
Matari mengerjakan ujian demi ujian kenaikan kelas dengan baik, kecuali ujian IPS Akuntansi dan Matematika. Namun atas bantuan dari Mia, yang duduk di sebelahnya sesuai abjad, dia bisa mengerjakannya dengan baik. Sebagai gantinya, Matari memberikan jawaban Bahasa Inggris agar Mia dapat mengerjakannya dengan baik pula. Mia adalah rangking pertama di kelas. Disusul oleh Haidar, kemudian Matari. Mia dan Haidar sama-sama pintar namun Mia orangnya lebih serius. Selisih poin rangking mereka hanya 1 poin semester lalu. Poin matari berselang agak jauh sekitar 5 poin, namun tetap membuatnya ada di peringkat ketiga di antara teman-temannya.
Saat ujian berakhir di hari Sabtu, secara mengagetkan, Bu Anita memanggilnya dan teman-temannya yang tergabung dalam satu band perwakilan kelas mereka kemarin.
“Maaf, Ibu sibuk sekali sampai tidak tahu kalian membentuk band kelas yang penampilannya bagus untuk penutupan acara. Lagu-lagu kalian yang tidak terlalu keras dan mudah dipahami dan didengarkan, membuat saya tergerak untuk membuatkan kalian ini,” kata Bu Anita sambil mengeluarkan beberapa cd copyan dari dalam laci meja kerjanya.
Matari menatap teman-temannya dengan bingung.
“Masing-masing, Ibu copy kan satu-satu cd acara perpisahan kelas 3 kemarin. Untuk Matari, Ricko, Gilang, Reza dan Lisa. Terimakasih sudah menjadi bagian dari kelas 1 F yang berprestasi. Terutama kamu Lisa, meskipun nilai kamu nggak terlalu bagus, saya lihat kamu ada bakat di bidang yang lain. Pertahankan ya,” kata Bu Anita sambil menyerahkan vcd copy itu satu demi satu kepada siswa-siswinya.
“Terimakasih banyak, Bu. Maaf ya kita nggak menang performance terbaik. Semua juara diboyong kelas 2,” kata Gilang sambil memperhatikan cd copy-an dari Bu Anita tersebut dengan sedikit sedih.
“Nggak apa-apa. Ibu sudah senang kalian ikut berpartisipasi. Suara Matari bagus. Hanya perlu diasah saja. Gilang dan Ricko juga bagus permainannya, Ibu sampai takjub, kalian benar-benar istimewa. Apalagi Reza, meskipun suka telat bayar kas kelas, namun waktu nge-drum kemarin, saya tahu, kamu punya bakat terpendam juga. Kalian semua istimewa buat Ibu. Terimakasih banyak ya,” kata Bu Anita panjang lebar. “Waktu lomba puisi kemarin, Ibu juga dengar dari Bu Tasya, bagaimana kalian, Matari dan Lisa berlatih. Maaf ya, Ibu tidak datang dan melihat kalian hari itu, karena ada halangan. Namun, Ibu lihat di rekaman milik sekolah. Khusus untuk Matari dan Lisa, Ibu sudah masukkan rekaman pentas kalian di situ ya. Maaf sekali nggak pernah support banyak hal untuk kalian. Maaf kalau kadang saya terlambat. Sudah sering terlambat datang ke sekolah, terlambat mengetahui bahwa kalian adalah anak-anak yang luar biasa.”
Matari bisa melihat mata wali kelasnya yang terkenal galak itu berkaca-kaca. Mungkin karena dia tidak banyak berekspektasi apapun pada dirinya dan teman-temannya selama ini. Bahkan mungkin tidak menyangka akan memberikan penampilan, mengingat dirinya tidak terlalu peduli pada siswa-siswi di kelasnya, dibanding wali kelas yang lain. Matari ingat, dalam teleponnya, Davi bercerita bahwa kelasnya, kelas 1 B, Bu Tasya sangat aktif dan mendukung anak-anaknya untuk tampil. Bahkan menganjurkan drama kecil-kecilan yang lucu. Davi dan Abdi tidak ikut bermain peran, namun ikut membantu kelasnya mempersiapkan drama.
