siswi yang Sabtu masih masuk sekolah di tahun 2000-an, hari Sabtu adalah hari paling Bahagia. Karena besoknya adalah hari Minggu. Paling tidak semuanya menyenangkan di hari Sabtu meskipun hari itu, Matari ada ulangan IPA Biologi.


Matari masih duduk di kantin, menghabiskan bakso kuah favoritnya, ketika Davi tiba-tiba duduk di sebelahnya.


“Ciyeeee, Davi….” Ledek beberapa anak kelas 1 lainnya di sana.


Saat itu, tentang Davi sedang PDKT ke Matari sudah terdengar hampir di seluruh kelas 1. Matari sedang populer karena menjadi vokalis di band dadakan ekskul Mading tempo hari, dan berita mengenai dirinya tentu cepat menyebar luas.


Lisa cuma tertawa-tawa dan bersikap acuh, mencoba memberi ruang pada Davi agar bicara pada Matari dengan mudahnya. Dia tidak mau ikut campur. Apalagi saat ini Thea sedang perang dingin dengan mereka berdua.


“Mau nambah, Ri?” tanya Davi dan tanpa disuruh memberikan tissue bersih kepada Matari.


“Makasih…” sahut Matari. “Enggak, udah kenyang.”


“Nanti malem ke mana?” tanya Davi.


“Nggak ke mana-mana.”


“Majuuuu terus Dav….. jangan kasih kendorrrr!!” ledek beberapa team sepakbola padanya dari jauh.


“Aku telepon yah.”


Matari cuma mengangguk sambil tersenyum. Davi melihat senyuman Matari langsung padanya saat itu, rasanya seperti ingin terbang.


“Gue balik ke kelas ya. Bentar lagi masuk.” Kata Matari sambil berdiri, Lisa pun akhirnya ikut berdiri di sebelahnya.


“Iya, hati-hati ya, Ri.”


“Duileee, gemes gue. Cuma beberapa ratus meter aja sih, Dav, pake hati-hati segala.” Ledek lisa sambil menggandeng tangan Matari.



“Namanya juga usaha, Lis.”


Matari mengikuti Lisa kembali ke Lorong menuju kelas 1 F. Karena terletak di paling pojok, mereka harus melewati deretan kelas 1, kelas demi kelas. Sampai akhirnya tampak Thea duduk di depan kelas, sendirian.


“Aduhhh, lo kenapa sih?” Lisa akhirnya merangkul Thea untuk mencairkan suasana. “Masih ngediemin kita?”


Thea cuma tersenyum tipis. Namun perutnya yang berbunyi membuat Lisa dan Matari tertawa terbahak-bahak.


“LAPER KAN LO? Makanya ikut kita ke kantin! Matari aja abis semangkok bakso tuh. Ulangan IPS Sejarah emang bikin laper. Soalnya essaaaai semua.” Ledek Lisa lagi.


“Iya, gue laper. Puas kalian?”


“Yuk, kita temenin, masih ada waktu 3 menitan, cepet ya.” Ajak Matari sambil menggandeng sahabat kesayangannya dan berlari menuju kantin.

__ADS_1


 ***


__ADS_2