Matari saat itu meyadari, ada sisi baik dalam diri Bu Anita yang tidak dilihatnya sebelumnya. Dulu, Matari hanya bisa melihat Bu Anita yang galak dan killer. Wajah lelahnya selalu tertutupi dengan auranya yang menakutkan. Matari tidak pernah peduli pada Bu Anita. Tidak peduli pada jarak tempuh yang harus dilaluinya sejauh itu setiap
pagi. Dia merasa jauh lebih beruntung. Tak terbayang rasanya menjadi Bu Anita.
***
Matari tersenyum geli saat melihat dirinya di panggung pensi dari vcd yang diberikan pada Bu Anita. Di sebelahnya tampak Sandra sedang ikut menonton sambil tidur-tiduran di kamarnya.
“Siapa yang dandanin elo?” tanya Sandra kemudian saat Matari selesai menonton.
“Nyokapnya si Lisa,” sahut Matari.
“Hmmm, bagusan gaya lo pas di lomba puisi menurut gue. Yang pas pensi, kostumnya kurang cocok sama lagunya. Tapi nggak papa sih, menurut gue bagus penampilan kalian dibanding anak kelas 1 lainnya. Sayang aja gue nggak jadi dateng karena ada remidi Matematika di sekolah gue,” kata Sandra sambil mengunyah snack chiki favoritnya.
“Iya nih. Gue udah nunggu-nunggu padahal,” timpal Matari sambil mematikan vcd player dan beralih ke tv, menonton MTV.
“Maklumlah, gue nggak bisa Matematika. Payah gue. Nanti kalau udah masuk sekolah lo, ajarin ya. Capek gue belajar sama temen-temen gue. Sama begonya!”
"Lo pikir gue bisa matematika?"
"Ya minimal lebih baik dibanding gue."
“Oh iya, btw, kepindahan sekolah lo udah beres semuanya? Kemarin kapan ya gue ketemu Tante Dina di sekolah lagi ngurus pindahan. Mama lo kasihan ya, kelihatan capek banget.”
“Iya, Mama ambil lembur terus. Kayanya sih mau ngehindarin Eyang juga. Lo tahu kan, Eyang nggak suka sama Mama. Apa aja salah di mata dia.”
“Kalo nggak suka kayanya terlalu berlebihan deh, San. Kalo cuma salah, kita semua juga kena imbasnya, kok. Apalagi kalo lo sama kakak nggak di rumah. Dilampiasin ke gue.”
“Nggak, Ri. Beda. Eyang emang nggak suka sama Mama. Coba sama istrinya Om Wiryo, si anak bungsunya Eyang, ramah kok kalo sama Tante Yaya. Jadilah gue makin bandel, jarang di rumah.”
“Itu karena belom serumah aja, San. Lagian Om Wiryo kan anak kesayangan Eyang. Ya pasti dia takutlah kalo Tante Yaya ngadu. Kalo cuma bandel, bandelan Kak Tiwi dibanding kita. Kita tuh masih lebih baik dibanding Kak Tiwi. Lo tahu kan kasusnya dia? Eyang aja yang nggak tahu atau pura-pura nggak tahu.”
“Makanya gue suka kesel. Kita yang serumah nggak pernah dipuji atau dibelain. Kak Tiwi yang jelas-jelas ciuman di sekolah kena skors kagak dimarahin Eyang. Apalagi anak-anak Om Wiryo, cowok-cowok itu, Lucky sama Brian. Ampun bandelnya, padahal masih SD kelas 3 dan kelas 1. Udah rasanya pengen gue cemplungin ke kolam ikannya Eyang kalau kemari. Mana Eyang kalau ngasih duit ke mereka loyal banget. Bocah segituan dikasih dua ratus rebu sekali minta. Kesel banget gue.”
“Itu sih iri, namanya. Hahaha…,”
“Emangnya lo nggak?”
“Irilah. Nggak usah nanya. Tapi ya udah. Gue udah punya tekad kalau gue pengen cepet lulus sarjana, terus keluar dari sini.”
Sandra menarik napas. Menatap sedih pada bayangannya sendiri di cermin kamarnya.
***
“Besok Sabtu, terima rapor, siapa yang dateng, Ri?” tanya Lisa sambil duduk di sebelah Matari yang sedang mendengarkan walkmannya dan asyik membaca komik.
Matari menatap Lisa yang sudah berganti kaos, namun bawahan rok SMP masih terpasang di badannya. Dia baru ingat hari itu adalah hari terakhir mereka class meeting, perlombaan sederhana antar kelas menjelang terima rapor. Musim kenaikan kelas, tidak banyak class meeting yang dilombakan oleh pihak sekolah. Hanya sepakbola antar kelas, lomba kebersihan dan lomba mading yang dipasang di masing-masing kelas saja. Dua lomba terakhir
telah berlalu kemarin. Sedangkan lomba sepakbola, putaran final adalah hari ini. Dua-duanya diperebutkan oleh kelas 2. Kelas 1 hanya sampai perempat final, itupun oleh kelas 1 C, yang disebut-sebut sebagai gudangnya atlet olahraga amatiran. Tidak hanya siswa, namun siswinya jago-jago di bidang olahraga manapun.
“Nggak tahu. Mungkin Tante Dina. Kalau nggak kekejer sih biasanya nanti bokap dateng ke rumah wali kelas. Biasanya sih gitu kalau pas gue SD.”
“Oh iya, Tante Dina kudu ngambilin punya Sandra ya. Emang Eyang lo nggak bisa?”
“Eyang kan harus ambil punya Bulan. Cucu tertua di rumah selalu dapet keistimewaan, Lis!”
Lisa menarik napas. “Coba boleh diwakilin sama nyokap gue, Ri.”
Matari cuma tersenyum tipis. “Gue udah biasa, kok, Lis.”
“Untungnya tahun depan Sandra sekolah di sini. Jadi mungkin bisa sekalian diambilin Tante Dina.”
“Iya, gue harap juga gitu. Karena jujur aja, gue males buat ke rumah wali kelas sore-sore cuma buat ambil rapor. Kadang kalo nggak sesuai harapan Ayah, gue masih diomelin selama perjalanan pulang. Dan itu sambil naik motor loh?! Lo bayangin aja! Kedengeran jelas kaga, berdengung-dengung doang rasanya!”
“Emang Ayah lo kalo marah gimana? Kan doi pendiem gitu kata lo….”
“Kalo marah kata-katanya berulang-ulang. Lo bayangin aja sendiri deh.”
“Haahahah, ya udah, ya udah. Eh si Thea masih di Osis ya? Dia niat banget mau jadi anak Osis tahun depan.”
__ADS_1
“Yaaaa, kan dia populer. Siapa tahu kan bisa menangin hati Kak Ben tahun berikutnya?”
“Kak Ben luar biasa emang. Fansnya sejagat. Yang doain cepet putus juga banyak. Gue kagak tapi.”
“Ya sama…. Bukan tipe gue idola remaja kaya gitu.”
“Elo mah sukanya yang kaya Davi. Pelan-pelan tapi pasti. Ya nggak?”
Pipi Matari merona merah. “Apaaa sih, Lis?”
“Udah mau naik kelas 2 lho. Jangan kelamaan! Nanti kalau disamber orang gimana? Atau jangan-jangan kalian malah sekelas?”
“Hhahaha ya udah kalo disamber orang. Bukan jodoh gue.”
“Gaya lu jodoh-jodohan. Btw, denger-denger pembagian kelas nanti diadain di hari Sabtu menjelang masuk sekolah ya?”
“Iya katanya gitu sih. H-2 ya berarti?”
“Mau dateng bareng nggak?”
“Boleeehhh…”
“Ya udah nanti gue jemput ya. Nanti pas sebelum berangkat gue telepon lo.”
“Siap. Lo jadi ke Bangka Belitung?”
“Jadi. Bokap ada urusan apa gitu soal bisnisnya. Agak lama sih. Maklum koordinasi sama pejabat daerah di sana.”
“Jadi liburan kali ini gue sendirian lagi dong?”
“Eh iya, si Thea ke Jogja ya, ke tempat Mbahnya? Duh enak banget. Pengen ke Jogja.”
“Hahahaha, ya ke sanalah. Sering ke luar negeri tapi ke dalam negeri jarang kan lo?”
“Kan besok ke Bangka Belitung.”
“Iya, iyaaa. Eh oiya, lo udah tahu belum? Kita mau kasih hadiah perpisahan ke Bu Anita.”
“Siapa aja yang ikutan?”
“Kita-kita doang, bekasan band kita kemarin. Plus Thea. Kalo anak-anak lain, lo tahu sendirilah, banyak yang nggak suka sama Bu Anita.”
“Iya, soalnya mereka kan nggak pernah dibaikin.”
“Nah, itu dia. Makanya gue nggak enak mau minta iurannya. Thea yang ketua kelas aja nggak enak. Kata dia kas kelas bakalan dibagi-bagiin lagi ke kita dalam bentuk kaos kelas gitu. Lagi dipesenin sama sodaranya si Reza katanya. Jadinya mungkin nanti pas hari masuk sekolah pertama.”
“Boleh. Jangan mahal-mahal tapi ya. Biar anak-anak ga keberatan iurannya.”
“Hmmm, nggak bisa dong. Gue kan perginya ke tempat-tempat mahal. Dah, kalian gue tarikin semampu kalian.”
“Dasar lo, ah! Udahlah gue mau baca komik.”
***
Pembagian rapor di hari Sabtu menjelang libur kenaikan kelas, ramai dengan orangtua-orangtua murid seperti biasa. Matari hanya duduk di depan kelas memandang satu per satu orangtua teman-teman sekelasnya datang. Di kejauhan tampak Papinya Davi datang dengan mengenakan kemeja warna putih. Menurut Matari, Davi tampak mirip dengan Papinya. Yang Matari dengar juga, Papinya adalah seorang petinggi di departemen Kesehatan. Wibawanya tampak terlihat dengan cara dia berjalan dan menyapa orangtua murid yang lain.
Davi sama sekali tidak melihat ke arahnya kali ini. Dia sibuk mengikuti Papinya masuk ke dalam kelas. Matari menarik napas. Hanya beberapa siswa-siswi yang tersisa menunggu kedatangan orangtua mereka. Waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi. Mamanya Lisa dan Ibunya Thea pun bahkan sudah datang dan duduk di dalam bersama anak-anaknya masing-masing. Matari masih sendiri. Dia tahu, dia harus mempersiapkan kalimat yang akan diucapkan pada Bu Anita jika wakil orangtua muridnya tak bisa datang.
Semester lalu, Tante Dina yang mewakili. Karena sekolah Sandra dimajukan penerimaan rapornya satu hari. Kalau semester ini, tidak bisa. Karena bertepatan di hari yang sama. Tante Dina mengusahakan akan datang jika belum melewati maksimal jadwal penerimaan yaitu jam 1 siang.
Namun, bagi Matari itu kemungkinan yang tipis. Mengingat perjalanannya dari sekolah Sandra dan sekolah Matari sendiri memakan waktu kurang lebih satu jam. Belum jika masih ada hal yang harus diurus, karena ini adalah penerimaan rapor terakhir di sekolah Sandra sebelum kepindahannya. Matari menarik napas panjang
lagi. Kemudian menyadari, bahwa tidak ada seorang pun yang bisa ditunggunya.
***
Ayahnya datang menjelang maghrib. Setelah mandi dan sholat, Ayah Matari langsung bersiap-siap menuju rumah Bu Anita. Matari memperlihatkan alamat Bu Anita yang didapatkannya tadi siang setelah melapor bahwa Ayahnya akan datang nanti sore ke rumahnya.
Karena kasihan, Bu Anita memperlihatkan rapor Matari sekilas. Memberi tahunya bahwa dia masih tetap di rangking 3. Matari cuma menanggapinya dengan senyuman. Merasa lega karena telah mengetahui nilainya. Karena kewajiban, Bu Anita tetap memperingatkan pada Matari agar Ayahnya harus tetap yang mengambil. Matari tidak keberatan, asalkan diberi kelonggaran untuk mengambilnya sore hari nanti di rumah Bu Anita.
“Bekasi yaaa…,” timpal Ayahnya.
Matari mengangguk sambil membayangkan naik motor dengan Ayahnya selama berjam-jam menuju Bekasi. Dua wali kelas SD-nya sebelumnya adalah orang sekitar sini, sehingga jaraknya tidak terlalu jauh. Kemudian Tante Dina mendekat secara tiba-tiba, menyerahkan kunci mobil pada kakak iparnya.
“Mas Bim, pakai mobil saya saja. Lagian kasihan Matari kalau naik motor malam-malam,” kata Tante Dina.
“Sudah, Bim. Nurut saja. Ibu yang suruh. Cepat berangkat naik mobil,” ujar Eyang Putri dengan tegas. “Ibu nggak mau kamu pulang malam-malam masuk ke kamar ya bau knalpot motormu, mengganggu. Matari juga bisa sakit kalau naik motor berjam-jam pulang pergi Jakarta-Bekasi.”
Sudah bisa ditebak, alasan-alasan Eyang yang aneh-aneh itu. Apalagi sejak kedua anaknya pindah ke rumah Eyang. Ayah tadinya tidur di kamar utama tempat Tante Dina dan Om Budi sebelum pindah kemari. Namun sejak adanya banyak perubahan dan Tante Dina tidur di kamar utama meskipun suaminya telah tiada, Ayah memang tidur di kamar Eyang setiap kali datang di akhir pekan. Di kamar Eyang yang besar terdapat dua ranjang. Ranjang itu dulu dipakai Eyang Kakung saat sedang sakit, agar Eyang Putri lebih mudah bangun dan tidur tanpa harus melewati suaminya yang terbaring sakit. Sekarang, ranjang itu tak dipakai lagi. Paling hanya Ayah Matari jika datang menginap atau Om Wiryo jika datang untuk dinas di Jakarta beberapa malam.
“Baik, Bu. Dik Dina saya pinjam dulu ya,” kata Ayah sambil membawa kunci
ke depan rumah dan menyalakan mobil.
Matari mengikuti di belakangnya setelah berpamitan dengan Eyang dan Tante Dina. Jaket jinsnya dirapatkan dengan hati-hati karena resletingnya sudah hampir lepas. Jaket jins itu adalah jaket satu-satunya milik Matari. Itupun bekas milik Bulan yang sudah enggan dipakainya lagi.
__ADS_1
Setelah mengeluarkan mobil kijang lama Tante Dina dengan susah payah, Ayah berhasil membawa Matari ke jalan raya. Seperti diduganya, Ayahnya sudah lama tidak menyetir mobil. Lama sekali. Itulah kenapa Ayahnya merasa kesusahan mengeluarkan mobil kijang Om Budi yang terparkir rapi oleh Tante Dina yang sudah biasa membawa mobilnya sendiri. Ayah Matari menjalankan mobil pinjaman dengan hati-hati dan pelan-pelan.
“Ayah, kalau kita jalannya kaya gini, bisa kemaleman sampai rumah Bu Anita,” kata Matari polos.
“Iya, iya. Sabar ya, ini Ayah juga lagi berusaha keras,” kata Ayah Matari tanpa menoleh.
Matari menarik napas, kemudian memasang earphonenya. Dia berusaha menikmati malam Jakarta dengan perjalanan mobil selambat itu.
***
Mobil kijang berbelok dengan hati-hati di pekarangan rumah Bu Anita yang luas. Saat itu sudah pukul 9 malam. Rumahnya kecil terletak di tengah-tengah. Samping kiri dan kanannya adalah tembok rumah lain yang lebih besar. Rumah Bu Anita tidak memiliki pagar yang bisa disebut dengan layak. Rumah kecilnya terlihat cukup tua dan kecil sekali di antara pekarangan yang besar, membuat Matari merasa takut masuk ke rumah itu. Dia memegang
erat ujung kemeja Ayahnya. Ayahnya meski ragu, tetap berjalan masuk medekat ke area rumah. Sudah beberapa orang yang ditanya dan sesuai ciri-cirinya memang benar itu adalah rumah Bu Anita. Mereka menyebutnya sebagai Rumah yang Seperti Rumah Hantu berpagar rusak dan gelap. Kontras dengan rumah di sekitarnya yang terang benderang dan lebih modern.
Sinar lampu dari dalam rumah adalah satu-satunya cahaya. Bahkan terasnya tak memiliki lampu untuk sekedar memberi terang pada pekarangan sekitar.
Matari cukup takjub ketika tahu bahwa rumah tua itu memiliki bel pintu. Menurut Matari, ketukan pintu rumah saja pasti cukup terdengar di area rumah Bu Anita yang sangat sunyi dan sepi ini. Ayahnya menekan bel pintu dengan perlahan-lahan, rasa takut yang sama menyelimuti dirinya. Namun karena Matari tampak lebih takur, mau tak mau, Ayahnya harus tampak lebih kuat dan berani.
“Assalamualaikum…,” kata Ayahnya setelah menekan bel.
Menunggu sekitar 5 menit, terdengar kunci pintu dibuka dari dalam dengan susah payah. Matari menarik napas dengan lega. Setidaknya ada orang. Setidaknya dia tidak harus kembali dengan sia-sia di tengah suasana yang mencekam seperti ini.
Seorang laki-laki tua dengan tongkat menjawab salam Ayah. “Walaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh.”
“Maaf Pak, Selamat malam. Apakah benar ini rumah Ibu Anita Kusuma, guru SMP negeri?” tanya Ayah sopan.
Laki-laki tua itu mengangguk. “Sebentar ya. Saya panggilkan. Duduk di dalam saja. Di luar banyak nyamuk.”
Matari dan Ayahnya melepas alas kaki mereka. Yang menakjubkan lagi adalah, di dalam rumah tampak terang dan jauh dari kata menyeramkan. Seperti rumah pada umumnya saja, meskipun perabotannya tua dan sebagian besar dari kayu. Rumah itu tampak hangat. Banyak foto-foto yang dipasang di dinding. Ada beberapa lukisan dan juga kaligrafi ayat kursi sekaligus artinya yang dibuat dari benang berwarna emas. Jauh berbanding terbalik dengan kesan rumah itu dari luar.
“Wah, maaf, maaf saya lagi nemenin anak saya tidur. Sebentar ya, saya buatin minuman. Pasti capek jauh-jauh ke sini,” kata Bu Anita yang keluar memakai setelan piyama usang berwarna merah jambu yang berlengan dan bercelana panjang. “Bapak masuk aja ke dalam, istirahat. Ini mereka tamu saya dari sekolah, kok. Ini Matari dan Ayahnya ya?”
Matari cuma mengangguk dan menyalami laki-laki tua yang ternyata orangtua dari Bu Anita tersebut dengan sopan, setelah Ayahnya menyalaminya duluan. Laki-laki tersebut kemudian masuk ke kamar lain yang berbeda dari Bu Anita keluar sebelumnya.
Bu Anita keluar dari dapur dan meletakkan minuman teh hangat dan setoples keripik singkong. Matari menyalami gurunya, diikuti kemudian oleh Ayahnya. Cahaya lampu ruang tamu yang terang menyorot dengan jelas wajah Bu Anita. Matari bisa melihat wajahnya yang tampak Lelah dan kurang istirahat. Matari semakin merasa tidak enak untuk datang malam-malam seperti itu. Seandainya dia bisa meminta ditunda jadi besok pagi. Namun Ayahnya tidak akan mau.
“Maaf ya Bu, tadi kami agak nyasar jadi sampai di sini sudah malam,” kata Ayah Matari berbohong.
Matari tak berkata apapun. Sepanjang perjalanan tadi adalah hal yang paling ingin dihindarinya lagi jika bisa. Ayahnya sangat lambat menyetir mobil. Terlalu hati-hati dan tampak seperti anak remaja yang baru saja belajar menyetir mobil.
“Nggak papa, Pak. Tadi saya juga kedatangan orangtuanya Irham, teman sekelas Matari juga. Kebetulan Ayah dan Ibunya baru pulang dari luar kota dan langsung mampir ke sini,” sahut Bu Anita sambil tersenyum.
Berbeda dengan saat mengajar, Bu Anita sebenarnya cukup ramah jika berbicara dengan sesama orang dewasa sepertinya.
“Iya, Bu. Mohon maaf sebelumnya, saya harus mengambil rapor anak saya malam-malam begini. Maklum saya bekerja di luar kota, di daerah Karawang. Hanya Sabtu dan Minggu saya bisa datang mengunjungi anak-anak saya yang tinggal bersama neneknya di Jakarta. Sebelumnya memang bisa diwakilkan adik saya, namun karena
jadwalnya bentrok, jadi saya mau tidak mau harus ke sini malam ini, Bu,” kata Ayah Matari panjang lebar.
Matari sendiri cukup merasa takjub, Ayahnya bisa berbicara sebanyak itu pada orang lain juga. Matari merasa bingung dan kesal, Bu Anita juga bisa ramah jika berbicara dengan sesama orang dewasa. Namun kenapa mereka begitu berbeda jika berhadapan dengan orang yang jauh lebih muda seperti dirinya?
“Hmmm, beginilah, Pak, namanya juga perjuangan orangtua. Saya memaklumi. Saya sendiri setiap hari PP Bekasi Jakarta naik kereta. Suami saya mandor bangunan yang pulangnya tidak tentu. Namun saya harap ke depannya bisa diusahakan ada yang mengambil rapor Matari, meskipun terlambat. Wali kelas biasanya akan menunggu hingga pukul 4 sore. Mohon dapat dibantu. Karena ini tidak terjadi setiap hari. Setahun hanya dua kali, Pak. Apakah tidak bisa meluangkan waktu sebentar untuk acara penting anak Bapak?”
Matari melihat Ayahnya hendak protes namun diurungkannya. Akhirnya Ayahnya hanya melempar senyum pasrah saja.
Bu Anita menyerahkan rapor Matari dengan lembut namun tegas. “Selamat ya Matari, kamu naik kelas. Nilai kamu memuaskan. Kamu ada di peringkat 3.”
Matari tersenyum meskipun dia sudah tahu nilai dia sebelumnya. Ayah Matari mengambil rapor itu dan hanya melihat sekilas. Kemudian membandingkannya dengan semester lalu. Tanpa berkata apa-apa, Ayahnya kemudian memasukkan rapor itu ke balik jaketnya.
“Terimakasih banyak, Bu, atas bimbingannya selama ini. Mohon maaf jika Matari pernah ada perkataan atau perbuatan yang salah, baik sengaja atau tidak. Terimakasih banyak sekali lagi,” kata Ayah Matari sambil tersenyum.
“Sama-sama, Pak. Matari, maafkan Ibu jika ada salah perbuatan dan perkataan juga. Meskipun Ibu adalah seorang guru, Ibu tetap seorang manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Bapak harus bangga, Matari bisa duduk di
peringkat 3 sekaligus bisa tampil menyanyi dengan baik dengan band-nya saat lomba baca puisi dan pentas seni sekolah kemarin. Tidak mudah mempertahankan prestasi di tengah bakatnya di bidang yang lain. Apalagi dia jago memanah seperti kakeknya. Begitu ya, yang saya dengar?”
Mendengar itu, Ayah Matari hanya tertawa pelan. “Memang. Namun alangkah baiknya dia bisa fokus saja belajar dan menggapai cita-citanya setinggi mungkin.”
Bu Anita tidak menanggapi apapun atas ucapan Ayah Matari. Matari tahu, Ayahnya tidak pernah suka dia menekuni bidang lain selain memanah. Memanah pun karena dia memakai peralatan bekas milik Kakeknya.
Setelah menandatangani buku tanda terima rapor, Ayah memberi isyarat pada Matari untuk meminum teh dan pamit. Singkong yang disuguhkan sempat dimakan Matari, namun rasanya hambar.
“Baik Bu. Kami permisi dulu. Sudah malam,” kata Ayah sambil berdiri dan mengulurkan tangan.
Bu Anita membalas uluran tangan dengan sopan. “Terimakasih, Pak, telah bersedia datang kemari untuk mengambil rapor Matari.”
“Sama-sama, Bu. Terimakasih kembali. Ayo, Matari, beri salam pada Bu Anita.”
Matari menurut dan menyalami Bu Anita. Bu Anita merangkul Matari sampai di teras depan. Seolah memberikan semangat tanpa sedikitpun terucap dari bibirnya.
Masih dengan perlahan-lahan, Ayah Matari berusaha mengeluarkan mobil kijang Tante Dina dari pekarangan Bu Anita. Untung saja lahannya cukup luas, sehingga Ayahnya bisa mengeluarkannya dengan mudah. Lambaian tangan Bu Anita tampak lama-lama tersamar meskipun Matari saat kembali menatap ke arah rumah itu.
“Jadi kemarin kamu tampil?” tanya Ayah Matari tiba-tiba.
Matari mengangguk. Firasatnya mengatakan, Ayahnya tidak akan suka jika Matari jujur dan menceritakan alasan yang sebenarnya terjadi. “Diajak temen, kekurangan orang.”
Ayahnya memindahkan kopling dengan hati-hati, hampir saja mesin mobil mati, namun untungnya tetap berjalan. Kemudian menarik napas. “Pantes nilai kamu turun.”
Tak percaya atas tanggapan Ayahnya, Matari mengambil rapor yang telah dikeluarkan Ayahnya dari jaketnya. Matari membukanya dengan hati-hati dan mencari maksud perkataan Ayahnya. Matari memang turun nilainya 2 poin dibanding sebelumnya. Namun dia tetap rangking 3. Hanya dua poin yang bersumber masing-masing nilai IPS Akuntansi dan Matematika. Dua mata pelajaran yang tidak disukai dan dikuasainya. Selain itu, nilai memanahnya sangat baik, menyentuh nilai A, menyusul di bawahnya nilai Mading AB dan Pramuka B.
__ADS_1
Matari menarik napas kemudian meletakkan rapornya di tempat yang sama. Tidak ada kata selamat ataupun bangga. Tidak ada kata semangat. Ditatapnya Ayahnya yang masih berusaha menjalankan mobil Tante Dina dengan sangat pelan dan hati-hati. Dia merasa perjalanan ini akan semakin terasa panjang dari semestinya.